
Seminggu kemudian...
Alfhat kembali beraktivitas seperti biasanya. Menyibukkan dirinya dengan segala pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya. Mengenai Vivian, dia sudah melupakan wanita itu.
Segala barang mewah yang pernah diberikan kepada Vivian seperti mobil, apartemen, perhiasan dan tabungan, dengan sukarela dia berikan kembali kepada wanita yang pernah menemaninya selama setahun ini. Namun, dia tidak ingin Vivian kembali hadir di hidupnya.
Sementara Etha belum juga dipulangkan ke kediamannya. Tapi, Etha juga tengah sibuk dengan pekerjaannya. Seorang supir beserta dua bodyguard Alfhat yang selalu mengantarnya bekerja dan terus mengawasinya hingga pulang kerja.
Etha sama sekali tidak masalah mendapat pengawalan dari anak buah Alfhat. Dia santai-santai saja dan menikmati pekerjaannya. Hanya saja, diawal-awal terkadang asisten pribadinya dan beberapa karyawannya selalu mempertanyakan kedua bodyguard Alfhat yang hampir setiap hari standby di depan butik persis satpam penjaga.
Namun Etha selalu memberikan jawaban yang logis dan masuk akal, bahwa mereka hanya bertugas berjaga-jaga demi keamanan butik. Hal itu membuat asisten pribadinya dan karyawannya tak pernah lagi mempertanyakan perihal kedua bodyguard bertampang garang itu.
Semenjak Etha tinggal di apartemen, sepulang kerja, dia biasanya menyempatkan waktunya ke Savana untuk berkuda. Ya memang hobi wanita 30 tahun itu adalah berkuda dan hobinya itu sudah diketahui oleh Alfhat.
Apapun yang Etha lakukan pastinya dengan cepat diketahui oleh Alfhat. Banyak mata yang selalu mengawasi gerak-gerik Etha selama beraktivitas di luar. Termasuk hobinya yang satu itu. Hanya saja, Alfhat tidak tahu kemana Etha tinggal dan dia tidak perlu cari tahu akan hal itu, karena semuanya sudah diatur oleh orang kepercayaannya.
Untuk saat ini, Alfhat belum juga memberikan teguran kepada Etha yang keseringan berkunjung ke Savana, karena terlalu sibuk dengan urusan kantornya. Padahal Alfhat tidak pernah memberikan izin kepada Etha untuk berkunjung ke Savana. Dia tidak ingin Etha berurusan kembali dengan keluarga Alexander. Dia sudah memutuskan segala hal yang menyangkut keluarga Etha.
***
Waktu sudah menunjukkan jam pulang. Etha tampak bersiap-siap untuk pulang. Akan tetapi, Kayla terlihat buru-buru masuk ke ruangannya sambil membawa undangan di tangannya.
"Miss, aku membawa kabar baik." ucap Kayla antusias melangkah menghampiri bos nya.
"Ada apa Kayla? kenapa kamu terlihat antusias sekali." ucap Etha dan kembali duduk di kursinya.
"Selamat Miss, anda terpilih sebagai 10 desainar muslimah yang berbakat. Pekan depan kita diundang untuk mengikuti peragaan busana bersama para desainer ternama untuk memperkenalkan koleksi rancangan busana, brand produk yang kita miliki." ucap Kayla kegirangan saking bahagianya.
"Benarkah?" tanya Etha tidak percaya dan langsung mengambil undangan dari tangan Kayla lalu membukanya cepat.
"Alhamdulillah. Kita harus melakukan persiapan mulai dari sekarang. Undangan peragaan busana merupakan ajang eksistensi bagi seorang desainer untuk memperkenalkan koleksi rancangannya. Dan ini salah satu pencapaian yang luar biasa bagi kita." ucap Etha tersenyum dengan rasa syukur bisa diundang melakukan peragaan busana hasil rancangannya.
"Benar Miss. Kita harus mempersiapkannya mulai dari sekarang. Ini kesempatan emas bagi kita mengikuti ajang bergengsi untuk memperkenalkan koleksi rancangan busana kita, supaya rancangan kita dikenal di dunia. Kita bersama seluruh tim harus bekerja keras dan pantang menyerah untuk ajang bergengsi ini" ucap Kayla bersemangat.
__ADS_1
"Ya sudah, besok pagi kita lakukan meeting bersama para karyawan. Apa-apa saja yang perlu dipersiapkan untuk mendukung peragaan busana, kita harus mempersiapkannya sedetail mungkin." ucap Etha tersenyum sambil bangkit dari duduknya.
"Oke bos ku." ucap Kayla sambil memberi hormat kepada bosnya.
Etha hanya mampu tersenyum, lalu berpamitan kepada asisten pribadinya.
"Hati-hati Miss." ucap Kayla sambil melambaikan tangannya melihat kepergian atasannya. Sedangkan Etha sempat berbalik badan dan memamerkan senyumnya. Kemudian melenggang pergi.
Etha tiba di apartemen Alfhat tepat pukul 6 waktu setempat. Kedua bodyguard Alfhat lagi-lagi berjaga-jaga di depan pintu unit apartemen yang ditempatinya.
Etha melangkah dengan langkah gontai menuju kamarnya. Dia akan membersihkan diri, setelah itu, barulah dirinya melaksanakan sholat Maghrib.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
"Bagaimana bisa insiden seperti itu terjadi di salah satu club malam. Aku sudah peringatkan manager club untuk tidak menerima pengunjung dibawah umur. Lihatlah sekarang club malam dalam naungan Alex bermasalah." kesal Alfhat sambil melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Secepatnya aku akan bereskan masalah itu, tuan. Jadi, sebaiknya anda beristirahat sebentar, karena anda masih memiliki jadwal untuk menghadiri jamuan makan malam pak perdana menteri." ucap Richard mengingatkan kembali bos nya.
"Hemm. Richard, sebenarnya aku malas menghadiri acara jamuan seperti itu. Kamu tahu sendiri, bagaimana kelakuan mereka yang selalu saja bersilat lidah hanya untuk menjodohkan putri-putri mereka pada orang penting seperti aku." ucap Alfhat sambil menghentikan langkahnya. Pandangannya langsung dialihkan ke arah pintu kamar Etha.
Semenjak Etha tidak berada di rumah, suasana rumah mewahnya begitu kaku tanpa adanya perdebatan sengit yang selalu dia lakukan dengan wanita perawan tua yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"Kapan kamu akan menjemput wanita tua itu." ucap Alfhat terdengar cuek sambil melanjutkan langkahnya.
"Malam ini juga bisa, yang jelas tuan sudah memberi perintah untuk menjemputnya pulang." ucap Richard tersenyum tipis sambil menaikkan alisnya.
Sedangkan Alfhat tidak menanggapi ucapannya.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan tuan sudah merindukan nona Etha." ucap Richard menggoda bosnya.
Alfhat langsung berbalik badan dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Dia bukan seleraku." ucap Alfhat dengan santainya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
"Hati-hati tuan, berawal dari benci bisa saja menimbulkan benih-benih cinta dan ucapan bisa saja bohong. Jangan sampai anda kepincut duluan dengan nona Etha." ucap Richard tersenyum tipis dan sedang menyindir bosnya.
"Apa kamu sudah tidak memiliki topik lain untuk dibahas. Sehingga kamu terus membahas wanita tua itu hah!" kesal Alfhat sambil membuka jasnya dan melemparnya ke atas sofa. Kemudian barulah dirinya mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Memang benar yang anda katakan. Tapi, jangan dianggap serius ucapanku" ucap Richard sambil geleng-geleng kepala.
Richard bergerak mengambil air mineral di lemari pendingin lalu meletakkan di atas meja tepat di hadapan bos nya.
"Ambilkan aku rokok di laci nakas." perintah Alfhat setelah selesai meneguk air mineralnya.
"Maaf tuan, sejak kapan anda merokok? bukankah merokok tidak baik untuk kesehatan anda. Dokter Samuel sudah mengingatkan anda untuk tidak menyentuh barang itu lagi." ucap Richard kembali mengingatkan bosnya.
"Itu karena..." Alfhat tidak melanjutkan ucapannya, karena dia merasa malu jika mengatakan sejujurnya bahwa dia merokok untuk mengalihkan dunianya, maklum dirinya pria normal yang memiliki hasrat tinggi.
Sementara aset berharganya sedang cuti dan wanita yang selalu bercinta dengannya sudah pergi, sehingga pelariannya adalah dengan cara merokok. Richard dengan cepat mulai paham apa yang sedang dialami oleh bos nya.
"Kenapa tuan tidak melakukannya bersama nona Etha. Bukankah nona Etha sudah sah menjadi istri tuan." usul Richard.
"Aku tidak sudi menyentuh wanita tua seperti dirinya. Apalagi wanita tua itu begitu kasar dan pembangkang." ucap Alfhat dengan sorot mata tajam. Auranya berubah dingin.
"Kalau nona Etha pembangkang, mengapa anda tidak jinakkan saja dengan cara menyentuhnya." ucap Richard terus memprovokasinya.
"Keluar!" Alfhat langsung menyuruh Richard keluar dari kamarnya.
"Pikirkan baik-baik usulanku tuan, jangan sampai anda kehilangan nona Etha. Karena seseorang sudah mengincar istri anda sejak lama." ucap Richard menyeringai mencoba memanas-manasi bos nya.
"Keluar!!!"
__ADS_1
Richard langsung lari terbirit-birit mendengar teriakkan bosnya, dia lekas keluar dari kamar bos nya.
Bersambung....