Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 51


__ADS_3

"Naiklah ke penggung ku." ucap Alfhat berjongkok di hadapannya. Pasalnya pergerakan Etha begitu lambat.


"Tidak, kamu sedang terluka." tolak Etha, padahal kedua lututnya juga sedang terluka.


"Jangan membantahku, cepat naik ke punggungku!" ucap Alfhat tidak ingin di bantah.


Mau tak mau Etha menjadi patuh, dengan terpaksa dia naik ke punggung Alfhat. Dengan sigap Alfhat kembali berdiri tegak lalu melangkah cepat membawa Etha keluar dari hutan.


Jangan sampai anak buah Lucas kembali menangkapnya. Mengingat mereka masih berada di dalam daerah kekuasaan Lucas dan pastinya anak buah Lucas sudah bergerak mencarinya.


*


*


*


Sementara Lucas tampak murka setelah mendengar laporan dari anak buahnya. Ketiga anak buahnya langsung menjadi sasaran utamanya dan tewas di tangannya.


"Lepaskan hewan peliharaanku untuk mencari keberadaan mereka. Aku yakin mereka belum jauh meninggalkan tempat ini." teriak tuan Lucas dengan amarah menggebu-gebu yang sedang diselimuti oleh aura-aura membunuh.


"Baik tuan." ucap Ares sambil membungkuk hormat. Kemudian bergerak cepat menuju kandang hewan peliharaan tuannya yang terletak di samping rumah.


Kedatangan Ares membuat lima ekor anjing langsung menggonggong keras tanpa henti, seolah akan mencabit-cabit mangsanya dengan gigi-giginya yang tajam.


Ares lalu memerintahkan kedua pekerja yang selalu mengurus anjing-anjing itu untuk memintanya melepaskannya. Pasalnya anjing-anjing itu kembali mendapatkan tugas khusus dari pemiliknya.


Kedua pekerja langsung bergerak cepat memencet remote control hingga otomatis seluruh pintu kandang terbuka lebar. Seketika itu seluruh Anjing berlarian keluar sambil menggonggong keras melewati gerbang utama dan berlari memasuki hutan.


Para anak buah Lucas langsung bergerak untuk mengikuti anjing-anjing itu. Bersamaan pula Richard bersama rombongannya baru saja sampai di lokasi dan langsung menghadang mereka.


"Mau kemana kalian!" teriak Richard dengan suara lantang bak iblis yang siap mencabut nyawa mereka semua.


Dari arah berlawanan anggota The Posse kembali berdatangan untuk mengepung kediaman Lucas. Jumlah mereka begitu banyak dan kesemuanya tampak terlatih dengan membawa senjata masing-masing.


Seketika nyali anak buah Lucas menciut, karena jumlah mereka tidak sebanding dengan jumlah anggota The Posse. Para anak buah Lucas hanya mampu terkejut melihat anggota The Posse mengepung kediaman tuannya.


Sementara itu Lucas dan Ares yang tengah berdiri di balkon rumah langsung membulatkan matanya dengan tangan di kepal kuat melihat Anggota The Posse mengepung kediamannya.


"Bagaimana ini tuan? mereka sudah mengepung kita." ucap Ares dan mulai panik melihat banyaknya anggota The Posse berkeliaran di jalan.


"Segera perintahkan para penjaga untuk menutup gerbang utama. Jangan sampai seluruh anggota The Posse masuk dan memporak-porandakan mansionku. Lalu gunakan bahan peledak untuk menghabisi mereka. Tidak ada cara lain untuk melawan mereka dengan jumlah sebanyak itu." ucap tuan Lucas dengan tatapan dingin.


"Tapi tuan,..."


"Apa kamu tidak mendengar perintahku hah!" bentaknya dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"Baik tuan." ucapnya sambil membungkuk hormat.


Ares kemudian menghubungi salah satu penjaga untuk segera menutup pintu gerbang utama. Dengan cepat para menjaga melakukan perintahnya.


Sementara anggota The Posse langsung bergerak menyerang anak buah Lucas. Sehingga terjadi aksi perkelahian. Sedangkan Richard bergerak cepat menangkap salah satu anak buah Lucas untuk dimintai informasi.


"Ampun tuan, jangan bunuh saya." ucap pria itu tampak ketakutan ditodongkan pistol di kepalanya.


"Katakan! di mana kalian menyembunyikan nona kami! jawab!" ucap Richard sambil mencengkram kuat dagu pria itu.


"Di-dia sudah kabur... se-seorang penyusup membawanya kabur." ucapnya terbata-bata dengan tubuh gemetaran.


"Apa! lalu kemana perginya mereka? apa kamu melihat arah perginya?" tanya Richard.


Jangan-jangan Tuan Alfhat yang sudah menyelamatkan nona Etha. Lalu mereka kabur bersama. Batin Richard.


"Saya kurang tahu tuan, sepertinya mereka masuk ke dalam hutan." ucap pria itu takut takut.


"Lalu kenapa kalian seperti ingin mengejar seseorang? apa kalian ingin mengejarnya? aku bahkan melihat kalian semua ingin berlari menuju hutan. Akan tetapi, kedatangan kami langsung menghadang kalian, membuat kalian berhenti." jelas Richard. "Berbicaralah dengan jujur!" bentak Richard lalu melayangkan tinjunya memukuli wajah pria itu.


Bughhhh.... Bughhhh.


"Tolong ampuni saya, tuan. Kami memang ditugaskan untuk mencari nona kalian. Bahkan tuan muda Lucas sudah mengerahkan hewan peliharaannya untuk mencarinya di dalam hutan." ucap Pria itu dengan jujurnya.


"Sialan!" ucapnya kesal dan kembali melayangkan pukulan keras di wajah pria itu, kemudian melepaskannya dengan kondisi tubuh pria itu sudah babak belur.


****


Sementara di tengah hutan, Alfhat dan Etha memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dia sudah terlalu jauh berjalan memasuki hutan. Mereka tampak duduk bersama di bawah pohon sambil melepas penat.


"Minumlah, aku yakin kamu pasti haus." ucap Etha sambil menyodorkan botol air mineral.


Alfhat langsung mengambilnya lalu meminumnya hanya dua kali tegukan hingga tandas.


"Terima kasih." ucapnya.


"Sama-sama." ucap Etha tersenyum, sayangnya senyumannya itu tidak mampu dilihat oleh Alfhat.


Tiba-tiba saja mereka terkejut mendengar suara auman serigala dan tidak berapa lama kembali terdengar suara anjing menggonggong keras dan semakin dekat dari indera pendengarannya.


Etha langsung memeluk lengan Alfhat mendengar suara-suara tersebut. Dia terus beristighfar dalam hati, berharap tak ada bahaya yang datang menghampirinya.


"Kamu takut?"


"Hemm." ucap Etha sambil merapatkan tubuhnya. Sedangkan Alfhat mengulurkan tangannya untuk merangkul pundaknya. Berharap kehangatan tubuh istrinya mampu mengurangi rasa sakitnya.

__ADS_1


Diluar dugaan, tiba-tiba seekor anjing langsung berlari ke arah mereka dan tanpa aba-aba langsung melompat ke tubuh Alfhat.


"Aaaaaaa." Etha langsung berteriak histeris. Sementara Alfhat sedang melawan anjing pelacak itu yang begitu ganasnya ingin menggigitnya. Alfhat mengambil pistolnya dari balik pinggangnya dan langsung menembak anjing itu hingga mati.


Kembali terdengar suara anjing menggonggong saling sahut-sahutan. Alfhat merasa yakin hewan tersebut sengaja dilepas oleh pemiliknya untuk melacak keberadaannya.


"Ayo, tempat ini tidak aman." ucap Alfhat.


Mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Untungnya Etha memiliki senter kecil, sehingga dapat membantunya berjalan melewati semak belukar yang tidak ada habisnya.


"Tunggu, aku mendengar suara-suara air yang sangat deras. Aku sangat yakin itu suara dari aliran sungai. Sepertinya tempatnya tidak jauh dari sini." ucap Etha.


"Ya, aku juga mendengarnya. Semoga ucapanmu benar." ucap Alfhat.


Mereka kembali berjalan menapaki jalan yang terjal bahkan membuat Etha harus ekstra hati-hati setiap melangkah.


"Syukurlah, dugaanku memang benar. Lihatlah itu sungai." ucap Etha dengan mata berkaca-kaca. Lewat sinar rembulan mereka mampu melihat aliran sungai yang mengalir derasnya.


"Berhati-hatilah." tegur Etha melihat Alfhat bergerak mendekati pinggir sungai.


Sementara Alfhat sendiri mulai membersihkan tangannya dan tak lupa membasuh wajahnya. Etha ikut mendekat, lalu ikut membersihkan kedua tangannya dan juga membasuh wajahnya dengan air.


Mereka duduk bersama di atas batu besar, perlahan Alfhat membuka kancing kemejanya, lalu melepaskan kemejanya yang melekat di tubuh atletisnya.


Dia harus mengeluarkan peluru yang masih bersarang di dada bagian kirinya. Belati kecil sudah dia pegang dan perlahan dia gunakan untuk mengeluarkan peluru yang masih bersarang di dada bagian kirinya.


Alfhat menggigit bibirnya agar suaranya tidak terdengar keluar. Matanya memerah merasakan ujung belati mulai menusuk-nusuk dadanya yang terluka, hingga gerakan tangannya begitu lihai mencungkil peluru yang bersarang di dadanya hingga akhirnya peluru berhasil dia keluarkan dari tubuhnya.


Alfhat langsung menjatuhkan belatinya. Sementara Etha dengan cepat membersihkan darahnya yang mengalir menggunakan sapu tangan.


Alfhat memejamkan matanya saat Etha mulai mengobati lukanya menggunakan obat merah, lalu Etha kembali melilitkan kain kasa pada tubuhnya yang terluka.


"Terima kasih, untung ada kamu." ucap Alfhat dengan tatapan sendu.


"Sama-sama, akupun berterima kasih karena kamu sudah menolongku." ucap Etha merasa lega.


"Itu sudah menjadi tugasku. Sebaiknya kita cari tempat untuk beristirahat. Tidak mungkin jika kita terus berjalan." ucap Alfhat.


"Iya. Bagaimana jika kita menginap saja di sekitaran sini" ucap Etha.


"Hemm. Ide yang bagus." ucap Alfhat.


Mereka pun memutuskan beristirahat di tempat tersebut dan cukup aman untuk bersembunyi.


Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🤗


__ADS_2