Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 67


__ADS_3

"Untuk kandidatnya, aku tidak yakin. Aku tidak ingin menjodoh....." Etha tidak melanjutkan ucapannya, mendadak dia mendengar suara kehebohan dari luar ruangannya.


"Kebakaran!"


"Kebakaran!"


Alfhat dan Etha terkejut hingga mereka kompak berucap 'kebakaran'. Kemudian mereka bergerak cepat keluar dari ruangannya.


Terlihat Richard bersama beberapa bodyguard Alfhat sedang memadamkan api yang sempat menjalar membakar gorden dan percikan api dari kain gorden hampir saja melalap koleksi rancangan busana yang terpajang di sudut ruangan.


Kayla pun ikut memadamkan api menggunakan Alat Pemadam api ringan (APAR). Dalam hal kesehatan dan keselamatan kerja (K3), APAR merupakan salah satu benda yang wajib dimiliki oleh setiap perusahaan dan tempat bisnis lainnya termasuk sebuah butik.


Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya kebakaran, yang dapat mengancam keselamatan pekerja dan barang-barang berharga lainnya.


Sementara karyawan lainnya sibuk mengamankan busana muslim yang terpajang di patung lilin, lalu membawanya keluar butik. Takutnya api merambat hingga melalap semua produk busana muslim yang terpajang.


Alfhat dan Etha hanya mampu menjadi penonton melihat para karyawan saling membantu memadamkan api hingga akhirnya mereka berhasil memadamkan api.


Alfhat menghampiri Richard yang baru saja keluar dari ruangan pengawasan dan kembali Richard membantu karyawan membersihkan puing-puing kain yang mudah terbakar berserakan di lantai.


"Bagaimana bisa sampai terjadi kebakaran seperti ini? apa penyebabnya korsleting pada kabel atau memang faktor kesengajaan? apa kamu sudah memeriksa cctv nya, Richard?" tanya Alfhat kepada Richard. Sontak Richard menoleh ke arah bosnya.


"Sudah tuan. Setelah memeriksa rekaman cctv, terlihat seorang wanita berhijab memakai masker begitu mencurigakan masuk ke dalam butik. Wanita itu sempat mondar-mandir melihat baju-baju yang terpajang, namun sama sekali tidak membelinya. Dia sempat melihat situasi disekitarnya lalu dengan cepat membuang puntung rokok pada baju yang mudah terbakar, hingga akhirnya menimbulkan percikan api dan mulai merambat berpindah melalap gorden di dekat pintu masuk. Setelah berhasil, wanita itu bergegas pergi. Tak satupun karyawan butik yang mencurigainya, karena mereka sudah panik melihat kobaran api yang mulai besar melalap baju-baju yang terpajang. Tapi secepatnya aku akan menyelidiki siapa dalang dibalik kebakaran ini, tuan." Jelas Richard.


"Hemm, kurasa seseorang memang sengaja merencanakan semua ini. Kita tidak tahu, entah itu musuhku atau musuh keluarga dari istriku yang kembali berkeliaran untuk menyerangku dari belakang ataupun untuk menyerang istriku" ucap Alfhat.


"Benar tuan, kita tidak boleh lengah dan harus selalu waspada setiap saat. Terutama keselamatan nona Etha." ucap Richard.


"Ya, kamu benar. Jika mereka tidak mengincarku, maka orang-orang terdekatku yang kembali menjadi sasarannya. Untuk itu, aku ingin butik milik istriku harus dijaga ketat selama dua puluh empat jam. Siapkan para bodyguard terlatih untuk menjaga butik ini" ucap Alfhat sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Baik tuan" ucap Richard.


"Segera siapkan mobil, aku ingin membawa istriku pulang ke mansion." ucap Alfhat dan Richard hanya mampu mengangguk menanggapi ucapan bosnya.


Kemudian Alfhat melangkah mendekat ke arah istrinya yang sedang berbaur bersama karyawannya yang sedang mengerumuni seseorang.


"Sayang, kita harus pulang" ucap Alfhat kepada Etha.


"Tunggu sebentar, asisten pribadiku sedang terluka. Telapak tangannya melepuh saat mencoba memadamkan api." ucap Etha dengan raut wajah khawatir.


"Ya sudah, kalau begitu segera bawa dia ke rumah sakit. Biar Richard yang mengantarnya." ucap Alfhat.


"Saya tidak apa-apa tuan." tolak Kayla cepat.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu berkata tidak apa-apa, sementara telapak tanganmu sudah melepuh dan pastinya itu sangat sakit, Kayla. Jadi sebaiknya kamu harus ke rumah sakit guna untuk mendapatkan pertolongan pertama. Jangan khawatir, segala kerugian akibat kebakaran ini semuanya aku yang tanggung, termasuk biaya pengobatan para karyawan dan pembeli yang terluka." ucap Etha menjelaskan dengan tenang.


"Miss..."


"Jangan membantah ucapan istriku" timpal Alfhat cepat.


Bersamaan pula Richard datang menghampiri bosnya.


"Richard, antar dia ke rumah sakit." perintah Alfhat kepada orang kepercayaannya.


"Baik tuan." ucap Richard dengan anggukan kepala lalu melirik ke arah Kayla yang terlihat menunduk.


"Pergilah Kayla, jangan sampai lukanya semakin parah." bujuk Etha.


"Baik Miss" ucap Kayla kemudian berpamitan kepada bosnya.


Etha dan Alfhat hanya mampu menatap kepergian mereka.


"Bagaimana jika kita jodohkan Richard dengan asisten pribadimu" ucap Alfhat tersenyum tipis.


"Maksudmu Kayla? asisten pribadiku?" ucap Etha memperjelasnya.


"Ya."


"Tidak tidak, aku tidak ingin menjodohkan Kayla dengan sekretarismu, jangan sampai kelakuannya sebelas dua belas denganmu." ucap Etha dengan ketusnya.


"Tapi tetap saja, aku tidak ingin menjodoh-jodohkan mereka, apalagi sampai harus menjadi mak comblangnya. Kita hanya perlu mendoakan mereka supaya berjodoh." ucap Etha tersenyum.


"Baiklah, ucapan istriku memang bijak." ucap Alfhat tersenyum tipis lalu merangkul pinggang Etha, membuat Etha hanya mampu tersenyum. "Ayo kita pulang ke mansion" ajak Alfhat.


"Ayo" ucap Etha antusias. Kemudian mereka berjalan bersama-sama keluar dari butik dan bergegas masuk ke dalam mobil yang akan membawanya pulang ke mansion.


*


*


*


Sementara di tempat lain....


Terlihat sosok pria berpakaian muslimah melepaskan seluruh pakaian penyamarannya di dalam mobilnya. Kemudian pria itu menghubungi seseorang.


"Aku sudah membakar butiknya, tapi para anak buah Alfhat berhasil memadamkannya" ucap pria itu pada seseorang di ujung telepon.

__ADS_1


"Bodoh! Hans, aku memintamu untuk menghancurkan bisnis yang dijalankan wanita tua itu. Karena jika kamu tidak berhasil menghancurkan bisnisnya, kamu tidak akan mendapatkan bayaran sepeserpun." ucap seseorang di ujung telepon memberikan ancaman kepada pria yang bernama Hans.


"Kalau perlu lecehkan wanita tua itu di depan umum atau terus menerornya hingga dia menjadi frustasi dan pada akhirnya dia sendiri yang memilih untuk mengakhiri hidupnya. Aku ingin membuat wanita tuan itu hancur dan menderita." lanjutnya dengan amarah menggebu-gebu.


Pria yang bernama Hans hanya mampu mengepalkan tangannya hingga panggilan mereka berakhir.


"Sial! aku akan merencanakannya ulang." ucapnya berdengus kesal lalu menancap gas meninggalkan tempat tersebut.


*


*


*


Kediaman Alfhat....


Diam-diam Alfhat sedang merencanakan kejutan untuk istri tercintanya. Para pekerja beserta juru masak tampak sibuk memasak makanan untuk makan malam nanti. Para pelayan wanita mulai berlalu lalang menghidangkan makanan di atas meja makan. Mereka semua tengah sibuk mempersiapkan acara makan malam bersama nanti malam.


Karena malam ini menjadi malam spesial bagi Etha sekaligus untuk memberikan kejutan kepadanya. Alfhat sudah tidak sabaran ingin melihat reaksi istrinya setelah bertemu dengan orang-orang yang disayanginya.


"Siapa sih tamu pentingnya? aku melihat semua orang begitu sibuk di dapur." ucap Etha duduk di samping Alfhat yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Nanti juga kamu bakalan tahu, sayang. Pokoknya kamu harus tampil cantik, karena tamu yang datang orang-orang penting." ucap Alfhat sambil meliriknya.


"Kenapa kamu mesti main rahasia-rahasiaan kepadaku. Aku kan mulai penasaran, awas saja jika kamu cuma mengerjaiku" ucap Etha sambil menatapnya tajam.


"Untuk apa aku mengerjaimu. Sebaiknya segeralah bersiap-siap. Karena kita harus menyambut kedatangan tamu pentingku." ucap Alfhat tersenyum tipis.


"Baiklah, aku akan segera bersiap-siap." ucap Etha kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Tak membutuhkan waktu lama pasangan suami istri itu sudah rapi dan siap menyambut kedatangan tamu pentingnya. Terlihat Etha begitu cantik mengenakan gaun berwarna peach. Tak henti-hentinya Alfhat memandangi wajah cantik istrinya.


Sementara itu, terdengar suara helikopter mendarat sempurna di samping mansion mewah Alfhat dan memang terdapat helipad di sana.


Alfhat segera membawa Etha keluar rumah untuk menyambut kedatangan tamu pentingnya. Dari kejauhan mereka sudah mampu melihat pasangan paruh baya berjalan saling bergandengan tangan ditemani oleh Richard.


Mendadak kedua mata Etha berkaca-kaca melihat kedatangan kedua orang yang sangat-sangat disayanginya, yakni kedua orang tuanya.


"Mama, Papa." ucap Etha dengan mata berkaca-kaca hingga dia pun langsung terisak. Kemudian Etha berlari kecil menghampiri mereka.


"Mama." Etha langsung berhambur memeluk ibunya dan ibunya dengan penuh kasih sayang membalas pelukannya. Mereka pun saling melepas rindu.


Alfhat hanya mampu tersenyum melihat Etha sedang melepas rindu bersama kedua orang tuanya. Sungguh dirinya pun merindukan sosok almarhum kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Selagi aku bisa membahagiakanmu sayang, dengan semampuku aku akan terus membuatmu bahagia." ucap Alfhat tersenyum dengan mata berkaca-kaca yang juga ikut terharu menyaksikan mereka sedang melepas rindu.


Bersambung...


__ADS_2