Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 37


__ADS_3

"Hanya itu?"


Dengan kesal Alfhat membuka satu persatu kancing kemejanya. Sontak Etha tertawa kecil lalu bergegas pergi.


Sementara Richard menyuruh para pekerja untuk bubar. Kemudian dia bergerak cepat menghampiri bosnya. Lalu mereka berjalan bersama-sama masuk ke dalam rumah. Dimana penampilan Alfhat hanya bertelanjang dada dan cuma bercelana pendek.


"Arrgghhh, beraninya dia mempermalukanku di depan para pekerjaku, ini sebuah penghinaan. Aku tidak akan mengampuninya!." kesal Alfhat sambil menendang meja di ruang tamu.


Kurasa itu salah satu karma yang patut tuan dapatkan. Batin Richard.


"Tenang tuan, sampai kapan anda terus berselisih dengan istri anda sendiri. Sebaiknya anda berdamai saja dengan nona Etha. Aku yakin nona Etha hanya ingin membuktikan ucapan serta menguji kemampuan anda." ucap Richard mencoba menenangkannya.


"Apa katamu hah! kamu memintaku berdamai dengan wanita tua itu. Hei, dengar baik-baik Richard, dia itu musuhku! musuhku!" ucap Alfhat dengan suara meninggi yang sedang diselimuti amarah menggebu-gebu.


"Kenapa tuan masih menganggapnya musuh, sementara tuan dan nona Etha adalah pasangan suami istri. Pernahkah keluarga mereka mengusik ketenangan anda?. Anggota keluarga anda yang bermusuhan dengan anggota keluarga Alexander, mereka semuanya sudah tiada. Jadi untuk apa lagi anda bersusah-susah payah balas dendam kepada keluarga mereka. Keluarga Alexander bukanlah orang sembarangan. Aku hanya tidak ingin anda yang celaka dalam hal ini." ucap Richard dengan serius. Karena dia begitu peduli kepada bosnya.


"Keluarga Alexander yang sudah membuat aku kehilangan keluargaku. Orang yang kucintai juga direbut oleh Adelio, harusnya aku yang bersama Rania, bukan anak dari Darren Alexander. Sampai kapan pun aku mengaggap wanita tua itu sebagai musuhku karena dia bagian dari keluarga Alexander" ucap Alfhat lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ternyata tuan masih mengharapkan istri orang. Bukankah anda sudah merelakan nona Rania bahagia bersama suaminya. Tapi, apa sekarang, anda seolah ingkar janji dan masih mengharapkannya kembali. Ucapan nona Etha memang ada benarnya, anda tipikal pria yang suka ingkar janji" sindir Richard, membuat Alfhat mengepalkan tangannya.


"Tutup mulutmu, Richard. Kenapa kamu membela wanita tua itu!." ucap Alfhat marah.


"Aku sama sekali tidak membela siapapun disini. Aku hanya sekedar mengingatkan tuan bahwa nona Etha wanita baik dan mandiri. Tidak seharusnya anda memusuhinya. Lagian, Nona Etha tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini, nona Etha hanyalah yatim piatu yang dititipkan di panti asuhan. Ayahnya meninggal dunia saat nona Etha berada dalam kandungan. Sementara ibunya mengidap Hepatitis B pasca mengandungnya. Ibunya berjuang keras melahirkannya, setelah lahir, ibunya terpaksa menitipkan bayinya di panti asuhan milik Nyonya Lexa, hingga ibunya hilang kabar dan dinyatakan meninggal dunia di salah satu rumah sakit milik keluarga anda." jelas Richard panjang lebar dan tahu betul identitas istri bosnya. Karena itu sudah menjadi tugasnya, mengumpulkan identitas dan segala informasi tentang istri bosnya.


Alfhat hanya mampu diam membisu mendengar setiap ucapan orang kepercayaannya.


"Kalian ditakdirkan berjodoh, karena sama-sama yatim piatu. Jika dilihat dari segi manapun anda sama sekali tidak pantas menjadi suaminya. Mengapa demikian, karena Nona Etha wanita baik-baik, sedangkan anda pria yang bergelimang dosa. Dan Nona Etha wanita yang berbeda serta istimewa untuk anda, walaupun dia terlihat membenci anda, namun nyatanya dia begitu peduli kepada anda." ucap Richard mencoba memberikan pencerahan kepada bos nya.


"Bagiku dia sama saja seperti wanita bayaran diluaran sana, berhenti memujinya. Sekali dia menjadi musuhku, maka dia akan tetap menjadi musuhku selamanya." ucap Alfhat kekeh pada pendiriannya.


"Kalau begitu, kenapa tuan tidak membunuhnya saja atau perintahkan aku untuk membunuhnya" timpal Richard.

__ADS_1


Sontak membuat Alfhat langsung bungkam mendengar ucapannya.


"Jika tuan membunuh nona Etha, maka selesai urusannya. Tuan bisa berbuat apa saja yang tuan inginkan, karena satu musuh anda telah tiada." lanjutnya terdengar serius.


Alfhat tidak menggubris ucapannya, dia perlahan melangkah ke arah tangga dan memutuskan menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti.


"Kenapa? apakah tuan takut membunuh nona Etha, wanita pelunas hutang yang selalu tuan rendahkan!. Pikirkan baik-baik tuan, sejujurnya anda pria beruntung yang berhasil mengikat nona Etha sebagai istri anda. Padahal, banyak pengusaha dan beberapa pesaing bisnis anda yang berlomba-lomba untuk meminang nona Etha. Namun takdir berkata lain, anda lah pemenangnya yang berhasil menjadikannya sebagai istri. Untuk itu, berhenti mengganggapnya sebagai musuh. Dan perlu anda ingat, penyesalan selalu datangnya diakhir." jelas Richard mengingatkannya dan berbicara sesuai fakta. "Tolong ingat baik-baik ucapanku ini tuan, kalau begitu aku permisi." pamitnya undur diri sambil membungkukkan badannya lalu melenggang pergi.


Sementara Alfhat hanya mampu diam seribu bahasa dan tidak mampu berkata-kata lagi. Seketika ucapan Richard memenuhi pikirannya dan dia memutuskan ke kamarnya.


*


*


*


Malam harinya....


Terdengar suara benda berjatuhan di dalam kamar Alfhat. Etha yang ingin ke dapur untuk mengambil air minum terpaksa menghentikan langkahnya, kemudian dia melangkah mendekat ke arah pintu kamar Alfhat yang sedikit terbuka.


"Astaghfirullah, apa yang kamu lakukan. Apa kamu ingin bunuh diri?" ucap Etha terkejut melihat tangan Alfhat terluka.


Alfhat tidak menimpali ucapannya dan hanya sibuk membersihkan lukanya dengan cairan alkohol.


"Kamu tampak kesulitan, biar aku saja yang mengobatinya." ucap Etha lalu duduk di sampingnya dan mengambil alih kapas ditangan Alfhat. Sedangkan Alfhat tidak melakukan penolakan, apalagi menyuruhnya keluar dari kamarnya.


Dengan hati-hati Etha mulai mengobati luka di tangan Alfhat hingga sampai di sikutnya. Dia yakin luka tersebut akibat kecelakaan saat melakukan pacuan kuda dan akibat kecerobohan pria itu. Karena melihat kamar Alfhat sedikit berantakan.


"Awwww." Alfhat meringis kesakitan merasakan obat merah mengenai permukaan kulitnya. Namun diam-diam kedua matanya mulai fokus memperhatikan gerak-gerik Etha.


"Kamu seperti anak kecil saja. Tidak sesuai dengan tubuhmu." ejek Etha.

__ADS_1


"Ya sudah, tidak usah mengobatiku. Lagian kita adalah musuh. Untuk apa kamu mengobati musuhmu sendiri." ketus Alfhat.


"Aku sama sekali tidak menganggapmu musuh, karena kamu itu adalah suamiku. Dan aku tidak pernah berencana balas dendam kepadamu. Perihal pacuan kuda tadi, itu murni hanya pertandingan biasa, menang atau kalah tidak masalah bagiku. Aku hanya ingin membuktikan ucapanmu bahwa aku bisa menerima tantanganmu." ucap Etha sambil membalut lukanya dengan kain perban. Alfhat tercengang mendengar ucapannya.


"Sudah selesai, kenapa menatapku seperti itu." ucap Etha dengan kening berkerut melihat tingkah laku Alfhat.


Sontak saja Alfhat langsung tersadar dari lamunannya dan buru-buru buang muka, karena aksinya tertangkap basah yang sedang memandangi wajah wanita tua itu.


"Ehemm, malam ini aku akan tidur di kamarmu." ucap Alfhat gugup dan merasa aneh dengan ucapannya sendiri.


"Boleh saja, yang jelas kamu tidur di sofa atau di lantai. Bagaimana?" ucap Etha dengan entengnya lalu bangkit berdiri. Sedangkan Alfhat tidak menimpali ucapannya. Dia terlihat berpikir lalu mengibaskan tangannya menyuruh Etha keluar dari kamarnya. Dengan cepat Etha melangkahkan kakinya keluar dari kamar Alfhat.


"Sial, dasar wanita kasar dan kurang ajar. Bisa-bisanya dia menyuruhku tidur di sofa atau di lantai." gumam Alfhat sambil memijit keningnya. Bisa-bisa dia darah tinggi jika terus berdebat dengan wanita tua itu. Apalagi setiap hari dirinya selalu saja kalah dan kena sial setiap kali berurusan dengan wanita tua itu.


Alfhat memilih melangkah ke balkon kamarnya. Dia butuh udara segar untuk menjernihkan pikirannya. Dipandanginya sikutnya yang berbalut kain perban, hingga tanpa sadar senyuman tipis terukir di sudut bibirnya.


Pandangannya dialihkan ke seberang balkon kamar yang ditempati oleh Etha, saat tak sengaja mendengar suara tawa seseorang. Namun diluar dugaan, pandangan mata mereka bertemu ketika kompak saling mengalihkan pandangannya.


Buru-buru Etha mengalihkan pandangannya ke sembarang arah sambil mendengar suara si penelepon di ponselnya. Lagi-lagi Etha tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan si penelepon.


Sementara pandangan Alfhat terus tertuju kearahnya. Alfhat mulai tertarik memperhatikannya, apalagi melihat secara langsung bagaimana wanita tua itu tertawa lepas.


Etha yang merasa diperhatikan oleh Alfhat, memutuskan masuk ke dalam kamar dan tak lupa mengunci pintu kamar yang terhubung ke balkon kamar.


"Ingat Kayla on time. Assalamualaikum" ucap Etha tersenyum mengakhiri panggilannya dan Kayla langsung membalas salamnya.


Saat Etha akan melangkah ke kamar mandi, dia mendengar suara lompatan dari arah belakang. Refleks Etha mengalihkan pandangannya dan terlonjat kaget.


"Kamu" ucapnya dengan mata melotot.


Bersambung.....

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏


__ADS_2