Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 34


__ADS_3

"Ulah siapa ini!" teriak Alfhat. Hingga membuat Richard berlarian menghampirinya.


"Sebaiknya tuan segera hubungi nona Etha, karena kuda balapnya lepas." ucap Richard ngos-ngosan.


"Apa! jadi ini ulah wanita tua itu!" ucap Alfhat dengan nada penekanan. Raut wajahnya berubah merah padam yang sedang diselimuti amarah.


Alfhat langsung merogoh ponselnya di saku celananya lalu menghubungi Etha. Namun sayangnya orang diseberang sana tak kunjung mengangkat panggilannya.


"Sial, dia tidak mengangkat panggilanku." ucapnya kesal.


"Bagaimana tuan?" tanya Richard.


"Wanita tua itu sudah hilang ke laut. Kerahkan anak buahmu untuk menjemputnya paksa" kesalnya lalu melangkah ke teras rumah.


"Baik tuan." ucap Richard patuh. Karena melihat gerak-gerik bosnya yang sedang tersulit emosi, alangkah baiknya mematuhi ucapannya.


Alfhat melepaskan sepatu pantofelnya dengan jijik, lalu menendangnya begitu saja layaknya sampah yang sudah tak terpakai. Kemudian mendudukkan bokongnya di kursi kayu.


"Richard!"


"Iya tuan."


Richard yang baru saja ingin menghubungi anak buahnya bergerak cepat menghampirinya.


"Ambilkan aku sepatu pantofel. Warnanya harus sama seperti sepatuku yang kotor." perintahnya dengan gaya angkuhnya.


"Baik tuan." ucap Richard sambil membungkukkan badannya lalu bergegas menuju kamar bosnya.


Sementara itu, Alfhat kembali menghubungi Etha berulang kali. Hingga panggilan yang ke sepuluh kali, barulah seseorang diseberang sana mengangkat panggilannya.


"Halo, assalamualaikum." Terdengar suara seseorang mengucapkan salam di ujung telepon. Akan tetapi, Alfhat sama sekali tidak menjawab salamnya.


"Pulang sekarang, sebelum aku memulangkanmu secara paksa. Jika kamu tidak mendengar ucapanku, bersiaplah untuk dua jam, karena tempat bisnismu akan rata dengan tanah." ancam Alfhat tak main-main di ujung telepon.


"Maaf anda salah sambung tuan." ucap seseorang di ujung telepon.


Alfhat mengepalkan tangannya, mendengar suara yang sangat familiar dan begitu dibencinya. Pandai sekali wanita tua itu berakting, pikirnya.


Andai saja wanita tua itu sedang berada di hadapannya, sudah dipastikan dia akan langsung membungkam mulutnya hingga tidak bisa lagi berbicara.


"Bagus ya, aku bukan orang bodoh yang tidak mengenali suaramu. Dengar, kami akan menggelar perayaan di kediamanku dan siap-siap kuda mu akan menjadi santapan lezat untuk seluruh pekerja ku." ucap Alfhat menyeringai licik.


"Jangan sentuh hewan kesayanganku. Aku akan pulang setelah jam makan siang." ucapnya terdengar ketus di ujung telepon.


"Kamu pikir aku akan menunggumu selama itu hah! kurasa daging kuda sangat cocok untuk menu makan siang kami. Jadi... "


"Oke, aku akan pulang sekarang." ucap Etha cepat.

__ADS_1


Alfhat tersenyum puas, memang dirinya begitu ahli dalam hal mengancam. Sehingga dia hanya perlu menunggu kedatangan wanita tua itu dan mengerjainya habis-habisan.


Tak berselang lama kemudian, Richard kembali datang membawa sepatu pantofel pria berwarna hitam yang dimaksud oleh bosnya.


"Ini tuan." ucap Richard sembari berjongkok di depan bosnya dan meletakkan sepatu bosnya.


Lewat ekor matanya, Alfhat memberi perintah kepada orang kepercayaannya agar tidak bekerja setengah-setengah. Richard begitu mengerti setiap kode-kode rahasia yang diberikan oleh bosnya. Dia sudah hapal betul, asam garam kehidupan selama menjadi sekretaris bosnya.


Tanpa sungkan Richard bergerak memakaikan sepatu di kedua kaki bosnya. Hal itu sering dia lakukan. Sedangkan Alfhat santai-santai saja, memang sebagai bos, dia begitu dihormati, disegani dan dilayani dengan baik oleh anak buahnya.


"Batalkan perintahku yang barusan, kamu tak perlu repot-repot mengerahkan anak buahmu untuk menjemput wanita tua itu, karena dia sendiri yang akan pulang." ucap Alfhat tersenyum simpul.


Richard hanya mampu mengangguk menanggapi ucapan bosnya. Kemudian dia berdiri tegak di samping bosnya.


"Richard, undur meeting pagi ini. Karena aku ingin memberi pelajaran wanita tua itu. Dia sudah membuat kekacauan di kediamanku." ucapnya sambil mengepalkan tangannya.


Alfhat bahkan rela mengundur meetingnya pagi ini karena kekacauan yang terjadi di kediamannya. Semua itu gara-gara ulah kuda wanita tua itu.


"Baik tuan." ucap Richard, kemudian segera menghubungi para petinggi perusahaan perihal meeting yang di undur pagi ini.


Tiga bodyguard berjalan tergopoh-gopoh mendekat ke teras rumah. Alfhat yang sedang memainkan ponselnya langsung melirik tajam ketiga bodyguard itu.


"Ada apa?" tanya Richard yang bergerak mendekati mereka.


"Maaf tuan, kami belum bisa menangkap kudanya. Sekarang kuda milik nona Etha sedang makan rumput di taman belakang." ucap salah satu bodyguard dengan hati-hati. Raut wajahnya memancarkan ketakutan melihat keberadaan bos besarnya yang sedang duduk bersantai.


"Biarkan saja, biar pawangnya sendiri yang menangkapnya." timpal Alfhat dengan suara lantang.


"Ba-baik tuan." ucap mereka dengan kompaknya.


*


*


*


Sementara di tempat lain.....


Etha tampak buru-buru membereskan pekerjaannya. Dia harus segera pulang sebelum pria cabul itu memotong hewan kesayangannya.


"Mau kemana, Miss?" tanya Kayla yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya. Kayla memegang iPad dan hasil print out desain rancangan busana yang diminta oleh bosnya.


"Aku harus pulang, ada sedikit masalah di rumah." ucap Etha sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Tetap lakukan meeting bersama para karyawan dan pihak sponsor yang baru saja bergabung bersama kita. Oh iya, jika ada kendala kita bisa lanjutkan kembali meeting besok pagi." lanjutnya sembari melangkah menuju pintu keluar.


"Ya Miss, padahal aku berharap anda...." Kayla tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Aku percayakan pekerjaan ini kepadamu, Kayla. Kamu memang asisten pribadi sekaligus asisten desainer terbaikku yang paling aku andalkan." potong Etha cepat disertai pujian.


Kayla mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan bosnya. Sedangkan Etha tersenyum sambil mencubit gemas pipi chubby asisten pribadinya lalu melenggang pergi.


Saat Etha berhasil keluar dari butiknya, dia dikejutkan dengan suara seseorang yang sangat dikenalinya. Dia langsung mengalihkan pandangannya dan terlonjat kaget melihat orang itu.


"Dilan." ucap Etha terkejut melihatnya.


"Mau kemana lagi, kak Etha?" ucap orang itu dan tidak lain adalah Dilan, saudara angkatnya.


"Emm...kapan kamu datang adik tampan?" tanya Etha terbata-bata. Dia mencoba mengalihkan pertanyaan adiknya itu dengan balas bertanya kepadanya.


"Kemarin sore. Aku sempat mampir di kediamanmu. Tapi, kamu sedang tidak ada di rumah." ucap Dilan sambil melipat lengannya.


"Mengapa tidak mempersilahkanku masuk, kak Etha." ucap Dilan dengan tatapan penuh curiga.


"Aaah iya, ayo masuk." ajak Etha, kemudian bergegas masuk lebih dahulu ke dalam butiknya.


Ya Allah, bagaimana ini. Tidak mungkin aku pulang ke mansion Alfhat, sementara adikku baru saja sampai di butik. Batin Etha.


"Mau kopi?" tanya Etha sebelum mempersilahkan adiknya duduk di sofa ruangannya.


"Boleh." jawab Dilan sembari duduk di sofa.


Kayla yang masih berada di ruangan bosnya terlihat mengerutkan keningnya melihat bosnya belum juga pergi. Ditambah adik bosnya juga berada di ruangan yang sama dengan mereka.


"Selamat pagi Dilan." sapa Kayla ramah sambil melambaikan tangannya bersikap sok akrab.


Dilan hanya meliriknya sekilas lalu memainkan ponselnya. Memang dia tipikal pria cuek terhadap orang lain. Dia hanya bersikap hambel pada keluarganya saja.


Kedatangannya ke butik milik saudaranya semata-mata untuk memastikan kondisi saudaranya. Karena beberapa hari belakangan, dia sulit untuk menghubungi saudaranya. Dia hanya khawatir terjadi sesuatu kepada saudara perempuannya.


"Kenapa nomormu sudah tidak bisa lagi dihubungi, apa kamu ganti nomor?" tanya Dilan kepada saudaranya.


"Emm iya, aku ganti nomor." ucap Etha sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja.


Dibalik ucapannya itu menimbulkan boomerang baginya. Karena Alfhat sudah mengingatkannya agar tidak berurusan kembali dengan keluarganya.


"Kalau begitu kirimkan nomor barumu, kak Etha." ucap Dilan sambil melirik ke arahnya.


"Tunggu sebentar." ucap Etha mengambil ponselnya di dalam tas. Namun dia langsung terkejut melihat deretan panggilan masuk dari Alfhat. Bahkan sekarang Alfhat masih saja menghubunginya.


"Astaghfirullah" Etha langsung kepikiran dengan hewan kesayangannya. Semoga saja Alfhat tidak berbuat macam-macam kepada hewan kesayangannya.


"Dilan, aku ada urusan mendadak. Aku harus pergi, assalamualaikum." ucap Etha pamit undur diri.


"Kak Etha, kamu mau kemana? biar aku antar." teriak Dilan mencoba menghentikannya.

__ADS_1


"Tidak perlu, aku sedang buru-buru" balas Etha sambil melangkah tergesa-gesa keluar dari butiknya, sampai-sampai dia bertubrukan dengan salah satu karyawannya.


Bersambung.....


__ADS_2