
Semuanya sudah beres, mereka bergegas masuk ke dalam mobil dan siap pergi. Terlihat beberapa santri putra yang pernah menjadi teman mereka tampak melambaikan tangannya ke arah parkiran.
Alfhat ikut melambaikan tangannya ke arah mereka, hingga mobil yang membawanya mulai melaju keluar dari gerbang, hingga akhirnya meninggalkan tempat tersebut.
Akhirnya aku bisa pulang. Batin Alfhat tersenyum tipis.
Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya mobil yang membawa Alfhat mulai memasuki gerbang utama kediamannya. Terlihat para penjaga yang berjaga-jaga di gerbang utama dan di setiap pekarangan rumah semuanya kompak membungkukkan badannya melihat mobil bosnya melaju pelan memasuki pelataran rumah hingga berhenti di teras rumah, tepatnya di depan pintu utama.
Dua bodyguard yang berjaga di depan pintu langsung bergerak cepat membukakan pintu mobil untuk bosnya. Alfhat bergegas turun dari mobil sambil tersenyum ramah kepada kedua bodyguardnya. Tidak biasanya dia tersenyum ramah seperti itu kepada kedua bodyguardnya.
Bersamaan pula Etha dan kedua saudaranya tampak berjalan bersama-sama keluar rumah. Mereka tertawa bersama dan begitu kompaknya. Seketika raut wajah Alfhat berubah dan senyuman yang menghiasi wajahnya pudar melihat dua pria yang merupakan saudara istrinya kembali datang berkunjung di kediamannya.
Tanpa menyapa mereka, Alfhat langsung berjalan cepat melewati istri dan kedua adik iparnya. Dia menjadi kesal, bahkan tatapannya begitu dingin melirik ke arah istrinya hingga dirinya berhasil masuk ke dalam rumah dan pastinya dia tetap berucap salam dalam hati.
Pantas saja istrinya tidak datang menjemputnya, karena dia lebih memilih untuk menyambut kedatangan saudaranya dibandingkan menyambut kedatangannya.
Sementara Etha terkejut melihat kedatangan Alfhat, dia sungguh lupa untuk menyambut kepulangan sang suami karena terlalu asyik mengobrol bersama dengan Dilan dan Kendrick.
Setelah memastikan kedua saudaranya sudah pergi dari kediaman mewah suaminya, Etha bergegas masuk ke dalam rumah dan melangkah cepat untuk mencari keberadaan suaminya.
"Tuan jagoan, maafkan aku. Sungguh aku benar-benar lupa bahwa kamu akan pulang hari ini." ucap Etha berteriak sembari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Berharap teriakannya itu mampu didengar oleh Alfhat.
Sementara di lantai dua, terlihat Alfhat dengan santainya duduk di sofa di dekat tangga sembari menunggu kedatangan Etha.
"Tuan jagoan!" Etha langsung mendekat menghampirinya dengan senyuman bahagia menghiasi bibirnya.
Tanpa basa-basi, Etha langsung melompat ke tubuh Alfhat dan memeluknya erat. Sedangkan Alfhat hanya mampu tersenyum dan balik memeluk erat tubuh Etha, tubuh yang sangat dirindukannya.
"Aku merindukanmu" bisik Alfhat ditelinga Etha sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku juga sangat merindukanmu" balas Etha tersenyum sambil mengelus lembut punggung kekar sang suami.
Dua pelayan yang berlalu lalang di lantai dua hanya mampu menunduk melihat majikannya, kemudian mereka bergegas turun ke lantai dasar. Takutnya keberadaannya mengganggu kebersamaan majikannya.
Perlahan Alfhat melonggarkan pelukannya, Etha juga melakukan hal yang sama. Hingga mereka saling tatap-tatapan dengan jarak dekat. Dimana Etha duduk di pangkuan Alfhat.
"Aku merindukanmu, nona debat." ucap Alfhat yang kembali mengulang ucapannya, sambil menunduk menatap wajah cantik istrinya. Dan Etha hanya mampu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga sangat merindukanmu, tuan jagoan." balasnya dengan senyuman merekah menghiasi bibirnya sambil mengelus rahang kokoh sang suami.
__ADS_1
Perlahan Alfhat mendekatkan wajahnya ke wajah Etha hingga hidung mancung mereka bersentuhan dengan deru nafas saling menerpa wajah mereka satu sama lain.
Kemudian Alfhat mendekatkan bibirnya ke bibir Etha dan langsung menciumnya cepat tanpa henti. Mereka hanya mampu memejamkan matanya menikmati irama ciuman yang berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya Alfhat menghentikan ciumannya.
Sebelum menjauh dari wajah Etha, Alfhat masih saja memberikan kecupan kecil berkali-kali di bibir manis Etha dengan mata terpejam yang sedang berusaha mengontrol gairahnya yang mendadak bergejolak naik.
Sungguh Alfhat sangat-sangat merindukan Etha dan dia sudah tak bisa terus-menerus menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya. Dia harus memberikan nafkah batin kepada istrinya.
Dengan mata terpejam, Alfhat dan Etha saling mengatur debaran jantungnya dengan deru nafas ngos-ngosan seolah habis melakukan lari maraton.
Alfhat membuka matanya dan langsung menatap manik mata istrinya dengan tatapan hangat dan penuh damba.
"Persiapkan dirimu malam ini. Aku tidak bisa lagi terus menahan diri, aku menginginkanmu." ucap Alfhat sambil menyentuh dagu Etha.
Etha langsung mendongak menatap kedua mata Alfhat dengan tatapan sendunya. Hingga dia pun mengangguk menanggapi ucapan suaminya.
Seketika Alfhat tersenyum tipis dan kembali membungkam mulut Etha dan memberikan ciuman bertubi-tubi tanpa henti. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk melepas rindu kepada istrinya.
*
*
*
Terlihat Etha dan Alfhat sedang makan malam bersama dengan suasana hening. Hanya sendok dan garpu yang saling beradu di meja makan. Sesekali mereka saling curi-curi pandang dan hanya itu yang bisa mereka lakukan sebagai bentuk komunikasinya.
Sejak Alfhat mengutarakan keinginannya untuk meminta haknya sebagai seorang suami kepada Etha, entah mengapa mereka menjadi canggung begini.
Seketika kata malam pertama selalu terlintas di pikiran mereka. Karena sejak menikah mereka belum melakukannya hingga detik ini. Namun malam ini, mereka sudah siap lahir batin.
"Aku sudah selesai." ucap Alfhat lalu bangkit dari duduknya. Dia lebih dulu selesai makan malam.
Etha hanya mampu menggangguk menanggapi ucapan Alfhat. Pasalnya mulutnya penuh dengan makanan. Alfhat tersenyum tipis melihatnya, lalu mengelus puncak kepalanya. Setelah itu, dia melangkah menuju ruang kerjanya untuk mengecek email masuk dan memeriksa kembali pekerjaannya.
Sehingga hanya Etha sendiri yang berada di ruang makan. Etha sengaja berlama-lama menghabiskan makanannya. Dia mulai dilanda gugup sejak duduk bersama dengan Alfhat untuk makan malam.
Namun perlahan Etha membuang jauh-jauh segala hal yang menggangu pikirannya. Apa salahnya jika malam ini dia harus melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Sudah sepatutnya dirinya melayani suaminya dengan baik, karena harusnya hal itu sudah dilakukan sejak lama, sejak dirinya berstatus sebagai istri.
Selesai makan malam, Etha memutuskan kembali ke kamarnya untuk menunggu Alfhat datang. Dia tahu betul Alfhat sedang berada di ruang kerjanya guna mengerjakan pekerjaan kantornya.
__ADS_1
Tak berselang lama kemudian, pintu kamar terbuka lebar dan tampak Alfhat melangkah lebar memasuki kamarnya. Etha yang sedang duduk di kursi meja rias langsung mengalihkan pandangannya ke arah Alfhat.
"Aku pikir kamu sudah tidur" ucap Alfhat tersenyum tipis sambil melangkah ke kamar mandi.
"Belum, karena aku menunggumu." ucap Etha gugup dan mendadak jantungnya berdebar-debar kencang.
Etha memilih naik ke atas tempat tidur, lalu membaringkan tubuhnya. Sungguh perasaannya menjadi dag dig dug sejak melihat Alfhat masuk ke dalam kamar.
Tak butuh lama, Alfhat keluar dari kamar mandi sudah mengenakan piyama tidur dan siap untuk tidur. Dia melangkah ke arah tempat tidur dimana sang istri sudah berbaring di sana.
"Apa kamu sudah siap untuk melakukannya?" tanya Alfhat tersenyum tipis sambil membungkukkan badannya menyentuh puncak kepala Etha.
"Ahh iya, ak-akku siap." ucap Etha gugup lalu bangun dan memilih duduk.
Alfhat ikut duduk di pinggir tempat tidur. Sungguh dirinya pun menjadi gugup sekarang. Dia seolah menjadi orang awam yang akan melakukan malam pertama.
"Mendekatlah" ucapnya meminta istrinya untuk mendekat.
Dengan gugup Etha mulai menggeser tubuhnya sesuai instruksi dari Alfhat. Ketika Etha sudah berada di dekatnya Alfhat langsung memeluk tubuh Etha.
"Maaf, aku minta maaf atas segala kesalahan yang pernah ku perbuat kepadamu dan kepada keluargamu." ucap Alfhat dengan tulus.
"Aku sudah memaafkanmu. Aku juga mau minta maaf karena selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik dan belum bisa berbakti kepadamu." ucap Etha sambil mengelus punggung kekarnya.
Alfhat tersenyum mendengar ucapan Etha, lalu dia mulai melonggarkan pelukannya. Ditatapnya lekat-lekat wajah cantik istrinya, membuat wanita berhijab itu hanya mampu menundukkan pandangannya.
"Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Etha Putri Mayer." ucap Alfhat sambil mengelus lembut pipi Etha, membuat Etha langsung mendongak menatapnya.
"Aku juga men...." Etha tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku tahu jawabanmu, maka dari itu izinkan aku untuk memberimu nafkah batin." ucap Alfhat dengan tatapan hangatnya dan Etha langsung menggangguk cepat.
"Kamu berhak atas diriku. Aku siap melakukan kewajibanku sebagai istrimu." ucap Etha tersenyum.
Alfhat ikut tersenyum lalu mencium kening istrinya cukup lama sembari melafalkan doa sebelum memulainya.
Setelah sekian lama menunggu waktu yang tepat untuk melakukan malam pertama, akhirnya malam ini Alfhat dan Etha resmi melakukan hubungan suami istri dengan penuh cinta dan kasih. Mereka masing-masing menunaikan kewajibannya sebagai suami istri.
Bersambung.....
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🤧