Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 26


__ADS_3

"Pikirkan baik-baik usulanku tuan, jangan sampai anda kehilangan nona Etha. Karena seseorang sudah mengincar istri anda sejak lama." ucap Richard menyeringai mencoba memanas-manasi bos nya.


"Keluar!!!"


Richard langsung lari terbirit-birit mendengar teriakkan bosnya, dia lekas keluar dari kamar bos nya.


Alfhat memijit keningnya dan merasa pusing dengan yang dialaminya sekarang. Sepertinya dia harus kembali mencari wanita bayaran untuk memuaskan hasratnya.


Alfhat bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah nakas untuk mengambil rokok yang dia simpan di laci nakas. Dengan malas dia mengambil satu bungkus rokok lalu membawanya ke sofa.


Dipandanginya rokok tersebut yang sudah dua hari ini dia nikmati. Sudah belasan tahun dia tidak menikmati yang namanya rokok. Diusianya yang masih remaja, dia sudah mengenal rokok bahkan menjadi perokok aktif mengalahkan orang dewasa.


Namun perlahan kebiasaannya itu mulai ditinggalkan dan digantikan dengan pekerjaan yang lebih menguntungkan. Karena ia tahu bahwa merokok bisa menyebabkan kanker paru-paru dan penyakit mematikan lainnya serta tidak bagus untuk kesehatannya. Oleh karena itu, dia meninggalkan kebiasaannya merokok.


Alfhat meremas bungkusan rokoknya hingga beberapa batang rokok di dalamnya ikut terkoyak dan hancur. Setelah itu dia melemparkannya dengan kesal ke tempat sampah.


Dia memutuskan untuk membersihkan diri, karena masih ada satu pertemuan yang harus dia hadiri, yakni bertemu dengan perdana menteri untuk membahas proyek bisnisnya yang mengalami relokasi lahan.


Hanya lima belas menit, Alfhat kembali rapi dengan setelan jasnya. Parasnya selalu saja terlihat tampan dan berkharisma. Dia segera menghubungi Richard untuk memintanya menyiapkan mobil.


Pasalnya dia sendiri yang akan berkendara ke restoran yang sudah ditentukan oleh pak perdana menteri. Dia tahu betul Richard belum sepenuhnya pergi meninggalkan kediamannya, untuk itu dia langsung saja menghubunginya. Dan benar saja di ujung telepon, Richard segera melaksanakan perintahnya.


"Tuan yakin ingin berkendara sendiri?" tanya Richard.


"Hemm, kamu boleh pulang. Setelah acara jamuan makan malam selesai, aku ingin mampir sebentar ke club malam untuk melihat situasi disana." ucap Alfhat.


"Baik tuan, jika anda butuh sesuatu segera hubungi aku." ucap Richard setengah membungkukkan badannya.


"Ya"


Lalu mereka melangkah bersama-sama keluar rumah dan bergegas masuk ke dalam mobilnya masing-masing. Mobil yang membawa mereka mulai melaju sesuai arah tujuannya.


Diluar dugaan seseorang bertopeng tengah memperhatikan mereka dari dalam mobil. Setelah melihat dua unit mobil keluar gerbang, dengan cepat pengendara mobil itu langsung menancap gas untuk menyusul salah satu pengendara mobil yang sedang diincarnya.


"Aku akan mendapatkanmu kembali. Kamu tidak akan lolos dariku malam ini." ucapnya dengan seringai licik di bibirnya dan terus memacu kendaraannya.


*


*


*

__ADS_1


Sementara Etha baru saja selesai melaksanakan sholat isya. Etha merapikan peralatan sholatnya lalu menyimpannya kembali di tempatnya semula.


Etha melangkah keluar dari kamarnya dan perlahan menuruni anak tangga menuju dapur. Dia akan makan malam terlebih dahulu, setelah itu dia akan kembali memeriksa pekerjaannya dan memilih deretan foto koleksi rancangannya yang harus diikutkan dalam peragaan busana.


Tinggal seorang diri di apartemen mewah membuatnya merasa kesepian. Tak ada orang yang bisa diajak mengobrol. Berbeda halnya ketika dirinya tinggal dikediamannya, walaupun seorang diri, tapi terdapat dua asisten rumah tangga yang tinggal bersamanya dan lebih sering mengajaknya mengobrol bersama, jadi dia tidak merasa kesepian.


Etha menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Bi Susi, pelayan yang bertugas membersihkan apartemen Alfhat dan juga bertugas membuatkan makanan untuknya setiap hari.


"Aku jadi kangen masakan Mama." gumam Etha mengunyah makanannya. Dia merindukan sosok ibu angkatnya beserta masakannya yang begitu nikmat.


Selesai makan malam, Etha memilih kembali ke kamar untuk memeriksa pekerjaannya dan apa-apa saja yang perlu dipersiapkan. Laptopnya sudah menyala dan dia tengah bertukar pesan dengan Kayla, sang asisten pribadinya.


Sudah dipastikan seluruh pesannya mampu dilihat oleh Alfhat. Karena ponselnya sudah disadap oleh Alfhat, jadi segala sesuatu yang ada dalam ponselnya dengan cepat akan diketahui oleh Alfhat.


Seperti pesannya yang satu ini.


[ Miss Etha, para karyawan mulai antusias menjodohkanmu dengan si duda tampan. Mereka pikir si duda tampan sangat cocok denganmu, selain baik, orangnya juga sangat pengertian dan keren ]


Etha geleng-geleng kepala membaca pesan masuk dari Kayla. Pasalnya sudah dua hari ini, tuan Adnan (Ayah Bilqis ) sering berkunjung ke butiknya bersama putrinya. Bahkan sudah dua kali mentraktir makan seluruh karyawannya.


Etha menjadi tidak enak dengan sikap tuan Adnan. Dia hanya tidak ingin dibalik sikap baik pria itu tersimpan sebuah keinginan yang tidak bisa dia wujudkan.


Etha langsung membalas pesan Kayla.


[ Oke miss, tunggu sebentar. Nanti aku kirimkan rancangannya ]


[ Oke ]


Etha menyimpan ponselnya lalu mulai memilih rancangan busananya yang wajib diikutsertakan dalam peragaan busana.


*


*


*


Sementara itu, Alfhat tiba di restoran mewah di hotel berbintang yang bersifat privat. Dua pria berpakaian lengkap langsung menyambut kedatangannya dan segera membawanya ke sebuah ruangan VVIP.


Diam-diam seseorang bertopeng masih saja mengikutinya dengan cara mengendap-endap persis seorang pencuri ingin menyelinap masuk keruangan tersebut. Namun, aksinya digagalkan oleh dua pria berpakaian lengkap.


"Sial" gumamnya memilih pergi mencari tempat aman.

__ADS_1


Alfhat belum juga menyadari seseorang sedang mengikutinya sedari tadi.


Sebuah ruangan mewah bernuansa krem dengan lampu kristal menerangi seluruh ruangan tersebut. Meja oval berukuran raksasa beserta kursi kayu berwarna hitam berjejer rapi dengan jumlah 20 kursi. Makanan dan minuman sudah tersedia di atas meja dan beberapa orang dari kalangan pebisnis sudah menempati kursinya masing-masing.


Alfhat masuk ke dalam ruangan tersebut, semua orang bersorak riuh menyambut kedatangannya. Alfhat hanya mampu menatap malas mereka semua.


"Selamat datang tuan Alfhat, silahkan duduk." ucap pria paruh baya penuh wibawa mempersilahkannya duduk. Diyakini pria paruh baya itu adalah pak perdana menteri.


Alfhat mengangguk, kemudian bergegas duduk di kursi kosong. Terlihat wanita cantik bergaun seksi dengan belahan dada terekspos jelas, duduk di kursi bersebelahan dengannya. Dengan elegan wanita cantik itu mulai menuangkan anggur merah di gelasnya.


"Ini sebuah penghormatan atas kedatangan anda." ucapnya dengan senyuman merekah menghiasi bibirnya. Wanita itu sengaja memamerkan senyuman terbaiknya untuk menarik perhatian seorang Alfhat.


Alfhat hanya mampu mengerutkan keningnya melihat tingkah laku wanita cantik itu yang dengan terang-terangan mencoba menggodanya.


Tanpa basa-basi Alfhat langsung meneguk minuman anggur merah dengan kadar alkohol tinggi dengan sekali tegukan. Alfhat langsung mengerjapkan matanya dengan cepat merasakan minuman itu terasa memborbardir di tenggerokannya.


"Tuan Alfhat, kenalkan ini putri sulung saya, Jessica Aurora Tanima." ucap Pak perdana menteri memperkenalkan putri sulungnya.


Alfhat langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan wanita cantik itu.


"Jessi"


"Alfhat"


"Jessi berprofesi sebagai artis pendatang baru dengan berbagai penghargaan sudah dia pegang. Jika anda tertarik dengan putri saya, dengan berkenan saya bisa mengatur jadwal kencan anda." ucap Pak Perdana Menteri dengan entengnya mempromosikan putrinya bahkan siap mengatur jadwal kencan mereka.


"Tak perlu sungkan, tuan. Sekretarisku bisa mengaturnya. Tapi, kedatanganku saat ini untuk membahas tentang proyek apartemen yang sedang direlokasi lahan." ucap Alfhat dengan tatapan dingin. Tak ada urusannya dengan masalah kencan, tapi urusannya adalah tentang bisnisnya.


"Ha ha ha, itu bisa diatur. Semuanya bisa beres dengan cepat, yang terpenting segera atur jadwal kencan kalian." ucap Pak Perdana Menteri diiringi gelak tawa.


Sudah kuduga, pasti akan berakhir seperti ini. Batin Alfhat.


"Baik, secepatnya aku akan memberi konfirmasi kepada manager nona Jessi perihal kencan kami " ucap Alfhat dengan entengnya. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan emasnya. Apalagi syaratnya cukup mudah baginya hanya melakukan kencan bersama dengan putri pak perdana menteri.


Obrolan mereka terus berlanjut sambil menikmati jamuan makan malamnya. Terdengar suara tawa menggema di tempat tersebut. Deretan botol minuman anggur mahal sudah kosong di teguk oleh mereka.


Alfhat memutuskan pamit undur diri dari hadapan mereka. Dia sudah mabuk dengan kepala terasa pusing, bahkan langkahnya sempoyongan keluar dari restoran.


Alfhat masuk ke dalam mobil dan langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut. Dia tidak bisa berkendara jauh, hingga dia memutuskan pulang ke apartemennya yang kini ditempati oleh Etha.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya teman-teman 🙏


__ADS_2