
"Hari ini akan diadakan sunat massal. Yang belum disunat di minta untuk berbaris di lapangan." ucap Richard.
"Apa? sunat?" Alfhat terlonjat kaget dan langsung memegang erat sarung yang dipakainya. Sementara Etha terkekeh melihat tingkah lucu Alfhat.
"Ayolah tuan jagoan. Jika kamu belum di sunat bergegas lah ke sana. Dan jangan sekali-kali berbohong, ingat dosa." ucap Etha tersenyum sambil menepuk bahunya. "Lagian, ini salah satu syarat yang ku ajukan kepadamu." lanjutnya dengan senyuman merekah menghiasi bibirnya.
Alfhat menghela nafas berat, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Sekarang dirinya sudah terpojokkan, mau lari sudah tidak mungkin. Bisa-bisa istrinya akan menganggapnya sebagai pria penakut dan tidak gentleman.
Sepertinya dia harus menerima takdir, mengikuti sunat massal. Karena pada dasarnya, dirinya memang belum disunat. Apalagi di dalam syarat yang diajukan oleh istrinya di sebutkan dalam poin kedua bahwa wajib disunat dan itu termasuk syarat yang harus dia penuhi.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Alfhat bangkit berdiri lalu melangkah menuju tempat diselenggarakannya kegiatan sunat massal atau khitan massal. Sedangkan Richard yang melihat pergerakan bosnya, bergerak cepat mengekor di belakangnya.
Sementara Etha hanya mampu tersenyum menatap punggung sang suami mulai menjauh dari pandangannya.
"Alhamdulillah, akhirnya suamiku dibukakan pintu hatinya untuk bertobat dan menjalankan seluruh perintah Allah SWT." ucap Etha penuh syukur.
Sejauh ini, Etha benar-benar bersyukur atas hidayah yang dilimpahkan di dalam rumah tangannya. Suaminya mulai berubah dan mau mengerjakan perintah Allah SWT.
Jika melihat kembali kebelakang, bagaimana kelakuan suaminya, mungkin Etha hanya mampu menutup mata dan telinga. Sungguh dia tidak ingin mengingat kembali kilas balik kejadian di masa lalu.
Karena disitulah ujian terberat yang harus dia hadapi dan harus senantiasa menjalaninya dengan penuh kesabaran. Mungkin orang-orang akan mengaggapnya wanita yang tidak beruntung di dunia, memiliki suami yang nauzubillah bergelimang dosa. Dan pastinya wanita-wanita baik diluaran sana tidak ada yang ingin bernasib sama dengan dirinya.
Namun Etha percaya ada hikmah dibalik semua ujian yang harus dia hadapi. Karena setiap orang pasti akan mendapatkan ujian yang berbeda-beda, jika kita berhasil melewati ujian, maka Allah SWT akan mengangkat derajat kita.
Pada dasarnya tidak akan ada yang tahu skenario dari sang pencipta, karena garis takdir setiap orang masing-masing sudah ditetapkan dan dikemas dengan baik sebelum terlahir di dunia. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan serta tidak luput yang namanya khilaf dan dosa.
Segala tunduk perkara yang harus dilakukan di muka bumi ini sudah dipertanggungjawabkan sebelumnya oleh setiap umat manusia hingga akhirnya terlahir di dunia. Genggaman tangan yang dilakukan oleh bayi yang baru saja terlahir di dunia sebagai wujud bahwa sejak lahir kita sudah di berikan tanggung jawab untuk menjalankan seluruh perintah Allah SWT. Ibarat kita sudah di sumpah sebelum lahir dunia. Jadi untuk apalagi bermalas-malasan beribadah, apalagi sampai meninggalkan perintahnya.
****
__ADS_1
"AYAAAAH!!"
Terdengar suara seseorang memanggil ayahnya dari dalam ruangan tempat dilaksanakannya kegiatan sunat massal. Hingga suara orang itu menggema keluar dan mampu membuat heboh seluruh penghuni pondok pesantren.
"Siapa yang berteriak di dalam?" tanya anak laki-laki kisaran umur sepuluh tahun yang sedang menunggu antrian untuk mengikuti sunat massal. Terlihat raut wajah anak laki-laki itu tampak pucat pasih setelah mendengar suara teriakan dari dalam ruangan.
"Sepertinya orang dewasa yang tadi mengantri di depanku" jawab temannya.
"Waduh, bagaimana ini? orang dewasa saja berteriak keras memanggil ayahnya, apalagi anak kecil seperti kita." ucapnya sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Jangan takut, bukankah kita mau menjadi anak laki-laki yang kuat. Kata pak ustadz.... anak laki-laki wajib hukumnya untuk disunat. Setelah itu kita dianggap anak laki-laki yang kuat." timpal temannya. "Hei lihat itu, kurasa itu orangnya yang berteriak di dalam ruangan." lanjutnya berbisik-bisik kepada temannya sambil menunjuk sosok pria tinggi berjalan tertatih-tatih memegang bagian depan sarungnya dan dikawal dua sosok pria bertubuh kekar.
Semua mata langsung tertuju pada sosok pria tinggi yang berjalan tertatih-tatih dan dikawal oleh dua sosok pria bertubuh kekar. Ada beberapa diantara para santri tampak berbisik-bisik, ada pula tersenyum dan ada pula hanya diam tanpa ekspresi melihat pria dewasa itu baru saja disunat.
Sementara pria dewasa itu terlihat cuek melihat tatapan mereka semua. Yang jelas dia sudah disunat.
"Mari tuan." ucap salah satu pengawalnya.
"Richard?" Kedua pengawalnya saling pandang yang terlihat bingung, kemudian mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Richard. Namun sayangnya mereka tidak tahu dimana keberadaan Richard.
Si tuan muda langsung menggeram kesal melihat tingkah kedua pengawalnya yang sama sekali tidak bergerak mencari Richard, membuat kepala bagian atas dan kepala bagian bawanya langsung berdenyut nyeri.
"CARI RICHARD!" bentaknya dengan raut wajah merah padam.
"Ba-baik tuan." ucap kedua pengawal itu dengan kompaknya dan bergerak cepat mencari keberadaan Richard di seluruh penjuru pondok pesantren.
Namun ketika kedua pengawalnya berjalan melewati para santri putra yang sedang berbaris mengantri, tiba-tiba sosok orang yang dicari keberadaannya terlihat keluar dari tempat persembunyiannya dan melangkah cepat melewati kerumunan santri yang tengah mengantri.
"Darimana saja kamu?" tanyanya dengan penuh emosi melihat kedatangan Richard.
__ADS_1
"Maaf tuan." ucap Richard sambil membungkukkan badannya.
Prok prok prok
Terdengar suara seseorang bertepuk tangan dari arah belakang, tepatnya dari barisan ketiga santri putra. Hingga pria tinggi yang dipanggil tuan dan tidak lain adalah Alfhat, langsung membulatkan matanya melihat sosok wanita yang sangat dicintainya tengah melangkah anggun menghampirinya.
"Istighfar, mulai sekarang biasakan redam emosimu." ucap wanita itu lemah lembut dan tidak lain adalah Etha. "Aku bangga kepadamu, tuan jagoan." lanjutnya dengan mata berkaca-kaca yang sedang diselimuti perasaan haru menatap wajah suaminya.
Sementara Alfhat langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Dia tidak tahu menggambarkan perasaannya seperti apa, antara perasaan lega, malu, sedih, bahagia, marah, emosi dan kesal semuanya seolah menjadi satu.
Karena wanita yang tengah berdiri di hadapannya lah, dia rela melakukan apapun. Dia benar-benar tidak menyangka akan seperti ini, bahkan berujung melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan sejak dulu.
Tanpa menggubris ucapan Etha, Alfhat mulai berjalan tertatih-tatih sambil memegang bagian depan sarungnya agar tidak menyentuh aset berharganya. Dia bahkan hanya melewati wanita yang dicintainya. Sontak Etha langsung menarik sebelah tangannya karena melihat Alfhat tampak cuek kepadanya.
"Apa kamu marah kepadaku?" tanya Etha dengan mata berkaca-kaca dan Alfhat tidak menjawab pertanyaannya.
Alfhat langsung melepaskan tangan Etha yang memegangi tangannya. Akan tetapi, Etha kembali bergerak merangkul pinggangnya untuk membantunya berjalan.
"Jangan membantahku! kamu sudah berhasil melakukan syarat...."
"Sebaiknya kamu pulang, tinggalkan aku sendiri." ucap Alfhat dingin tanpa ingin melihat wajah istrinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu? mengapa sikapmu berubah? apa karena aku menyuruhmu agar kamu mau disunat sehingga kamu...." ucap Etha hingga meneteskan air matanya.
"Aku hanya ingin sendiri." ucap Alfhat dingin.
"Tidak, aku masih ingin menemanimu." ucap Etha mendongak menatapnya dengan tatapan memohon.
Alfhat menghembuskan nafasnya dengan kasar dan perlahan dia mulai berjalan pelan-pelan. Dia pun membiarkan Etha memapahnya berjalan menuju kamar yang ditempatinya. Wajarlah dia merajuk kepada istrinya, bagaimana tidak dia harus rela mempertaruhkan masa depannya demi istri tercinta.
__ADS_1
Bersambung.....
Terima kasih atas dukungannya teman-temanš¤§