
"Aku menganggap kamu sedang memperkosaku dan aku akan menuntut mu." ucap Etha dingin dan belum siap menyerahkan diri untuk pria itu. Seketika Alfhat menghentikan aksinya.
"Pandai sekali kamu bercanda. Apa seorang suami akan dituntut jika memperkosa istrinya sendiri?" tanya Alfhat tersenyum sinis.
"Ya tergantung kesalahannya. Kita memang berstatus sebagai suami istri hanya secara agama. Jadi tindakanmu ini akan diproses secara hukum, karena status pernikahan kita belum disahkan secara hukum dan aku bisa menang atas kasus ini. Dan wow....apa aku tidak salah dengar? kamu mengakui ku sebagai istrimu, tuan Alfhat." ucap Etha menyindir.
"Untuk sekarang aku terpaksa mengakuimu sebagai istriku, demi hal yang kuinginkan. Sehingga aku sebagai suamimu bebas melakukan apa saja kepada istriku. Tenang saja, aku akan mensahkan pernikahan kita secara hukum setelah ini. Bagaimana? aku pasti akan menang dan sudah dipastikan kamu akan kalah dariku." tantang Alfhat tersenyum simpul.
"Oke, siapa takut. Tapi aku tidak langsung setuju jika kamu mengesahkan pernikahan kita secara hukum. Karena aku akan mengajukan beberapa syarat kepadamu yang harus ditandatangani hitam di atas putih!. Supaya kamu tidak bisa lagi ingkar janji" ucap Etha dengan nada sindiran. Dia tidak menyangka pria itu akan mensahkan pernikahannya, otomatis dirinya akan sah menjadi istri Alfhat secara hukum dan agama.
"Satu hal lagi, kamu belum bisa melakukannya malam ini. Karena sesuai syaratku, kamu belum bisa menyentuhku sebelum kamu mensahkan pernikahan kita. Aku hanya tidak ingin disangka hamil di luar nikah, karena status pernikahan kita yang hanya nikah di bawah tangan." lanjutnya terdengar ketus.
Alfhat berdengus kesal, lalu menggulingkan tubuhnya ke samping Etha. Membuat Etha langsung bernafas lega lepas dari cengkeraman pria cabul itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja pria itu tertawa terbahak-bahak, entah apa yang sedang ditertawakannya.
"Siapa yang akan menghamilimu? kamu percaya diri sekali. Aku bahkan belum menyentuhmu, kamu sudah membahas tentang kehamilan. Ingat baik-baik, aku tidak membutuhkan seorang anak darimu!." ucap Alfhat menyeringai tipis dengan ejekannya.
Etha menoleh ke arahnya sambil memutar bola matanya jengah melihat tingkah laku Alfhat. Sedangkan Alfhat mengubah posisinya menghadap ke arahnya.
"Akupun tidak sudi dihamili olehmu. Tapi, tak ada yang tau kedepannya seperti apa takdir kita. Andai saja setiap orang bisa memilih jodohnya sendiri? aku orang pertama yang tidak akan pernah memilihmu!" ucap Etha sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Alfhat langsung menepuk-nepuk pelan pipi Etha, seolah menyadarkan wanita tua itu. Harusnya wanita tua itu bangga, karena sudah dijadikan sebagai istri, banyak wanita diluaran sana yang antri, bahkan berlomba-lomba hanya ingin menghabiskan waktu semalam saja untuk bisa bersamanya.
"Hei, aku juga tidak akan pernah memilihmu sebagai istriku. Kamu sama sekali bukan tipeku, banyak wanita muda yang cantik dan seksi berlomba-lomba menjadi istriku." ejek Alfhat diiringi gelak tawa.
Sontak Etha langsung menyingkirkan tangan Alfhat dari pipinya, lalu balas memukul dada bidang Alfhat. Namun dengan sigap Alfhat menangkap kedua tangan Etha yang baru saja memukulnya.
"Syukur-syukur aku bersedia menikahimu. Jadi, terima saja takdirmu wanita pelunas hutang." ucap Alfhat dingin dengan sorot mata tajam.
Alfhat berusaha menahan diri, dia tidak biasa memaksa wanita untuk melayaninya. Apalagi dengan terang-terangan wanita tua itu mengatakan tidak ingin disentuh olehnya sebelum pernikahannya di sahkan secara hukum. Sungguh ribet dan banyak maunya wanita perawan tua itu, pikirnya.
"Dasar pria cabul, penjahat kelamin. Sampai kapan kamu akan terus diperbudak oleh nafsu?" tanya Etha dengan tatapan dingin.
Alfhat tidak menjawab pertanyaannya, dia malah melepaskan tangan Etha kemudian bergegas turun dari ranjang dan berlalu keluar dari kamar Etha. Sedangkan Etha langsung bernafas lega.
"Syukurlah dia sudah pergi." ucap Etha sambil menyentuh jantungnya yang hampir copot dari tempatnya. Hampir saja pria itu menyentuhnya.
Sungguh berdosa dirinya karena menolak melayani suaminya. Tapi, dia sebisa mungkin membentengi dirinya. Karena prinsipnya menikah sekali seumur hidupnya.
__ADS_1
Untuk itu, dia tidak ingin sehabis dipakai lalu dicampakkan begitu saja. Dia harus membuat pria itu menghargai seorang wanita, bahkan rela berkorban untuk bisa mendapatkannya.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
Sebuah mobil Jeep melintas di jalan sepi yang jarang dilewati kendaraan. Jalanan tersebut, satu-satunya jalan penghubung dan biasa dijadikan jalan tikus ketika akan menuju hutan belantara.
Ketika pengemudi mobil itu sedang fokus mengemudikan mobilnya, terdengar suara seseorang meminta tolong. Sontak pengemudi itu langsung merem mendadak, ketika tak sengaja melihat tubuh seorang wanita tergelak tak berdaya di pinggir jalan dan hampir saja menabraknya.
"Ada apa Ares?" tanya suara berat seseorang yang duduk tenang di kursi penumpang.
"Tuan muda, saya hampir saja menabrak tubuh seorang wanita yang tergeletak di jalan dan sepertinya sudah tidak berdaya. Saya akan turun memeriksanya." ucapnya sopan.
"Tunggu, berhati-hatilah jangan sampai itu jebakan." peringatnya.
"Baik tuan muda." ucap pria yang bernama Ares, disertai anggukan kepala.
Ares bergegas turun dari mobil dan melangkah cepat mendekati seorang wanita yang tidak berdaya. Pria itu terkejut melihat penampilan wanita itu berlumuran darah, ditambah banyaknya luka sayatan di kedua lengan dan kakinya.
Sepertinya wanita asing itu baru saja dianiaya, karena luka sayatan nya itu terlihat jelas masih baru bahkan belum mengering dengan darah segar masih mengalir di setiap lukanya.
"Wanita ini masih hidup." ucapnya setelah memeriksa denyut nadinya.
Ares bergerak menghampiri tuan mudanya dan menjelaskan perihal kondisi wanita asing itu.
"Kalau begitu selamatkan nyawanya. Setelah dia sembuh, kita bisa memanfaatkannya." ucapnya dengan suara seraknya.
"Baik tuan muda." ucapnya patuh sambil membungkukkan badannya. Kemudian menghampiri wanita asing itu, lalu memasukkannya ke dalam mobil tepat di samping kemudi.
Setelah itu, Ares kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
*
__ADS_1
*
*
Pagi harinya....
Alfhat tengah bersiap-siap di dalam kamarnya. Semalaman dia tidak bisa tidur karena pengaruh obat lacnat itu. Dia benar-benar tersiksa sepanjang malam.
Kini Alfhat sudah rapi dengan setelan jas kantor yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Alfhat melangkah keluar dari kamarnya. Saat berjalan melewati lorong kamar, langkahnya terhenti dengan keningnya berkerut melihat dua pekerja tengah memperbaiki pintu kamar Etha.
"Apa pintunya rusak?" tanya Alfhat kepada kedua pekerja yang biasa memperbaiki kerusakan-kerusakan di mansionnya.
"Tidak tuan. Nona Etha meminta saya untuk kembali menambahkan gembok di pintu kamarnya. Karena semalam, seorang pencuri menyelinap masuk ke dalam kamarnya." ucap salah satu pekerja itu menjelaskan.
Sialan! jadi wanita tua itu menganggapku seorang pencuri. Batin Alfhat kesal.
Alfhat melangkah tergesa-gesa menuruni anak tangga menuju ruang makan. Dia harus memberikan pelajaran kepada wanita tua itu.
"Mana wanita tua itu?" tanya Alfhat dengan suara meninggi kepada para pelayan. Karena dia sudah tidak menemukan keberadaan Etha di meja makan.
"Maaf tuan, maksud anda nona Etha?" ucap kepala pelayan memperjelas pertanyaannya.
"Ya, dimana dia sekarang!" ucap Alfhat kesal.
"Nona Etha sudah berangkat kerja sedari tadi, tuan. Dia sempat membuat sarapan untuk tuan." ucap kepala pelayan yang bernama Ambar.
Alfhat berdengus kesal menarik kursi, lalu mendudukkan tubuhnya di kursi. Dia pun menikmati sarapannya yang dibuat langsung oleh Etha. Selesai sarapan, Alfhat bersiap untuk berangkat ke kantornya.
Namun diluar dugaan terjadi kehebohan di halaman rumah. Terlihat Richard ikut berlarian bersama para bodyguardnya seperti sedang mengejar sesuatu.
"Ada apa lagi ini." ucap Alfhat yang tengah berdiri di teras depan. Dia pun melangkah terburu-buru melewati halaman rumah, hingga tak sengaja menginjak kotoran hewan.
Alfhat langsung membulatkan matanya melihat sebelah sepatunya di penuhi kotoran kuda. Tidak hanya itu, matanya melotot sempurna memancarkan kilatan amarah melihat banyaknya kotoran kuda mengotori halaman rumahnya. Alfhat berteriak keras memanggil tukang kebun yang bekerja membersihkan halaman rumahnya.
"Ulah siapa ini!" teriak Alfhat. Hingga membuat Richard berlarian menghampirinya.
"Sebaiknya tuan segera hubungi nona Etha, karena kuda balapnya lepas." ucap Richard ngos-ngosan.
__ADS_1
"Apa! jadi ini ulah wanita tua itu!" ucap Alfhat dengan nada penekanan. Raut wajahnya berubah merah padam yang sedang diselimuti amarah.
Bersambung......