Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 77


__ADS_3

Dokter Nisa hanya menggangguk menanggapi ucapan Nyonya Lexa. Seketika semua orang langsung tersenyum sembari mengucapkan kata Alhamdulillah.


Lalu Nyonya Lexa langsung berhambur memeluk suaminya.


"Alhamdulillah, putri kita hamil Mas. sebentar lagi kita akan punya cucu." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Dilan ikut memeluk kedua orang tuanya, ia pun senang mendengar kabar kehamilan saudara perempuannya.


Setelah menjalani berbagai macam pemeriksaan, Etha mulai dipindahkan ke ruangan VVIP rumah sakit demi bisa mendapatkan perawatan terbaik.


Menurut dokter yang menanganinya, usia kandungan Etha sudah tiga minggu dan hal tersebut masih awal trimester pertama kehamilannya.


Etha yang mengetahui dirinya hamil tak kuasa meneteskan air mata bahagianya dan tak henti-hentinya bersyukur atas anugerah terindah yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya dan keluarganya.


Etha sudah siuman beberapa menit yang lalu, saat dokter menyampaikan perihal kehamilannya, rona bahagia masih jelas terpancar di wajahnya.


Tak ada yang lebih bahagia di bandingan dengan kabar kehamilannya dan semua keluarganya begitu bahagia atas kabar kehamilannya.


“Mama, mas Alfhat mana?” tanya Etha kepada ibunya. Sejak tiga hari tidak bertemu dengan Alfhat, baru kali ini dia menanyakan suaminya. Padahal dia tidak pernah bertanya ataupun mencari keberadaan suaminya.


“Mama juga belum tahu sayang, ponselnya tidak aktif sampai sekarang.” Ucap ibunya dengan senyum hangatnya. “Sebaiknya kamu istirahat, nanti Mama suruh Dilan datang ke kantornya untuk memintanya datang kesini." lanjutnya sambil mengelus bahu putrinya.


Etha menghela nafas berat mendengar ucapan ibunya. Seketika raut wajahnya berubah sendu. Dia mulai berpikiran bahwa Alfhat tak lagi peduli kepadanya. Padahal jelas-jelas dia sendiri yang meminta sang suami untuk menjauh darinya, namun sekarang seolah ucapannya malah membuat hubungannya menjadi renggang.


“Mama, bolehkah aku memelukmu?” ucap Etha dengan mata berkaca-kaca.


“Tentu boleh sayang.” Ucap ibunya tersenyum sambil mengelus lembut pipinya.


Etha langsung berhambur memeluk ibunya dan mendadak air matanya menetes dengan sendirinya. Etha berusaha menatap ke atas agar air matanya tak tumpah, namun usahanya hanya sia-sia, hingga tangisnya langsung pecah di pelukan ibunya.


Lagi-lagi Etha mengingat kembali masalah yang menimpa keluarganya. Hingga membuat dadanya sesak dan tak kuasa menahan air matanya. Hanya menangis lah mampu membuatnya lega dan sedikit melepaskan beban yang dipikulnya.


Sedang Nyonya Lexa hanya berusaha menenangkan putrinya sambil mengelus punggung putrinya dengan penuh kasih sayang. Wajar jika putrinya bersikap melow karena sedang hamil.


Hampir semua ibu hamil moodnya akan berubah-ubah dan itu adalah hal wajar. Kita sebagai orang terdekatnya hanya bisa mengikuti kemauannya tanpa harus membantahnya atau mengacuhkannya.


*

__ADS_1


*


*


Di Perusahaan Sanders Group


Sebuah ruangan mewah nan megah menjadi tempat berkumpulnya para petinggi perusahaan Sanders Group. Mereka sedang melakukan rapat pemegang saham.


Sosok pimpinan perusahaan Sanders Group yang sangat dihormati dan disegani oleh karyawannya tidak fokus sepanjang mengikuti rapat. Pria bermanik hitam dan berahang tegas itu dan tidak lain adalah Alfhat Ramous Sanders pikirannya mulai kemana-mana dan sudah tidak tenang menempati kursi kebesarannya. Satu sosok yang sedang dipikirkannya saat ini adalah istri tercintanya.


Sekretaris kepercayaannya yang melihat tingkahnya langsung bertanya hal yang tengah dirisaukan oleh atasannya.


"Tuan, jika anda memikirkan nona Etha, sebaiknya temui saja. Jangan hiraukan ucapan nona Etha yang meminta anda untuk menjauhinya. Kalian pasangan suami istri tidak seharusnya berpisah seperti ini." ucap Richard dengan tenang. "Vivian sudah tidak bisa lagi menghancurkan pernikahan anda, wanita ular itu sudah mendapatkan karmanya. Jadi sebaiknya anda luruskan kembali permasalahan yang tengah anda hadapi bersama nona Etha." tambahnya memberikan sedikit masukan kepada bosnya.


Alfhat terdiam mendengar ucapan Richard dan sama sekali tak menggubrisnya. Karena sejujurnya dia pun menjadi bimbang saat ini. Tapi, mendengar ucapan Richard memang ada benarnya.


Vivian sudah tidak bisa lagi mengganggu rumah tangganya. Wanita itu sudah mendapatkan karmanya, dia mengalami keguguran dan juga lumpuh akibat kecelakaan tragis yang dialaminya. Dan sekarang wanita itu hanya mampu terbaring lemah di rumah sakit.


"Baiklah, aku akan temui istriku." ucap Alfhat sambil menepuk bahu sekretarisnya.


Tak ada gunanya jika Alfhat harus menunda-nunda waktu untuk bertemu dengan istrinya. Maka dari itu, dia tidak melanjutkan rapatnya.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Alfhat kepada orang itu dan tak lain adalah Dilan, adik iparnya.


"Aku datang untuk memintamu ke rumah sakit." ucap Dilan cuek sambil melipat lengannya menatap sinis ke arah Alfhat.


"Si-siapa yang sakit?" tanya Alfhat tampak khawatir.


"Nanti aku jelaskan. Kita harus segera ke rumah sakit." ucap Dilan tak ingin berkata jujur. Kemudian Dilan bergegas masuk ke dalam mobilnya dan langsung menancap gas.


Alfhat melakukan hal yang sama, bergegas masuk ke dalam mobilnya. Dia hanya mampu mengikuti mobil Dilan yang mulai melaju di depannya.


Setibanya di rumah sakit, Alfhat dan Dilan melangkah memasuki rumah sakit dan bergerak menuju ruang perawatan Etha. Alfhat selalu ingin mempertanyakan siapa yang sakit, namun melihat tatapan mengintimidasi dari Dilan, membuat dia mengurungkan niatnya.


Mereka sampai di depan pintu ruang perawatan Etha. Lagi-lagi Dilan menatap tajam ke arah Alfhat sebelum membuka pintu ruangan tersebut.

__ADS_1


"Ayo masuk!" ucap Dilan dengan tegasnya meminta Alfhat untuk masuk ke dalam ruangan.


Alfhat mengangguk dan melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Hal pertama yang mampu dia lihat adalah sosok wanita yang sangat dicintainya menempati ranjang pasien.


Semua orang yang berada di ruangan itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah sosok yang baru saja datang.


"Akhirnya kalian datang." ucap Nyonya Lexa tersenyum.


Sementara pasangan suami istri yang baru beberapa hari berpisah hanya mampu saling pandang hingga tatapan mata keduanya saling terkunci.


"Mas Alfhat"


"Etha"


Mereka tanpa sadar saling menyebut nama satu sama lain dan mendadak mereka sama-sama merasakan perasaan canggung dengan ulahnya masing-masing.


Nyonya Lexa langsung memberi kode kepada tuan David untuk keluar dari ruangan tersebut. Mereka tak lupa menyeret putra semata wayangnya untuk ikut bersamanya keluar dari ruangan.


"Mama kenapa....."


"Mereka perlu bicara, untuk itu kita tidak boleh mengganggunya." ucap Nyonya Lexa dan Tuan David mengangguk membenarkan ucapan istrinya.


Dilan sempat melirik tajam ke arah Alfhat lalu menutup pintu ruangan tersebut. Jika kedua orang tuanya sudah mengeluarkan titahnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Sementara itu, Alfhat mulai melangkah pelan menghampiri Etha. Tatapannya tidak lepas dari wajah cantik istrinya yang terlihat pucat, hingga langkahnya terhenti dan berdiri tepat di samping ranjang pasien.


"Kenapa hanya melihatku saja, apa kamu tidak merindukanku!" ketus Etha yang melihat tingkah Alfhat yang lebih fokus memandanginya.


Alfhat tersenyum mendengar ucapan Etha, lalu menunduk menatap wajahnya. Tanpa basa-basi Alfhat langsung memeluk tubuh Etha, tubuh yang sangat dirindukannya.


"Aku sangat merindukanmu, sayang." ucap Alfhat tersenyum lalu mencium puncak kepala istrinya.


"Aku juga sangat merindukanmu, mas" ucap Etha dengan mata berkaca-kaca. Alfhat tersenyum mendengar ucapan Etha, dia kembali mengeratkan pelukannya. Refleks Etha langsung memukul punggungnya.


"Jangan memelukku terlalu erat, kasian anak kita." tegur Etha.

__ADS_1


"Anak kita?. Sayang, apa kamu hamil?" tanya Alfhat dengan mata berbinar sambil melonggarkan pelukannya.


Etha hanya mampu mengangguk sebagai jawabannya. Alfhat tidak bisa berkata-kata, ia langsung menciumi seluruh wajah Etha dengan penuh cinta. Sungguh bahagianya dirinya mendengar kabar kehamilan istrinya.


__ADS_2