Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 24


__ADS_3

Sementara itu, Alfhat dan Richard duduk saling berhadapan dengan suasana bersitegang dan tampak hening, karena belum ada yang buka suara diantara mereka.


"Tuan, nona Etha bukan pelakunya. Tapi, pelaku utamanya adalah nona Vivian." ucap Richard dengan entengnya.


"Apa!" Alfhat langsung terkejut mendengar ucapan orang kepercayaannya. Kedua tangannya di kepal kuat dengan aura-aura hitam seketika mengelilinginya.


"Richard, kamu tidak berusaha membela wanita itu kan." tegas Alfhat sambil mencengkram kuat kemeja Richard. Pasalnya dia belum bisa mempercayai segala ucapan Richard ketika di rumah sakit tadi, bahwa kekasihnya lah yang melakukan perbuatan keji untuk menghabisi nyawa wanita tua itu. Namun dirinyalah yang menjadi sasarannya.


"Tidak Tuan. Ini buktinya, anda bisa memeriksa langsung hasil rekaman cctv yang tersedia di area dapur. Nona Vivian sengaja membayar pelayan wanita untuk menghabisi nona Etha. Dia meminta pelayan wanita untuk selalu menaburi obat yang diberikannya di setiap makanan yang akan dikonsumsi nona Etha, dan obat itu merupakan racun mematikan" jelas Richard tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Alfhat langsung mengambil ponsel Richard untuk melihat hasil rekaman cctv. Hingga rahang Alfhat mengeras dengan tangan di kepal kuat melihat rekaman cctv tersebut dan beberapa deretan foto Vivian bersama seorang pria.


"Vivian!!!" teriak Alfhat dengan amarah menggebu-gebu. Dia tidak menyangka wanita yang selama setahun menjadi penghangat ranjangnya tiba-tiba melakukan perbuatan licik hanya karena wanita bernama Etha.


Padahal dia begitu mengenal wanita itu sosok wanita baik dan lemah lembut. Tapi, mengapa sekarang wanita yang sudah dia akui sebagai kekasihnya itu malah berubah menjadi wanita ular.


Apakah Vivian takut tersaingi oleh Etha, sampai-sampai ingin menyingkirkan wanita tua itu segala?. Ataukah Vivian tidak terima jika Alfhat menikahi wanita tua itu. Pasalnya dia selalu mengobral janji akan menikahi Vivian secepatnya.


"Tenang tuan, bersikaplah biasa-biasa saja kepadanya. Bukankah Anda lebih suka bermain cantik, tanpa harus mengotori tangan anda sendiri. Sebaiknya anda hanya perlu membuat Vivian mengakui perbuatannya sendiri." ucap Richard dengan usulannya.


"Hemm baiklah. Tapi ingat Richard, jika Vivian tidak mengakui perbuatannya malam ini, besok pagi-pagi Vivian harus meninggalkan kediamanku. Satu lagi, putuskan segala kontrak kerja sama dengannya." ucap Alfhat dengan entengnya.


"Baik tuan." ucap Richard sambil mengangguk cepat.


"Dan berapa kali aku katakan agar kamu tidak usah berbicara formal kepadaku!." ucap Alfhat sambil menggebrak meja dan kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Aku sudah terbiasa berbicara formal kepadamu dengan menyebutmu tuan, ya karena kamu adalah bos ku." ucap Richard tersenyum tipis.


Alfhat langsung melempar kaleng soda ke wajah Richard, sontak Richard langsung menangkap kaleng soda tersebut.


"Lalu bagaimana dengan wanita tua itu? apa kalian sudah membuatnya babak belur?" tanya Alfhat yang menanyakan perihal kondisi Etha. Dia merasa bersalah, karena langsung mengambil keputusan untuk memberikan pelajaran kepada wanita tua itu, agar mau mengakui perbuatannya. Namun, wanita tua itu sama sekali tidak bersalah dalam masalah kali ini.


"Maaf tuan, nona Etha baik-baik saja. Karena, sebenarnya aku tidak memberikan pelajaran kepadanya. Aku hanya menyembunyikannya di suatu tempat." ucap Richard hati-hati.


"Oh baguslah. Jauhkan dulu wanita tua itu dari hadapanku, karena setiap kali berurusan dengannya hariku selalu saja kena sial." ucap Alfhat sambil berdengus kesal.


"Baik tuan." ucap Richard dengan anggukan kepala, tersirat senyuman tipis terukir di bibirnya mendengar ucapan bos nya.


"Hemm, kamu boleh keluar." Alfhat bangkit dari duduknya lalu melangkah ke arah ranjang untuk beristirahat sejenak


"Richard."


"Iya tuan." Kembali Richard berbalik badan ke arah bos nya.

__ADS_1


"Terus awasi gerak-gerik Vivian dan jangan sampai Vivian kabur malam ini." ucap Alfhat sambil menatap keluar jendela kamar.


"Baik tuan, serahkan segalanya kepadaku. Aku akan memantau gerak-gerik Vivian."


"Hemm."


Richard bergegas keluar dari kamar bos nya. Diam-diam Vivian mengintip di balik pintu kamarnya.


Akhirnya pria itu pergi juga. Sebaiknya aku harus menjalankan rencana selanjutnya. Batin Vivian.


*


*


*


Sementara di tempat lain.....


Etha tampak berada di dalam kamar mewah dan tengah berbaring di atas ranjang. Sungguh dia merasa lelah berkeliling mengitari apartemen dua lantai tersebut.


Dia tidak menyangka apartemen semewah dan seluas itu hanya memiliki satu kamar. Sungguh bodoh pemilik apartemen tersebut, hingga hanya menyediakan satu kamar dalam apartemennya.


Etha merasa yakin pemilik apartemen tersebut adalah Alfhat, karena dia mampu mencium aroma parfum pria itu tercium jelas di dalam kamar yang sedang ia tempati. Dia sungguh membenci aroma parfum pria cabul itu.


Etha beranjak duduk saat mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar.


"Masuk."


Ceklek


"Ini perlengkapan nona, tuan Richard yang meminta saya untuk membawa perlengkapan nona." ucap wanita paruh baya berpakaian pelayan.


Etha bergegas turun dari ranjang dan bergerak menghampiri wanita paruh baya itu.


"Terima kasih bi." ucap Etha tersenyum.


"Sama-sama non, kalau begitu bibi ke dapur dulu untuk membuat masakan nanti malam." ucap pelayan itu yang bernama Bi Susi


"Tidak usah repot bi."


"Ini sudah menjadi tugas saya nona, memasak makanan untuk nona."


"Ya sudah, nanti aku bantuin ya." ucap Etha tersenyum dan pelayan itu mengangguk menanggapi ucapannya.

__ADS_1


*


*


*


Pagi hari, Alfhat sudah rapi dengan setelan jas kantornya. Rencananya pagi ini dia akan berangkat ke kantor. Dia tidak bisa terus-menerus tinggal di rumah, sementara pekerjaannya semakin menumpuk di kantor.


Richard sudah ada di lantai dasar dan sedang menunggunya turun. Karena dia sendiri yang meminta orang kepercayaannya agar datang pagi-pagi ke kediamannya.


Sementara Vivian sudah menunggu Alfhat keluar dari kamar. Dia bahkan menunggu Alfhat di depan pintu kamarnya dengan pakaian teramat seksi dan terbuka sana-sini.


Vivian sengaja memakai pakaian seksi agar mampu menarik perhatian Alfhat. Dia tidak boleh gagal dengan rencananya kali ini. Botol anggur merek terkenal dengan harga fantastis sudah tertata rapi beserta gelas kristal di atas meja.


"Selamat pagi sayang." ucap Vivian tersenyum merekah sambil mengangkat ujung gaun seksinya.


Alfhat sama sekali tidak menyapanya dan hanya meliriknya sekilas lalu melenggang pergi. Vivian mengepalkan tangannya mendapatkan penolakan dari Alfhat.


Alfhat, tidak seharusnya kamu mengacuhkan ku seperti ini.


"Sayang, kamu belum sembuh total." ucap Vivian berusaha mengejar Alfhat sambil memegang botol anggur merah.


Alfhat sama sekali tidak peduli kepadanya. Dia sudah tidak memiliki gairah untuk bercinta dengan Vivian. Moodnya selalu saja berubah-ubah dan lebih dominan dikuasai oleh sikap emosionalnya. Semua itu terjadi gara-gara Etha, wanita si perawan tua.


"Alfhat!" teriak Vivian sambil mengepalkan tangannya melihat tingkah laku Alfhat.


"Angkat kaki dari kediamanku. Karena aku sudah bosan denganmu." bentak Alfhat tanpa berbalik badan menghadap ke arah Vivian.


"Apa maksudmu sayang, aku tidak percaya dengan ucapanmu barusan." ucap Vivian gugup.


"Jangan bermasa bodoh. Akui saja perbuatan mu, karena kamu adalah dalangnya. Setelah itu, pergi sejauh mungkin dari hadapanku!. Satu lagi, hubungan kita berakhir dan jangan coba-coba mengaku sebagai kekasihku" ucap Alfhat dingin. Karena memang kenyataannya, Vivian lah yang selalu mengakui Alfhat sebagai kekasihnya di depan awak media untuk melambungkan popularitasnya.


"Ya, memang aku pelakunya, aku berusaha meracuni wanita tua yang sudah kamu nikahi. Tapi, kamulah yang menjadi sasarannya. Semua itu kulakukan demi kebaikanmu." balas Vivian tak mau kalah untuk membela diri.


"Angkat kaki dari kediamanku! aku tidak ingin memelihara wanita ular, apalagi seorang penghianat seperti dirimu." murka Alfhat dengan amarah menggebu-gebu. Dia hanya perlu mengusir wanita itu dan pergi sejauh mungkin dari hidupnya.


"Aku tidak menyangka kamu bakal membela wanita tua itu....aku membencimu Alfhat." ucap Vivian dengan suara meninggi.


Hingga para bodyguard Alfhat berdatangan dan langsung menyeret paksa Vivian keluar dari mansionnya. Setelah itu Vivian di lempar ke jalanan beserta koper miliknya.


Tunggu pembalasanku Alfhat. Kamu dan wanita tua itu akan menyesal. Batin Vivian


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2