Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 8


__ADS_3

Vivian terkejut melihat Etha, seketika raut wajahnya berubah masam. Baru kali ini Alfhat membawa seorang wanita pulang ke mansion.


"Wanita gelandangan? oh baguslah. Pekerjakan saja dia menjadi pelayan ku." ketus Vivian dan tatapannya begitu tidak suka menatap wajah Etha. Karena menurutnya, Etha wanita yang berparas cantik, dia sungguh tidak ingin ada saingan di mansion tersebut.


"Tentu sayang." timpal Alfhat.


"Hei kamu! bawa koper mu ke atas. Mulai sekarang kamu akan menjadi pelayan kekasihku." ucap Alfhat dengan entengnya.


Etha hanya mampu tersenyum sinis menatap mereka. Pasangan mesum yang pernah dia pergoki di toilet hotel. Kemudian seorang pelayan wanita menghampirinya lalu mengajaknya ke kamar yang akan dia tempati dan letaknya di lantai dua.


Etha belum bergeming di tempatnya, pandangannya masih tertuju ke arah Alfhat dan Vivian yang terlihat mesra saling merangkul bersama. Etha melangkah maju satu langkah.


"Menjadi seorang pelayan? Apa aku tidak salah dengar? Hufff...astaga! kenapa kamu tidak memperkenalkan aku kepada wanita di samping mu itu, bahwa aku adalah istrimu." ucap Etha tersenyum sinis menatap ke arah Alfhat.


"Istri?" Vivian terkejut mendengar ucapan Etha, kedua matanya membola sempurna memancarkan kilatan amarah. Tangannya dikepal kuat dan ingin sekali mencakar wajah Etha sekarang juga yang mengaku sebagai istri seorang Alfhat Ramous Sanders.


"Ya, aku istrinya dan lebih tepatnya nyonya di rumah ini." tegas Etha dengan sorot mata tajam. Walaupun harga dirinya sudah hancur, namun dia tidak ingin ditindas oleh siapapun.


Dengan kesal Vivian langsung melepaskan tangan Alfhat yang merangkul mesra pinggangnya. Kemudian melangkah mendekati Etha. Hingga Vivian berdiri di hadapan Etha, tatapannya begitu meremehkan menatap Etha, dimana Etha hanya menatapnya dengan kening berkerut.


Dengan cepat Vivian melayangkan salah satu tangannya di udara dan siap menampar wajah Etha, namun secepat kilat Etha menangkis tangannya.


"Itu fakta, jika kamu tidak percaya, tanyakan saja kepada tuan Alfhat." ucap Etha tersenyum tipis lalu menghempaskan tangan Vivian.


Alfhat hanya mampu menjadi penonton, menatap kedua wanita itu. Sementara Vivian dengan kesal kembali melangkah mendekati Alfhat. Dia pun langsung menatap tajam wajah pria yang sangat dicintainya itu.


"Apa benar yang diucapkan wanita itu!." ucap Vivian sambil menunjuk ke arah Etha.


"Ya benar sekali." ucap Alfhat dengan santainya, karena memang itulah kenyataannya. Sorot mata Alfhat begitu tajam menatap ke arah Etha yang sedang melipat lengannya dengan santainya.


"Mengapa kamu lakukan ini kepadaku Al." kesal Vivian sambil memukul tubuh Alfhat. Dia sangat marah besar karena dikhianati oleh pria yang sangat dicintainya.

__ADS_1


"Hentikan Vi!" bentak Alfhat dan langsung mencengkeram kedua tangan Vivian untuk menghentikan aksinya. Vivian seakan tidak percaya, baru kali ini Alfhat membentaknya.


"Jaga batasanmu!" tegas Alfhat lalu menghempaskan kedua tangan Vivian dengan kasar. Membuat Vivian meringis kesakitan lalu mengelus lembut tangannya yang sakit.


Tidak biasanya Alfhat berbuat kasar kepadanya. Kedatangan wanita itu membuat masalah baru baginya. Dia bersumpah tidak akan membiarkan wanita itu hidup tenang.


Aku bersumpah akan membalasnya. Batin Vivian marah.


Prok... Prok.... prok..


Etha bertepuk tangan melihat pertengkaran mereka. Vivian dan Alfhat kompak mengalihkan pandangannya ke arah Etha.


"Sepertinya pertengkaran kalian masih berlanjut, kalau begitu aku ke kamar. Silahkan lanjutkan kembali." ucap Etha dengan santainya, lalu melangkah pergi, namun baru beberapa langkah Alfhat menghentikannya.


"Berhenti, siapa yang menyuruhmu ke kamar hah!" tegas Alfhat.


Etha berdecak kesal lalu berbalik badan ke arah mereka.


Seketika sudut bibir Vivian terangkat membentuk senyuman tipis, dia merasa puas setelah mendengar langsung ucapan dari Alfhat.


Vivian bergerak cepat mendekati Alfhat lalu bergelayut manja di lengannya. Dia sengaja menunjukkan aksinya itu kepada Etha, bahwa dirinya sepenuhnya milik Alfhat.


Sementara Etha yang mendengar ucapannya hanya mampu tergelak tawa dan seolah sedang menertawakan ucapan Alfhat.


"Terserah apa katamu, yang jelas aku nyonya di rumah ini. Aku istri sah mu tuan Alfhat secara agama! kita sudah terikat dalam sebuah pernikahan, tidak seharusnya kamu menganggapku sebagai musuhmu. Jika kamu memintaku untuk menjadi pelayan kekasihmu, dengan tegas aku menolaknya mentah-mentah dan berkata tidak!. Dan jika kamu tidak menganggapku sebagai istrimu, maka kamu akan rugi besar, camkan itu!" ucap Etha tak main-main.


Vivian berdengus kesal mendengar ucapan Etha. Dia tidak boleh membiarkan wanita itu berkuasa, apalagi berdekatan dengan Alfhat.


"Dasar wanita tak tahu malu, posisimu di rumah ini lebih tepatnya menjadi seorang budak. Kamu itu hanya wanita pelunas hutang yang tidak memiliki harga diri, kamu sudah dijual dan dibeli oleh kekasihku Alfhat. Jadi jangan banyak bicara dan sok berkuasa di rumah ini." ejek Vivian sambil menunjuk-nunjuk ke arah Etha.


"Ya..ya ucapanmu ada benarnya nona. Memang aku akui hanyalah wanita pelunas hutang, tapi seenggaknya posisiku lebih tinggi daripada dirimu, nona. Kamu hanya kekasihnya, sementara aku adalah istrinya. Dia menikahiku dan kurasa kamu hanyalah budak nafsunya yang sama sekali tidak terikat dalam hubungan pernikahan." ucap Etha dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Vivian mengepalkan tangannya mendengar setiap ucapan Etha dan seketika tak mampu berkata-kata, ucapan Etha langsung membuatnya bungkam dan sekaligus menjadi pukulan telak baginya.


Sialan! wanita ini tidak bisa diremehkan, aku harus berhati-hati kepadanya. Batin Vivian.


"Jangan berbangga diri, sekarang atau esok hari aku bisa saja mengakhiri pernikahan ini! namun, bisa saja aku membuatmu terikat selama-lamanya denganku" timpal Alfhat.


"Bagus dong, aku sungguh salut bahkan setuju jika kamu ingin mengakhirinya. Berarti aku menang banyak setelah ini. Tugasku selesai dan terbebas dari jeratan hutang." tantang Etha tersenyum puas.


Alfhat menyeringai mendengar ucapan Etha. Sungguh wanita itu begitu hebat dalam urusan berdebat. Tapi, setelah ini, apakah wanita itu akan sanggup lagi berdebat dengannya.


"Tapi, aku akan melakukannya dalam jangka waktu lama. Karena aku perlu menyiksamu terlebih dahulu dan membuatmu menderita bagaikan berada dalam neraka yang ku buat, ha ha ha." ucap Alfhat diiringi gelak tawa.


Vivian ikut tersenyum puas, karena ia yakin Alfhat hanya menikahi wanita berhijab itu karena sebuah hutang, bukan hal lain.


Untuk itu, demi mempertahankan posisinya, dia akan menyusun rencana agar Alfhat mau menikahinya secara sah dimata hukum dan agama. Dan ia ingin segera melahirkan penerus keluarga Sanders agar posisinya di mansion itu tetap aman.


Pasalnya setiap berhubungan badan, Alfhat selalu saja memakai alat pengaman, tak pernah sekalipun Alfhat tidak memakai benda tersebut. Padahal dia begitu memimpikan memiliki keturunan dari pria kaya dan setampan Alfhat.


"Kita lihat saja, namun semoga neraka yang kamu buat bisa ku gantikan menjadi surga yang indah." balas Etha.


Alfhat tersenyum sinis mendengar ucapan Etha, sungguh wanita perawan tua nan berhijab itu begitu percaya diri menentang ucapannya. Dia ingin melihat bagaimana semangat dan kemampuan wanita itu melawannya.


Tiba-tiba dua pria bertubuh kekar menghampiri Alfhat dan langsung membungkuk hormat kepadanya. Setelah itu bergerak cepat meringkus Etha


"Bawa wanita itu ke lantai tiga, malam ini dia akan menerima hukuman cambuk sebanyak 100 kali." ucap Alfhat dengan entengnya sambil menyeringai licik.


"Baik tuan." ucap mereka penuh hormat.


"Tidak! hei lepaskan aku " teriak Etha memberontak untuk lepas. Namun ucapannya sama sekali tidak dihiraukan oleh kedua pria yang sedang menyeretnya ke lantai tiga.


Sementara Alfhat dan Vivian hanya mampu tersenyum mengejek menatap kepergian Etha. Lalu Alfhat mengandeng mesra tangan Vivian yang juga melangkah menyusuri tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2