
"Kami akan buka suara sebelum kamu memberikan kami imbalan" teriak salah satu perampok.
"Baiklah, aku menyerahkan jam tangan milikku. Ini jam tangan asli harganya lumayan mahal, kalian bisa menjualnya." ucap Richard.
Seketika itu ketua dari si perampok melakukan negosiasi dengannya, hingga berkata jujur karena mereka memanglah anak buah orang yang baru saja ditolongnya.
"Ayo, kita harus segera tinggalkan tempat ini." ucap Richard kepada rombongannya.
Pasalnya informasi tentang bosnya yang sudah meninggalkan tempat tersebut, sudah mereka dapatkan dari para perampok. Richard bersama rombongannya pun mulai bergerak keluar dari hutan.
*
*
*
Selama hampir tiga jam perjalanan akhirnya Etha dan Alfhat sampai di kediamannya. Mereka terlihat lelah berjalan memasuki rumah, dimana para pelayan langsung menyambut kedatangannya yang berbaris di depan pintu dengan raut wajah bahagia.
Alfhat menggandeng tangan Etha sepanjang memasuki rumah, lalu membawanya ke kamar utama.
"Ini kamarmu, kenapa membawaku kesini?" tanya Etha dengan kening berkerut setelah Alfhat mempersilahkannya masuk ke dalam kamar.
"Mulai sekarang kita harus sekamar. Tidak ada lagi yang namanya pisah kamar atau pisah ranjang. Karena semua barang-barangmu sudah berada di dalam kamarku, aku yang sudah menyuruh pelayan untuk memindahkannya tempo hari, sebelum dirimu di culik. Kamu istriku dan harus selalu berada di sampingku. Bukankah istri yang baik harus selesai patuh dengan ucapan suaminya." ucap Alfhat menjelaskan dan tidak ingin dibantah.
Dengan berada di kamar yang sama dengannya, Alfhat yakin cepat atau lambat Etha pasti akan menyukainya seperti dirinya yang sudah lebih dulu menyukai bahkan jatuh hati kepada istrinya.
"Baiklah, aku tidak akan membantah ucapanmu." ucap Etha tidak ingin ambil pusing.
Etha melangkah masuk ke dalam kamar dan bergerak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia butuh berendam untuk menghilangkan penatnya. Sementara Alfhat juga bergerak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kebetulan di dalam kamarnya tersedia dua kamar mandi, jadi mereka tidak perlu bergantian menggunakan kamar mandi. Padahal sebelumnya Alfhat mengelabui Etha bahwa hanya ada satu kamar mandi di dalam kamarnya. Namun sayangnya Etha bukanlah wanita bodoh yang mampu dikelabui.
Cukup lama mereka melakukan ritual mandinya hingga akhirnya selesai juga membersihkan diri. Baik Etha dan Alfhat kompak keluar dari kamar mandi dan bergegas masuk ke dalam ruang ganti untuk mengenakan pakaiannya.
__ADS_1
Tak berselang lama kemudian, mereka terlihat segar mengenakan pakaian santainya. Alfhat hanya mampu duduk di sofa sembari menunggu Etha yang tengah melaksanakan sholat.
Sesekali Alfhat melirik ke arah Etha yang sedang melaksanakan sholat. Perasaannya mendadak tidak menentu dan ada ketertarikan tersendiri untuk ikut melakukan ibadah bersama.
Alfhat menopang dagu sambil memikirkan sesuatu. Apakah dia harus berubah dan menjadi orang baik? mempercayai Tuhan yang sudah menciptakannya di muka bumi ini dan mau menjalankan segala perintahnya serta menjauhi segala larangan-nya.
Tapi, yang menjadi masalahnya adalah dia pria yang buta akan agamanya. Dia tidak tahu menahu tentang agama yang dianutnya, apalagi sedari dulu dia selalu berada dalam lindungan pergaulan bebas. Sehingga sangat sulit baginya untuk berada di jalan kebajikan.
Haruskah dia meminta tolong kepada istrinya untuk membawanya ke jalan yang benar. Akan tetapi, dia terlalu gengsi untuk mengatakan semua itu.
Sementara Etha yang baru saja selesai melaksanakan sholat, langsung mengalihkan pandangannya ke arah Alfhat lalu bergerak menghampirinya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? kamu terlihat serius melamun!" ucap Etha lalu mengulurkan tangannya mencium punggung tangan suaminya.
"Untuk apa kamu mencium tanganku?" tanya balik Alfhat.
"Untuk mendapatkan pahala. Aku sangat menghormatimu sebagai suamiku dan mencium punggung tangan suami sebagai bentuk ketaatan seorang istri kepada suaminya." jawab Etha dengan entengnya.
"Apa itu pahala?" tanya Alfhat yang sama sekali tidak tahu menahu tentang istilah-istilah dalam Islam.
Apa aku harus berubah demi wanita yang kusukai?. Batin Alfhat mulai gundah.
"Sekarang aku tanya, kenapa kamu tidak pernah sholat?"
Etha menatapnya dengan tatapan dingin untuk mendengar langsung jawaban dari pria yang sudah sah menjadi suaminya. Sementara Alfhat langsung membulatkan matanya mendengar pertanyaan istrinya.
"Itu...eehh...itu..." Alfhat terlihat seperti orang bodoh menggaruk kepalanya yang tidak gatal sedang mencari jawaban yang benar.
"Itu apa!!" Etha menatapnya tajam sambil bertolak pinggang.
"Eehhh...itu...karena aku tidak pernah diajari sholat. Ya, tidak ada yang mengajariku sholat." jawab Alfhat dengan jujurnya sampai-sampai terbata mengungkapkannya. Sungguh dia seperti menghadapi Bu Guru BK super galak semasa duduk di bangku sekolah.
"Kenapa tidak belajar sendiri! banyak buku-buku yang bertebaran di toko buku yang bisa kamu pelajari atau kamu bisa berguru pada orang-orang yang tahu tentang agama. Apa susahnya sih. Bukankah kamu orang cerdas dan pastinya mudah untukmu belajar, apalagi hanya belajar tentang sholat lima waktu. Padahal kamu itu seorang pebisnis yang hebat loh, memiliki jiwa pemimpin yang tidak diragukan lagi, mampu membangun perusahaan besar hingga jaya sampai sekarang, lihatlah pencapaianmu itu. Namun sayang sekali, kamu hanya mementingkan dan menomor satukan urusan dunia, sementara urusan akhirat kamu tinggalkan." ucap Etha panjang lebar yang sedang menyindirnya.
__ADS_1
Alfhat hanya mampu bungkam sambil memijit keningnya. Sungguh dia merasa tertampar hanya mendengar ucapan istrinya. Memang itulah kenyataannya, sedari dulu dia tidak mempercayai Tuhannya dan hanya mengejar dunia semata.
"Apa belum terlambat jika aku mau belajar sholat?" tanya Alfhat sambil menatap wajahnya. Tiba-tiba saja pertanyaan tersebut berhasil keluar dari mulutnya.
"Tidak ada kata terlambat, jika kamu ingin belajar tentang sholat. Aku bahkan bersedia mengajarkanmu tentang tata cara sholat lima waktu. Bagaimana? itu sih tergantung kamu sendiri jika memang berkeinginan untuk hijrah." jawab Etha dengan tegasnya.
Sementara Alfhat kembali diam tanpa menggubris ucapannya. Dia pun menjadi bingung sendiri. Apalagi mendengar ucapan istrinya barusan, sungguh membuatnya malu untuk belajar sholat darinya.
Sepertinya aku harus bicarakan masalah ini dengan Richard, siapa tahu dia bisa membantuku. Batin Alfhat.
"Tenang saja, aku akan belajar sendiri." ucapnya pada akhirnya. Itulah jawaban yang menurutnya masuk akal.
"Syukurlah, akhirnya kamu mau berubah." ucap Etha hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman manis.
Alfhat yang melihat senyumannya kembali dibuat terpesona dan dia pun ikut tersenyum menatap wajah istrinya.
"Kapan kamu akan belajar sholat?" ucap Etha antusias lalu duduk di sampingnya.
"Emmm... secepatnya." ucap Alfhat cepat.
"Aku senang mendengarnya, akhirnya kamu mau belajar sholat." ucap Etha tersenyum lalu berhambur memeluknya. Alfhat langsung membalasnya hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman bahagia.
Aku ingin berubah dan mau belajar sholat karena dirimu. Batin Alfhat.
Alfhat tidak menyangka istrinya akan seantusias begini hanya karena dia akan belajar sholat. Bagaimana jika dia melakukan semua syarat yang diajukan kepadanya, bisa-bisa istrinya klepek-klepek kepadanya.
Alfhat mulai bertekad untuk berubah, demi bisa membuat istrinya menyukainya dan tidak menutup kemungkinan bisa saja istrinya mulai jatuh cinta kepadanya. Hanya itu keinginannya untuk sekarang, berubah karena cinta.
Bersambung....
Jangan lupa like, love, komen dan vote ya teman-teman 🤗
terima kasih 🙏🙏🙏
__ADS_1