
Alfhat langsung mengambil kertas yang tertempel di dinding lalu membacanya dengan seksama hingga matanya membulat sempurna. Yang tercantum dalam kertas tersebut merupakan persyaratan yang dibuat oleh Etha dan ditujukan kepadanya.
"Etha Putri Mayer!!!" Suara Alfhat menggelegar menyebut nama lengkap Etha, membuat sang empunya yang sedang sarapan sampai tersedak dibuatnya.
Etha langsung mengambil segelas air putih lalu meneguknya hingga tandas.
"Aaaa....Alhamdulillah" ucapnya penuh syukur.
Kemudian Etha kembali menghabiskan sarapannya. Dia tidak peduli dengan teriakan Alfhat di lantai dua.
"Kamu mau berteriak-teriak di atas sana hingga jungkir balik, aku tidak peduli!" ucapnya sambil mengunyah makanannya.
Saat akan menyesap secangkir teh, tiba-tiba seseorang langsung mengambil cangkirnya lalu melemparkannya ke lantai.
Pranggg
Hingga menimbulkan suara benda pecah, sontak Etha langsung mengalihkan pandangannya ke arah orang yang tidak tahu sopan santun itu.
"Astaghfirullah, gunakan pakaianmu terlebih dahulu, lalu sarapan. Jangan sampai para pelayan yang kembali berteriak histeris melihat penampilanmu." ucap Etha sambil meliriknya lalu buang muka.
"Apa ini!" bentak Alfhat sambil melemparkan gulungan kertas ke wajah Etha. Dengan sigap Etha langsung menangkap gulungan kertas tersebut.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu membacanya juga. Memangnya apa yang salah dengan kertas ini?" tanya Etha.
"Isinya yang salah! apa-apaan dengan persyaratanmu itu. Kamu ingin mengerjaiku hah!, supaya aku tidak bisa menyentuhmu!. Bisa-bisanya seorang istri melakukan berbagai persyaratan kepada suaminya sebelum melakukan hubungan badan!. Aku bahkan sudah mensahkan pernikahan kita secara hukum, aku membuktikan ucapanmu tempo hari dan sekarang lihatlah kamu sudah sah menjadi istriku secara hukum!" ucap Alfhat marah dan kembali melemparkan map hijau berisi berkas pernikahan mereka beserta buku nikah.
Etha menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil memijit keningnya yang tidak sakit, lalu dia bangkit dari duduknya.
"Sebelum aku menjelaskan setiap poin dari persyaratan ku ini, maka sebaiknya kamu duduk terlebih dahulu." ucap Etha memintanya duduk.
"Tidak perlu menyuruhku duduk, ayo jelaskan sekarang juga!" ucap Alfhat dengan suara meninggi.
"Baiklah aku akan membacakan persyaratan yang ku buat untukmu beserta penjelasannya." Etha kemudian membuka gulungan kertas ditangannya lalu membacanya dengan seksama.
"Terdapat lima poin persyaratan sebelum melakukan hubungan suami istri, diantaranya:
Pihak pertama harus sehat jasmani dan rohani.
Wajib disunat, jika pihak pertama belum disunat maka harus mengikuti persyaratan pihak kedua dengan sukarela siap disunat.
Pihak pertama mampu mengucapkan dua kalimat syahadat dan bisa mengaji.
Pihak pertama wajib melaksanakan sholat lima waktu.
Tidak ada penghianat dalam rumah tangga, jika pihak pertama terbukti melakukan perselingkuhan, maka pihak kedua akan mendapatkan saham perusahaan Sanders Group sebesar 50% secara cuma-cuma. Dan pihak kedua bisa melakukan gugatan perceraian kepada pihak pertama.
__ADS_1
Keterangan:
Pihak I : Alfhat Ramous Sanders
Pihak II : Etha Putri Mayer
Persyaratan dibuat oleh pihak kedua dalam keadaan sadar tanpa adanya tekanan dari pihak manapun." Etha membacanya dengan suara lantang.
"Aku tidak setuju dengan persyaratanmu itu." Bantah Alfhat sambil mengepalkan tangannya.
"Kalau seperti itu, tidak ada kontak fisik diantara kita." tegas Etha dengan tatapan dingin, membuat Alfhat langsung menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.
"Kamu mengancamku lewat syaratmu itu." ucap Alfhat dengan suara beratnya, kedua matanya memancarkan kilatan amarah.
"Aku sama sekali tidak mengancammu. Kamu sendiri yang seolah takut dengan syarat yang ku ajukan kepadamu. Poin mana yang membuatmu keberatan, tuan Alfhat?" tanya Etha dengan kening berkerut.
"Semuanya, aku tidak menyetujui semua poinnya!" jelas Alfhat sambil mencengkram kuat pinggang Etha membuat tubuh Etha semakin menempel di tubuhnya.
"Di poin pertama, apakah sangat menyulitkanmu, apa kamu tidak sehat jasmani dan rohani?" tanya Etha.
"Aku sangat sehat dan bukan orang penyakitan!." jawab Alfhat dengan emosi.
"Berarti poin pertama kamu sudah lulus. Bagaimana dengan poin kedua, yang ku tanyakan disini, apakah kamu beragam islam?" tanya Etha.
"Kamu hanya Islam dalam identitasmu saja, iyakan" tebak Etha, sontak membuat Alfhat menjadi bungkam.
"Kalau seperti itu, apa kamu sudah disunat?" Lagi-lagi Etha melontarkan pertanyaan persis wartawan yang sedang mencari informasi aktual.
Refleks Alfhat mendorong tubuh Etha lalu menjauhinya.
"Untuk apa kamu menanyakan hal seperti itu, jika aku belum disunat kamu mau apa hah!" balas Alfhat dengan suara meninggi sambil menunjuk ke arahnya.
Etha memejamkan matanya terlebih dahulu lalu menatap tajam ke arahnya.
"Kamu pria kotor yang bergelimang dosa. Kamu meniduri banyak wanita, milikmu itu harus dibersihkan, maka dari itu aku memintamu untuk disunat jika memang kamu benar-benar belum disunat. Semua poin persyaratan yang ku buat untukmu semata-mata demi kebaikanmu sendiri. Aku hanya ingin kamu menjadi fitrah dan kembali suci seperti bayi yang baru terlahir di dunia, hanya itu." ucap Etha dengan mata berkaca-kaca.
Seketika Alfhat tertegun mendengar ucapannya. Dia diam membisu dan tidak bisa berkata-kata.
"Jika kamu tidak setuju dengan persyaratanku, maka lupakan saja." ucap Etha lalu meremas kertas di tangannya dan membuangnya ke tempat sampah.
Etha memilih kembali ke kamarnya, dia berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sementara Alfhat hanya mampu menatap punggung istrinya hingga tidak terlihat lagi di pandangannya.
Alfhat mengusap wajahnya dengan kasar yang sedang diselimuti perasaan bimbang. Tampak Richard melangkah mendekat ke arahnya sambil membawa berkas penting yang diminta oleh bosnya.
"Tuan, apa kamu baik-baik saja?" tanya Richard dengan kening berkerut melihat penampilan bosnya.
__ADS_1
"Hemm" balasnya tak bersemangat.
"Sepertinya tuan memiliki masalah, kalau boleh tau apa ini ada kaitannya dengan persyaratan nona Etha?" ucap Richard dengan tebakannya.
"Berhenti membahasnya, kepalaku semakin pusing saja gara-gara wanita tua itu." kesal Alfhat sambil menggebrak meja makan lalu melangkah menuju kamarnya.
"Lalu bagaimana dengan pesanan buket bunga sebanyak satu truk yang anda minta? bukankah buket bunga sebanyak itu anda hadiahkan untuk nona Etha." ucap Richard mengingatkannya. Alfhat menghentikan langkahnya dan berpikir sejenak.
"Batalkan saja, jangan lupa berikan kompensasi pada pemilik tokonya." ucap Alfhat tidak ingin ambil pusing
"Tapi tuan, ekspedisinya sudah dalam perjalanan menuju kediaman anda." ucapnya sambil mengekor di belakang bosnya.
"Ya sudah, bagikan saja kepada para pelayan." Alfhat mulai kesal meladeni orang kepercayaannya.
"Bukankah buket bunga sebanyak itu anda hadiahkan untuk nona Etha." Richard mengatakan sesuai keinginan bosnya semalam.
"Pergi Richard!, kamu hanya membuatku pusing." bentak Alfhat menyuruhnya pergi.
"Tuan...."
Alfhat mengangkat tangannya lalu mengibaskannya untuk menyuruhnya pergi. Perlahan Richard melangkah mundur lalu melenggang pergi. Berkas penting yang dibawanya dia letakkan di atas meja di dekat tangga.
"Padahal aku belum melaporkan perihal orang-orang yang mengikutinya semalam. Sebaiknya nanti saja, jika suasana hatinya sudah membaik aku akan menjelaskan semuanya bahwa Lucas kembali datang untuk menghancurkannya." gumam Richard, kemudian melenggang pergi.
Tak berselang lama, satu truk kontainer berisi buket bunga terlihat memasuki gerbang utama. Para bodyguard Alfhat yang berjaga-jaga bergerak cepat memeriksa isi dari truk kontainer tersebut beserta supir dan dua karyawan toko. Para bodyguard Alfhat tidak akan meloloskan mereka jika mencurigakan beserta barang-barang bawaannya.
Kedua bodyguard itu saling kode tandanya semuanya aman. Dua sosok pria bertopi yang merupakan karyawan toko terlihat melihat situasi disekelilingnya.
"Aman bro." ucap salah satu pria bertopi itu kepada rekannya. Kemudian mereka berlari kecil menghampiri mobil truk yang membawa buket bunga sudah terparkir di halaman rumah mewah Alfhat.
"Hei kalian, turunkan semua buket bunga ini." perintah supir truk kepada anggotanya.
Kedua pria bertopi itu mengangguk lalu menurunkan buket bunga dengan hati-hati. Takutnya merusak buket bunga tersebut.
Etha yang berada di dalam kamarnya tampak berdiri di depan jendela kamar. Etha melihat ke bawah dan menyaksikan dua orang pria tengah membawa buket bunga.
Etha memutuskan untuk turun ke bawah. Namun langkahnya terhenti saat tangannya dicekal oleh Alfhat, membuat wanita berhijab itu menoleh ke arah Alfhat.
"Aku ingin mengajakmu ke lokasi proyek." ucap Alfhat dengan raut wajah datarnya. Sungguh dirinya tidak bisa mendiamkan Etha terlalu lama.
"Tapi.. "
"Tidak ada penolakan. Cepatlah bersiap-siap, aku hanya memberimu waktu tiga menit." ucap Alfhat tidak ingin dibantah.
"Baiklah." ucap Etha lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Mereka kembali bertingkah akur, padahal beberapa menit yang lalu mereka habis melakukan perdebatan. Tingkah mereka persis anak kecil yang habis marahan lalu kembali akur.
__ADS_1
Bersambung...