
"Aku hanya ingin sendiri." ucap Alfhat dingin.
"Tidak, aku masih ingin menemanimu." ucap Etha mendongak menatapnya dengan tatapan memohon.
Alfhat menghembuskan nafasnya dengan kasar dan perlahan dia mulai berjalan pelan-pelan. Dia pun membiarkan Etha memapahnya berjalan menuju kamar yang ditempatinya. Wajarlah dia merajuk kepada istrinya, bagaimana tidak dia harus rela mempertaruhkan masa depannya demi istri tercinta.
Setibanya di kamar yang ditempati oleh Alfhat dan Richard, tampak Etha dengan hati-hati membantu sang suami duduk di atas ranjang.
"Awwww...uhuh...uhuh. Huh...huh!, aku sudah tidak sanggup. Lihatlah, aku bahkan kesulitan untuk duduk, semua ini karena kamu, nona debat!" kesal Alfhat dengan deru nafas ngos-ngosan. Kemarahan dan kekesalannya sudah tidak bisa lagi dia tahan.
"Istighfar..perbanyaklah berucap istighfar dan tetap sabar menjalaninya, karena ini salah satu bentuk ujian dari Allah. Jika kamu hanya mementingkan sifat jengkel dan marahmu, otomatis syetan terus menghasut mu." ucap Etha lemah lembut berusaha untuk menasihatinya.
"Istighfar! apa kamu pikir aku akan sembuh hanya berucap kata-kata itu. Sebaiknya pergilah, sebelum amarahku....." Alfhat tidak melanjutkan ucapannya karena Etha langsung meletakkan telunjuknya di bibir Alfhat untuk membuatnya bungkam.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi rasa sakitmu itu?. Apa perlu aku menciummu, tuan jagoan?" tanya Etha sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tidak mungkin jika dia meladeni suaminya dengan balik memarahinya, bisa-bisa menimbulkan pertengkaran yang sengit.
Alfhat tidak menggubris ucapannya, dia malah buang muka, ibaratnya sedang melakukan aksi jual mahal kepada istrinya tercinta. Sedangkan Etha yang melihat tingkahnya itu, hanya bisa menghela nafas.
"Kurasa cara itu tidak akan membuatmu..."
"Aku mau dicium!" ucap Alfhat cepat sambil mengalihkan pandangannya ke arah sang istri. Alfhat tidak ingin rugi, sejauh ini dia sudah berkorban banyak untuk istrinya. Apalagi dia sangat-sangat merindukan istrinya.
Walaupun Etha hampir setiap hari berkunjung di pesantren untuk menemuinya, bisa dikatakan selama seminggu istrinya datang menemuinya di pesantren, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya mengobrol dan pegangan tangan yang sering dia lakukan bersama sang istri. Jika melepaskan kesempatan emasnya, otomatis dia akan rugi besar.
"Ya sudah, ayo lakukan sekarang." ucap Alfhat yang sudah tidak sabaran.
Etha tersenyum tipis lalu duduk di samping Alfhat, membuat Alfhat dengan cepat menolah ke arahnya. Perlahan Etha mulai memajukan wajahnya, begitu halnya yang dilakukan oleh Alfhat.
Saat wajah mereka semakin dekat dan semakin dekat dengan jarak hanya terkikis beberapa centi, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka lebar.
"Tuan, aku membawa obat nyeri yang...." Richard menjeda ucapannya dan terkejut melihat bosnya ingin bermesraan, sungguh dia datang tidak tepat waktu. Seharusnya dia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar tersebut.
Sontak Etha dan Alfhat langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar. Dimana Alfhat langsung menatap tajam orang yang tengah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Maaf.. maaf" ucap Richard cepat sambil membungkukkan badannya, lalu menutup cepat pintu kamarnya. Dia langsung merutuki kebodohannya sendiri, mungkin setelah ini dia akan mendapatkan amukan dari bosnya.
Sementara Alfhat tampak berdengus kesal dengan tangan di kepal kuat. Sungguh bodoh orang kepercayaannya, apa dia tidak melihat bahwa istrinya lah yang membawanya ke kamar, pikirnya.
"Kamu terlihat lucu kalau wajahmu ditekuk seperti itu." ucap Etha mencoba mencairkan suasana.
"Kamu belum menciumku!" ucap Alfhat dengan nada penekanan.
"Iya..iya, aku akan melakukannya sekarang." timpal Etha terkekeh kecil. Kemudian Etha kembali memajukan wajahnya ke wajah Alfhat.
"Muacchh"
Etha mencium seluruh wajah Alfhat, hingga membuat Alfhat tergelak tawa karena begitu senang mendapatkan ciuman darinya, tanpa dia harus melakukannya terlebih dahulu seperti biasanya.
"Sudah selesai. Apa kamu senang? apa kamu sudah puas, tuan jagoan?" ucap Etha disertai senyuman manisnya dan Alfhat hanya mampu manggut-manggut tanda dirinya begitu senang. Untuk kata puas, dia tidak akan pernah puas, dia selalu saja ingin lagi dan lagi bahkan lebih daripada itu.
Namun setelahnya, Alfhat langsung menggeram kesakitan karena tidak sengaja melepaskan ujung sarungnya pada bagian depan, hingga membuat kain itu langsung membentur aset berharganya.
"Akkhhh, huh.. huh" Alfhat langsung berteriak histeris, seolah separuh nyawanya hampir saja menghilang dari tubuhnya, hanya karena sebuah kain bermotif kotak-kotak.
Etha bergerak cepat mengelus lembut punggungnya untuk menenangkannya, refleks Alfhat ingin tiduran di pangkuannya. Dengan penuh kasih, Etha membiarkannya dan perlahan ikut membantunya.
Tingkah Alfhat benar-benar manja persis anak kecil yang baru saja disunat dan Etha hanya mampu memakluminya sambil memijit kening Alfhat, agar membuatnya rileks.
Dengan tulus dan penuh kasih sayang, Etha merawat Alfhat selama seminggu ini. Dia bahkan setiap hari harus bolak-balik ke pesantren. Dia benar-benar fokus merawat suaminya dan selalu menghargai setiap perjuangan yang dilakukan oleh suaminya, untuknya dan untuk dirinya sendiri.
*
*
*
Sebulan kemudian.....
__ADS_1
Terlihat Alfhat sedang bersiap-siap untuk pulang ke kediamannya. Begitu halnya yang dilakukan oleh Richard yang sedang mengemas pakaiannya.
Alfhat menatap dengan seksama kamar yang ditempatinya bersama Richard, terdapat dua tempat tidur berukuran kecil yang masing-masing hanya muat satu orang. Namun tempat tidur itulah yang selalu dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat.
Hingga Alfhat tersenyum tipis jika membayangkan saat pertama kali datang ke pesantren. Karena setiap malam sebelum tidur, dia selalu menendang tempat tidur itu bahkan merutukinya karena tidak mampu membuatnya tertidur, hingga lambat laun semuanya bisa dia atasi dengan baik karena sudah terbiasa.
Selama empat puluh hari tinggal di pesantren, banyak perubahan yang terjadi dalam diri Alfhat, termasuk sikap Alfhat berubah 180°. Dia sungguh berubah total, dia mulai mendalami ilmu agama dan bisa dikatakan dia sudah hijrah. Rajin melaksanakan sholat lima waktu dan sudah bisa mengaji walaupun belum begitu lancar, namun usahanya patut dihargai dan masih banyak ilmu lainnya yang mereka dapatkan dari guru spiritualnya.
Tidak hanya itu, Alfhat meninggalkan kebiasaan buruknya, termasuk bisnis hitamnya. Semua yang dilarang oleh hukum dan agama sudah dia tinggalkan. Dia
Dan selama tinggal di pesantren, Alfhat tidak meninggalkan pekerjaannya. Urusan kantornya selalu dia handle dengan baik bersama Richard. Walaupun berada di pesantren, tapi dia tetap bekerja setiap saat tanpa ingin meninggalkan rutinitasnya.
"Semuanya sudah siap tuan, kita bisa berangkat sekarang." ucap Richard yang baru saja selesai mengemas seluruh pakaiannya dan juga pakaian bosnya.
Seketika lamunan Alfhat terbuyarkan mendengar ucapan Richard.
"Ya. Aku sudah rindu dengan suasana rumah. Sebaiknya kita berpamitan kepada Pak Kiai." ucap Alfhat antusias.
Pak Kiai H.Ibrahim sosok orang yang berjasa bagi mereka. Walaupun cara mengajarnya begitu keras, namun dibalik semua itu, mampu memberikan perubahan besar dalam diri mereka masing-masing.
Alfhat dan Richard berjalan bersama-sama menemui Pak Kiai H.Ibrahim yang sedang duduk di teras kantor. Mereka pun berpamitan kepada pria paruh baya itu dan tak henti-hentinya mengucapkan kata terima kasih. Sedangkan Pak Kiai H.Ibrahim hanya mampu berpesan kepada mereka untuk selalu memperdalam ilmu agama dan jangan sekali-kali meninggalkan sholat.
Setelah selesai berpamitan, Alfhat dan Richard mulai bergerak menuju mobilnya untuk memasukkan beberapa perlengkapannya di bagasi mobil. Sedangkan perlengkapan lainnya, dibawa oleh kedua bodyguard Alfhat, lalu mereka pun masukkan ke dalam mobil.
Semuanya sudah beres, mereka bergegas masuk ke dalam mobil dan siap pergi. Terlihat beberapa santri putra yang pernah menjadi teman mereka tampak melambaikan tangannya ke arah parkiran.
Alfhat ikut melambaikan tangannya ke arah mereka, hingga mobil yang membawanya mulai melaju keluar dari gerbang, hingga akhirnya meninggalkan tempat tersebut.
Akhirnya aku bisa pulang. Batin Alfhat tersenyum tipis.
Bersambung....
Mohon maaf teman-teman, aku baru update 🙏
__ADS_1
Soalnya aku sakit 🤧