Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 43


__ADS_3

Etha tersenyum lalu melangkah menuju pintu keluar, diluar dugaan Dilan dan Kendrick sudah menunggunya di luar sana. Dengan terpaksa Etha berubah haluan, dia tidak ingin di interogasi oleh mereka berdua.


Etha memutuskan keluar lewat pintu belakang. Namun, tiba-tiba seseorang langsung menarik tangannya dan menyeret tubuhnya masuk ke dalam mobil.


"Lepasin....." Etha terus memberontak sambil memukul-mukul kepala orang itu tanpa ampun.


"Hei, sampai kapan kamu akan terus memukuli suamimu, hah!." bentak orang itu dan berusaha menghalau kedua tangan Etha yang begitu aktif memukuli kepalanya.


"Astaga, hobi bener kamu bertingkah seperti pencuri. Untung saja aku belum mengeluarkan cairan cabaiku." ucap Etha terhentak mendengar suara yang sangat familiar dia dengar setiap hari.


Membuat Etha langsung menghentikan aksinya, lalu mendongak menatap wajah orang itu yang tidak salah lagi adalah Alfhat, suaminya. Refleks Alfhat menundukkan pandangannya menatap wajah Etha dan tanpa basa-basi langsung mengecup bibirnya.


Kedua mata Etha membulat sempurna mendapatkan serangan mendadak dari Alfhat. Dia kalah telak dari pria itu, hingga dia memilih buang muka menatap keluar jendela mobil dengan perasaan kesal.


"Jika kamu kembali menggunakan cairan itu, aku pastikan kamu berada di dalam neraka." ancam Alfhat sambil menepuk pelan pipinya.


"Aku tidak takut, karena seharusnya kamu yang pantas menempatinya." sindir Etha balik menantangnya.


Alfhat menyeringai tipis mendengar ucapannya. Sungguh dia menjadi tertarik untuk menaklukkan wanita tua pelunas hutang yang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Untuk apa kamu menyeretku masuk ke dalam mobilmu? terus kemana wanita cantik yang bersamamu?" tanya Etha bermode galak.


"Karena kamu terlihat mencurigakan, makanya aku langsung menyeretmu masuk ke dalam mobilku. Jangan sampai kamu kabur bersama dengan saudaramu itu." jawab Alfhat dengan jujurnya. "Mengenai wanita yang bersamaku tadi, aku sudah menyuruh supir yang selalu mengantar jemput kamu setiap hari untuk mengantarnya pulang." jelas Alfhat.


"Apa wanita itu tidak marah? kamu meninggalkannya begitu saja!" ucap Etha dengan mata memicing. Seolah ucapan Alfhat menimbulkan kebohongan.


"Tentu tidak, aku sudah menghadiahkannya sebuah gelang berlian seharga rumah. Jadi tidak mungkin dia akan marah kepadaku. Akan tetapi, dia akan terus mengincarku untuk kembali melakukan kencan bersamaku." ucap Alfhat dengan percaya dirinya.


Begitulah memang kenyataannya, para wanita ingin selalu kencan bersamanya, karena selain mendapatkan waktu berharga Alfhat, mereka juga mendapatkan hadiah mewah dari hasil kencannya bersama pria sejuta pesona itu.


"Oh jadi seperti itu. Pantas saja kamu dikerumuni oleh wanita-wanita cantik. Kamu terlalu royal kepada para wanitamu, akan tetapi kamu tidak bersikap royal kepada kaum duafa dan fakir miskin yang jauh lebih membutuhkan." Etha langsung menyindirnya setelah mendengar ucapannya.


"Kamu belum mengenal tentangku, jadi jangan menuduhku seperti itu. Kamu bahkan belum tahu sekaya apa suamimu ini. Yang jelas, aku selalu menyumbangkan hartaku kepada orang-orang yang membutuhkan dan aku menjadi donatur di setiap rumah sakit dan sekolah-sekolah swasta di berbagai negara. Jadi jangan asal bicara, jika kamu tidak tahu segalanya." Ucap Alfhat yang balik menyindirnya.


Membuat Etha langsung buang muka dan tidak lagi menimpali ucapannya. Etha memilih memasang seatbalt. Kemudian Alfhat langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut.


Alfhat tampak fokus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesekali dia melirik ke arah Etha yang terlihat duduk diam menatap keluar jalan yang dilewatinya. Merasa hening tanpa adanya obrolan sepanjang perjalanan, membuat Alfhat buka suara.


"Apa kamu tidak cemburu, jika wanita cantik tadi kembali berkencan denganku?" tanya Alfhat yang ingin mendengar langsung jawaban dari wanita tua itu.

__ADS_1


Sontak Etha langsung menoleh kearahnya.


"Aku sama sekali tidak cemburu. Untuk apa aku cemburu kepadamu, terserah kamu mau melakukan apa, yang jelas tidak merugikan diriku. Sampai sekarang kelakuanmu belum juga berubah dan makin menjadi-jadi. Satu hal lagi, orang yang mengandalkan sifat cemburunya sama saja orang itu kurang percaya diri, ingat itu." ucap Etha dengan tegasnya.


Alfhat langsung merem mendadak mobilnya hingga menepi di pinggir jalan. Pandangannya langsung dialihkan pada wanita di sampingnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Etha dengan tatapan curiga.


"Apa kamu tidak curiga, tiga unit mobil dibelakang sana masih terus mengikuti kita." Ucap Alfhat sambil melirik kaca spion mobilnya.


Etha hanya mampu bengong lalu menoleh kearahnya.


"Lalu?"


"Sebaiknya kamu menunduk, aku akan mencoba mengecohnya." ucap Alfhat lalu membuka dasboard mobilnya dan mengambil pistolnya.


Etha terkejut melihat Alfhat memegang sebuah pistol.


"Apa kamu ingin membunuh orang?" tanya Etha sambil menelan ludahnya melihat pistol ditangan Alfhat.


"Tergantung, jika keadaannya sudah mendesak" jawab Alfhat dengan entengnya. "Cepat menunduk!" peringatnya, membuat Etha tampak patuh mendengar ucapannya.


Tanpa basa basi Alfhat langsung menembak ban depan mobil urutan kedua, hingga mobil itu oleng dan langsung menabrak mobil didepannya. Kembali Alfhat menembak ban belakang mobil yang menjadi targetnya hingga laju mobil kedua tadi tak tentu arah dan langsung menghantam keras pembatas jalan hingga terbalik.


Tiba-tiba saja peluru meleset ke arahnya, hingga suara tembakan terdengar menggema di tempat tersebut. Karena menjadi target sasaran dari si penembak, membuat Alfhat langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut.


Etha yang sedang bersamanya terlihat khawatir, namun Alfhat tampak santai-santai saja mengemudikan mobilnya. Sesekali Etha melihat ke arah belakang, sontak Alfhat langsung menegurnya.


"Jangan terus melihat ke belakang, jangan sampai kedua matamu yang menjadi sasarannya. Duduklah dengan tenang, serahkan semuanya kepadaku, selama kamu bersamaku, aku pastikan kamu akan tetap aman." ucap Alfhat dengan penuh keyakinan. Etha yang mendengar ucapannya langsung menoleh kearahnya.


"Apa ucapanmu bisa dipercaya?"


"Hemm." Alfhat manggut-manggut lalu menggenggam salah satu tangannya.


Tatapan Etha langsung beralih pada tangannya yang kini di genggam oleh Alfhat. Etha hanya mampu diam dan tidak melakukan perlawanan apalagi penolakan ketika tangannya berada dalam genggaman tangan Alfhat.


Di persimpangan jalan, dua unit mobil terparkir di jalan, dengan beberapa pria berpakaian lengkap dan masing-masing membawa pistol seolah menunggu kedatangan mobil Alfhat.


Sementara Alfhat tersenyum tipis melihat dua unit mobil beserta pria berpakaian lengkap. Mereka semua adalah anak buahnya. Perlahan Alfhat memelankan laju mobilnya. Pandangannya langsung dialihkan ke arah Etha dan terkejut melihat Etha sudah tertidur.

__ADS_1


"Bereskan orang-orang bodoh itu. Jangan habisi mereka sebelum buka suara. Kita harus tahu siapa bos mereka." ucap Alfhat dingin dengan sorot mata tajam.


"Baik tuan." ucap salah satu anak buahnya yang menjadi pemimpin dari kelompoknya. Mereka semua kompak membungkukkan badannya memberi hormat kepada ketuanya.


Kemudian Alfhat langsung menancap gas menuju kediamannya. Perjalanannya membutuhkan waktu sekitar satu jam lamanya, hingga mobil yang membawanya sampai di kediamannya.


Alfhat bergegas turun dari mobil, lalu bergerak ke samping untuk membuka pintu mobil. Dia dengan hati-hati mengangkat tubuh Etha lalu menggendongnya ala bridal style.


Alfhat melangkah lebar memasuki rumahnya. Namun tiba-tiba saja dia mengerutkan keningnya saat mendengar benda jatuh dari gaun yang dikenakan oleh Etha.


Kedua matanya memicing melihat benda kecil berwarna hitam layaknya sebuah kancing baju tergeletak di lantai dan dia tahu betul benda itu.


"Sial." umpatnya kesal, kemudian bergegas membawa Etha ke kamar.


***


Sementara itu, Dilan dan Kendrick merasa kehilangan jejak Etha, karena seolah saudarinya sengaja menjauhinya. Namun tak berselang lama, mereka langsung mengetahui titik lokasi keberadaan Etha melalui kamera kecil yang sempat diselipkan di gaun kakak perempuannya.


"Kita sudah menemukan alamatnya. Sekarang cari tahu siapa pria yang sudah menikahi kak Etha." ucap Dilan antusias. Kini mereka sudah berada di apartemen Dilan.


"Ya, orang IT yang kita percayai masih sedang meretas data-data mengenai pernikahan Kak Etha. Kita tunggu informasinya beberapa menit lagi." ucap Kendrick yang sedang duduk selonjoran di sofa.


Tak berselang lama, sebuah notifikasi berupa email masuk di ponsel mereka. Dilan dengan cepat membuka email yang dikirim oleh ahli IT. Seketika kedua matanya membulat sempurna membaca email masuk di ponselnya yang berupa informasi tentang pernikahan kakak perempuannya.


"Jadi pria bajingan itu yang sudah menikahi kak Etha." Ucap Dilan sambil mencengkram kuat ponselnya.


Bersambung.....


Bonus visual...


Etha Putri Mayer



Alfhat Ramous Sanders



Visualnya dari cover yang dulu ya, ini hanya imajinasi author, jika tidak cocok kalian bisa berimajinasi sendiri 😁

__ADS_1


__ADS_2