
"Baik, aku akan pulang ke mansionmu. Tapi dengan satu syarat...." ucap Etha dengan nada penekanan menjeda ucapannya. Alfhat langsung menatapnya hingga pandangan mata mereka bertemu dan terkunci sesaat.
"Katakan saja syaratnya." ucap Alfhat penasaran sambil bersandar di kursi, tatapannya terus tertuju ke arah Etha.
"Tidak ada wanita bayaran yang boleh tinggal di mansion milikmu!. Dan kamu tidak boleh menyentuhku, bagaimana? apa kamu akan terima syaratku?" ucap Etha dengan suara lantang.
Alfhat langsung menyeringai tipis mendengar ucapannya. Dia merasa lucu mendengar ucapan Etha yang tidak ingin disentuh olehnya. Jelas-jelas dirinya sama sekali tidak tertarik dengannya, otomatis syarat seperti itu tidak berarti baginya.
"Aku terima syaratmu, pegang kata-kataku ini." ucap Alfhat dengan santainya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Etha sebagai tanda kesepakatan bersama.
"Oke, deal." Etha langsung menerima uluran tangannya dan berjabat tangan dengan Alfhat.
"Deal" timpal Alfhat menyeringai licik diwajahnya.
Etha langsung menarik tangannya melihat tatapan Alfhat yang terlihat aneh dan sangat mencurigakan. Semoga saja pria itu tidak memilih rencana licik, pikirnya.
"Oh iya, satu hal lagi yang perlu kamu ingat baik-baik, tuan Alfhat. Aku tidak akan lagi berkunjung ke Savana. Karena aku tidak ingin berakhir menjadi wanita penghibur." ucapnya menyindir dengan tatapan dingin.
"Apa kamu tidak malu menjadikan istrimu sebagai wanita penghibur?." lanjutnya dengan nada mencibir.
"Ha ha ha...kenapa aku harus malu? memang nyatanya aku ingin menjadikanmu sebagai wanita penghibur, karena kamu hanyalah wanita pelunas hutang yang memiliki sifat pembangkang dan tidak bisa diatur. Jadi kamu lebih pantas dijadikan sebagai wanita penghibur yang tidak ada harganya" ucap Alfhat diiringi gelak tawa.
Etha mengepalkan tangannya dibawah meja, dia berusaha mengontrol emosinya. Dia tidak ingin terpancing emosi mendengar ucapan Alfhat.
"Oh ya, jadi seperti itu alasannya. Aku salut denganmu tuan Alfhat, bravo. Ternyata kamu hanya pria yang mementingkan kepentinganmu sendiri, berbuat sesuka hatimu!. Kamu tidak menghargai seorang wanita, apalagi istrimu sendiri!. Asal kamu tau, wanita itu dianggap sempurna karena saat kecil ia membuka pintu surga untuk ayahnya, ketika dewasa dan sudah berstatus istri ia menyempurnakan agama untuk suaminya. Dan... saat jadi ibu, surga ada dikakinya." ucap Etha dengan sorot mata tajam.
Alfhat tertegun mendengar setiap ucapannya. Dia tidak berani lagi menimpali ucapan Etha yang panjang lebar. Seperti inilah yang dimaksud setiap kali bertatap muka, ujung-ujungnya berdebat sengit dengan suasana bersitegang dan dirinya berakhir kalah.
Mereka mulai menikmati sarapannya dengan suasana hening. Sesekali Alfhat melirik ke arah Etha yang terlihat lahap memakan makanannya. Dia menjadi tertarik untuk mencari tahu kelemahan wanita tua itu selain keluarganya. Setelah mengetahui kelemahannya, dia yakin wanita tua itu tidak akan lagi mengandalkan sifat pembangkangnya.
Selesai sarapan, mereka memutuskan untuk berangkat kerja. Etha dan Alfhat berjalan beriringan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Tak ada lagi obrolan yang diciptakan mereka berdua.
Dua unit mobil beserta supirnya sedang menunggu mereka di bassment apartemen, salah satu supir itu adalah Richard. Saat melihat kedatangan mereka, dengan cepat para supir bergegas turun dari mobil, lalu bergerak membukakan pintu mobil untuk mereka.
Ketika Alfhat ingin masuk ke dalam mobil, Etha langsung menghentikannya.
"Tunggu."
__ADS_1
"Ada apa lagi." ucap Alfhat dengan kening berkerut.
Etha langsung bergerak menyalami tangan Alfhat dan tak lupa mencium punggung tangannya sebelum masuk ke dalam mobil, membuat Alfhat terhentak kaget. Begitu halnya dengan Richard yang langsung menarik senyuman tipis disudut bibirnya, melihat tingkah istri bos nya.
Richard mengibaratkan pasangan suami istri itu persis Tom and Jerry yang hobinya berantem melulu. Semoga saja mereka segera akur dan cinta satu sama lain, pikirnya.
"Selamat pagi tuan." sapa Richard setengah membungkukkan badannya, namun sapaannya sama sekali tidak dibalas oleh bosnya yang masih terlihat bengong menatap punggung tangannya.
"Tuan." Richard menepuk pelan bahu bosnya, hingga bosnya terkejut dan langsung meliriknya dengan sorot mata tajam.
Kemudian Alfhat bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi bagian penumpang, lalu disusul oleh Richard yang menempati kursi kemudi. Setelah itu, Richard mulai melajukan mobilnya menuju perusahaan.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
Sudah setengah jam berlalu, Vivian berada di dalam mobilnya sembari menunggu kedatangan Alfhat yang tak kunjung datang. Dia merasa bosan terus bersembunyi di dalam mobil. Sehingga dia memutuskan turun dari mobilnya.
Bersamaan pula mobil yang sedari tadi ditunggu kedatangannya melaju pelan menuju parkiran khusus para petinggi perusahaan. Vivian langsung menyeringai tipis melihat mobil tersebut dan bergerak cepat menuju lobi perusahaan.
Rencananya kali ini adalah berpura-pura menjadi karyawan Perusahaan Sanders sebagai office girl. Walaupun pekerjaan tersebut dianggap rendah, namun demi memuluskan rencananya untuk mendapatkan kembali Alfhat, dia rela melakukan apapun, termasuk menjadi office girl.
Vivian begitu pandainya mengatur segalanya untuk bisa menjadi office girl di perusahaan Alfhat. Dia hanya perlu ke loket karyawan untuk mengambil seragam salah satu office girl yang sudah dibayar untuk digantikan olehnya bekerja. Bahkan topeng yang dikenakannya persis dengan wajah karyawan office girl, sehingga sangat memuluskan rencananya.
"Upik, kenapa kamu datang terlambat!" bentak Karyawan senior bertubuh gemuk.
Vivian mengepalkan tangannya dan begitu acuh melihat wanita gemuk itu.
"Kamu tidak mendengarku hah! apa perlu aku memberimu pekerjaan tambahan atas keterlambatanmu ini." ucapnya kembali.
Vivian dengan kesal membuka locker bertuliskan nama Upik, nama karyawan office girl yang dibayarnya, lalu mengambil seragamnya.
"Lakukan saja." ucapnya cuek sambil menutup kembali lockernya. Lalu masuk ke ruang ganti untuk memakai seragamnya
__ADS_1
Wanita gemuk itu mengepalkan tangannya dan ingin menjambak rambut Vivian, namun sayangnya Vivian sudah berlalu masuk ke ruang ganti.
***
Sementara itu, Alfhat sudah berada di ruang kerjanya yang sangat mewah yang terletak di lantai tertinggi dari gedung perkantoran yang ditempatinya.
Alfhat terlihat berkutat dengan laptopnya dan beberapa dokumen penting yang harus ia bumbui tanda tangan. Dia terlihat fokus pada pekerjaannya, sampai-sampai tidak mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Hingga ketukan pintu yang kesekian kalinya barulah dirinya meminta orang itu masuk. Tampak karyawan wanita berseragam office girl membawa nampan berisi secangkir kopi beserta kue kering yang selalu disiapkan untuknya.
Alfhat hanya melirik sekilas karyawan tersebut, lalu kembali fokus pada layar monitornya. Diam-diam wanita itu tersenyum jahat melirik ke arah Alfhat, lalu meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja.
Kali ini kamu tidak akan lolos dariku, Alfhat. Batinnya menyeringai tipis, kemudian pamit undur diri.
Hingga waktu berlalu begitu cepat dan menunjukkan jam makan siang, Alfhat sama sekali tidak menyentuh kopi beserta kue kering yang dibawa office girl tadi. Pasalnya dia sudah sarapan dari rumah dan tidak tertarik untuk mencicipinya.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
Etha sedang melakukan meeting bersama dengan para karyawannya. Mereka membahas tentang apa-apa saja yang perlu dipersiapkan dalam mengikuti peragaan busana.
Para karyawan mulai mengutarakan pendapatnya masing-masing. Hasil akhirnya, mereka semua saling sepakat dengan keputusan bersama yang dianggap memuaskan.
Meeting terus berlanjut selama dua jam lebih, deretan koleksi rancangan busana muslim sudah mereka pilih dan sepakati untuk diikutsertakan dalam ajang bergengsi. Semua karyawan begitu bersemangat dan antusias dengan ajang bergengsi tersebut. Hingga meeting bersama mereka berakhir.
"Semangat semangat." ucap Kayla memberikan semangat kepada rekannya. Para karyawan tampak bertepuk tangan kemudian mereka saling tos.
Etha hanya mampu tersenyum dan berdoa semoga ajang peragaan busana yang akan diikuti berjalan dengan lancar tanpa adanya kendala.
Bersambung....
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏
__ADS_1