Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 23


__ADS_3

Alfhat mengepalkan tangannya dan langsung berteriak keras memanggil bodyguardnya yang berjaga-jaga di luar ruangan. Lalu meminta bodyguardnya membawa Etha ke markas besarnya, untuk membuat wanita itu mengakui perbuatannya.


Vivian tersenyum penuh kemenangan melihat Etha dibawa pergi oleh bodyguard Alfhat.


Rasakan akibatnya, jangan coba-coba bermain denganku wanita tua, lihatlah akibatnya. Batinnya menyeringai.


Bertepatan pula Richard baru saja sampai di rumah sakit. Richard berjalan tergesa-gesa memasuki rumah sakit dan bergerak menuju lift yang akan membawanya ke lantai tertinggi, tempat bos nya di rawat.


Namun, langkah Richard terhenti karena tak sengaja melihat Etha di seret paksa oleh bodyguard bos nya. Dengan cepat Richard menghampiri mereka.


"Lepaskan dia. Kenapa kalian menyeret istri bos seperti ini." ucap Richard menatap secara bergantian kedua bodyguard tersebut.


Hingga kedua bodyguard itu akhirnya melepaskan Etha.


"Tuan yang meminta kita untuk membawanya ke markas." ucap salah satu bodyguard berambut panjang.


"Betul tuan Richard. Nona ini terbukti meracuni tuan." timpal teman satunya. Richard langsung melirik ke arah Etha lalu menimpali ucapan bodyguard yang berambut panjang itu.


"Biar aku saja yang membawanya ke markas. Kalian berdua sebaiknya lanjutkan kembali tugas kalian berjaga-jaga di luar ruangan tuan Alfhat." ucap Richard sambil melirik ke arah Etha. Tersirat sebuah rencana untuk bisa membebaskan istri bos nya itu dari tuduhan. Dia yakin ini adalah ulah Vivian.


"Baik tuan." ucap kedua bodyguard itu dengan kompaknya dan bergegas pergi. Mereka menyerahkan tugasnya kepada orang kepercayaan bos nya dan itu wajar-wajar saja.


Akan tetapi, Richard tak sepenuhnya akan mengikuti ucapan mereka untuk membawa istri bos nya ke markas.


"Ayo nona. Aku akan membawamu ke suatu tempat. Untuk sekarang, nona hanya perlu patuh kemanapun nantinya nona berada." ucap Richard setengah membungkuk.


Tanpa menimpali ucapan Richard, Etha mulai melangkah keluar dari rumah sakit, sedang Richard dengan cepat mengekor di belakangnya.


Richard bergerak cepat membukakan pintu mobil untuk istri bos nya. Setelah memastikan istri bos nya sudah duduk di kursi penumpang, barulah dirinya bergegas masuk ke dalam mobil dan langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut.


Rencananya Richard akan menyembunyikan Etha di salah satu apartemen milik bos nya. Setelah membongkar kebusukan Vivian dan situasi mulai aman, barulah dirinya akan membawa pulang istri bosnya.


Tak berselang lama kemudian, mobil yang membawa mereka tiba di bassment apartemen. Mereka bergegas turun dari mobil dan melangkah menuju unit apartemen yang ditempati oleh Alfhat.


Etha hanya mampu mengikuti langkah kaki Richard dan sama sekali tidak membantah ucapan pria itu, yang digadang-gadang pria itu adalah orang kepercayaan Alfhat.


"Untuk sementara waktu nona akan tinggal disini. Mengenai perlengkapan nona, nanti pelayan yang bertugas membersihkan apartemen ini yang akan membawanya ke sini." ucap Richard sambil membuka pintu apartemen lewat kartu akses.

__ADS_1


"Silahkan masuk." lanjutnya mempersilahkan istri bos nya masuk ke apartemen.


Dengan ragu Etha melangkah masuk ke apartemen tersebut.


"Kamu tidak berencana mengurungku selamanya disini kan?" tanya Etha.


"Tentu tidak nona. Aku tahu anda bukanlah pelakunya. Jadi jangan khawatir, aku akan membersihkan nama baik anda dari segala tuduhan." jawab Richard.


"Benarkah? jadi kamu percaya bahwa bukan aku yang meracuni tuanmu?" tanya Etha dan Richard langsung mengangguk cepat sebagai jawabannya.


"Ingat nona, jangan sekali-kali keluar dari apartemen ini, karena nyawa anda yang menjadi taruhannya." peringat Richard.


Etha terdiam sejenak mencerna setiap ucapan Richard, lalu kembali buka suara.


"Kenapa bisa seperti itu, apa karena aku musuh kalian? sehingga kalian bisa berbuat semena-mena terhadapku." tanya Etha curiga.


"Jangan berpikiran seperti itu nona. Kalau begitu aku permisi." ucap Richard pamit undur diri.


"Tunggu, kamu belum menjawab pertanyaanku." ucap Etha menghentikannya.


Etha hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar menatap kepergian sekretaris Alfhat. Lagi-lagi dia harus terkurung di tempat itu.


Meskipun demikian, ia merasa bersyukur karena terbebas dari hukuman Alfhat yang akan membuatnya mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan.


*


*


*


Rumah sakit....


"Sayang, mengapa kamu tidak bunuh saja wanita tua itu bersama keluarganya. Dia sudah melakukan perbuatan fatal untuk meracunimu" ucap Vivian sambil menyuapi Alfhat.


Alfhat tidak melanjutkan makannya dan langsung menatap tajam Vivian, setelah mendengar ucapan kekasihnya itu.


"Ini urusanku, mau aku membunuhnya atau tidak itu sama sekali bukan urusanmu." tegas Alfhat dengan sorot mata tajam. Sungguh dia tidak suka jika seseorang mencampuri urusannya, termasuk kekasihnya saat ini.

__ADS_1


"Maaf sayang, sebagai kekasihmu, aku hanya memberimu solusi mengenai wanita tua itu." Vivian langsung berucap lemah lembut dan kembali menyuapi Alfhat, namun sayangnya Alfhat langsung menolak suapannya.


"Aku sudah kenyang." tolak Alfhat.


Dengan cepat Vivian meletakkan mangkuk yang berisi bubur di atas nakas, lalu mengambil segelas air putih untuk membantu Alfhat minum.


"Sayang, aku sangat merindukanmu. Kapan kita bisa bercinta." ucap Vivian manja sambil mengelus lembut lengan kekar Alfhat.


Sementara Alfhat hanya melamun yang sedang memikirkan sesuatu tanpa menimpali ucapannya. Sontak membuat Vivian mendekatkan wajahnya ke wajah Alfhat. Dia akan menggoda Alfhat dengan cara mencium bibirnya.


Alfhat langsung terhentak kaget dengan kening berkerut mencium aroma parfum pria di tubuh Vivian. Refleks Alfhat langsung mendorong tubuh Vivian dengan kesalnya.


"Siapa yang sudah menyentuhmu?" bentak Alfhat dengan sorot mata tajam.


"Apa yang kamu katakan sayang, siapa yang berani menyentuh milik Alfhat? hanya kamu yang berhak melakukannya, karena kamu adalah milikku." ucap Vivian gugup dengan senyuman menghiasi bibirnya.


Sial, bagaimana bisa Alfhat curiga kepadaku. Ini semua gara-gara Hans yang meminta imbalan dengan cara bercinta dengannya. Alfhat tidak boleh tau hubungan terlarangku dengan Hans. Batin Vivian.


"Sekali kamu menghianatiku, aku tidak segan-segan membuangmu seperti sampah" ancam Alfhat tak main-main. Dengan terpaksa dia berpura-pura mempercayai ucapan Vivian. Setelah ini, dia akan menyelidiki siapa saja pria yang akhir-akhir ini berhubungan dengan Vivian.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Vivian langsung berteriak keras meminta orang itu masuk. Pintu terbuka lebar dan muncullah Richard di ambang pintu.


Vivian langsung terlonjat kaget melihat kedatangan Richard. Dia menjadi gugup dan takut jika kebusukannya sudah diketahui oleh Richard, orang kepercayaan Alfhat. Sampai sekarang dia begitu membenci Richard, karena segala rencananya selalu saja digagalkan oleh pria itu.


Richard melangkah menghampiri bos nya dan langsung berbisik di telinga bosnya menyampaikan hal penting. Vivian mengepalkan tangannya melihat aksi Richard.


"Segera persiapkan kepulangan ku Richard, aku tidak ingin dirawat di rumah sakit." tegas Alfhat dengan sorot mata tajam, bahkan rahangnya sudah mengeras menatap tajam ke arah Vivian.


Sore itu juga, Alfhat langsung dibawa pulang ke kediamannya. Sementara Vivian sudah tidak tenang di dalam kamarnya. Dari tadi dia mondar-mandir mengintip pintu kamar Alfhat yang tak kunjung terbuka, dimana Richard berada di dalam kamar tersebut.


Sementara itu, Alfhat dan Richard duduk saling berhadapan dengan suasana bersitegang dan tampak hening, karena belum ada yang buka suara diantara mereka.


"Tuan, nona Etha bukan pelakunya. Tapi, pelaku utamanya adalah nona Vivian." ucap Richard dengan entengnya.


"Apa!" Alfhat langsung terkejut mendengar ucapan orang kepercayaannya. Kedua tangannya di kepal kuat dengan aura-aura hitam seketika mengelilinginya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2