
"Apa! ini tidak adil!" bantah Alfhat cepat. Dia sungguh tidak ingin berpisah dengan istrinya.
"Tolong ikuti ucapan Pak Kiai. Ini demi kebaikanmu." bujuk Etha.
"Tapi..."
"Kamu sudah berjanji kepadaku, sekarang buktikan." ucap Etha sambil menaikkan alisnya.
Mau tak mau Alfhat hanya mampu pasrah dan patuh segala aturan di pondok pesantren. Padahal dia tidak rela berpisah sementara dengan istrinya tercinta. Kalau perlu, dia akan mengikatnya agar bisa membawanya pergi kemana-mana.
Etha yang melihat raut wajah sendu Alfhat mulai mendekatinya guna untuk memberikan semangat kepadanya.
"Semangat tuan jagoanku. Kamu pasti bisa! bukankah kamu sudah menyetujui syaratku dan akan melakukan apa saja." ucap Etha tersenyum.
Alfhat menghela nafas berat lalu menarik tubuh Etha masuk ke dalam pelukannya.
"Awas! jangan nakal." ucap Etha tersenyum sambil mengelus punggung kekar Alfhat. Sementara Alfhat tidak menggubris ucapannya, dia hanya mencium puncak kepala Etha dengan penuh kasih sayang.
"Ehemm." Pak Kiai sudah berdehem untuk meminta mereka secepatnya berpamitan.
Mengerti akan deheman pak Kiai, Etha pun berpamitan kepada Alfhat. Dia percaya Alfhat akan bersungguh-sungguh belajar agama di tempat semestinya.
"Jaga dirimu, aku pergi. Assalamualaikum" ucap Etha berpamitan kepada Alfhat sambil mencium punggung tangannya.
"Waalaikumsalam." balas Alfhat dengan raut wajah sendunya dan sama sekali tidak ingin melepaskan genggaman tangannya yang menggenggam tangan Etha.
Dengan terpaksa Etha melepaskan genggaman tangannya. Kemudian Etha juga berpamitan kepada Pak Kiai. Setelah itu dia pun bergegas pergi.
Alfhat kembali bergerak menyusul istrinya.
"Kenapa lagi temanmu itu?" tanya Pak Kiai kepada Richard melihat Alfhat keluar dari ruangannya.
"Maaf Pak Kiai, mereka pengantin baru. Wajarlah jika tidak ingin berpisah." jawab Richard.
"Ooh begitu. Ya sudah, ayo kita ke masjid sekalian panggil temanmu. Nak siapa lagi?." ucap Pak Kiai yang belum hafal nama Alfhat.
"Tuan Alfhat" ucap Richard cepat.
"Ya nak Alfhat." ucap Pak Kiai
"Baik Pak Kiai" ucap Richard dengan anggukan kepala.
Sementara Alfhat sendiri sedang mengantar Etha ke parkiran. Kebetulan dia sendiri yang menghubungi supir pribadinya untuk datang menjemput istrinya.
__ADS_1
Mendadak Alfhat tidak bersemangat menatap mobil yang membawa istrinya mulai melaju meninggalkan tempat tersebut. Dengan malas dia berbalik badan dan melangkah menghampiri Richard yang sudah menunggunya.
"Mari tuan." Ucap Richard yang akan menjadi petunjuk jalan menuju masjid yang letaknya di samping bangunan dua lantai.
Pak Kiai bersama dua rekan gurunya tengah mengarahkan beberapa santri putra yang merupakan anak didiknya untuk membersihkan area masjid.
Alfhat dan Richard ikut bergabung bersama mereka membersihkan area masjid. Setelah selesai membersihkan halaman masjid, Alfhat dan Richard mulai diajarkan niat berwudhu dan tata cara berwudhu oleh Pak Kiai.
Setiap kali mereka salah dalam penyebutan niat berwudhu, mereka langsung mendapatkan hukuman, yakni menimbah air di dalam sumur lalu menyirami sayuran yang letaknya di pekarangan pondok pesantren.
Baik Alfhat dan Richard beberapa kali mendapatkan hukuman, hingga akhirnya mereka berhasil menghafal niat berwudhu dan tata cara berwudhu. Cara mengajar Pak Kiai memang begitu keras, namun penuh makna yang tersembunyi di dalamnya.
*
*
*
Sementara di tempat lain.....
Sebuah mobil sport berwarna merah melaju kencang membelah jalanan. Arah tujuannya menuju kediaman Alfhat. Berkali-kali ponsel pengemudi itu terus berdering, namun si pengemudi mobil hanya mengacuhkannya.
"Aku tidak akan mengangkat panggilanmu, Kendrick. Kamu seolah membela pria licik itu. Jelas-jelas pria licik itu dalang dibalik semua masalah ini." ucapnya sambil mengepalkan tangannya. Orang itu tidak lain adalah Dilan.
"Aku bahkan sudah mendesak kedua orang tuaku untuk berkata jujur dan memang nyatanya mereka mengatakan yang sejujurnya, bahwa pria licik itu memberikan tawaran agar kakak perempuanku yang dijadikan sebagai alat pelunas hutang untuk melunasi seluruh hutang-hutang perusahaan, Papa."
Sementara itu, terlihat mobil hitam terus mengikutinya dari belakang. Bahkan pengemudi mobil itu terus membunyikan klakson untuk meminta Dilan berhenti.
"Sial, ternyata Kendrick mengikutiku." ucapnya berdengus kesal, karena dia mampu mengenali plat mobil di belakangnya dan itu adalah mobil Kendrick.
"Berhenti Dilan!" teriak Kendrick meminta Dilan untuk berhenti.
Bahkan mereka berkendara ugal-ugalan dengan laju mobil sama-sama melintas jalan yang jarang dilewati kendaraan umum. Kendrick terus menaikkan kecepatan laju mobilnya hingga dia berhasil menghadang mobil Dilan dengan cara memarkirkan mobilnya di tengah jalan.
"Turun!" ucap Kendrick sambil menggebrak kap depan mobil Dilan, membuat Dilan mengepalkan tangannya dan bergegas turun dari mobilnya.
"Untuk apa kamu menghentikanku hah!" tantang Dilan yang langsung memegang kerah kemeja Kendrick tanda menantangnya.
"Untuk membuatmu mengerti, karena kamu sedang keliru!" tegas Kendrick dengan tatapan dingin.
"Apa maksudmu mengatakan
seperti itu. Tidak mungkin aku yang keliru, tapi, kamu yang sedang keliru?" balas Dilan dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
"Dengar baik-baik, aku hanya tidak ingin seseorang sedang memanfaatkan keadaan ini. Bayangkan saja dia mengirimkanmu sebuah pesan dan ke semua pesannya berisi tentang rahasia pernikahan Kak Etha dan tuan Alfhat. Bukankah orang itu sedang mencari kawan dengan motif membongkar rahasia orang." jelas Kendrick.
"Tapi, pria licik itu....."
"Dan kamu langsung mempercayainya bukan. Disini kamu seolah-olah dijadikan sebagai robot oleh orang yang tidak berkepentingan. Kita tidak tahu, bisa saja yang membongkar rahasia pernikahan mereka adalah musuh dari tuan Alfhat sendiri. Bahkan kamu sudah mengambil keputusan dengan berniat untuk memisahkan mereka. Apa kamu yakin bisa memisahkannya dengan mudah? Belajarlah dari pengalaman yang sudah-sudah. Contohnya tuan Adelio dan nona Rania, mereka jelas-jelas orang yang bermusuhan, tapi ujung-ujungnya mereka saling jatuh cinta. Jangan sampai kamu memisahkan orang yang sudah saling mencinta." ucap Kendrick panjang lebar menjelaskan kepada saudara sepupunya.
"Tapi, tetap saja aku tidak setuju pria licik itu sudah menginjak-injak harga diri keluargaku dan juga harga diri kak Etha." ucap Dilan marah sambil melepaskan tangannya yang sempat mencengkeram kuat kerah kemeja Kendrick.
"Terserah apa katamu, yang jelas aku tidak ingin kamu berbuat keributan. Apalagi berniat untuk memisahkan mereka" ucap Kendrick sambil menepuk bahunya lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya dan menancap gas meninggalkan tempat tersebut
"Arghhh sial, apa yang harus kulakukan?" tanyanya pada diri sendiri.
Mau tak mau Dilan putar balik mengikuti mobil Kendrick. Dia tidak jadi berkunjung ke kediaman Alfhat untuk memberikan peringatan kepada pria yang sudah menikahi kakak perempuannya. Jangan sampai tindakannya mendatangkan masalah yang lebih serius.
*
*
*
Seminggu kemudian....
Selama tinggal di pesantren, banyak perubahan yang terjadi dalam diri Alfhat dan juga Richard. Mereka sudah mampu melaksanakan sholat lima waktu, bahkan sudah taat beribadah.
Diawal-awal Alfhat sempat jatuh sakit karena belum bisa beradaptasi dengan lingkungan di pondok pesantren. Dimana dia dituntut untuk setiap hari bangun sebelum waktu subuh tiba, karena mereka harus membersihkan masjid terlebih dahulu sebelum digunakan beribadah.
Namun perlahan dia sudah mampu membiasakannya, mengingat banyaknya hukuman di depan mata yang akan dia dapatkan jika sampai terlambat bangun.
Dari situlah membuat tubuh Alfhat jatuh sakit karena tidak terbiasa bangun di waktu subuh. Untungnya Etha setiap hari berkunjung untuk menemuinya, sehingga dia mendapatkan perawatan langsung dari sang istri dan sudah pasti merawatnya dengan baik.
Tidak hanya itu, dengan kehadiran Etha setiap hari di pondok pesantren, perlahan kadar kerinduannya kepada sang istri sedikit berkurang. Bayangkan saja, dia harus setiap hari melihat istrinya, jika tidak, dia akan menjadi pusing dan tak bertenaga. Seolah-olah istrinya adalah obat penyemangat nya.
Dan setiap kali Etha berkunjung ke pesantren, dia selalu membawa aneka menu makanan kesukaan Alfhat. Selain itu, dia juga berbagi makanan kepada para santri. Serta membagikan perlengkapan berupa alat tulis dan pakaian untuk para santri.
Aksinya itu mendapat perhatian dari Pak Kiai dan seluruh jajaran pengurus pondok pesantren. Mereka sangat berterima kasih atas kemurahan hati istri dari salah satu santri. Dan Alfhat begitu bangga memiliki istri yang baik hati dan rajin bersedekah.
Alfhat yang tengah asyik mengobrol bersama Etha dikejutkan dengan kedatangan Richard.
"Tuan!"
"Ada apa?" ucap Alfhat cuek, karena Richard mengganggu saja waktu berduaannya dengan sang istri.
"Hari ini akan diadakan sunat massal. Yang belum disunat di minta untuk berbaris di lapangan." ucap Richard.
__ADS_1
"Apa? sunat?" Alfhat terlonjat kaget dan langsung memegang erat sarung yang dipakainya. Sementara Etha terkekeh melihat tingkah lucu Alfhat.
Bersambung....