
"Kita hanya perlu melakukan persiapan lainnya. Kayla, catat apa-apa saja yang masih kurang. Setelah itu kita akan kembali melakukan meeting bersama para karyawan." ucap Etha antusias dengan senyuman menghiasi bibirnya.
"Siap Miss." ucap Kayla sambil memberi hormat, kemudian berlalu masuk ke ruangannya.
Sementara Etha memilih masuk ke ruang kerjanya untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.
***
Beberapa hari terus berlalu dan semakin mendekati puncak peragaan busana. Hampir setiap hari Etha berangkat ke butik pagi-pagi sekali ketika fajar menjelang dan akan pulang ke rumah selepas isya.
Padahal Alfhat sempat melontarkan kata-kata protes disertai ancaman untuk memintanya berhenti bekerja, jika setiap hari pulang terlambat. Tapi, Etha sama sekali tidak memperdulikannya dan malah menjauhinya.
Etha begitu sibuk akhir-akhir ini dan jarang sekali bertemu ataupun berdebat dengan Alfhat. Walaupun ingin berdebat dengan pria itu, karena setiap malam tidur seranjang dengannya. Namun dia tidak ingin meladeninya, karena urusan peragaan busana jauh lebih penting baginya.
Apalagi Alfhat tidak berbuat macam-macam kepadanya, hanya sekedar tidur di sampingnya. Bahkan dirinya lah yang tanpa sadar memeluk pria yang dibencinya itu.
Namun dibalik semua itu, Alfhat sendiri mengambil keuntungan darinya. Sayangnya Etha tidak mengetahui hal itu, karena terlalu capek dan lelah sehabis pulang kerja. Dia hanya butuh mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidur hingga tertidur pulas dan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Sementara Alfhat sendiri akhir-akhir ini keseringan melamun dan terkadang senyum-senyum sendiri. Hal tersebut membuat orang kepercayaannya terlihat kebingungan dengan tingkah bosnya.
Seperti hari ini, mereka berada di dalam mobil yang sama. Terlihat bosnya sedang senyum-senyum sendiri yang sedang menempati kursi belakang.
Sepertinya ada yang tidak beres. Batinnya melirik bosnya lewat kaca spion mobil.
"Richard!"
"Iya tuan" sahut Richard cepat.
"Kenapa wanita tua itu belum juga memperlihatkan syarat-syarat yang akan diajukan kepadaku?" tanya Alfhat.
"Sepertinya nona Etha begitu sibuk akhir-akhir ini. Menurut informasi, nona akan menggelar peragaan busana bersama para desainer busana muslimah, maka dari itu dia tengah sibuk mempersiapkannya. Sehingga nona melupakan hal yang satu itu." jelas Richard.
"Oh pantas saja." ucap Alfhat terkekeh kecil sambil membayangkan kejadian yang beberapa hari belakangan membuatnya senang.
"Tuan"
Alfhat sama sekali tidak mendengar panggilan orang kepercayaannya. Dia terlihat asyik dengan dunianya sendiri.
__ADS_1
"Tuan!" ucap Richard dengan suara sedikit meninggi.
"Ahh iya, ada apa?" tanya Alfhat sambil menyandarkan punggungnya.
"Tuan, manager nona Jessi sudah menghubungiku perihal kencan anda. Jadi, kapan anda memiliki waktu luang untuk melakukan kencan bersama dengan nona Jessi." ucap Richard mengingatkannya.
"Benar-benar wanita tak sabaran, sebenarnya aku mulai bosan kencan dengan putri petinggi negara. Karena mereka semua sangat merepotkan dan bikin pusing. Aku terpaksa menerima tawaran pak perdana menteri tempo hari dengan mengajak putrinya kencan bersama. Itu semua kulakukan semata-mata demi memuluskan proyek bisnisku." ucap Alfhat sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Ya sudah, atur saja jadwal kencanku dan segera konfirmasi manager wanita itu, biar semuanya cepat teratasi." lanjutnya sambil melonggarkan dasinya.
"Baik tuan" ucap Richard disertai anggukan kepala.
Tak berselang lama kemudian, mobil yang membawa mereka mulai memasuki pelataran perusahaan Sanders Group dan berhenti tepat di depan pintu masuk perusahaan.
Para bodyguard yang berjaga-jaga bergerak cepat membukakan pintu mobil untuk bosnya. Kemudian mereka dengan kompak membungkukkan badannya, bersamaan pula Alfhat turun dari mobil, kemudian disusul oleh Richard.
Mereka lalu berjalan beriringan dengan langkah lebar menuju ke arah lift khusus untuk pimpinan perusahaan. Ketika akan memasuki lift, terdengar suara seseorang memanggil-manggil namanya.
"Mr. Alfhat"
Sontak Alfhat langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang empunya.
"Nona Jessi!" ucapnya dengan tatapan dingin.
"Tidak usah terlalu formal, panggil saja Alfhat." protes Alfhat mendengar panggilan wanita itu.
"Kalau begitu, kamu juga tidak usah memanggilku nona, panggil saja Jessi, biar kita kelihatan akrab." ucapnya tersenyum menawan.
"Jessi, kamu tidak usah repot-repot membawa sarapan untukku, karena aku selalu sarapan dari rumah. Dan untuk hari ini, aku begitu sibuk dan belum memiliki waktu luang untuk kencan bersamamu." ucap Alfhat yang begitu tahu betul motif para wanita ketika akan mendekatinya. Termasuk wanita yang berdiri di hadapannya sekarang.
Tiba-tiba raut wajah Jessi berubah, senyumannya yang secerah mentari pagi perlahan pudar di sudut bibirnya. Salah satu tangannya di kepal kuat mendengar ucapan pria yang diincarnya.
"Tidak masalah, aku juga sibuk akhir-akhir ini." balasnya tersenyum dipaksakan.
"Jangan khawatir, setelah aku memiliki waktu luang, secepatnya sekretarisku langsung mengkonfirmasi managermu perihal kencan yang akan kita lakukan." ucap Alfhat lalu melangkah masuk ke dalam lift, lalu disusul oleh Richard.
"Iya, terima kasih. Aku senang kamu mau meluangkan waktumu untukku." ucap Jessi tersenyum.
Alfhat yang sudah berdiri di dalam lift hanya mampu menganggukkan kepalanya hingga pintu lift tertutup rapat dan bergerak naik ke lantai tertinggi.
__ADS_1
Jessi langsung berdengus kesal melihat paper bag yang dibawanya. Padahal dia sudah wanti-wanti bisa sarapan bersama dengan Alfhat.
"Aku tidak akan menyerah. Mengingat sainganku sudah tersingkirkan. Sekarang waktunya aku yang bergerak untuk menaklukkanmu, Alfhat. Akan ku buat kamu bertekuk lutut di hadapanku dan tidak akan pernah lagi berpaling dari wanita lain." gumamnya tersenyum licik. Setelah itu, dia melenggang pergi.
*
*
*
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Etha bersama para karyawannya akhirnya tiba juga. Mereka begitu bersemangat dan kompak menjalankan tugasnya masing-masing. Karena tepatnya malam ini, peragaan busana akan diselenggarakan di sebuah hotel bintang lima.
Event fashion show atau peragaan busana kali ini diselenggarakan begitu meriah dan dihadiri oleh orang dari berbagai kelas dan strata sosial. Tidak hanya sesama desainer saja, tapi juga masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai dari selebriti, sosialita, pengusaha, produsen fashion, penikmat mode, jurnalis, fashion stylist, perancang busana dan lain sebagainya.
Acara ini juga dibuat bukan tanpa tujuan. Baik penyelenggara acara maupun peserta yang hadir, sama-sama akan mendapatkan manfaat yang besar dari kegiatan tersebut.
Sementara itu, Etha bersama timnya melakukan persiapannya sebaik mungkin. Seluruh timnya terkoordinasi dengan baik dan sudah berkumpul di sebuah ruangan khusus. Mulai dari Penata rias, Penata jilbab, koreografi, Dresser (bertugas membantu para model mengenakan busana), koordinator model dan para model berjumlah sepuluh orang yang kesemuanya dari panti asuhan. Kesemua model memiliki peran penting memamerkan atau memperagakan produk fashion di depan para audiens.
Sebelum acara dimulai, mereka semua kompak memanjatkan doa demi kelancaran peragaan busana tersebut. Mereka semua saling berkerja sama, saling membantu satu sama lain dengan semangat tidak pernah kendor.
"Miss Etha, kita menjadi penampil terakhir." ucap Kayla sambil memperlihatkan hasil undian.
"Tidak masalah, terus berikan semangat kepada para model, agar mereka tampil maksimal." ucap Etha tersenyum.
"Baik Miss." ucap Kayla, kemudian bergegas menghampiri para model yang sudah siap tampil memperagakan busana yang dipakainya.
Terlihat Alfhat bersama Jessi baru saja sampai di acara peragaan busana. Pasalnya malam ini menjadi jadwal kencan mereka. Hanya saja, Jessi mendapatkan undangan dari acara peragaan busana, mau tak mau dia pun mengajak Alfhat untuk menghadiri acara tersebut dan Alfhat sama sekali tidak menolak ajakannya.
Kedatangan Alfhat dan Jessi mengundang banyaknya opini publik. Namun mereka terlihat santai-santai saja. Salah satu panitia acara langsung mengarahkan mereka duduk di kursi terdepan dan biasanya di khususkan untuk orang-orang penting. Alfhat dan Jessi duduk bersebelahan.
"Setelah ini, aku ingin makan malam bersamamu." ucap Jessi tersenyum yang sudah menempati kursinya. Perlahan dia mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Alfhat, namun secepat kilat tangan Alfhat diulurkan untuk mengambil ponselnya dari saku jasnya.
"Nanti kita lihat, jika masih ada waktu." ucap Alfhat santai.
"Baiklah, tapi aku ingin menghabiskan waktuku sepanjang malam bersamamu." ucap Jessi sambil memeluk lengan Alfhat dengan mesranya, membuat Alfhat menjadi risih dengan tingkah wanita itu.
Alfhat tidak menimpali ucapannya dan memilih melihat peragaan busana yang dilakukan oleh model profesional. Para model busana muslimah mulai menunjukkan aksinya di atas catwalk.
__ADS_1
Mana wanita tua itu, bukankah dia juga terpilih untuk melakukan peragaan busana. Batin Alfhat mencari-cari keberadaan Etha.
Bersambung....