
Etha bernafas lega setelah menyaksikan saudaranya sudah pergi meninggalkan kediaman Alfhat. Namun dia terkejut sebuah tangan kekar melingkar di perutnya.
Etha langsung menoleh kearah pelakunya. Hingga pandangan mata mereka bertemu dengan jarak yang teramat dekat.
"Ada apa lagi? kenapa main peluk-peluk, seperti inikah tingkah seorang tuan muda ketika lagi marah" ucap Etha dengan tatapan sinis.
"Ya, seperti inilah wujud asliku akan terus mendekati milikku. Ucapanmu memang tidak salah lagi, aku masih marah. Semua itu gara-gara saudaramu yang masih ingusan menyelinap masuk di kediamanku." ucap Alfhat sambil mengeratkan pelukannya.
"Kamu mengatai saudaraku masih ingusan? jelas-jelas dia yang sudah membuatmu babak belur." protes Etha mendengar ucapannya.
Alfhat tidak menimpali ucapannya, dia langsung melepaskan pelukannya lalu menarik tangan Etha untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
"Duduk, sekarang tugasmu mengobati lukaku. Setelah itu, kita akan berangkat ke lokasi proyek." ucap Alfhat tidak ingin dibantah sambil menunjuk ke arah Sofa.
"Kamu yakin? terus bagaimana dengan kondisimu sekarang. Wajahmu terlihat babak belur, tapi kamu masih ingin berkunjung ke sana." ucap Etha dengan mata memicing.
"Ini hanya luka kecil, aku masih mampu untuk berjalan. Aku tidak suka bermain-main jika menyangkut tentang bisnisku." jelas Alfhat, membuat Etha terdiam dan tidak ingin lagi membantah ucapannya.
Kepala pelayan menghampiri mereka sambil membawa kotak obat lalu meletakkannya di atas meja tepat di depan majikannya. Kemudian kepala pelayan pamit undur diri ke dapur.
Tanpa basa-basi Etha bergerak duduk di sofa lalu membuka kotak obat P3K. Etha mengambil kapas beserta obat merah, kemudian dia menyuruh Alfhat untuk duduk di sampingnya. Dengan cepat Alfhat mengikuti ucapannya.
Hanya keheningan yang terjadi di ruang tamu, dimana pasangan suami istri itu sedang duduk bersama. Etha begitu cekatan mengobati luka di wajah Alfhat.
Sesekali Alfhat meringis kesakitan saat merasakan obat merah mengenai permukaan kulitnya. Sedangkan Etha terus mengoceh tak jelas dan sedang mengejeknya.
"Sudah selesai, payah sekali kamu." Ejeknya lalu merapikan kotak obat P3K.
Alfhat hanya mampu berdengus kesal mendengar ejekan dari Etha. Sementara Etha kembali menyimpan kotak obat P3K di laci nakas.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, membuat Alfhat mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Masuk." ucapnya acuh.
Hingga muncullah dua bodyguardnya membawa dua buah box berwarna hitam melangkah ke arahnya.
"Apa itu?" tanya Alfhat.
"Kami tidak tau tuan, kami belum membukanya. Kami tidak sengaja menemukannya di area gerbang utama " ucap salah satu dari mereka dan dengan kompak meletakkan box berwarna hitam di atas meja tepat di depan bosnya.
Setelah mendengar ucapan anak buahnya, Alfhat langsung membuka salah satu box berwarna hitam dan terkejut melihat isinya.
__ADS_1
Sebuah potongan tubuh manusia pada bagian pergelangan tangannya saja, diduga itu korban mutilasi.
Alfhat kembali bergerak cepat membuka box yang satunya, kali ini isinya berupa foto-foto dari korban yang di mutilasi dan foto tersebut adalah salah satu petinggi di perusahaannya.
"Lucas Antonio!" Alfhat langsung meremas foto tersebut, dia dapat menebak langsung pelakunya. Hanya pria yang bernama Lucas yang selalu melakukan perbuatan kejam tanpa ampun, hingga memutilasi para korbannya. Sedari dulu pria itu menjadi musuh bebuyutannya, pria monster berkedok psikopat.
"Bereskan semua ini." Perintah Alfhat kepada anak buahnya.
"Baik tuan." Kedua bodyguard itu membungkuk hormat, lalu mengambil kembali box berwarna hitam untuk dimusnahkan.
Alfhat mencengkeram kuat ujung mejanya. Lagi-lagi pria yang bernama Lucas memunculkan kembali batang hidungnya. Padahal dia sudah menghancurkan pria itu tanpa ampun tujuh tahun yang lalu, mustahil baginya untuk bisa kembali menghirup udara bebas.
Akan tetapi, sepertinya pria itu memiliki dua nyawa dan kembali bisa berdiri dengan dorongan orang-orang yang cukup berpengaruh besar untuk membantunya.
Alfhat sangat yakin, pria itu kembali datang untuk balas dendam kepadanya dan berusaha menghancurkan apa yang dimilikinya sekarang. Namun, dia sama sekali tidak takut dengan pria yang bernama Lucas, dia akan selalu siap meladeni pria psikopat itu.
"Hei, bukankah kamu akan berangkat sekarang."
Seketika lamunan Alfhat terbuyarkan mendengar suara wanita yang sangat begitu dikenalinya. Alfhat melirik ke arah sang empunya, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Hemm." ucapnya sembari bangkit dari duduknya.
Mereka berjalan bersama-sama keluar dari rumah. Tampak mobil sport berwarna hitam sudah siap mengantarnya ke lokasi proyek. Para bodyguard Alfhat, bergerak cepat membukakan pintu mobil untuk majikannya.
Setelah mereka selesai memasang sabuk pengaman, perlahan mobil melaju pelan melewati pelataran rumah hingga berhasil keluar dari gerbang utama. Kemudian Alfhat mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap dengan cepat sampai di lokasi proyek.
Hanya empat puluh menit, mobil yang membawa mereka tiba di lokasi proyek pembangunan apartemen. Alfhat bergegas turun dari mobil, kemudian disusul oleh Etha.
Kedatangannya langsung di sambut hangat oleh dua pria paruh baya berhelm putih. Sementara para pekerja proyek terlihat tampak sibuk bekerja.
"Selamat siang tuan Alfhat." Sapa mereka sambil membungkukkan badannya dengan hormat.
"Hemm." Alfhat hanya berdehem sambil mengangguk menanggapi sapaannya.
Sementara Etha mulai melihat disekelilingnya. Dua alat berat excavator masih sibuk bekerja, begitu halnya dengan truk yang masih bolak balik membawa bahan material bangunan.
Tampak salah satu pekerja proyek menghampiri mereka sambil membawa dua helm berwarna putih untuk diberikan kepada sang big bos. Alfhat menerima dua helm tersebut, satunya dia berikan kepada Etha.
"Terima kasih." ucap Etha dan hanya memegang helm tersebut tanpa ingin memakainya.
Kemudian mereka berjalan bersama-sama mendekat ke arah bangunan yang belum sepenuhnya rampung. Banyaknya balok kayu beserta besi-besi yang masih menyangga bagian atap bangunan. Beberapa bahan material seperti tegel keramik belum ada yang terpasang.
__ADS_1
"Tunggu disini, aku ingin berkeliling bersama Pak Agus dan Pak Mario. Kami ingin melihat kondisi bangunan yang masih perlu penyelesaian dalam waktu sebulan." ucap Alfhat meminta Etha untuk beristirahat saja di pos penjaga.
"Baik" ucap Etha dan memilih duduk di bangku kayu.
Sementara Alfhat dan lainnya mulai bergerak melihat-lihat kondisi bangunan. Mereka berjalan bersama-sama sambil mengobrol tentang bangunan yang belum rampung itu.
Cukup lama Etha menunggu di pos penjaga dan dia sudah mulai bosan. Karena Alfhat tak kunjung datang.
"Sebaiknya aku susul saja mereka." gumam Etha lalu bangkit dari duduknya.
Namun tiba-tiba saja, salah satu pekerja proyek berhelm kuning menghampirinya.
"Tuan sedang menunggu anda di danau buatan yang terletak di bagian belakang bangunan. Untuk itu saya diminta agar mengantar anda ke sana." ucap Pria itu.
"Oh begitu, ya sudah, ayo." ajak Etha.
"Maaf nona, kita tidak mungkin berjalan kaki. Sudah ada mobil yang siap mengantar anda." ucapnya, lalu menunjuk ke arah mobil yang terparkir di pinggir jalan yang dilewati oleh truk.
Tanpa menaruh kecurangan sama sekali Etha menyetujui ucapan pria itu. Kemudian dia berjalan lebih dulu menuju mobil yang terparkir di jalan. Seketika seringai licik terpancar di wajah pria tadi.
Merasa di sekitarnya tampak aman, pria itu melangkah cepat menyusul Etha. Sebuah sapu tangan dia keluarkan dari saku celananya. Lagi-lagi pria tampak waspada melihat di sekelilingnya.
Hingga jaraknya semakin dekat dengan wanita di depannya. Tanpa basa-basi, Pria itu langsung menggunakan sapu tangannya untuk membius Etha, dimana sapu tangannya sudah dibaluri obat bius.
Tak butuh lama, Etha langsung tak sadarkan diri. Dengan sigap pria itu membopong tubuh Etha masuk ke dalam mobilnya. Diluar dugaan salah satu pekerja proyek tak sengaja melihat mereka.
Dengan cepat pria itu berlari mengejar mobil yang sudah tancap gas. Kemudian tiga orang temannya menghampirinya.
"Seorang wanita berhijab dibawa pergi oleh orang asing." ucapnya menunjuk ke arah mobil yang dilewati pria tadi.
"Mungkin kamu salah lihat." timpal temannya. Dan pria itu tetap kekeh dengan apa yang dilihatnya. Merekapun akhirnya saling berdebat.
Sementara Alfhat dan rombongannya baru saja selesai meninjau bangunan. Tampak mereka berjalan bersama-sama keluar dari bangunan. Alfhat memilih untuk menghampiri Etha di pos penjaga, namun sayangnya dia sudah tidak melihat keberadaan wanita itu.
"Kemana perginya." ucapnya terkejut dan langsung melihat disekelilingnya. Hal-hal yang tidak diinginkannya seketika menghinggapi pikirannya.
Bersambung....
Sudah memasuki konflik 😉
Satu bab lagi akan menyusul 🤭
__ADS_1
Jangan bosan-bosan memberikan dukungannya ya teman-teman 🙏🤗