Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 30


__ADS_3

"Cepat carikan aku wanita bayaran." ucapnya tak ingin dibantah dan melangkah cepat ke kamar mandi untuk mendinginkan seluruh tubuhnya yang terasa terbakar.


"Untuk apa lagi wanita bayaran, tuan. Jelas-jelas anda sudah memiliki istri. Tinggal bilang saja pada nona Etha jika anda menginginkannya, bereskan." gumam Richard tak habis pikir dengan jalan pikiran bosnya.


Richard tak mengindahkan perintah bosnya. Dia hanya bergerak memeriksa cctv untuk menangkap pelakunya di ruangan rahasia bosnya.


Sementara itu, Alfhat yang berada di dalam kamar mandi langsung menyalakan shower, hingga pancuran air dari shower langsung mengguyur tubuhnya dari kepala sampai kaki.


Walaupun air sudah mengguyur sekujur tubuhnya, tapi tetap saja dia merasakan hawa panas berselimut kabut gairah terus saja merasukinya.


"Arrgghhh, sial. Ulah siapa ini!" kesalnya meninju dinding kamar mandi.


Alfhat menggerutu kesal, dia sangat yakin seseorang dengan sengaja mencampuri minumannya dengan obat lacnat. Dia bersumpah akan membuat orang yang melakukannya menyesal seumur hidupnya.


Tidak puas hanya mengguyur tubuhnya dengan air dingin, dia memilih untuk berendam di bathtub dan akan berlama-lama berendam dalam jangka waktu cukup lama, sampai Richard datang membawa wanita bayaran untuknya.


Sementara itu, Vivian tengah mondar-mandir di dalam ruang pribadi Alfhat. Dia tahu betul ruang kerja Alfhat memiliki ruang pribadi, karena mereka biasa menghabiskan waktu di ruangan tersebut.


Sehabis membawa kopi ke ruang kerja Alfhat, diam-diam Vivian menyelinap masuk ke ruang pribadi Alfhat, ketika Alfhat sedang fokus pada pekerjaannya. Sehingga dia hanya perlu menunggu Alfhat masuk ke ruang tersebut dan meminta tolong kepadanya untuk dipuaskan.


Vivian menyeringai licik membayangkan hal tersebut. Hanya ini kesempatan emasnya untuk mengandung anak Alfhat, karena dia yakin jika Alfhat meminum kopi buatannya, otomatis pria yang dicintainya itu terpengaruh obat lacnat nya.


Kini penampilan Vivian sudah berubah, dia sudah mengganti seragam office girl dengan gaun seksi yang melekat sempurna di tubuh proporsionalnya.


"Semoga saja rencanaku berhasil, lantas Alfhat kemana sih, apa dia sudah pulang atau belum?" gumamnya sedikit cemas.


Terdengar pintu ruangan terbuka lebar dan muncullah sosok yang sangat ditunggu kedatangannya.


"Alfhat." gumamnya tersenyum melihat pria yang dicintainya.


Alfhat melangkah tergesa-gesa masuk ke ruang pribadinya. Dia hanya memakai handuk yang terlilit di pinggangnya. Rambutnya yang masih basah semakin menambah ketampanannya, apalagi cipratan air dari rambutnya yang basah perlahan turun membasahi dada bidangnya.


Vivian langsung menggigit bibir bawahnya, sungguh dia sangat merindukan tubuh Alfhat. Dia akui hanya Alfhat pria sempurna yang membuatnya tergila-gila dan harus dia miliki. Selama ini, dia rela terus dijadikan wanita bayaran demi memuaskan hasrat pria tampan itu.


"Vivian!" Alfhat langsung menatap tajam wanita itu.


"Sayang, aku sangat merindukanmu." ucapnya manja sambil melangkah mendekat ke arah Alfhat.


"Aku sudah peringatkan kamu untuk tidak muncul di hadapanku!" ucap Alfhat dingin dengan sorot mata tajam. Rahangnya sudah mengeras, kedua matanya terpancar kilatan amarah. Dia sudah peringatkan wanita itu untuk tidak kembali di hidupnya. Tapi sekarang, wanita itu kembali muncul di hadapannya.


"Aku mencintaimu Al, aku tidak bisa jauh darimu." ucapnya dengan tatapan memohon.

__ADS_1


"Berapa kali aku katakan jangan pernah bawa-bawa perasaan selama kita berhubungan badan. Kita hanya sebatas partner ranjang, tidak lebih dari itu. Aku tidak membutuhkanmu lagi, karena bagiku wanita hanya seperti pakaian. Setelah aku sudah bosan memakainya, aku akan membuangnya seperti sampah! termasuk dirimu." tegas Alfhat.


"Tapi aku mencintaimu Al, tolong terima cintaku." ucap Vivian memohon-mohon sambil menyentuh tangan Alfhat.


"Aku tidak butuh cinta wanita j*l*ng seperti dirimu." bentak Alfhat sambil menghempaskan tangan Vivian dengan kesal dari tangannya.


Vivian mengepalkan tangannya mendapatkan penolakan dari pria tersebut. Dengan nekat dia memajukan wajahnya ke wajah Alfhat untuk menciumnya. Akan tetapi, Alfhat langsung mendorongnya hingga terjungkal ke belakang.


"Pergi dari hadapanku, sebelum aku menghancurkan hidupmu." ucapnya dengan nada ancaman.


"Beri aku kesempatan satu kali untuk memuaskanmu. Setelah itu, aku akan pergi jauh darimu, Al." ucap Vivian mencoba bernegosiasi. Dia tidak ingin pergi dengan tangan kosong.


Perlahan Vivian membuka gaun seksinya hingga tersisa bikini saja. Alfhat langsung menelan ludahnya dengan kasar, hasratnya semakin menggebu-gebu untuk segera dituntaskan. Namun, sekali mengatakan tidak, dia tidak akan lagi menyentuh wanita itu. Dia tipikal pria konsisten.


"Aku tahu kamu masih menginginkanku, Al." ucap Vivian berpose seksi di depan Alfhat.


Alfhat melangkah satu langkah, tanpa basa-basi dia langsung mencekik leher Vivian.


"Al-Alfhhattt..." Vivian terbatuk-batuk yang sudah kehabisan nafas.


Setelah melihat wanita itu kesakitan, barulah Alfhat melepaskannya. Vivian langsung tersengal-sengal, seolah ajalnya hampir saja menjemputnya.


Namun Vivian sama sekali tidak menggubris ucapannya. Vivian tidak kenal takut demi sebuah rencananya. Dia malah memeluk tubuh Alfhat dari belakang, dengan jemari tangan mulai nakal meraba-raba perut kotak-kotak Alfhat.


Sontak membuat Alfhat mengepalkan tangannya dengan emosi di atas ubun-ubun. Dengan kasar Alfhat langsung melepaskan pelukannya, seolah dirinya begitu jijik dengan wanita itu lagi.


"Dasar wanita j*l*ng!!!" bentaknya dan langsung melayangkan tangannya menampar pipi mulus Vivian.


Plakkk


Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi mulus Vivian, membuat wanita itu langsung tersungkur di lantai. Pipi putihnya seketika memerah dan terlihat jelas bekas tamparan Alfhat di sana. Tidak hanya itu, sudut bibirnya juga tampak berdarah.


Vivian meringis kesakitan menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Dia bahkan mengeluarkan air matanya merasakan pipinya kebas dan teramat sakit akibat tamparan keras dari Alfhat. Ini pertama kalinya Alfhat berbuat kasar kepadanya.


"Keluar!" teriak Alfhat


Kamu jahat sekali Al, aku bersumpah akan membuatmu bertekuk lutut kepadaku. Batin Vivian sambil mengusap kasar air matanya.


Perlahan Vivian bangkit berdiri, dan mendadak dia langsung tertawa terbahak-bahak seolah tak terjadi sesuatu pada dirinya.


"Ha ha ha...aku tidak akan keluar dari ruanganmu. Karena aku tahu, kamu sedang dalam pengaruh obat. Turunkan egomu Al, kemarilah dan tuntaskan hasratmu." ejek Vivian tersenyum sinis.

__ADS_1


"Bagaimana kamu tahu aku dalam pengaruh obat?" tanya Alfhat.


"Karena aku yang sudah memberimu obat mujarab, agar kita bisa kembali bercinta." jawab Vivian dengan entengnya.


"Sialan!!!"


Alfhat langsung menyeret paksa Vivian keluar dari ruang pribadinya.


"Lepaskan aku, Al" ucap Vivian memberontak.


Richard yang baru saja keluar dari ruang rahasia terkejut melihat Vivian diseret paksa oleh bosnya. Dan lebih terkejutnya lagi Richard melihat penampilan Vivian yang hanya berbikini.


"Wanita ini yang sudah memberiku obat lacnat, ambilkan aku pistol, aku ingin menghabisi nyawanya." ucap Alfhat dengan suara lantang.


Seketika nyali Vivian menciut, raut wajahnya berubah pucat pasih mendengar ucapan Alfhat. Dia bergerak cepat bersujud di hadapan Alfhat.


"Tolong ampuni aku, Al. Aku sudah berjasa dalam hidupmu. Apa kamu tidak ingat, kita sering menghabiskan waktu bersama." ucap Vivian memohon-mohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Tidak semudah itu mendapatkan ampunan dariku" ucap Alfhat dingin sambil mencengkram kuat rambut Vivian. Dia tidak peduli dengan tubuhnya dalam pengaruh obat.


Alfhat melepaskan cengkraman tangannya lalu bergerak membuka laci mejanya. Alfhat mengambil belati kecil lalu mendekati Vivian. Dia bahkan ikut berjongkok di depan Vivian.


"Sudah lama aku tidak menggunakan belati ini. Tunjukkan tubuhmu yang ingin kamu korbankan"


Alfhat memainkan belati kecilnya tepat di wajah Vivian. Sorot matanya begitu tajam, membuat siapa saja yang melihatnya bergidik ngeri dengan bulu kuduk berdiri, termasuk Vivian saat ini.


"Al, to-tolong maafkan aku." ucapnya terbata-bata.


"Sudah terlambat, Vivian." Alfhat langsung mencengkeram kedua tangan Vivian menggunakan satu tangan. Membuat Vivian memberontak untuk lepas, namun sayangnya usahanya sia-sia.


Srekkk


"Aaaaaaa"


Alfhat langsung menyayat pipi bagian kanan Vivian, membuat Vivian berteriak histeris kesakitan. Darah segar bercucuran di wajahnya.


Kemudian Alfhat berpindah menyayat tangan dan lengan Vivian. Richard hanya mampu menutup hidungnya mencium bau amis dari darah segar yang mengucur di tubuh Vivian.


"Lempar wanita ini di jalanan. Hancurkan karirnya dan pastikan dia tidak muncul kembali di hadapanku" murka Alfhat.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2