Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 53


__ADS_3

"Belum tuan. Tapi, kurasa mereka tidak akan pernah selamat keluar dari hutan. Banyak hewan buas berkeliaran di dalam hutan dan para perampok sadis tinggal di dalam hutan, bisa saja menangkap mereka lalu membunuhnya." ucap anak buahnya yang merupakan mata-matanya.


"Wow, keluar dari kandang singa, mereka akan masuk ke kandang harimau." ucap Lucas menyeringai licik diwajahnya. Dia sungguh berharap Alfhat dan istrinya tewas di dalam hutan.


*


*


*


Masih di dalam hutan belantara...


Etha dan Alfhat sedang mencari buah-buahan yang bisa dimakan yang tersembunyi di dalam hutan. Karena persediaan makanannya sudah habis. Tampak Alfhat sudah mengenakan kembali pakaiannya dan tengah mencari buah.


"Lihat, disana ada jambu biji." Tunjuk Alfhat tersenyum tipis.


"Ya, kalau begitu aku duluan yang akan memetiknya." ucap Etha antusias dan bergerak cepat melangkah untuk memetik jambu biji.


Alfhat hanya mampu terkekeh melihat tingkah menggemaskan istrinya. Dia pun mengalihkan pandangannya, hingga tiba-tiba bogem mentah langsung menghantam wajahnya.


Hidungnya langsung mengeluarkan darah segar, Alfhat terkejut dan langsung melihat pelakunya. Matanya membulat sempurna melihat rombongan pria gondrong menghadangnya dengan senjata api laras panjang.


"Lari nona debat." teriak Alfhat kepada istrinya. Sedangkan Etha terlonjat kaget melihat orang-orang bersenjata sudah mengepungnya.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu. Kita harus selalu bersama." timpal Etha penuh waspada.


Sontak salah satu pria gondrong yang baru saja menghajarnya kembali melayangkan pukulan keras ke wajah Alfhat, dengan sigap Alfhat berhasil menghindar dan balik memukuli pria itu. Mereka pun saling adu kekuatan, melayangkan pukulannya masing-masing.


Terlihat pria paruh baya dengan rambut gondrong yang sudah memutih melangkah mendekati Etha. Wajahnya tampak mengerikan dengan luka jahitan di pipi bagian kanannya. Sepertinya pria paruh baya itu ketua dari kelompoknya. Sedangan Etha tampak waspada sambil memundurkan langkahnya.


"Jangan takut nona cantik, aku hanya tertarik dengan tasmu." ucapnya tersenyum jahat lalu mengambil tas ransel Etha yang tergantung di ranting pohon.


"Kembalikan tasku, tuan." ucap Etha dengan tatapan tajam.


Sementara Alfhat sedang bertarung dengan salah satu rombongan pria itu. Hingga Alfhat berhasil menggulingkan tubuh pria itu ke tanah lalu menghajarnya habis-habisan.


Pria paruh baya yang menyaksikan pertarungan mereka langsung tertawa terbahak-bahak, dengan cepat Etha langsung memukul punggung pria paruh baya itu lalu menendang kedua lututnya hingga membuat tubuh pria itu terjatuh bersamaan dengan senjata apinya yang terlempar di tanah.


Dengan cepat Etha bergerak untuk mengambil senjatanya, namun salah satu rombongan pria itu langsung meringkusnya dan menodongkan senjata api di kepalanya.


"Lepaskan dia!" ucap Alfhat dengan suara meninggi melihat istrinya sudah ditodongkan pistol.

__ADS_1


"Pertengkaranmu dengan aku, jangan menyeret dia!" ucap Alfhat marah.


Pria paruh baya yang mendengar ucapannya langsung meminta anak buahnya melepaskan Etha. Rupanya mereka semua adalah para perampok kejam yang bersembunyi di dalam hutan.


"Lepaskan dia!" ucap pria paruh baya itu dengan tatapan dingin nan mengintimidasi.


Setelah Etha berhasil lepas, tanpa basa-basi Etha langsung menghajar aset berharga pria yang baru saja menodongkannya pistol. Membuat pria itu mengeram kesakitan.


"Aku desak kamu untuk mengembalikan tasku!" ucap Etha sambil menunjuk pria paruh baya itu. "Dan biarkan kami pergi!" lanjutnya dengan tatapan tajam.


"Nona cantik, kamu bisa membawa semua isi dalam hutan ini yang bisa kamu bawa." ucap pria paruh baya itu sambil meletakkan tas ransel Etha. Dia salut dengan kebenaran nona cantik berhijab itu.


"Apa ucapanmu bisa dipercaya?" tanya Etha sambil melirik ke arah Alfhat.


"Tentu, itu janjiku kepadamu, nona." jawabnya tersenyum tipis.


"Benarkah? kamu bisa pegang janji, tuan?" tanya Etha dengan mata memicing.


Alfhat hanya mampu menatap ke arah Etha. Dia tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh istrinya.


Sementara pria paruh baya itu tampak berpikir sejenak lalu kembali buka suara.


"Aku ketua dari kelompokku. Segala ucapanku dapat dipercaya dan dijadikan sebagai perintah untuk para anak buah ku. Dan aku seorang Gypsy, kehormatanku sebagai seorang Gypsy selalu menepati janji. Janjiku kepadamu tidak akan pernah kutarik kembali. Apa saja yang bisa kamu bawa, silahkan bawa!" ucap pria paruh baya itu dengan serius. Gypsy atau orang rom adalah kelompok etnik yang tinggal dalam banyak komunitas di penjuru dunia dan terbiasa berpindah-pindah tempat.


Tanpa basa-basi Etha langsung mengangkat tubuh Alfhat persis karung beras. Sontak semua anak buah pria paruh baya itu yang melihatnya, langsung tertawa terbahak-bahak.


"Bodoh! apa yang kamu lakukan!" bisik Alfhat merasa malu ditertawakan orang-orang.


"Membawamu pergi." balasnya berbisik dan sedikit kesulitan mengangkat tubuh Alfhat yang sangat berat.


Etha tersenyum tipis dan sedikit membungkukkan badannya menatap ke arah pria baya yang terlihat terkejut melihat aksinya itu. Dengan sekuat tenaga Etha mulai melangkah untuk segera membawa Alfhat pergi.


Mendadak pria paruh baya itu langsung tergelak tawa. Dan seluruh anak buahnya sudah tertawa terbahak-bahak sedari tadi menertawakan tingkah lucu pasangan suami istri itu.


"Ha ha ha ha...hei...tolong kembalilah. Sebentar lagi akan gelap, sebaiknya kita mengobrol di temani kopi hangat." teriak pria paruh baya itu diiringi gelak tawa.


"Huaahahaha."


Mereka semua tertawa terpingkal-pingkal melihat pasangan suami istri itu yang menurutnya lucu.


Kini mereka tengah berkumpul di tempat persembunyian para perampok. Hari sudah berganti malam. Etha dan Alfhat memutuskan untuk mengikuti para perampok. Karena mereka sudah berjanji akan membawanya keluar dari hutan.

__ADS_1


Api unggun sudah menyala dan mampu menghangatkan tubuh mereka. Etha dan Alfhat baru saja selesai makan malam bersama para perampok dengan menu makan malam umbi-umbian yang hanya di bakar.


Dan etha begitu bersyukur menikmatinya, berbeda dengan Alfhat yang sama sekali tidak memakannya. Mereka pun kembali duduk bersama disuguhkan kopi hangat di depan tenda besar.


Alfhat masih menaruh curiga kepada mereka semua. Dia pun mengajak Etha untuk sedikit menjauh dari mereka.


"Aku salut kepadamu. Kamu sungguh hebat dalam hal berdebat. Tapi, tidakkah kamu menaruh curiga kepada mereka?" ucap Alfhat menatap manik mata istrinya.


"Terima kasih atas pujianmu, tuan Alfhat. Tentu aku menaruh curiga kepada mereka, termasuk kamu. Tapi, kita tidak tahu sisi baik orang lain. Apalagi ketua kelompoknya seorang Gypsy, aku sempat mendengar cerita tentang orang gypsy yang selalu menepati janjinya, berbeda denganmu, tuan. Kamu selalu ingkar janji" ucap Etha tersenyum yang kembali mengejeknya lalu meneguk kopinya.


Alfhat langsung bungkam mendengar ucapannya. Di tatapnya lekat-lekat wajah sang istri. Refleks Etha menoleh kearahnya hingga tatapan mata mereka bertemu.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menyinggung mu. Mulutku selalu saja berbicara pedas kepadamu" ucap Etha tersenyum dan tidak enak hati merutuki ucapannya sendiri.


"Tidak, kamu bebas berbicara apapun. Ini mulutmu yang sudah menghipnotis aku. Kamu sudah mengalihkan duniaku" ucap Alfhat serius sambil mengelus pipinya. Tatapannya begitu dalam dan penuh damba.


Etha hanya mampu tersenyum merekah mendengar ucapannya. Sontak Alfhat langsung terpesona hanya melihat senyumannya.


Deg


Alfhat menelan ludahnya dengan kasar menatap bibir manis Etha. Perlahan Alfhat memajukan wajahnya ke wajah Etha dengan tatapan mata mereka saling terkunci, hingga kening mereka saling menempel, bahkan hembusan nafas keduanya saling menerpa wajahnya.


Tanpa basa-basi Alfhat langsung mencium bibir Etha mellumatnya lembut dan penuh perasaan. Etha hanya mampu memejamkan matanya tanpa melakukan penolakan. Dia membiarkan Alfhat mencium bibirnya.


Tiba-tiba saja aksinya itu dipergoki oleh pria paruh baya bersama anak buahnya. Mereka semua langsung tertawa terbahak-bahak melihat pasangan suami istri itu sedang berciuman.


Alfhat langsung menghentikan aksinya. Dia pun menjadi malu dengan wajah merona memerah, begitu halnya dengan Etha. Wanita berhijab itu hanya mampu menunduk dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.


"Ha ha ha...silahkan lanjutkan kembali di dalam tenda." ucap Pria paruh baya itu tertawa, kemudian meninggalkannya.


Refleks Etha langsung berhambur memeluk tubuh Alfhat lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alfhat, karena dia merasa malu. Sementara Alfhat hanya mampu tersenyum sambil mengeratkan pelukannya.


Aku menyukaimu wanita tua. Batin Alfhat tersenyum bahagia. Perasaannya tidak salah lagi, dia benar-benar menyukai wanita pelunas hutang yang sudah sah menjadi istrinya.


Bersambung.....


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🤗


Yang penasaran dengan kisah Keynand dan Viona, silahkan mampir di novel terbaru author dengan judul Terpaksa Menikahi Tawanan-ku.


Semoga kalian syuka🤗

__ADS_1



__ADS_2