
"Tenang saja, banyak saksi mata yang mendengar ucapanku. Mengenai ucapanku semalam, berkas pernikahan kita akan selesai hari ini juga. Jadi, jangan menghindariku nanti malam." ucap Alfhat tersenyum simpul membuat Etha muak melihatnya.
Ya Allah, semoga saja berkasnya tidak jadi-jadi. Aku sungguh belum siap. Batinnya menjerit.
"Oh ya. Tapi, kurasa kamu tidak bisa melakukannya, karena banyak syarat yang harus kamu penuhi lebih dulu. Lebih-lebih kontrak pernikahan kita sudah tercantum bahwa tidak ada kontak fisik diantara kita. Jadi tidak usah berbangga hati." ketus Etha menanggapi ucapannya.
"Aku bisa mengubah keseluruhan kontrak pernikahan kita." ucap Alfhat dengan santainya.
"Tidak semudah itu tuan Alfhat, kontrak pernikahan yang kamu buat berbeda dengan kontrak pernikahan yang aku buat beserta persyaratan-persyaratan yang aku ajukan kepadamu. Kita lihat saja, apa kamu siap menyanggupi segala syarat yang ku ajukan kepadamu?" ucap Etha tersenyum sinis.
"Aku siap menyanggupi segala syaratmu itu. Bagiku syaratmu itu tidak ada apa-apanya. Kalau perlu tempel di dinding biar semua orang bisa melihat seperti apa syarat yang dibuat oleh wanita pelunas hutang kepada suaminya." ejek Alfhat tersenyum sinis.
"Baik, aku akan menempelnya di setiap sudut rumah, persis baliho dipinggir jalan, biar kamu puas. Ya...kurasa itu sangat memudahkanmu untuk menghafal segala syarat yang aku buat kepadamu." ucap Etha tersenyum tipis.
Alfhat menyeringai tipis sambil mengepalkan tangannya mendengar setiap ucapan Etha.
"Richard."
"Iya tuan"
"Perintahkan beberapa bodyguard untuk membantu wanita tua itu menempel....." Alfhat tidak melanjutkan ucapannya karena Etha langsung memotongnya cepat.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri, titik!!" protes Etha dengan suara meninggi, lalu melenggang pergi ke taman belakang.
Alfhat hanya mampu tercengang melihat tingkah laku wanita tua itu. Begitu halnya dengan Richard yang tidak percaya, baru kali ini dia melihat seorang wanita dengan santainya memotong ucapan bosnya.
"Biar nona Etha yang melakukannya sendiri tuan, lagian dia begitu pandai dalam segala hal." ucap Richard dengan hati-hati.
Alfhat berdengus kesal sambil meninju udara dengan kesalnya.
"Segera siapkan mobil, kita harus berangkat ke kantor." perintah Alfhat lalu melangkah memasuki rumahnya.
"Baik tuan." ucap Richard dan bergerak cepat menjalankan perintah bosnya.
*
*
*
Etha terlihat lelah setibanya di dalam kamarnya. Dia habis membantu tukang kebun membereskan segala kekacauan yang dilakukan oleh Rangga (kuda kesayangannya).
__ADS_1
"Hufff, capek banget." gumamnya sambil meregangkan otot-ototnya.
Etha memutuskan untuk membersihkan diri. Setelah itu dia akan melaksanakan kewajiban lima waktunya. Etha terlihat segar dan bugar selesai melaksanakan sholat dhuhur.
Dia menyeret kakinya mendekati ranjang, namun langkahnya terhenti mendengar ponselnya berbunyi. Tanpa basa-basi Etha langsung mengangkat panggilan masuk dari Kayla.
"Halo assalamualaikum, Miss"
"Waalaikumsalam. Ada apa Kayla?" tanya Etha di ujung telepon.
"Aku hanya mau sampaikan kepada Miss, meeting hari ini berjalan lancar. Kita hanya perlu melakukan persiapan lainnya termasuk menyiapkan para model yang akan mengenakan koleksi rancangan busana kita." ucap Kayla antusias di ujung telepon.
"Alhamdulillah, aku sangat senang mendengarnya. Perihal para modelnya kita hanya perlu menghubungi pihak management Cleopatra." ucap Etha tersenyum.
"Tapi Miss, menurut informasi yang aku dapatkan, para desainer sudah berlomba-lomba memilih model dari management Cleopatra." ucap Kayla.
Etha tampak berpikir sejenak mencari sebuah ide.
"Kalau begitu, bagaimana jika anak panti asuhan dari yayasan panti asuhan milik ibuku yang kita jadikan modelnya. Kita hanya perlu menyiapkan pelatihnya mengenai koreografi dan hal lainnya. Lagian mereka bisa latihan selama tiga hari ke depan." usul Etha.
"Miss, bukankah itu sangat sulit dan mustahil. Miss, tahukah anda bagaimana tinggi setiap model dan sikap profesional para model dalam menjalankan aksinya di atas catwalk. Aku hanya takut semuanya tidak berjalan sesuai harapan kita." ucap Kayla pesimis.
"Jangan khawatir, insyaallah semuanya pasti berjalan lancar. Besok pagi-pagi kita harus mendatangi panti asuhan untuk mencari anak panti yang bisa dijadikan model dalam peragaan busana. Kita harus melibatkan Miss Debora dalam memilih anak panti sesuai dengan tinggi badannya dan segala kemampuan yang dimilikinya. Setelah itu, Miss Debora yang akan melatih mereka cara berjalan di atas catwalk dan koreografi yang perlu mereka pelajari. Itung-itung bisa menambah wawasan bagi anak panti dan mereka bisa mendapatkan uang saku. Para anak panti yang berbakat nantinya kita bisa jadikan brand ambassador dari produk kita." ucap Etha panjang lebar.
"Yang semangat, jangan berkecil hati seperti itu."
"Baik Miss, semangat semangat." ucap Kayla dan panggilan telepon mereka berakhir.
Etha memutuskan ke ruang makan untuk makan siang. Setelah itu dia akan beristirahat, karena sore hari dia akan melakukan tantangan yang dibuat oleh Alfhat, yakni pacuan kuda.
*
*
*
Sore harinya...
Waktu yang begitu ditunggu-tunggu oleh para pekerja di kediaman Alfhat. Karena mereka akan menyaksikan secara langsung pacuan kuda yang akan diikuti oleh istri majikannya dengan seorang pelatih kuda balap profesional yang ditunjuk langsung oleh majikannya.
Terlihat Alfhat dan Richard sedang berada di atas rooftop rumah. Mereka akan menyaksikan dari atas. Namun Alfhat ingin melihat pertandingan itu dari dekat, sehingga mereka memutuskan turun ke bawah.
__ADS_1
Sementara Dio, seorang pelatih kuda balap profesional tampak menunggangi kudanya memasuki halaman rumah. Penampilannya persis seorang koboi.
Tak berselang lama kemudian, Etha juga muncul berpakaian koboi sambil menunggangi kudanya menuju tempat start.
Alfhat dan Richard berjalan beriringan menuju halaman rumah yang dijadikan tempat pacuan kuda. Alfhat mampu melihat dengan jelas wanita tua itu menunggangi kudanya.
"Jika dia kalah, kalian semua harus menertawakannya lalu membuangnya ke kolam ikan." ucap Alfhat dengan suara meninggi mengingatkan para pekerjanya.
Richard hanya mampu geleng-geleng kepala mendengar ucapan bosnya. Sebegitu benci kah bosnya kepada istrinya sendiri, sampai-sampai harus menyuruhnya mengikuti pacuan kuda yang notabenenya dilakukan oleh seorang pria.
Sementara Etha yang mendengar ucapannya hanya mampu tersenyum sinis. Dia akan membuktikan kepada pria itu bahwa dia bisa dan bukan sosok wanita yang bisa direndahkan.
"Tong kosong nyaring bunyinya. Harusnya kamu yang menjadi lawan ku, bukan anak buahmu!" ejek Etha sambil mengangkat sebelah tangannya lalu menurunkan jempolnya tanda meremehkan pria itu.
Seketika Alfhat terpancing emosi, dia mengepalkan tangannya lalu mendekat ke arah Dio. Sementara yang lainnya hanya mampu diam membisu melihat apa yang tengah dilihat dan didengarnya.
"Baiklah, aku sendiri yang akan melawanmu!. Dan aku akan menambah hukumanmu. Jika kamu kalah, maka aku sendiri yang akan melucuti pakaianmu di depan semua orang." kesal Alfhat dengan sorot mata tajam.
"Jika kamu kalah, maka kamu sendiri yang akan melucuti pakaianmu di depan anak buahmu." timpal Etha terkekeh kecil lalu menutup mulutnya. Tingkahnya itu terlihat sangat menyebalkan di mata Alfhat.
"Aku pastikan kamu akan kalah dariku!." tegas Alfhat dan langsung menaiki kudanya. Kuda berwarna hitam yang memiliki banyak gelar juara.
"Iya, kita buktikan ucapanmu." ucap Etha santai.
Richard tersenyum tipis melihat interaksi mereka berdua. Sungguh mereka pasangan yang serasi dan hobinya berantem melulu. Mereka seolah berada dalam dunianya masing-masing, tanpa menyadari orang disekitarnya.
Terdengar suara aba-aba sebelum mereka memulai pacuan kuda. Hingga bendera berwarna merah berhasil dikibaskan, seketika itu pula dua ekor kuda beda warna mulai berlarian melatih kemampuannya.
Kuda yang ditunggagi oleh Etha melaju lebih cepat dibandingkan kuda yang ditunggagi oleh Alfhat. Tanpa diduga Alfhat memukul keras leher kuda yang ditungganginya agar membuat kuda itu berlarian cepat, namun sayangnya aksinya itu membawanya dalam malapetaka. Kuda itu mengamuk dan berlarian tak tentu arah membawanya pergi.
Sementara Etha sendiri dengan cepat mencapai garis finis. Semua orang langsung bertepuk tangan melihat kemampuannya. Namun, setelahnya semua orang berteriak histeris melihat tubuh majikannya sudah terguling-guling di tanah. Richard dan Dio berlari cepat menghampiri bosnya.
"Pergi, aku baik-baik saja." bentak Alfhat karena dikerumuni oleh anak buahnya. Perlahan dia bangkit berdiri sambil memegangi sikutnya.
Sontak Richard, Dio dan lainnya menjauhinya. Sedangkan Etha malah mendekat ke arahnya. Dengan jailnya Rangga nyengir kuda di depan Alfhat, membuat Alfhat naik pitam melihat tingkah menjengkelkan kuda itu.
"Akulah pemenangnya, buktikan segala ucapanmu tuan Alfhat." ucap Etha tersenyum sinis.
"Hutangmu hari ini lunas." ucap Alfhat dengan mata memerah dipenuhi kilatan amarah. Sungguh dirinya sedang dipermalukan oleh wanita tua itu. Dia bersumpah akan membalasnya.
"Hanya itu?"
__ADS_1
Dengan kesal Alfhat membuka satu persatu kancing kemejanya. Sontak Etha tertawa kecil lalu bergegas pergi.
Bersambung.....