
"Hanya kamu yang pantas untuk melahirkan anak-anakku." ucap Alfhat tersenyum hangat sambil menyentuh perut rata istrinya. Sedangkan Etha mendadak raut wajahnya berubah dengan kedua mata berkaca-kaca.
Semoga saja di dalam rahimmu sudah tumbuh anak kita, sayang. Batin Alfhat tersenyum tipis.
Kemudian Etha melangkah menghampiri kedua orang tuanya yang tampak mengobrol bersama Paman dan bibinya. Alfhat hanya mampu membiarkannya saja tanpa ingin berbaur bersama mereka.
*
*
*
"Apa! wanita tua itu sudah menguping pembicaraan kita!" ucap Vivian tampak kesal.
"Hemm." ucap Ares dengan anggukan kepala.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Vivian lalu menggigit ujung kukunya karena dilanda kecemasan.
"Kita harus segera pergi. Sebelum mereka melihat keberadaan kita." ucap Ares kepada Vivian. Kemudian pria itu mulai melihat situasi disekitarnya. Saat merasa aman disekitarnya, dia memberi kode kepada Vivian untuk mengikutinya.
"Ayo cepat!" ucap Ares kepada Vivian. Takutnya anak buah Alfhat menangkap mereka.
Dan benar saja ketika mereka akan keluar melewati pintu belakang hotel, mereka sudah di kepung oleh anak buah Alfhat.
"Jangan bergerak!" ucap salah satu anak buah Alfhat sambil menodongkan pistol ke arah mereka.
Seketika Ares dan Vivian mengangkat kedua tangannya tanda mereka menyerah. Sekarang mereka sudah di kepung dan tidak memiliki jalan keluar untuk kabur.
"Tangkap mereka." ucap suara berat seseorang dari arah belakang. Membuat dua anak buah Alfhat bergerak cepat menyergap tubuh mereka.
"Lepas!" ucap Vivian sambil memberontak, namun tidak dihiraukan oleh anak buah Alfhat.
Sementara itu, pria yang mengeluarkan titahnya untuk menangkap Vivian dan Ares berjalan menghampirinya. Beberapa anak buah Alfhat langsung memberi jalan kepada orang yang dianggap memiliki peranan penting terhadap kelompoknya dan bisa dikatakan sebagai orang kepercayaan bosnya.
"Bawa mereka ke lobi hotel untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya." ucapnya dengan sorot mata tajam. Pria itu tidak lain adalah Richard.
"Baik tuan Richard." ucap mereka dengan kompaknya. Kemudian menyeret paksa Vivian dan Ares ke lobi hotel.
Richard langsung menghubungi seseorang di ujung telepon. Setelah mendapatkan tanggapan dari seseorang di ujung telepon, ia bergegas menemui bosnya.
__ADS_1
***
Di ballroom hotel...
Pesta telah berakhir, beberapa tamu undangan mulai meninggalkan hotel. Begitu halnya dengan keluarga Alexander tengah bersiap-siap untuk pulang, salah satunya Etha dan kedua orang tuanya. Pasalnya Etha sudah memutuskan akan pulang bersama dengan kedua orang tuanya dan akan menginap di rumah orang tuanya.
Karena perasaan Etha saat ini tidaklah menentu. Terkadang ia marah, sedih, kecewa dan kesal. Bahkan ia merasa malu dan juga minder berbaur bersama dengan kerabat terdekatnya. Bagaimana tidak, suaminya difitnah menghamili wanita yang bernama Vivian dan wanita itu adalah mantan kekasih suaminya.
Kedatangan Vivian menimbulkan masalah baru bagi kehidupan rumah tangganya. Dimana wanita itu meminta pertanggungjawaban kepada suaminya atas kehamilannya. Tentunya dia sebagai istri begitu syok mendengar kabar tidak mengenakkan tersebut.
Sementara anggota keluarga lainnya tidak ada yang berani untuk bersuara apalagi ikut campur dengan urusan pribadinya. Keluarganya hanya diam dan tak satupun mau membahas masalah yang tengah menimpa rumah tangganya.
Meskipun demikian, diam bukan berarti mereka tidak peduli dengan masalah yang tengah dihadapinya. Namun, mereka memberikan waktu kepadanya untuk menyelesaikan masalahnya secara baik-baik tanpa menimbulkan perpecahan di antara kedua pihak.
Padahal Etha dan Alfhat baru saja merasakan kebahagiaan merayakan pesta pernikahannya sekaligus perayaan atas hubungannya sebagai pasangan suami istri yang selama ini masih dirahasiakan kepada keluarga dan kerabat terdekat lainnya, tapi endingnya tidak terduga. Tiba-tiba wanita asing datang dan mengaku-ngaku sedang mengandung anak Alfhat.
Sementara Alfhat sendiri hanya duduk melamun sembari menunggu kedatangan Richard. Ia sudah memberikan perintah kepada orang kepercayaannya untuk membereskan masalahnya saat ini juga.
Di satu sisi, Dilan dan Kendrick tengah berdiri di samping mobil mereka masing-masing yang sedang menunggu kedatangan keluarganya.
Tak berselang lama kemudian, terdengar suara keributan di area lobi hotel. Seketika Dilan dan Kendrick bergerak cepat untuk melihat situasinya. Begitupun yang dilakukan oleh Alfhat.
"Lepaskan aku." Vivian terus berteriak sambil memberontak untuk segera dilepaskan. Tapi, pria yang masih memegangi kedua tangannya tak menggubrisnya.
"Lepaskan dia!" ucap Etha meminta anak buah Alfhat melepaskan Vivian.
"Nyonya..."
"Dia sedang hamil, tidak seharusnya kalian memperlakukannya seperti itu." ucap Etha marah.
"Jangan dengarkan ucapan istriku. Tetap pegangin dia, jangan sampai dia kabur sebelum buka suara." ucap Alfhat dingin melirik ke arah istrinya.
"Mas dia itu....." Etha tidak melanjutkan ucapannya karena Alfhat kembali memotong ucapannya.
"Aku tahu sayang bahwa dia sedang hamil, untuk itu kita akan membongkar kebusukannya dan menyelesaikan masalah ini." ucap Alfhat dengan tatapan hangatnya.
Semua mata langsung memandang kearah Alfhat. Vivian dan Ares mengepalkan tangannya mendengar ucapan Alfhat. Seharusnya dia tidak tertangkap seperti ini.
Alfhat, begitu mudahnya kamu berpaling kepada wanita tua seperti dia. Aku bersumpah akan menghancurkan pernikahan kalian. Apapun caranya, aku harus membuat kalian menderita. Batin Vivian.
__ADS_1
"Tapi..."
Alfhat mengangkat tangan kanannya meminta istrinya untuk diam. Kemudian dia mencari keberadaan orang kepercayaannya.
"Richard!"
"Iya tuan."
Terdengar suara Richard dari arah belakang yang sedang menyeret paksa sosok pria tampak babak belur. Kemudian Richard mendorong pria babak belur itu hingga jatuh bersimpuh di bawah kaki bosnya.
Alfhat lalu berjongkok untuk melihat dengan jelas wajah pria itu. Hingga senyuman tipis terpatri di wajahnya melihat dengan jelas wajah pria itu.
"Mari ku bantu." ucapnya lalu membantu pria itu berdiri.
Vivian langsung membulatkan matanya melihat wajah pria babak belur itu. Seketika raut wajahnya berubah pucat.
"Hans, apa aku tidak salah nama ataukah aku salah orang?" tanya Alfhat menyeringai.
"Ti-tidak tuan. Memang benar namaku Hans." ucap pria babak belur itu terbata-bata dan memang dia adalah Hans, teman Vivian.
Hans, bagaimana bisa dia berada di sini. Awas jika dia berkata jujur bahwa aku pernah berhubungan dengannya. Batin Vivian cemas dan terlihat begitu gelisah di tempatnya berdiri
"Aku rasa orangnya sudah lengkap. Untuk itu, aku tidak suka berbasa-basi lagi." ucap Alfhat dengan tegasnya.
Alfhat lalu memegang kuat kerah baju Hans dan menatap tajam manik mata Hans, membuat Hans bergidik ngeri melihat tatapannya. Perlahan Hans mengatupkan kedua tangannya memohon ampun kepada Alfhat.
"Berkata lah dengan jujur jika kamu masih menyayangi nyawamu." ucap Alfhat dengan ancamannya. Kemudian Alfhat mendorong tubuh Hans ke arah Vivian, hingga membuat Vivian terlonjat kaget dan semakin gugup saja.
Vivian langsung menatap tajam Hans untuk memintanya tidak buka suara. Namun sayangnya, Hans lebih takut dengan ancaman Alfhat dibandingkan ancaman darinya.
"Aku Hans, orang yang sudah menghamili Vivian. Anak yang dikandung oleh Vivian adalah darah dagingku." ucap Hans dengan entengnya tanpa ada yang ditutupi.
Semua orang terkejut mendengar pengakuan dari Hans, termasuk Vivian sendiri. Wanita itu langsung membulatkan kedua matanya dengan tangan dikepal kuat dan sedang berusaha menahan amarahnya.
Aku tidak akan mengampunimu Hans. Beraninya kamu mengingkari janjimu. Batin Vivian dengan amarah menggebu-gebu.
Bersambung....
Mohon maaf baru update 🙏
__ADS_1
akhir-akhir ini aku sibuk banget, jadi harap di maklumi ya teman-teman 🙏