Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 46


__ADS_3

"Aku ingin mengajakmu ke lokasi proyek." ucap Alfhat dengan raut wajah datarnya.


"Tapi.. "


"Tidak ada penolakan. Cepatlah bersiap-siap, aku hanya memberimu waktu tiga menit." ucap Alfhat tidak ingin dibantah.


"Baiklah." ucap Etha lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Mereka kembali bertingkah akur, padahal beberapa menit yang lalu mereka habis melakukan perdebatan. Tingkah mereka persis anak kecil yang habis marahan lalu kembali akur.


Tidak butuh waktu lama, Etha sudah rapi dan siap diajak pergi oleh Alfhat. Dengan canggung Etha berjalan mendahului Alfhat, membuat Alfhat langsung menarik tangannya lalu digenggamnya erat. Etha tidak menolak tangannya digenggam oleh Alfhat.


Mereka tampak serasi berjalan bersama-sama menuruni anak tangga. Dua pria bertopi yang sedang meletakkan buket bunga di ruang tamu tampak terkejut melihat mereka.


"Kak Etha." gumam salah satu pria itu.


"Kita dalam mode penyamaran, jadi jangan berbuat ulah." timpal rekannya.


"Ini tidak bisa dibiarkan aku harus menghampiri kak Etha." ucapnya kekeh.


"Tidak Dilan! kita sedang berada di kandang singa, jangan sampai kita tertangkap. Bisa-bisa kak Etha ikut terseret karena tingkah bodohmu itu." jelas rekannya.


"Kendrick....arghhh sial." umpatnya berdengus kesal dan merasa tidak bisa berbuat apa-apa.


Mereka berdua adalah Dilan dan Kendrick. Mereka sengaja datang di kediaman Alfhat dengan melakukan motif penyamaran, agar bisa membawa saudarinya pergi dari kediaman Alfhat.


Etha yang melangkah cepat mengikuti langkah kaki Alfhat hampir saja terjatuh dari tangga. Untungnya Alfhat dengan sigap menangkap tubuhnya.


"Bodoh! perhatikan langkahmu. Kamu hampir saja terjatuh dari tangga. Bagaimana jika aku tidak sempat menangkap tubuhmu? bisa-bisa tubuh kecilmu ini menggelinding dari atas pertengahan anak tangga hingga terhempas ke lantai dasar. Sudah dipastikan tulang-tulangmu akan patah" ucap Alfhat menegurnya sambil merangkul pinggangnya.


"Maaf, aku cuma mengikuti langkahmu saja yang sepanjang jerapah." ucap Etha dengan tatapan mengejek.


Alfhat langsung menatapnya dengan sorot mata tajam. Tanduk-tanduk kecil seolah bermunculan di kepalanya. Sementara Dilan sedang memperhatikan mereka, tatapan mata Dilan tidak lepas dari arah Alfhat dan menimbulkan kebencian lewat tatapannya.


"Pelayan!" teriak Alfhat memanggil pelayanannya.


"Iya tuan." tampak kepala pelayan berlari kecil menghampirinya.


"Aku akan keluar bersama istriku. Apa bekal yang aku minta sudah kamu siapkan?" tanya Alfhat.

__ADS_1


"Sudah tuan, saya sudah menyimpannya di dalam mobil anda." ucap kepala pelayan dengan pandangan tertunduk.


"Hemm, kerja bagus." ucapnya lalu melanjutkan langkahnya dengan salah satu tangan masih setia merangkul pinggang Etha.


Etha terkejut melihat banyaknya buket bunga berjejer rapi di ruang tamu. Dia sempat melirik ke arah karyawan toko yang tampak sibuk menyusun buket bunga di ruang tamu. Dia merasa heran dan seperti mengenal mereka hanya melihat gestur tubuhnya.


"Ada perayaan?" tanya Etha.


"Tidak ada." jawab Alfhat cepat.


"Lalu untuk apa buket bunga sebanyak itu. Oh atau jangan-jangan kamu mau menggelar pesta tahunan dengan mengundang para wanitamu, benarkan? Dan kamu sengaja menyiapkan buket bunga sebanyak itu." ucap Etha dengan tebakannya.


Buket bunga sebanyak itu aku persiapkan untukmu bodoh. Aku sengaja memborong banyak semata-mata hanya ingin menghadiahkanmu. Tapi, semuanya menjadi batal, karena syaratmu itu. Batin Alfhat kesal.


"Semua yang kamu katakan salah besar. Jika kamu pengen buket bunganya ambil saja satu. Aku bebas membagikannya kepada siapapun, termasuk kamu." ucap Alfhat.


"Tidak perlu, aku sama sekali tidak menyukai bunga." tolak Etha cepat.


"Kamu tidak menyukai bunga?"


"Ya" Etha merasa bingung mendengar pertanyaan Alfhat.


"Oh itu, karena aku sangat menghargai pemberian orang, tidak mungkin juga aku menolak pemberian orang lain kan dan juga pemberian kedua saudaraku. Aku terima buket bunganya, setelah itu aku berikan kepada karyawanku" jelas Etha tak ada yang perlu ditutup-tutupi dan Alfhat sudah tidak menanggapi ucapannya.


Etha merasa aman, karena sampai sekarang Alfhat tidak membahas tentang saudaranya yang juga hadir di acara peragaan busana. Dia hanya takut pria itu ikut menyeret saudaranya dalam perselisihan yang sedang mereka lakoni.


Sial, rupanya dia tidak menyukai bunga. Dasar wanita aneh yang langka. Batin Alfhat.


Alfhat dan Etha berjalan bersama-sama keluar dari rumah. Tangan Alfhat masih betah merangkul pinggang Etha, seolah tidak ingin melepaskannya. Sementara dua pasang mata tampak menatapnya tajam dengan sorot mata tidak suka, dimana keduanya tengah berdiri di teras rumah.


Salah satu dari mereka melangkah tergesa-gesa menghampirinya dan tanpa basa-basi langsung melayangkan pukulan keras ke wajah Alfhat, membuat Alfhat sampai linglung dan hampir terjatuh untungnya Etha masih setia memegangi lengannya.


Orang itu kembali menyerang Alfhat dan memberondong pukulan keras membabi buta ke wajah Alfhat, sedangkan Alfhat tidak terima dia langsung melakukan perlawanan dan balik memukuli orang itu. Sehingga terjadi aksi perkelahian sengit yang dilakukan oleh Alfhat dengan pria bertopi itu.


Sementara Etha mulai panik melihat mereka, dia berusaha untuk menghentikannya.


"Tolong berhenti." teriak Etha meminta mereka berhenti dan mencoba untuk melerainya.


Namun tiba-tiba saja seseorang mencekal tangannya, Etha terlonjat kaget melihat orang itu. Bersamaan pula para bodyguard Alfhat berdatangan dan langsung mengepung mereka, kesemuanya masing-masing membawa pistol dan langsung ditodongkan kearah pria bertopi itu.

__ADS_1


"Jangan bergerak." ucap salah satu bodyguard Alfhat yang sudah mengepung kedua pria bertopi itu. Etha dengan cepat mencoba melindungi pria bertopi yang memegang tangannya.


"Jangan ada yang menembak!" peringat Etha dengan tatapan tajam kepada para bodyguard Alfhat.


Membuat salah satu bodyguard Alfhat langsung mengangkat sebelah tangannya memberikan peringatan kepada rekannya untuk tidak gegabah.


Sementara Alfhat dan salah satu pria bertopi masih saja melakukan perkelahian. Teknik beladiri keduanya sama-sama mumpuni, hingga tiba-tiba saja pukulan keras pria bertopi itu langsung mendarat sempurna di wajah Alfhat hingga membuat sudut bibir Alfhat pecah dan mengeluarkan darah, refleks tubuh Alfhat langsung terhempas ke lantai.


Pria bertopi itu kembali bergerak untuk memukuli Alfhat, dengan cepat Etha melerainya.


"Berhenti....hentikan Dilan!" teriak Etha berteriak menyebut nama adiknya itu dan berusaha melerainya.


Seketika para bodyguard Alfhat langsung menangkap pria bertopi itu yang tidak lain adalah Dilan, adik Etha. Lalu menodongkannya pistol di kepalanya.


Sementara Etha bergerak membantu Alfhat berdiri. Tampak raut wajah Alfhat babak belur, begitu halnya dengan Dilan, wajahnya tampannya juga tampak lecet.


Alfhat menggeram kesal dengan wajah merah padam melihat saudara Etha menyelinap masuk di kediamannya. Bahkan mereka melakukan penyamaran mengenakan seragam toko bunga.


Etha terlonjat kaget melihat saudaranya sudah diringkus oleh bodyguard Alfhat dan masing-masing mereka ditodongkan pistol.


"Habisi mereka berdua!" perintah Alfhat dengan amarah menggebu-gebu kepada bodyguardnya.


"Tidak! jika kalian ingin membunuhnya, bunuh aku terlebih dahulu." ucap Etha merentangkan kedua tangannya mencoba untuk melindungi saudaranya.


"Dasar bajingan! beraninya kamu menikahi saudaraku. Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya apalagi berbuat semena-mena kepadanya!" teriak Dilan dengan tatapan tajam.


"Bagus adik ipar, apa kamu tidak ingin berkenalan denganku? Oh...kurasa kamu sudah mengenalku. Kalau begitu, katakan pesan terakhirmu kepada istriku!" ucap Alfhat dingin dengan wajah datarnya sambil melangkah mendekat ke arah Etha.


"Tidak, jangan lakukan tuan Alfhat, kumohon" ucap Etha menggeleng dengan tatapan memohon mencoba untuk bernegosiasi dengannya.


Alfhat hanya mampu menyeringai licik yang kini berdiri di hadapannya. Kemudian Alfhat menyentuh dagunya lalu mengusapnya lembut dan mengarahkan wajah Etha ke arah saudaranya.


"Lihat mereka baik-baik. Dia sendiri yang datang kepadaku untuk menyambut kematiannya. Lakukan sesuatu yang bisa membuatnya lepas dari hukuman mati" bisik Alfhat ditelinga nya.


Dada Etha bergemuruh menahan emosinya setelah mendengar ucapan dari Alfhat. Dia berusaha untuk tenang. Dengan cerdiknya Etha mencoba menarik senyuman disudut bibirnya, padahal sorot matanya memancarkan ketakutan mendalam melihat saudaranya sudah ditodongkan pistol.


Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Batinnya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2