
Etha tidak habis pikir dengan tingkah laku Alfhat. Bagaimana tidak selama tiga hari dirinya dikurung bersama dalam kamar dan tak sekalipun Alfhat membiarkan Etha keluar kamar. Bahkan Alfhat hanya memerintahkan para pelayan wanita untuk mengantarkan makanan mereka di kamar.
Semua itu di lakukan oleh Alfhat sebagai bentuk perayaan malam pengantinnya selama tiga hari berturut-turut. Mereka tidak hanya melakukan urusan ranjang, tapi Alfhat senantiasa mengaji bersama dengan istri tercintanya, membaca buku bareng dan melakukan hal-hal yang bermanfaat sesuai syariat agamanya.
Akan tetapi, pagi ini Etha diam-diam menyelinap keluar dari kamarnya ketika Alfhat tengah berada di kamar mandi. Etha tidak ingin terus menerus di kurung dalam kamar. Apalagi semalam Alfhat masih menginginkannya untuk terus berada di dalam kamar bersama. Sementara dirinya sudah ingin beraktivitas seperti biasanya.
Tidak lupa Etha mengirimkan pesan kepada Alfhat guna untuk meminta izin kepada suaminya perihal dirinya yang akan keluar bekerja. Dan dia juga menulis dua surat yang masing-masing hanya di tujukan kepada suaminya yang diletakkan di atas nakas.
Kini mobil yang membawanya pergi mulai melaju kencang membelah jalanan. Kebetulan Etha sendiri yang menyetir, pasalnya supir yang selalu mengantarnya bekerja sedang cuti.
Sepanjang perjalanan Etha berkali-kali menguap dan sesekali berhenti untuk beristirahat sejenak. Pasalnya dia bisa saja membahayakan pengendara lain jika berkendara dalam keadaan mengantuk.
Selama dua jam perjalanan akhirnya Etha sampai dengan selamat di butik miliknya. Etha bergegas turun dari mobil dan melangkah cepat masuk ke dalam butik.
Kebetulan Kayla juga baru saja sampai hingga dia membulatkan kedua matanya melihat kedatangan bosnya dengan penampilan alakadarnya dan dirasa itu seperti bukan bosnya yang dikenalnya selama ini, karena penampilannya kurang sempurna.
Kayla begitu telitinya memperhatikan penampilan bosnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hingga dia hanya mampu mengerutkan keningnya, kemudian bergerak cepat menyambut kedatangan bosnya.
"Selamat pagi Miss" sapa Kayla tersenyum ramah.
"Pagi. Oh iya, untuk hari ini tolong jangan menerima tamu. Siapapun orangnya jangan sekali-kali menerima tamu, karena aku tidak ingin diganggu." ucap Etha memperingatkan kepada asisten pribadinya.
"Siap Miss" ucap Kayla antusias sembari memberi hormat. "Miss, kalau boleh tau kenapa dengan penampilan anda hari...." ucap Kayla tidak enak hati untuk menanyakan hal tersebut, bahkan dia tidak melanjutkan ucapannya karena bosnya langsung meliriknya dengan sorot mata tajam. Sehingga Kayla hanya mampu cengengesan menatap bosnya.
"Satu lagi, aku mau istirahat di ruang pribadiku, jadi jangan menggangguku, Kayla. Ingat itu baik-baik, Kayla sayang." ucap Etha dengan nada penekanan lalu berjalan cepat menuju ruangannya.
"Baik Miss." teriak Kayla cepat sambil memukul kecil kepalanya. Dia merasa aneh dengan sikap bosnya hari ini. Mungkin karena efek terlalu jarang datang ke butik, sehingga bosnya menjadi berubah. Namun Kayla tidak ingin ambil pusing, dia melangkah cepat ke ruangannya.
*
*
*
Sementara di kediaman Alfhat...
Alfhat tengah duduk di sofa ruang tamu ditemani oleh orang kepercayaannya. Tampak Alfhat memijit keningnya setelah membaca pesan dan surat dari istri tercintanya.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan Richard?" tanya Alfhat dengan raut wajah datarnya.
"Memangnya apa yang ingin anda lakukan tuan?" tanya balik Richard yang belum tahu menahu permasalahan yang dihadapi oleh bosnya.
"Hufff...apa aku tidak menjelaskan kepadamu perihal istriku yang menyelinap keluar!" ucap Alfhat emosi dengan suara meninggi dan begitu kesal mengatakannya.
"Istighfar tuan" timpal Richard cepat mengingatkan tuannya sembari menepuk pelan bahu bosnya yang sepertinya kerasukan setan.
"Astaghfirullah, astaghfirullah... cepat katakan" ucap Alfhat sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar dan berusaha meredam emosinya.
"Tuan, nona keluar untuk bekerja. Karena selama tiga hari anda mengurung nona di kamar. Jadi biarkan nona kembali beraktivitas" ucap Richard dengan hati-hati. Takutnya menyinggung perasaan bosnya.
"Ya aku tahu, aku sama sekali tidak mengurungnya. Aku hanya ingin terus berduaan dengan istriku, karena aku begitu merindukannya dan hal itu wajar saja." ucap Alfhat membela diri.
Itu sama saja tuan, anda begitu mencintai nona Etha. Bahkan anda rela melakukan apapun demi untuknya. Karena cinta yang sudah membuat anda berubah. Sungguh aku ingin berterima kasih kepada nona Etha yang sudah membuat anda seperti ini. Batin Richard.
"Apa yang kulakukan itu salah, Richard?" tanya Alfhat kepada orang kepercayaannya.
"Tidak tuan, itu sudah menjadi keputusan anda. Karena anda begitu mencintai nona Etha." jawab Richard dengan bijaknya.
"Kalau begitu....Richard, siapkan mobil. Aku berubah pikiran, aku ingin menghadiri rapat pagi ini. Setelah itu, kita berangkat ke butik istriku." ucap Alfhat antusias.
Alfhat langsung bangkit dari duduknya dan dengan penuh semangat dia akan berangkat ke kantor hari ini.
"Richard, aku ingin memberikan kejutan kepada istriku. Aku ingin kamu mengundang mertuaku untuk makan malam bersama besok malam. Ingat, ini hanya menjadi rahasia kita" ucap Alfhat serius.
"Baik tuan. Aku sangat setuju dengan keputusan anda kali ini." ucap Richard.
"Hemm, jangan ada kesalahan sedikit pun. Aku percaya kepadamu." ucap Alfhat lalu melangkah menuju kamarnya dan Richard hanya mampu menggangguk menanggapi ucapan bosnya.
*
*
*
Etha benar-benar memanfaatkan ruang pribadinya untuk beristirahat. Tubuhnya begitu lemas, letih dan lelah, dikarenakan setiap malam harus begadang untuk melayani suaminya.
__ADS_1
Etha terbangun dari tidur panjangnya saat mendengar ponselnya berbunyi. Dia pun langsung mengulurkan tangannya mengambil ponselnya di atas nakas.
Seketika kedua matanya membola sempurna melihat puluhan kali Alfhat menghubunginya. Tidak hanya itu, Alfhat juga mengirimkan pesan kepadanya perihal kedatangannya yang ingin berkunjung ke butik.
Dengan cepat Etha membalas pesan Alfhat, namun keburu Alfhat meneleponnya.
"Halo assalamualaikum" ucap Etha.
"Waalaikumsalam. Tunggu aku disana" ucap Alfhat di ujung telepon dan langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Etha hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia tidak ingin Alfhat berkunjung ke butiknya. Kemudian dia segera mengirim pesan kepada Kayla untuk tidak menerima tamu. Walaupun nantinya suaminya yang datang berkunjung.
Sementara Kayla mulai mondar-mandir menatap pintu ruangan bosnya yang masih tertutup rapat. Dia mulai khawatir takutnya terjadi sesuatu kepada bosnya. Pasalnya sudah jam makan siang bosnya tak kunjung keluar dari ruangannya.
Tiba-tiba terdengar suara kehebohan di luar butik. Sekitar sepuluh orang berseragam lengkap dan diyakini seorang bodyguard tampak berjaga-jaga di luar butik.
Kayla memutuskan untuk melihat situasi diluar, namun langkahnya terhenti melihat kedatangan dua sosok pria tinggi berparas tampan melangkah cepat memasuki butik.
Salah satu pria tinggi itu tidak asing baginya dan dia masih mengingat wajah pria itu yang pernah berkunjung ke butik untuk mencari bosnya. Kayla bergerak cepat menghampiri mereka.
"Maaf tuan-tuan, kami tidak menerima tamu hari ini. Jadi tolong, silahkan anda pergi" ucap Kayla sopan sambil membungkukkan badannya meminta kedua pria itu untuk pergi.
"Jangan menghalangi kami nona, tunjukkan saja dimana ruangan nona Etha." timpal salah satu pria tinggi yang berdiri tegak di samping pria tampan dengan sejuta pesona.
"Biar aku saja Richard." ucap Pria tinggi dengan penuh wibawa kepada bawahannya.
"Tapi tuan..."
Pria tampan dengan sejuta pesona melangkah satu langkah mendekat ke arah Kayla.
"Nona, aku datang tidak untuk bertamu. Tapi, aku datang untuk mencari istriku." ucap salah satu pria itu dengan tatapan dinginnya.
"Istri?" Kayla terkejut dan langsung menatap mereka secara bergantian dengan tatapan mata melotot.
"Ya, istriku bernama Etha Putri Mayer dan aku mencarinya." ucap pria tampan itu dengan entengnya. Rupanya pria tampan itu tidak lain adalah Alfhat dan pria yang bersamanya adalah Richard, orang kepercayaannya.
Lagi-lagi Kayla terlonjat kaget melihat pria tampan itu mengakui bosnya sebagai istri. Memang dia tidak tahu seperti apa pria yang sudah menikahi bosnya.
__ADS_1
Bersambung....