Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 21


__ADS_3

"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." ucap Richard panik dan langsung mengangkat tubuh bos nya.


Etha dan Vivian bergerak menyusulnya. Mereka melarikan Alfhat ke rumah sakit guna untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Richard yakin bos nya diracuni. Dia tidak akan tinggal diam, dia akan menyelidiki hingga tuntas musibah yang sedang dialami oleh bos nya dan menangkap pelakunya.


Setibanya di rumah sakit, Alfhat segera dibawa ke ruangan VVIP dan langsung ditangani oleh dokter Samuel, dokter terbaik di rumah sakit tersebut. Karena Alfhat pemilik dari rumah sakit tersebut.


Sementara Etha, Richard, Vivian dan beberapa bodyguard Alfhat tampak menunggu di luar ruangan. Etha terlihat khawatir dengan kondisi Alfhat, walaupun dia membenci pria itu, namun nyatanya dia tetap mengkhawatirkannya.


Sedangkan Vivian terlihat cemas, dia yakin pelayan yang diberikan tugas untuk meracuni Etha salah sasaran. Bagaimana nantinya jika rencananya sampai diketahui oleh Alfhat, bisa-bisa dia ditendang dari kediaman Alfhat.


Hampir dua jam lamanya, akhirnya pintu ruangan yang ditempati oleh Alfhat terbuka lebar dan muncullah dokter Samuel dengan raut wajah datar.


Tanpa memberikan penjelasan mengenai kondisi Alfhat, dokter Samuel hanya meminta Richard untuk masuk ke dalam ruangan. Setelah itu, dia pun kembali menutup pintu ruangan tersebut.


Vivian ingin buka suara untuk melontarkan pertanyaan mengenai kondisi Alfhat langsung berdengus kesal melihat pintu ruangan itu kembali tertutup. Karena dirinya sudah bosan menunggu di depan pintu. Apalagi tersisa satu jam lagi jadwal pemotretannya akan dimulai.


"Percuma kamu berpakaian tertutup seperti ini, tapi kenyataannya kamu hanyalah wanita berhati busuk dan jahat. Dasar wanita tak tahu diri, beraninya kamu meracuni kekasihku. Aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan ampunan dari kekasihku!" ucap Vivian melontarkan kata-kata pedas kepada Etha. Dia melakukan drama untuk memutar balikkan fakta.


"Apa maksudmu menuduhku, jelas-jelas aku tidak melakukan apa-apa." bantah Etha dan tidak terima dengan ucapan Vivian.


Kedua bodyguard Alfhat langsung mengalihkan pandangannya ke arah mereka. Sementara di dalam ruangan VVIP terlihat dokter Samuel dan Richard berbicara serius mengenai kondisi Alfhat.


"Tidak melakukan apa-apa? wow kamu memang wanita yang hebat dan pandai berakting. Jelas-jelas dua menu makanan yang kamu buat mengandung racun di dalamnya." ucap Vivian dengan entengnya.

__ADS_1


Namun dibalik ucapannya itu, membuat Etha mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa wanita seksi itu begitu tahu segalanya tentang masakannya beserta racun yang tercampur di kedua menu masakannya.


"Bagaimana bisa kamu tahu jika masakan yang aku buat mengandung racun? padahal aku sama sekali tidak memberikan racun di masakanku. Bahkan aku sempat mencobanya dan lihatlah aku baik-baik saja. Aku hanya curiga ada yang melakukan konspirasi untuk membunuh Alfhat lalu mengkambinghitamkan perbuatannya terhadap aku. Jangan-jangan kamu yang melakukannya" ucap Etha tenang dengan tebakannya.


Sontak membuat raut wajah Vivian berubah seketika.


"Untuk apa kamu menuduhku, jelas-jelas posisimu di kediaman Alfhat hanyalah seorang budak dan juga musuhnya. Bisa saja kamu berencana untuk balas dendam kepadanya dengan cara membunuhnya, supaya kamu terbebas dari jeratan hutang keluargamu." balas Vivian dengan melontarkan kata-kata ejekan.


Etha mengepalkan tangannya mendengar ucapan Vivian.


"Memang aku hanyalah wanita pelunas hutang. Tapi, tidak mungkin juga aku memiliki niatan untuk membunuhnya hanya masalah hutang piutang. Aku juga tahu posisiku seperti apa dikediamannya, apalagi aku adalah istri sah dari tuan Alfhat. Seorang istri tidak mungkin mencelakai suaminya sendiri dan tidak setega itu untuk membunuh suaminya. Jadi, buang jauh-jauh segala tuduhan mu itu, karena bisa saja yang menuduh adalah biangnya." tegas Etha tersenyum sinis.


Vivian langsung emosi dan ingin memukuli dan mencakar wajah Etha hingga babak belur, namun Etha tidak akan tinggal diam jika wanita itu berbuat kasar kepadanya.


"Anda sedang berada di rumah sakit, jika mau membuat keributan, sebaiknya anda berdua segera pergi." ucap salah satu bodyguard Alfhat berwajah beringas.


Diluar dugaan, pintu ruangan Alfhat terbuka lebar. Richard menginformasikan bahwa mereka sudah bisa masuk. Vivian melangkah cepat memasuki ruangan tersebut lalu disusul oleh Etha. Sedangkan beberapa bodyguard Alfhat hanya mampu berjaga-jaga di luar ruangan.


Vivian secepat kilat merubah mimik wajahnya bersedih melihat kekasihnya terbaring lemah di atas ranjang pasien dan belum juga sadar. Vivian mendekat ke arah ranjang.


"Sayang, bangunlah. Kamu tidak boleh seperti ini." ucap Vivian memasang wajah sedih, bahkan pura-pura menangis.


Sementara Etha hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar menatap Alfhat yang terbaring lemah di rancang pasien dengan jarum infus tertancap di punggung tangannya.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Etha kepada dokter Samuel.

__ADS_1


"Tuan Alfhat sudah melewati masa kritisnya. Kami berusaha semaksimal mungkin mengeluarkan racun dari tubuhnya. Jadi, anda tidak perlu khawatir. Kemungkinan dua sampai tiga jam barulah tuan Alfhat sadar" jawab dokter Samuel.


"Alfhat seperti ini gara-gara wanita tua itu. Dia berusaha meracuni kekasihku. Aku tidak akan pernah mengampuninya, tidak akan." ucap Vivian berderai air mata menunjukkan bakat aktingnya benar-benar natural.


Etha mengepalkan tangannya mendengar ucapan Vivian, dia tidak terima dengan setiap ucapan wanita itu karena menuduhnya yang tidak-tidak tanpa bukti akurat.


"Lihatlah dia bahkan tidak menyangkal ucapanku, karena memang benar adanya bahwa dia adalah pelaku yang sudah meracuni Alfhat." Vivian begitu kekeh menuduh Etha.


"Jaga ucapanmu! fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Menuduh orang tanpa bukti sama saja memfitnahnya." tegas Etha.


"Cukup, kalian hanya mengganggu waktu istirahat tuan Alfhat. Jika kalian masih ingin lanjut berdebat, sebaiknya keluar dari ruangan ini." ucap Richard dengan tatapan tajam.


"Satu lagi, saya akan menyelidiki sampai tuntas masalah ini hingga ke akar-akarnya. Jadi, tidak perlu kalian berdebat seperti ini. Cepat atau lambat pelakunya akan terbongkar." lanjutnya penuh keyakinan akan menemukan orang yang sudah meracuni bos nya.


Vivian langsung diam seribu bahasa mendengar ucapan Richard. Dia mulai takut jika sampai pelayan itu tertangkap, maka otomatis namanya ikut terseret.


"Hiks hiks hiks, sayang...aku harus pergi bekerja, nanti aku kembali datang menjengukmu." ucapnya berderai air mata berpamitan kepada kekasihnya yang belum sadarkan diri.


Aku harus menghabisi nyawa pelayan itu, sebelum anak buah Richard menangkapnya. Sebaiknya sebelum aku berangkat ke lokasi pemotretan, aku harus mampir sebentar di kediaman Alfhat, lalu menghabisi nyawa pelayan itu. Batin Vivian menyeringai.


Diluar dugaan diam-diam Richard sudah bergerak cepat menghubungi para bodyguard Alfhat yang bertugas mengawasi cctv di kediaman mewah bos nya. Dan para bodyguard Alfhat dengan cepat sudah meringkus pelakunya.


Mereka hanya perlu melakukan interogasi, apakah orang itu penyusup yang sengaja bekerja di mansion mewah bos nya, ataukah hanya semata-mata dibayar oleh orang lain untuk mencelakai bos nya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2