Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 32


__ADS_3

Alfhat bergerak cepat membuka pintu kamar Etha dan langsung menyelonong masuk ke dalam kamar. Namun langkahnya terhenti tak mendapati pemilik kamar tersebut.


"Kemana perginya wanita tu...." Alfhat tidak melanjutkan ucapannya, tubuhnya mematung di tempatnya dengan kedua mata melebar melihat penampilan Etha.


Sementara Etha yang baru saja keluar dari ruang ganti hanya mengenakan pakaian santai bermotif bunga-bunga kecil tanpa lengan dengan panjang sebatas betisnya, hingga leher jenjangnya dan lengannya yang putih terpampang jelas. Sampai-sampai Alfhat tak berkedip melihatnya.


Padahal pakaian tersebut cukup tertutup, hanya saja Etha tidak memakai hijab karena rambutnya masih basah, namun bagi Alfhat penampilan wanita tua itu terlihat berbeda menurutnya.


Etha sama sekali tidak menyadari keberadaan Alfhat dalam kamarnya, karena dia tengah asyik mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ketika akan bercermin, dia pun terlonjat kaget mendapati Alfhat berada dalam pantulan cermin bersamanya.


Etha langsung mengalihkan pandangannya ke arah Alfhat dan terlihat waspada melihat pria cabul itu melangkah mendekatinya. Etha bergerak cepat untuk kembali masuk ke ruang ganti mengambil hijabnya, namun tangannya langsung dicekal oleh Alfhat.


"Lepaskan!" ucap Etha memberontak untuk lepas. Namun Alfhat tidak melepaskannya dan malah mencengkeram kuat tangannya.


Dengan kesal Etha menginjak kaki Alfhat, otomatis Alfhat langsung melepaskannya sembari menggerutu kesal. Etha berlari cepat masuk ke ruang ganti dan langsung menyambar hijab panjangnya sebatas paha, lalu memakainya cepat.


"Untuk apa lagi kamu menutupi rambutmu yang mirip mie keriting." ejek Alfhat bersandar di daun pintu.


Etha mengepalkan tangannya mendengar ejekan dari Alfhat. Dia tidak terima dengan ejekan pria itu. Bagaimana bisa rambutnya dikatai mirip mie keriting, jelas-jelas rambutnya lurus panjang tanpa bergelombang atau keriting.


"Apa kamu rabun, tuan? jelas-jelas tadi kamu melihat rambutku yang lurus panjang tanpa bergelombang. Ada-ada saja." ketus Etha.


"Oh iya, walaupun rambutku seperti mie keriting yang jelas aku merawatnya dengan baik. Tidak seperti dirimu, walaupun seluruh tubuhmu sempurna dari ujung rambut hingga ujung kaki, namun kamu tidak bisa merawatnya apalagi menjaganya dengan baik. Kamu hanya patut disebut sebagai pria cabul yang mesum tingkat tinggi karena kelakuanmu!" lanjutnya mengejek.


Alfhat mengepalkan tangannya, lalu melangkah mendekat ke arah Etha. Tampak Etha begitu waspada dan mengambil ancang-ancang untuk melawannya.

__ADS_1


Saat mencoba melakukan perlawanan, Alfhat langsung menyergap tubuh Etha dan mengangkatnya persis karung beras. Etha berteriak sembari memberontak untuk segera diturunkan.


"Turunkan aku!" teriak Etha sambil meronta-ronta yang mulai panik dengan aksi Alfhat.


Namun Alfhat tidak memperdulikannya, dia segera membawa Etha keluar dari ruang ganti. Dan melangkah mendekat ke arah ranjang, sebelum Etha meronta lebih kuat, dia langsung menghempaskan tubuh Etha di atas ranjang.


Seketika tubuh Etha terlentang di atas ranjang. Etha berusaha beringsut dan membawa tubuhnya bergerak turun dari ranjang, akan tetapi Alfhat sudah merangkak naik dan mendekatinya.


"Jangan mendekat!" ucap Etha waspada sambil beringsut, namun Alfhat semakin tertantang untuk mendekatinya. Alfhat seperti monster kelaparan yang sudah tak sabar untuk memakannya.


Etha mencoba untuk kabur darinya, dengan cepat Alfhat menindih tubuh Etha lalu menguncinya, agar Etha tak bisa lagi bergerak untuk melawannya.


"Lepaskan aku!." ucap Etha dengan tatapan kebencian sambil memberontak untuk lepas. Namun tubuhnya sudah dikunci habis oleh tubuh Alfhat yang super kekar. Dia sungguh tidak bisa bergerak, tubuhnya seolah tertimpa gorila raksasa.


"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepadamu." ucap Alfhat dengan sorot mata tajam. Dari jarak dekat, dia mampu mencium aroma tubuh Etha yang manis bercampur wangi mawar dari sabun cair yang dipakainya.


"Ya sudah, katakan saja. Tidak perlu menindihku seperti ini." ketus Etha dengan sorot mata tak kalah tajam. Sedangkan Alfhat tak bergeming dari atas tubuhnya.


"Aku ingin membatalkan syaratmu. Karena aku tidak bisa hidup tanpa belaian seorang wanita. Aku akan memulangkanmu ke apartemen. Karena malam ini, aku ingin membawa wanita bayaran ke mansionku guna untuk memuaskan kebutuhanku." ucap Alfhat dengan entengnya. Sedang pandangannya terus tertuju ke arah bibir ranum Etha yang semerah delima.


"Seseorang yang dipegang itu kata-katanya dan akan berdiri pada pendiriannya, serta tidak mengingkari janjinya sendiri. Tapi apa sekarang, Kamu pria yang tidak bisa di percaya dan cuman bisa ingkar janji. Kamu bukanlah sosok pria sejati, harusnya kamu malu dengan tindakanmu ini." ucap Etha terang-terangan menyindirnya.


Alfhat langsung terpancing emosi mendengar ucapan Etha. Namun dia berusaha mengontrol emosinya, seringai licik terpatri di sudut bibirnya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Etha, sontak Etha langsung memalingkan wajahnya ke samping dengan kedua pipi memerah.


"Bagaimana jika kamu yang menjadi wanita bayarannya?" tanya Alfhat sambil meniup kupingnya. "Bukankah kamu tidak ingin aku membawa wanita bayaran, jadi terima saja tawaranku. Berbanggalah karena aku masih memiliki keinginan untuk menyentuhmu. Mungkin aku cuma bisa menyentuhmu malam ini saja, tapi dalam keadaan terpaksa! Setelah itu, aku akan membuangmu seperti pakaian yang tidak terpakai seperti wanita sebelumnya" ucapnya menyeringai licik.

__ADS_1


Etha menghela nafas panjang mendengar setiap ucapan pria itu. Dia langsung menatap tajam manik mata Alfhat.


"Apa kamu begitu bangga dengan ucapanmu itu?. Kamu hanya menganggap wanita sebagai pakaian dan tidak pernah menghargainya, termasuk istrimu sendiri. Tapi, mulai sekarang aku tidak akan pernah membiarkanmu berbuat semena-mena terhadapku. Aku ingin mengajarimu bagaimana cara menghargai seorang wanita." tegas Etha dengan sorot mata tajam.


Alfhat tergelak tawa melihat sorot mata kebencian dari wanita tua itu. Dia semakin tertantang untuk menaklukkannya, bahkan begitu berhasrat untuk menciumnya yang sudah berada dibawah kungkungannya.


Perlahan Alfhat mendekatkan bibirnya ke bibir Etha untuk menciumnya, namun dengan gerakan cepat Etha kembali memalingkan wajahnya hingga bibir Alfhat meleset menempel di pipinya.


Mendapatkan penolakan dari Etha, sontak Alfhat semakin menggila menciumi seluruh wajah Etha. Kembali Etha memberontak untuk lepas.


"Bertobatlah sebelum terlambat, jangan sampai adzab Allah menghancurkanmu. Dan perbanyaklah beristighfar, lalu sirami wajahmu dengan air wudhu. Karena kamu pria yang diperbudak.... emppphh." Etha tidak melanjutkan ucapannya, mulutnya sudah dibungkam habis oleh ciuman Alfhat.


Bibir Alfhat terus mellumat bibir Etha tanpa ampun, mengecapnya tanpa permisi. Hingga menyusupkan lidahnya ke dalam kehangatan mulut Etha yang manis dan masih suci pula. Dia sangat yakin wanita tua itu sama sekali belum pernah berciuman.


Alfhat semakin menggila mencium bibir Etha dan tidak melewatkan seinci saja kenikmatan bibir Etha dari cumbuannya yang teramat racus dan profesional.


Ciuman itu berlangsung lama, hingga Etha mulai kesulitan bernapas dan masih saja memberontak untuk lepas dari cengkeraman Alfhat.


Sadar ulahnya sudah diambang batas, Alfhat langsung menghentikan ciumannya. Dia tidak bisa lagi menahan diri, hasratnya semakin menggebu-gebu dan mulai hilang akal.


"Kamu pria yang diperbudak hawa nafsu!" teriak Etha dengan amarah menggebu-gebu. Bahkan matanya memerah yang disertai kilatan amarah.


Alfhat tidak menggubris ucapannya dan kembali ingin menciumnya, namun dengan cepat Etha memalingkan wajahnya ke samping. Alfhat menggeram kesal dan berpindah menciumi leher jenjang Etha.


"Aku menganggap kamu sedang memperkosaku dan aku akan menuntut mu." ucap Etha dingin dan belum siap menyerahkan diri untuk pria itu. Seketika Alfhat menghentikan aksinya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2