Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 50


__ADS_3

Tiba-tiba saja seseorang melemparinya krikil kecil. Etha langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang empunya hingga terkejut bukan main melihat orang itu yang tengah berdiri di depan jendela kamarnya.


"Alfhat." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Hemm, cepat buka jendelanya." Perintahnya dan orang itu tidak lain adalah Alfhat.


Etha bergerak cepat membuka jendela kamar. Setelah itu, Alfhat langsung melompat masuk ke dalam kamar. Tanpa basa-basi Etha langsung memeluk tubuh Alfhat, sementara Alfhat terkejut dengan tingkah istrinya, hingga senyuman tipis terukir di sudut bibirnya dan dia pun langsung membalas pelukan istrinya.


"Bagaimana bisa kamu menyelinap masuk kesini?" tanya Etha.


"Panjang ceritanya, aku tidak perlu menjelaskannya kepadamu. Yang jelas, aku merusak cctv di setiap sudut rumah sebelum menemukanmu disini." jawab Alfhat sambil mengeratkan pelukannya.


Mereka pun memilih diam, dengan posisi saling berpelukan. Cukup lama mereka berada di posisi seperti itu, sambil mendengarkan degup jantungnya yang memompa lebih cepat.


"Kapan kamu akan melepaskan pelukanmu?" tanya Etha yang sudah tidak memeluk tubuh Alfhat, sedangkan Alfhat masih memeluknya erat.


"Tunggu sebentar, aku masih betah memelukmu. Karena kamu sendiri yang lebih dulu memelukku, makanya aku tidak akan melepaskanmu dengan cepat." Jawab Alfhat membela diri.


"Iya, memang aku yang lebih dulu memelukmu. Tapi, lepaskan pelukanmu, aku merasa sesak. Lagian kita bertemu bukan hanya untuk peluk-pelukan. Kita harus segera pergi dari tempat ini." jelas Etha.


"Iya bawel, syukur-syukur aku masih mau nyempetin waktu untuk mencarimu. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk datang kemari, jika si psikopat tengil tidak cari masalah denganku" ketus Alfhat sembari melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah sang istri yang tampak sendu dengan kedua mata berkaca-kaca, dia pun langsung iba.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Alfhat sambil menepuk-nepuk pipi Etha. Pasalnya dia mampu membaca guratan wajah sang istri. Etha langsung menoleh kearahnya.


"Hemm...Ak-aku baik-baik saja. Jika kamu tidak ada niatan datang kemari untuk menyelamatkanku, sebaiknya kamu pergi saja!" ketusnya tidak terima dengan ucapan Alfhat. "Benar-benar suami yang tidak bertanggungjawab" lanjutnya bergumam, namun Alfhat mampu mendengar gumamnya.


"Jadi kamu marah?"


"Siapa yang marah? aku hanya melontarkan kata-kata protes atas ucapanmu itu, tuan Alfhat." ucap Etha kesal dengan nada penekanan menatap tajam ke arah Alfhat.


"Kalau begitu aku ngaku salah. Jika kita terus berdebat seperti ini, kapan kita perginya." ucap Alfhat mencoba mengalah sambil memegang kedua pundaknya.


Padahal dalam kamusnya, dia tidak akan pernah mengalah, apalagi peduli kepada orang lain. Bahkan dia lebih mementingkan kepentingannya sendiri dibandingkan mementingkan kepentingan orang lain.


Etha langsung buang muka mendengar ucapan Alfhat barusan. Namun tiba-tiba Alfhat menangkup wajahnya lalu mendaratkan ciuman di keningnya. Etha terhentak sambil mendongak menatap wajah Alfhat hingga pandangan mata mereka bertemu dan terkunci beberapa detik.

__ADS_1


"Tak baik terus marah-marah, lama-lama kamu akan menjadi nenek-nenek galak." Canda Alfhat sembari tersenyum tipis. Dengan kesal Etha langsung mencubit perutnya.


"Awwww... hei hentikan...ini tandanya penganiayaan." ucap Alfhat meringis kesakitan dan Etha langsung melepaskan tangannya dari perutnya.


Saat Etha akan mengambil tas ranselnya di atas ranjang. Tiba-tiba saja Alfhat


langsung memeluknya dari belakang. Seketika tubuh Etha langsung membeku di tempatnya.


"Maaf, aku hanya bercanda." ucap Alfhat serius sambil mengelus perut Etha. Akan tetapi, wanita yang dipeluknya itu terdengar meringis kesakitan.


"Apa yang terjadi kepadamu? apa aku menyakitimu?" tanya Alfhat sambil membalikkan tubuh Etha menghadap kearahnya. Ditatapnya kedua manik mata istrinya dengan tatapan dalam dan penuh kekhawatiran.


"Aku baik-baik saja" elak Etha sambil menunduk.


"Bohong, aku tidak sengaja mengelus perutmu dan tiba-tiba kamu meringis kesakitan. Tunjukkan tubuhmu yang terluka dan siapa orang yang sudah menyakitimu." ucap Alfhat serius.


"Apa kamu mulai peduli kepadaku, tuan Alfhat?" ucap Etha yang hanya melontarkan pertanyaan menanggapi ucapannya itu.


"Ya, aku sangat peduli kepadamu, karena kamu istriku!" tegas Alfhat.


"Ya, karena kamu istriku, mau bagaimana pun kamu tetaplah istriku!. dan wajar jika aku mengakuimu sebagai istriku. Pernikahan kita sudah tercatat dalam kantor pencatatan sipil dan kita sah secara hukum dan agama. Jadi berhenti bertanya ataupun mengajakku berdebat, apa kamu dilahirkan hanya untuk mengajakku berdebat?" ucap Alfhat panjang lebar sambil mendekati Etha.


"Baiklah, aku tidak akan lagi mengajakmu berdebat." ucap Etha tersenyum tipis. Entah mengapa ucapan Alfhat membuatnya tersentuh.


Sontak membuat Alfhat ikut tersenyum, lalu mereka saling curi-curi pandang, bahkan saling melempar senyuman.


"Ayo, nona debat. Kita harus segera pergi." Ajak Alfhat lalu menggenggam tangannya dan Etha hanya mampu tersenyum mendengar sebutan yang dilontarkan oleh Alfhat untuknya.


Kemudian Alfhat melihat disekelilingnya, setelah merasa aman, dia terlebih dahulu keluar melalui jendela kamar. Kemudian dia mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Etha keluar lewat jendela kamar.


Tanpa sengaja Etha langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Alfhat untuk digunakan berpegangan, hingga mereka kembali saling tatap-tatapan. Perlahan Alfhat mengangkat tubuh Etha tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Etha.


Dengan sigap Alfhat menurunkan tubuh Etha dari gendongannya setelah berhasil keluar melewati jendela kamar. Etha begitu canggung berdiri di sampingnya.


Alfhat memberikan instruksi kepadanya untuk selalu berada di belakangnya dan Etha hanya mampu menggangguk mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Ayo, jangan pernah lepaskan tanganku." peringat Alfhat dan Etha mengangguk cepat.


Mereka lalu mengendap-endap menuruni anak tangga, namun tiba-tiba saja dua anak buah Lucas kembali berkeliaran di bawah sana. Alfhat dan Etha kompak bersembunyi.


Setelah kedua penjaga itu sudah pergi, dengan cepat mereka menuruni anak tangga dan bergerak melewati teras samping. Namun mereka dikejutkan oleh salah satu anak buah Lucas.


Tanpa basa-basi Alfhat langsung menghajarnya hingga membuatnya pingsan tanpa menimbulkan kegaduhan. Kemudian Alfhat segera membawa Etha ke halaman belakang. Jalan satu-satunya yang dia lewati sebelum masuk ke kediaman Lucas.


"Naiklah terlebih dahulu." ucap Alfhat, kemudian kembali membantu Etha memanjat tembok yang lumayan tinggi.


Setelah berhasil naik ke atas. Dengan rasa takut, Etha langsung melompat turun hingga tubuhnya menggelinding menimpa dedaunan kering. Dia pun meringis kesakitan, sepertinya pinggangnya encok. Namun, dia berhasil keluar.


Kemudian giliran Alfhat yang akan memanjat tembok. Namun aksinya digagalkan oleh tiga penjaga yang langsung menebak ke arahnya. Alfhat balik menembaki mereka dan berhasil melumpuhkan salah satu penjaga.


Salah satu penjaga berteriak memanggil rombongannya. Sehingga para penjaga langsung berlarian ke halaman belakang. Mereka semua langsung memberondong tembakkannya ke arah si penyusup.


Etha sendiri mulai panik mendengar suara tembakan terus menggema. Dia sungguh takut jika sesuatu terjadi kepada Alfhat. Apalagi Alfhat belum juga berhasil keluar. Dia hanya mampu memanjatkan doa untuk keselamatan suaminya.


Sementara Alfhat langsung bergerak cepat memanjat tembok, namun sayangnya sebuah peluru meleset kearahnya hingga bersarang tepat di dada bagian kirinya.


Alfhat meringis kesakitan yang terkena tembakan dan hampir saja membuatnya terjatuh. Dengan sekuat tenaga dia terus memanjat tembok hingga berhasil naik ke atas. Kemudian dia langsung melompat turun.


Etha bergerak cepat membantunya berdiri.


"Ayo, kita harus pergi. Anak buah Lucas sudah bergerak untuk menangkap kita." ucap Alfhat.


Mereka bergerak cepat meninggalkan tempat tersebut. Dengan suasana malam yang gelap gulita mereka tampak kesulitan menapaki jalan yang menanjak dan menurun. Berkali-kali Etha terjatuh akibat tersandung akar pohon.


"Naiklah ke penggung ku." ucap Alfhat berjongkok di hadapannya. Pasalnya pergerakan Etha begitu lambat.


"Tidak, kamu sedang terluka." tolak Etha, padahal kedua lututnya juga sedang terluka.


"Jangan membantahku, cepat naik ke punggungku!" ucap Alfhat tidak ingin di bantah.


Mau tak mau Etha menjadi patuh, dengan terpaksa dia naik ke punggung Alfhat. Dengan sigap Alfhat kembali berdiri tegak lalu melangkah cepat membawa Etha keluar dari hutan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2