Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 49


__ADS_3

"Bawa dia ke kamar tamu." ucapnya dengan raut wajah berubah masam.


"Ini akan menambah masalah baru. Kamu tahu sendiri, seperti apa keluarga Alexander." ucapnya sambil menggeram kesal.


"Terus, apa yang harus kita lakukan tuan muda?" tanya Ares.


"Kita akan tetap menghabisinya di depan Alfhat, aku yakin pria licik itu akan melakukan apa saja demi menyelamatkan istrinya. Lalu kita mengkambinghitamkan masalah ini, seolah-olah dia sendiri yang sudah menghabisi istrinya." ucap tuan Lucas dengan seringai licik diwajahnya.


"Tapi tuan, apa anda yakin bahwa tuan Alfhat akan datang menyelamatkan istrinya? mengingat hubungan pernikahan mereka masih dirahasiakan sampai sekarang. Saya masih ragu akan hal itu." jelas Ares dan begitu pandai melihat situasi.


Tuan Lucas langsung terdiam mendengar ucapan sekretarisnya. Dia pun mulai ragu, apakah musuh bebuyutannya akan datang menyelamatkan istrinya? ataukah membiarkan istrinya tewas di tangannya. Ada benarnya juga yang ucapkan oleh sekretarisnya, pikirnya.


"Kalau begitu kurung saja wanita itu, sampai Alfhat datang menyelamatkannya." ucap tuan Lucas memberikan perintahnya.


"Baik tuan, saya sangat setuju dengan ucapan anda. Memang ada baiknya jika nona Etha dikurung dulu, karena kita belum tahu seperti apa taktik dari musuh. Jangan sampai kita lengah" ucap Ares menjelaskan sesuai pemahamannya.


"Hemm" ucap tuan Lucas sambil memegang tongkat billiar. Kemudian mereka memilih untuk bermain billiar.


*


*


*


Malam harinya.....


Etha mulai sadar dari tidur yang panjang akibat pengaruh obat bius. Penglihatannya masih buram melihat disekelilingnya. Hingga dia terhentak kaget melihat disekelilingnya yang tampak asing.


"Ya Allah, dimana ini? bagaimana bisa aku berada di ruangan yang begitu asing. Lalu dimana tuan Alfhat? bukankah kami pergi bersama" ucapnya sambil memandangi di sekelilingnya.


Ketika akan beranjak turun dari ranjang, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dengan penglihatan ikut berkunang-kunang. Etha langsung memijit keningnya dan berusaha kembali mengingat kejadian sebelum dirinya sudah tidak sadarkan diri.


"Astaghfirullah, jangan-jangan aku di culik." ucapnya tanpa sadar yang mengingat kembali memori kilas balik kejadian sebelum dirinya di bawa pergi oleh pria asing.


Etha bergegas turun dari ranjang, dia tidak peduli jika kepalanya masih terasa pusing. Dia langsung berjalan mendekat ke arah pintu kamar. Dia memegang handle pintu dan berusaha untuk membukanya, sayangnya pintunya terkunci dari luar.


"Hei buka pintunya, tidak seharusnya kalian mengurungku di dalam kamar." teriak Etha sambil menggedor-gedor pintu kamar tersebut. Dia terus berteriak berharap ada yang membuka pintu kamar tersebut.


Lucas, Ares dan Vivian baru saja selesai makan malam bersama. Mereka berjalan bersama-sama ke ruang keluarga untuk mengobral bersama. Namun, mereka langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara teriakan dari dalam kamar ruang tamu.

__ADS_1


"Siapa itu?" tanya Vivian sambil mengalihkan pandangannya ke arah kamar tamu.


"Istri Alfhat. Apa kamu ingin memberi pelajaran kepadanya?" ucap tuan Lucas yang balik bertanya kepadanya.


"Wow, kamu sudah menangkapnya? kalian memang gercap. Emm.... sudah lama aku menunggu waktu yang tepat untuk balas dendam kepada wanita tua itu. Dan sekarang adalah waktunya untuk memberikan pelajaran kepada wanita tua itu" ucap Vivian dengan seringai licik diwajahnya.


"Baiklah, jika itu maumu. Tapi, tidak untuk sekarang karena kita masih perlu membahas hal yang jauh lebih penting dibandingkan wanita itu" ucap tuan Lucas tersenyum sinis.


"Kenapa bisa seperti itu, tanganku sudah tidak sabaran untuk menampar wajahnya dan mencakar-cakar wajahnya serta menjambak rambutnya tanpa ampun. Bahkan aku ingin mempermalukan wanita itu di depan semua orang." ucap Vivian panjang lebar.


"Jangan sekali-kali membantah ucapan tuan muda! dengar itu baik-baik, nona Vivian" timpal Ares menegur Vivian.


Sontak Vivian mengumpat kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Pandangannya langsung dialihkan ke arah pintu kamar tamu yang ditempati oleh Etha. Padahal dia sudah ingin balas dendam kepada wanita tua itu.


Kemudian mereka memilih mengobrol bersama di ruang keluarga membahas kembali rencana selanjutnya untuk menghancurkan Alfhat.


Sementara Etha sudah tidak berteriak lagi. Karena Etha sedang melaksanakan sholat. Tas ransel yang selalu dibawanya pergi-pergi berisi mukenah dan beberapa perlengkapan yang selalu dia bawa-bawa, termasuk alat perlindungan dirinya ketika keluar rumah.


Sementara itu, Alfhat berhasil memasuki halaman rumah Lucas. Dia mampu menyelinap masuk di halaman rumah Lucas ketika berhasil memanjat tembok raksasa di sepanjang pembatas halaman rumah Lucas tanpa tertangkap basah oleh anak buah Lucas.


Setelah melihat disekitarnya mulai aman, Alfhat bergerak cepat sambil mengendap-endap persis pencuri melangkah menuju mansion mewah Lucas, namun langkahnya terhenti saat melihat dua penjaga berkeliaran. Dengan cepat dia bersembunyi di balik tanaman hias.


Setelah melihat dua penjaga mendekat ke arahnya, dengan cepat Alfhat langsung meringkus salah satu penjaga itu lalu mencekik lehernya. Sedangkan penjaga satunya tampak terkejut, dia ingin berteriak, namun Alfhat keburu langsung menghajarnya hingga penjaga itu jatuh pingsan.


Alfhat bergerak cepat menaiki anak tangga di samping rumah Lucas yang bisa membawanya ke rooftop rumah. Dia akan masuk ke dalam rumah lewat jendela kamar.


Sementara itu, Etha yang baru saja selesai melaksanakan sholat dikejutkan dengan kedatangan tiga orang yang sudah berada di dalam kamar yang ditempatinya. Ketiga orang itu adalah Lucas, Ares dan Vivian. Mereka langsung menatap tajam ke arah Etha.


"Vivian!" ucap Etha yang langsung mengenali Vivian.


"Hai wanita tua, akhirnya kita bertemu lagi" sapanya tersenyum mengejek sambil mendekat ke arah Etha.


"Vivian, apa kamu yang melakukan rencana ini? menculik ku lalu mengurungku di dalam kamar? untuk apa kamu melakukan semua ini?" tanya Etha dengan tatapan waspada.


"Untuk memancing musuhku datang ke kediamanku. Karena kamu salah satu umpan yang bisa mendatangkan keuntungan besar bagiku" timpal tuan Lucas dengan tatapan dingin.


"Apa aku pernah berbuat kesalahan kepadamu tuan?" tanya Etha.


"Tidak, kamu sama sekali tidak salah. Tetapi yang salah adalah suamimu." jawab tuan Lucas. "Vivian, lakukanlah sesuatu kepada wanita ini. Bukankah kamu ingin balas dendam kepadanya." ucap tuan Lucas tersenyum jahat.

__ADS_1


"Tentu tuan Lucas." Vivian menyeringai sambil mendekat ke arah Etha.


"Mendekat lah Vivian, aku sama sekali tidak takut kepadamu." tantang Etha sambil bersedekap dengan tatapan meremehkan.


Tingkahnya itu mampu mengundang perhatian seorang tuan Lucas. Hingga sudut bibir pria psikopat itu terangkat membentuk senyuman tipis.


Vivian langsung melayangkan tangannya untuk menampar wajah Etha, dengan cepat Etha menangkis tangannya lalu memelintirnya ke belakang.


Sontak Vivian langsung meringis kesakitan meminta Etha untuk melepaskannya. Kedua pria itu hanya mampu menjadi penonton.


"Lepaskan tanganku wanita tua!" kesalnya. Etha langsung melepaskannya, namun dengan liciknya Vivian langsung mendorong tubuh Etha, hingga membuat tubuh Etha terjungkal kebelakang dan terjatuh.


Tanpa basa-basi, Vivian langsung menendang perut Etha, membuat wanita itu langsung menggeram kesakitan. Saat akan menendang kedua kalinya, Etha langsung menghindar dan berusaha bangkit berdiri.


"Itu belum seberapa atas apa yang ku alami, aku akan menyiksamu setiap hari. Lihat wajahku, semua ini gara-gara kamu! dan cepat atau lambat tuan Lucas akan menyayat wajahmu lalu memotong-motong seluruh tubuhmu!" ucap Vivian marah dan ingin kembali menyerang Etha, dengan sigap Ares menghentikannya.


"Hentikan." ucap Ares.


"Permainan sudah berakhir, jika suamimu tidak datang menyelamatkanmu. Maka kamu akan menjadi santapan hewan peliharaanku." ucap tuan Lucas dengan santainya lalu berjalan melangkah ke arah pintu.


"Aku sumpahin kamu, Alfhat tidak akan pernah datang menyelamatkanmu." timpal Vivian dengan tatapan sinis.


"Aku tidak takut dengan ucapan tuan barusan. Aku percaya, suamiku akan datang secepatnya untuk menyelamatkanku. Orang-orang jahat seperti kalian tidak akan selalu menang di atas penderitaan orang lain. Dan kamu Vivian, segeralah bertobat dan lupakan rencana balas dendam mu itu." ucap Etha tenang dengan tatapan dingin dan Vivian tidak menimpali ucapannya dan hanya menatapnya tajam.


Sementara Tuan Lucas langsung tertawa mendengar ucapan Etha, kemudian dia melangkah keluar dari kamar tersebut diikuti Ares dan Vivian.


Etha langsung memegangi perutnya, lalu memilih duduk di kursi dekat jendela kamar.


"Ya Allah, tolong lindungi hambamu dari marabahaya. Jika suamiku memang peduli kepadaku, tolong datangkan dia untuk menyelamatkanku." ucap Etha dengan mata berkaca-kaca.


Tiba-tiba saja seseorang melemparinya krikil kecil. Etha langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang empunya hingga terkejut bukan main melihat orang itu yang tengah berdiri di depan jendela kamarnya.


"Alfhat." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Hemm, cepat buka jendelanya." Perintahnya dan orang itu tidak lain adalah Alfhat.


Etha bergerak cepat membuka jendela kamar. Setelah itu, Alfhat langsung melompat masuk ke dalam kamar. Tanpa basa-basi Etha langsung memeluk tubuh Alfhat, sementara Alfhat terkejut dengan tingkah istrinya, hingga senyuman tipis terukir di sudut bibirnya dan dia pun langsung membalas pelukan istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2