
"Istri?" Kayla terkejut dan langsung menatap mereka secara bergantian dengan tatapan mata melotot.
"Ya, istriku bernama Etha Putri Mayer dan aku mencarinya." ucap pria tampan itu dengan entengnya. Rupanya pria tampan itu tidak lain adalah Alfhat dan pria yang bersamanya adalah Richard, orang kepercayaannya.
Lagi-lagi Kayla terlonjat kaget melihat pria tampan itu mengakui bosnya sebagai istri. Memang dia tidak tahu seperti apa pria yang sudah menikahi bosnya.
"Tapi sekali lagi aku minta maaf tuan, Miss Etha tidak ingin menerima tamu." ucap Kayla kekeh pada pendiriannya sambil mengatupkan kedua tangannya di hadapan kedua pria tampan itu. Kayla akan terus menjalankan perintah bosnya walau harus menghadapi kedua pria tampan itu.
"Tidak seharusnya kamu menghalangi tuan Alfhat untuk bertemu istrinya." ucap Richard dengan tegasnya.
"Aku hanya menjalankan perintah Bos ku" ucap Kayla ketus sambil memasang wajah galaknya yang menatap sinis pria itu.
Richard mengepalkan tangannya mendengar ucapan wanita itu. Richard melangkah mendekat ke arah wanita yang menghalangi jalannya. Sontak Alfhat langsung menghentikannya lalu menepuk pundaknya.
"Dia cocok denganmu. Jangan galak-galak kepadanya, segera dekati dia. Aku ingin melihatmu segera menikah, Richard. Semoga kelak anak-anakku bisa menjadi teman bermain bahkan menjadi sahabat anak-anakmu. Dan kalau perlu kita harus melakukan perlombaan buat anak. Jadi tunggu apalagi." ucap Alfhat berbisik yang memberikan nasihat kepada orang kepercayaannya.
Sementara Richard hanya mampu diam membisu tanpa ingin menggubris ucapan bosnya. Sungguh dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran bosnya. Bisa-bisanya bosnya memintanya untuk mendekati wanita galak itu.
Menurutnya, walaupun muka bumi ini kekurangan wanita sekalipun, hingga hanya tersisa wanita galak di muka bumi ini, dia memilih untuk menjomblo seumur hidupnya.
Melihat Richard dan wanita berhijab yang diyakini karyawan istrinya, Alfhat memilih melangkah mendekat ke arah salah satu karyawan butik untuk menanyakan ruangan istrinya dan karyawan itu langsung menunjukkan ruangan bosnya.
Tanpa basa-basi Alfhat bergegas masuk ke dalam ruangan Etha yang tidak terkunci dan itu sebuah keberuntungan baginya.
"Assalamualaikum, istriku sayang" ucap Alfhat memberi salam.
"Waalaikumsalam" Etha langsung mengalihkan pandangannya hingga terlonjat kaget melihat Alfhat sudah berada di ruangannya.
Pasalnya Etha baru saja selesai sholat dhuhur, dimana Etha masih mengenakan mukenah. Sedangkan Alfhat mulai melangkah mendekat ke arahnya.
"Aku merindukanmu, nona debat." ucap Alfhat tersenyum lalu berhambur memeluk tubuh Etha, membuat Etha langsung membalas pelukannya.
"Kenapa tidak membalas ucapanku heh?" ucap Alfhat sambil melonggarkan pelukannya. Ditatapnya kedua manik mata istrinya dengan tatapan hangat dan penuh cinta.
"Aku juga merindukanmu, tuan jagoan yang super mesum dan juga cabul." ucap Etha tersenyum tipis sambil mengelus rahang kokoh suaminya.
__ADS_1
"Wah..kamu sudah berani mengolok-olok aku dengan sebutan seperti itu." ucap Alfhat berpura-pura marah, lalu mencubit gemas hidung mancung Etha. Sedangkan Etha balik mencubit pipinya. Mereka pun tertawa terbahak-bahak dengan kelakuannya yang konyol persis anak kecil yang sedang berantem.
"Ha ha ha, kamu yang memulainya. Tolong hentikan tuan jagoan" ucap Etha tertawa terbahak-bahak, dimana Alfhat sedang menggelitik perutnya. Etha tidak tinggal diam, dia balik menggelitik Alfhat. Suara tawa keduanya semakin menggema di ruangan tersebut.
Puas tertawa bersama, tiba-tiba Alfhat langsung menggendong tubuh Etha lalu mencium cepat bibir Etha dengan begitu racusnya sambil melangkah menuju sofa.
Sementara itu, Kayla yang begitu panik karena tidak menjalankan perintah bosnya dengan baik langsung saja menyelonong masuk ke ruangan bosnya. Hingga kedua matanya membola sempurna melihat pasangan suami istri sedang berciuman.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kayla segera berbalik badan dan melangkah cepat keluar dari ruangan bosnya. Takutnya keberadaannya di ketahui oleh mereka.
"Huh.... ya Allah, mimpi apa aku semalam." gumam Kayla sambil menepuk-nepuk kedua pipinya yang mendadak memerah akibat melihat secara langsung bosnya sedang bermesraan.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak masuk ke dalam." ucap Richard dingin yang berdiri di dekat pintu dan sedang menjaga pintu ruangan tersebut.
Kayla hanya melirik tajam Richard, kemudian melangkah cepat menuju ruangannya. Sedangkan Richard hanya menatapnya sekilas dan tidak ingin ambil pusing dengan wanita itu.
Di dalam ruangan, terlihat Alfhat dan Etha tengah duduk bersama dan saling suap-suapan. Mereka sedang menikmati makan siang bekal yang dibawa oleh Etha dari rumah..
"Nona debat, besok malam kita akan kedatangan tamu penting." ucap Alfhat tersenyum lalu meminum segelas air putih bekas gelas yang dipakai minum oleh istrinya.
"Coba tebak, siapa kira-kira?" Alfhat tersenyum tipis yang mulai melakukan rahasia-rahasiaan kepada istrinya.
"Pasti rekan bisnismu, iyakan!" ucap Etha dengan tebakannya sambil merapikan peralatan makannya. Setelah itu segera membawanya ke wastafel untuk mencucinya m
"Iya sayang, siapa lagi tamu pentingku selain rekan bisnisku." ucap Alfhat tersenyum sambil melangkah mendekat ke arah Etha yang sedang mencuci peralatan makannya. Kemudian Alfhat memeluk tubuh Etha dari belakang.
"Aku memang sudah menduganya." ucap Etha cengengesan yang menoleh kearahnya. "Oh iya, apa kamu sudah ingin pulang ke kantor atau pulang ke rumah?" tanya Etha.
"Apa kamu sudah bosan melihatku, sampai kamu mengusirku sekarang?"
"Bukan begitu maksudku, aku hanya ingin memastikan apa kamu ingin pulang ke kantor atau pulang ke rumah atau jangan-jangan kamu akan melakukan hal lain lagi." ucap Etha dengan tatapan penuh curiga sambil menghadap kearah Alfhat untuk menatap dengan intens kedua manik mata suaminya.
"Aku masih ingin disini. Aku tidak ingin pulang ke kantor ataupun pulang ke rumah ataupun melakukan hal lain. Sejujurnya, niatku datang menemuimu untuk membawamu kencan. Namun sayangnya, diluar sedang turun hujan. Maka dari itu, ada baiknya jika kita kencan saja di ruang kerjamu" ucap Alfhat sambil menaikkan alisnya.
"Baiklah jika itu maumu. Tapi, tidak untuk urusan yang satu itu. Bagaimana jika aku mengajarimu menggambar sketsa...."
__ADS_1
"Tidak, aku sama sekali tidak memiliki bakat seni terutama tentang gambar menggambar." tolak Alfhat cepat lalu melihat disekelilingnya. Hingga seringai licik terpatri diwajahnya melihat sebuah benda yang sering dimainkannya.
"Bagaimana kalau kita main catur saja." ucap Alfhat sambil menunjuk meja dimana tersedia di atasnya papan catur.
"Ya ampun, itu punya Kayla sepertinya dia lupa membawanya pulang." ucap Etha kemudian melangkah mendekat ke arah meja kerjanya. Alfhat bergerak mengikuti langkahnya.
"Jadi selama ini, kamu hobi main catur di ruanganmu?" tanya Alfhat sambil bersedekap menatap Etha.
"Hah, tidak tidak...bukan aku yang bermain catur, tapi kedua karyawanku yang sering bermain catur di ruanganku." jawab Etha yang membantah ucapan Alfhat.
"Kalau begitu lawan aku bermain catur. Jika kamu kalah, maka kamu tidak bisa datang bekerja besok pagi. Tapi, jika aku yang kalah maka...."
"Kamu tidak boleh membuatku begadang nanti malam." timpal Etha cepat.
"Itu sudah menjadi hak ku sayang. Dan kamu akan dianggap curang dan berdosa jika tidak melayaniku. Maaf karena aku harus membuatmu kelelahan setiap malam melayaniku. Semua itu kulakukan demi bisa membuatmu segera hamil. Karena aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku, sungguh aku menginginkan anak darimu." ucap Alfhat tersenyum menatap wajah kesal Etha. Memang dirinya selalu saja kebablasan jika urusan yang satu itu. Dia begitu bersemangat melakukannya, karena ingin secepatnya membuat istrinya hamil dan segera dikaruniai anak.
"Maaf, aku tidak mengeluh selama melayanimu, hanya saja aku belum terbiasa." ucap Etha menunduk.
"Maka dari itu kita harus membiasakannya mulai dari sekarang. Biar dede bayinya segera tumbuh di rahimmu, sayang." ucap Alfhat tersenyum lalu menarik tubuh Etha masuk ke dalam pelukannya, membuat wajah Etha merona. Membayangkannya saja sudah membuatnya senang dan hal itu menjadi anugerah terindah untuknya.
"Sekali lagi aku minta maaf. Untuk itu, mulai dari sekarang kita harus bekerja keras untuk mewujudkannya."
"Pasti sayang, aku semakin mencintaimu" ucap Alfhat dan Etha hanya mampu tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alfhat.
"Terus kita mau bermain catur atau apa?" tanya Etha sambil mendongak menatap wajah Alfhat.
"Sebaiknya kita istirahat saja. Aku janji tidak akan kebablasan lagi, karena aku tidak ingin melihatmu jatuh sakit gara-gara ulahku, sayang" ucap Alfhat lalu menggandeng tangan istrinya untuk duduk di sofa. "Oh iya, sebenarnya aku juga ingin mencari calon istri untuk Richard. Apa kamu punya kandidat yang bisa menjadi calon istri Richard?" ucap Alfhat.
"Untuk kandidatnya, aku tidak yakin. Aku tidak ingin menjodoh....." Etha tidak melanjutkan ucapannya, mendadak dia mendengar suara kehebohan dari luar ruangannya.
"Kebakaran!"
"Kebakaran!"
Alfhat dan Etha terkejut hingga mereka kompak berucap 'kebakaran'. Kemudian mereka bergerak cepat keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Bersambung....