Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 52


__ADS_3

"Iya. Bagaimana jika kita menginap saja di sekitaran sini" ucap Etha.


"Hemm. Ide yang bagus." ucap Alfhat.


Mereka pun memutuskan beristirahat di tempat tersebut dan cukup aman untuk bersembunyi. Sebuah Gua kecil yang letaknya tak jauh dari sungai menjadi tempat mereka beristirahat.


Etha dan Alfhat saling bekerjasama sama untuk membuat api unggun di dalam Gua yang mereka tempati. Mereka sempat mencari kayu bakar terlebih dahulu dan untungnya Alfhat membawa alat pemantik sehingga memudahkannya membuat api unggun.


Sebuah api unggun berhasil mereka buat dan mampu menghangatkan tubuh mereka sepanjang malam. Etha dan Alfhat membaringkan tubuhnya di atas jerami menatap langit-langit gua.


"Ini menjadi pengalaman pertamaku, kabur bersamamu." ucap Alfhat tersenyum. Sontak Etha mengubah posisinya menghadap ke arahnya.


"Ya, aku juga. Terus bagaimana dengan lukamu, apa masih sakit?" tanya Etha khawatir sambil menyentuh dada bidangnya.


"Aku sudah sering terluka seperti ini. Rasa sakitnya sudah tidak berarti bagiku." ucap Alfhat lalu menggenggam tangannya.


"Wajar saja, karena kamu seorang jagoan." ucap Etha tersenyum.


"Mendekatlah, lalu peluk aku sebentar saja." ucap Alfhat sambil meliriknya sekilas.


"Bagaimana jika aku tidak mau?"


"Maka aku akan membuatmu mau melakukannya!" ancam Alfhat.


"Baiklah, sudah terluka masih saja hobi mengancam." oceh Etha sambil mendekatkan tubuhnya, lalu dia mengulurkan tangannya memeluk tubuh Alfhat.


Suasana menjadi hening, mereka hanya mampu mendengarkan degup jantungnya yang memompa lebih cepat disertai suara-suara jangkrik dan hewan lainnya.


Sungguh mereka merasakan perasaan aneh setiap kali berdekatan. Perlahan mereka memejamkan matanya dan tak berselang lama mereka pun tertidur dengan posisi berdekatan, seolah mereka saling menjaga satu sama lain.


*


*

__ADS_1


*


Pagi kembali menyapa, Etha tidak melupakan kewajibannya melaksanakan sholat lima waktu, walaupun dia berada di dalam hutan. Untungnya masih ada ponsel yang dia bawa dan sedikit memudahkannya mengetahui waktu sholat lewat alarm ponsel yang selalu dia pasang.


Dan kebetulan baterai ponselnya belum habis, karena dia tidak sering menggunakannya, apalagi tidak ada signal di tempat tersebut. Maka dari itu dia tidak pernah menggunakan ponselnya untuk menghubungi orang lain atau kerabat terdekatnya. Tak hanya itu, dia selalu membawa kompas kemana-mana dan mampu memudahkannya mengetahui arah kiblat.


Sementara Alfhat baru saja terbangun dan dia terkejut tidak mendapati istrinya di sampingnya. Hawa dingin dari udara yang begitu sejuk langsung menusuk permukaan kulitnya sampai ke tulang-tulangnya dan membuatnya malas untuk beranjak dari tempatnya. Namun dia kepikiran dengan istrinya.


Perlahan Alfhat bangkit dan menyeret kedua kakinya mencari keberadaan istrinya. Suara deras dari aliran sungai membawa langkahnya mendekat ke arah sungai.


Dari kejauhan dia mampu melihat Etha sedang duduk di batu besar dan tengah mengeringkan rambutnya. Sepertinya wanita itu baru saja selesai mandi melihat penampilannya yang belum memakai hijab. Alfhat langsung bergerak menghampirinya.


"Kenapa kamu meninggalkanku di gua? terus kenapa kamu mandi seorang diri di tempat terbuka? bagaimana jika ada yang mengintip mu atau bisa saja hewan buas langsung menerkam mu." ucap Alfhat dengan nada khawatir.


Etha yang tampak segar langsung menoleh ke arahnya.


"Suka-suka aku. Air sungainya sangat jernih, membuatku ingin langsung menenggelamkan seluruh tubuhku. Sungguh, tempat ini sangat indah, udaranya sejuk, airnya yang dingin dan jernih membuatku betah. Aku ingin berlama-lama berada di tempat ini." ucap Etha tersenyum. Pasalnya dia baru saja selesai mandi di sungai yang airnya sangat jernih dan sangat membuatnya nyaman, tenang, damai dan tentram.


"Sebaiknya sana mandi. Ini perlengkapan mandiku. Kamu boleh menggunakannya" ucap Etha sambil menyodorkan handuk beserta sabun cair. "Dan ini juga." lanjutnya mengeluarkan sikat gigi beserta pasta gigi dari dalam tasnya.


Alfhat langsung mengambil semua perlengkapan mandi tersebut dengan kening berkerut.


"Tasmu persis sebuah toko, hampir semua kebutuhanmu tersedia di dalam tasmu. Jangan-jangan kamu mempersiapkan semua ini untuk kabur dari ku?" tanya Alfhat penuh curiga dengan kening berkerut. Pasalnya obat luka, kain kasa, obat penurun panas, obat sakit kepala, sakit perut, handuk dan sabun cair yang sedang dipegangnya sekarang dan masih banyak lainnya. Dan ia merasa yakin semuanya lengkap di dalam tas ransel istrinya.


"Dan ini, bahkan kamu sampai membawa pakaian ganti. Pantas saja tasmu lebih berat di bandingkan dengan tubuhmu, karena semua kebutuhanmu lengkap di dalam tasmu. Kamu tidak bisa mengelak lagi" ucapnya ketus sambil menyentuh lengan baju istrinya.


"Ha ha ha, ya..ya...tasku memang persis seperti toko. Karena aku orang yang perfeksionis dan terjadwal. Segala kebutuhanku aku persiapkan dengan baik di dalam tasku. Bayangkan saja setiap hari aku harus bolak-balik keluar kota demi pekerjaanku dan demi kembali kekediamanmu, bagaimana jika dalam perjalanan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepadaku. Misalnya saja, aku lapar, sakit perut dan lainnya. Maka aku tidak perlu susah payah untuk mencari makan dan obat-obatan. Karena di dalam tasku sudah tersedia, ada roti, air mineral dan obat sakit perut. Satu hal lagi, aku tidak pernah berencana kabur darimu" jelas Etha panjang lebar yang mencoba menjelaskannya. Kemudian Etha mengikat rambutnya lalu memakai hijabnya.


Alfhat tertegun mendengar ucapan istrinya barusan. Baru kali ini dia menemui wanita yang begitu memperhatikan segalanya. Mewanti-wanti hal yang tidak diinginkan dengan menyiapkan segala kebutuhannya, sungguh dia menganggap wanita itu sangatlah cerdas.


"Kurasa anak buahmu sedang mencari keberadaan kita. Untuk itu, kita bisa menunggu mereka di tempat ini." ucap Etha dengan usulan dan Alfhat hanya mampu terdiam.


"Bagaimana?" Etha menepuk bahunya, karena Alfhat tidak merespon ucapannya.

__ADS_1


"Baiklah." ucapnya dengan anggukan kepala.


"Ya sudah, kalau begitu sekarang buka pakaianmu, aku akan mencucinya. Sembari menunggu pakaianmu kering. Sekalian saja kita menunggu anak buahmu datang." ucap Etha tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk membuka kancing kemeja Alfhat, sontak membuat Alfhat langsung menangkap tangannya.


"Biar aku saja." ucapnya dan merasa aneh dengan sikap istrinya. Kemudian Alfhat membuka pakaiannya dan hanya menyisahkan boxer yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Lalu Alfhat bergegas mandi.


Sementara Etha mencuci pakaiannya menggunakan sabun cair. Noda darah di kemeja putih Alfhat membuatnya kesulitan untuk menghilangkan noda tersebut. Selesai mencuci pakaian Alfhat, dia lalu menjemurnya di ranting pohon, dimana pakaiannya juga sudah bergelantungan di ranting pohon.


Mereka seperti terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni, dan seolah-olah mereka sedang berkemah di pulau tersebut dalam jangka waktu cukup lama.


Selesai mandi, Alfhat kemudian menghampiri Etha yang sedang menunggunya di bawah pohon. Alfhat hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya.


"Kemarilah, kita harus sarapan. Untungnya masih ada dua bungkus roti. Aku akan berbagi makanan denganmu." ucap Etha antusias yang sedang duduk di batang pohon yang tumbang.


Alfhat tersenyum lalu duduk di sampingnya. Dia merasa senang bisa berduaan seperti ini dengan istrinya. Mereka pun mulai memakan roti dengan lahap, bahkan sampai berbagi minum.


****


Sementara Richard bersama rombongannya sedang mencari keberadaan mereka di dalam hutan. Setelah selesai melakukan penyerangan di kediaman Lucas, mereka memutuskan masuk ke dalam hutan untuk mencari keberadaan bosnya.


Anggota The Posse yang terluka parah langsung menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara yang tewas di tempat, hanya mampu di kuburkan di tempat lokasi penyerangan bersama anggota The Sinaga.


Richard tidak berhasil membunuh Lucas, karena pria itu berhasil kabur. Selain itu, Richard tidak sampai menghancurkan kediaman Lucas, dia hanya memberikan peringatan kepada pria psikopat itu untuk tidak lagi mengusik ketenangan bosnya.


Sementara Lucas, Ares dan beberapa anak buahnya yang tersisa juga sedang menjalani perawatan di klinik di dalam kediamannya. Karena Lucas juga terluka akibat terkena tembakan.


"Bagaimana, apa kamu sudah menemukan mereka?" tanya Lucas yang sedang bersandar di ranjang.


"Belum tuan. Tapi, kurasa mereka tidak akan pernah selamat keluar dari hutan. Banyak hewan buas berkeliaran di dalam hutan dan para perampok sadis tinggal di dalam hutan, bisa saja menangkap mereka lalu membunuhnya." ucap anak buahnya yang merupakan mata-matanya.


"Wow, keluar dari kandang singa, mereka akan masuk ke kandang harimau." ucap Lucas menyeringai licik diwajahnya. Dia sungguh berharap Alfhat dan istrinya tewas di dalam hutan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2