
Alfhat langsung menyayat pipi bagian kanan Vivian, membuat Vivian berteriak histeris kesakitan. Darah segar bercucuran di wajahnya.
Kemudian Alfhat berpindah menyayat tangan dan lengan Vivian. Richard hanya mampu menutup hidungnya mencium bau amis dari darah segar yang mengucur di tubuh Vivian.
"Lempar wanita ini di jalanan. Hancurkan karirnya dan pastikan dia tidak muncul kembali di hadapanku" murka Alfhat.
"Baik tuan" ucap Richard dengan anggukan kepala.
Sementara Vivian sudah berteriak histeris merasakan kesakitan luar biasa. Air matanya terus mengalir deras bersamaan darah segar yang mengucur tak henti dari tubuhnya.
Richard segera membereskan wanita itu bersama dua bodyguard bosnya. Mereka memasukkan tubuh Vivian ke dalam kantong kresek sampah.
"Buang wanita ini ke jalanan sepi, jalur menuju hutan yang tidak dilewati banyak kendaraan" peringat Richard kepada kedua bodyguard tersebut.
"Baik tuan Richard" ucap kedua bodyguard itu dengan kompaknya.
Kemudian salah satu bodyguard membopong tubuh Vivian keluar dari gedung perkantoran. Lalu mereka memasukkan tubuh Vivian di bagasi mobil dan membawanya pergi untuk di buang di jalan.
Sementara itu, Richard bergerak masuk ke ruang pribadi bos nya, dia mampu mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Sepertinya bosnya kembali membersihkan diri, mengingat cipratan darah Vivian mengenai wajah dan kedua tangannya.
Tak berselang lama kemudian, lagi-lagi Alfhat keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya.
"Bagaimana? apa kamu sudah mendapatkan wanita bayaran untukku?" tanya Alfhat.
Seketika Richard baru teringat kembali perintah atasannya. Dia diam membisu sambil berpikir keras. Bagaimana bisa dia ceroboh seperti ini? Tiba-tiba saja terlintas ide brilian di pikirannya, senyuman tipis terukir di sudut bibirnya.
"Wanita bayarannya sedang dalam perjalanan, tuan. Aku memintanya langsung ke kediaman anda." ucap Richard dengan cepat.
Maaf tuan, aku terpaksa berbohong kepadamu demi kebaikanmu bersama nona Etha. Batin Richard.
"Kenapa tidak kamu bawa saja kesini! aku tidak ingin wanita bayaran kembali datang ke kediamanku." ucap Alfhat dengan sorot mata tajam.
"Memangnya kenapa tuan, biasanya anda selalu memintaku untuk membawa wanita...."
Richard tidak melanjutkan ucapannya, karena Alfhat langsung memotong ucapannya.
__ADS_1
"Untuk sekarang jangan lakukan, karena wanita tua itu memberiku syarat sebelum setuju pulang ke mansionku. Dia tidak ingin aku membawa wanita bayaran pulang ke mansion. Itu salah satu syarat yang diajukan kepadaku dan aku menyetujui syaratnya." ucap Alfhat terdengar kesal.
Richard tersenyum tipis mendengar ucapan bosnya, baru kali ini ada wanita yang mengajukan syarat kepada bosnya. Itu tandanya istri bosnya dengan terang-terangan memerintah sang bos besarnya yang sangat ditakuti di kalangan pebisnis.
"Jadi tuan meminta nona Etha pulang ke mansion, tapi nona Etha mengajukan syarat kepada anda." ucap Richard memperjelas ucapannya.
"Hemm"
"Kurasa nona Etha wanita yang pandai bernegosiasi, karena sepertinya syarat yang diajukannya lebih menguntungkan bagi dirinya." ejek Richard.
"Ya, wanita tua itu terlalu pandai bernegosiasi apalagi berdebat melawanku. Dia juga banyak bicara dan selalu membuatku kesal." ucap Alfhat kesal sambil mencengkram kuat sisi ujung meja kerjanya.
"Maka dari itu aku memintamu untuk mencarikanku wanita bayaran, lalu membawanya ke hadapanku." lanjutnya terdengar kesal.
"Maaf tuan, aku terlanjur menyuruhnya ke mansion." ucap Richard sok menyesal atas tindakannya.
Padahal Richard sengaja mengelabui bosnya, dia sama sekali tidak menjalankan perintahnya. Tak ada wanita bayaran yang dia cari, jika bosnya sudah tidak bisa menahan diri, dia bisa melakukannya bersama sang istri, tidak masalah bukan, pikirnya.
"Batalkan saja, sebaiknya kita pulang ke mansion." ucap Alfhat tidak ingin dibantah dan lekas memakai celana panjangnya. Dia memutuskan untuk pulang ke mansion. Dan akan menyibukkan dirinya dengan cara berenang di kolam renang untuk menghilangkan hawa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Baik tuan." ucap Richard setengah membungkukkan badannya lalu berpura-pura menghubungi wanita bayaran, namun nyatanya dia hanya menghubungi anak buahnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Perusahaan sudah sepi tanpa adanya karyawan berlalu lalang, hanya para bodyguard nya yang berlalu lalang bertugas berjaga-jaga di perusahaannya. Oleh karena itu, Alfhat tidak memperdulikan penampilannya saat ini.
Mobil Lamborghini Aventador berwarna hitam terparkir tepat di depan pintu masuk perusahaannya dan sudah siap membawanya pergi.
Richard bergerak cepat ke samping membukakan pintu mobil untuk bosnya, kemudian Alfhat lekas masuk ke dalam mobil. Setelahnya, barulah Richard bergerak masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan perusahaan.
"Setelah kamu mengantarku pulang, jangan lupa mampir menjemput wanita tua itu. Aku sudah mengatakan bahwa kamu yang akan datang menjemputnya." perintah Alfhat sambil menoleh ke arah orang kepercayaannya.
"Baik tuan." ucap Richard yang fokus mengemudi.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman Alfhat. Bertepatan pula mobil yang setiap hari mengantar Etha, juga melaju pelan memasuki pekarangan rumah.
Etha dan Alfhat terlihat kompak sama-sama turun dari mobil.
__ADS_1
"Tuan, bukankah itu nona Etha. Berarti aku tidak perlu lagi menjemputnya" ucap Richard sambil menunjuk ke arah istri bosnya.
Alfhat tidak menimpali ucapannya, dia hanya melirik Etha sekilas lalu melangkah dengan langkah lebar memasuki mansion mewahnya. Sementara Etha terlihat menyeret kopernya masuk ke dalam mansion. Richard bergerak cepat membantu istri bosnya.
"Biar aku saja nona." ucap Richard dan langsung mengambil alih koper dari tangan istri bosnya.
"Hei..."
Etha ingin menolak bantuan pria itu, namun Richard keburu pergi membawa kopernya.
"Bos dan bawahan sama-sama aneh dan menyebalkan." Etha hanya mampu menggerutu kesal. Kemudian melangkah cepat menyusul Richard.
Kini Alfhat dan Etha sudah berada di dalam kamarnya masing-masing. Etha memutuskan untuk membersihkan diri, lalu melaksanakan sholat Maghrib. Dia tidak sempat mampir ke masjid untuk melaksanakan sholat Maghrib.
Sementara Alfhat, juga sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi. Hawa panas berselimut kabut gairah semakin menjadi-jadi menjalar sekujur tubuhnya, bahkan sudah menghilangkan akal sehatnya.
Obat lacnat itu semakin mengkontaminasi seluruh tubuhnya. Tak ada obat penawar yang mampu menyembuhkannya, selain sentuhan dari seorang wanita.
Walaupun Alfhat berkali-kali menenggelamkan tubuhnya di dalam bathtub dan berendam semalaman, tapi tetap saja seluruh tubuhnya begitu panas seperti terbakar api.
Alfhat menyelesaikan ritual mandinya dan menyambar jubah mandi lalu memakainya. Dia bergegas keluar dari kamar mandi dan melangkah tergesa-gesa menuju kolam renang yang terletak di rooftop rumah.
Maklum hobinya berenang, terdapat dua kolam renang di kediamannya. Satu berada di rooftop rumah dan yang satunya lagi berada di area belakang rumah.
Alfhat sering berenang di sore hari dan waktu malam, sambil menikmati pemandangan langit malam. Namun malam ini, dia tidak menikmati hobinya itu. Dia sudah dua jam berada di dalam kolam renang, namun tubuhnya masih saja terasa panas dan itu sangat membuatnya tidak nyaman.
Alfhat sudah frustasi, dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan akan menghubungi Richard untuk mendatangkan wanita bayaran ke kediamannya. Perkara bodoh dengan syarat wanita tua itu.
Alfhat berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Etha. Sebaiknya dia akan membatalkan syarat wanita tua itu, lalu meminta Richard membawanya kembali ke apartemen.
Tanpa basa-basi Alfhat mencoba membuka pintu kamar Etha, namun sayangnya pintu kamar itu terkunci dari dalam. Alfhat mengeram kesal lalu segera menghubungi kepala pelayan lewat telepon rumah yang tertempel di dinding dekat pintu kamar.
Tak berselang lama, kepala pelayan datang membawa kunci cadangan untuknya. Setelah itu, dia menyuruh kepala pelayan itu pergi.
Alfhat bergerak cepat membuka pintu kamar Etha dan langsung menyelonong masuk ke dalam kamar. Namun langkahnya terhenti tak mendapati pemilik kamar tersebut.
__ADS_1
"Kemana perginya wanita tu...." Alfhat tidak melanjutkan ucapannya, tubuhnya mematung di tempatnya dengan kedua mata melebar melihat penampilan Etha.
Bersambung.....