Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 38


__ADS_3

Saat Etha akan melangkah ke kamar mandi, dia mendengar suara lompatan dari arah belakang. Refleks Etha mengalihkan pandangannya dan terlonjat kaget.


"Kamu" ucapnya dengan mata melotot.


Sementara orang itu adalah Alfhat. Tampak Alfhat memegangi sikutnya yang sempat membentur dinding.


"Kenapa? kamu marah aku masuk ke dalam kamarmu!" ucap Alfhat balik menatapnya.


"Tidak sama sekali, aku hanya kasian kepadamu. Kamu harus bertingkah seperti pencuri demi menyelinap masuk ke dalam kamarku." ucap Etha menyindirnya.


"Aku hanya iseng masuk ke dalam kamarmu." ucap Alfhat membela diri. "Pantas saja pintu kamarmu tidak bisa dibobol, ternyata pintunya di gembok atas bawah." ucap Alfhat melirik ke arah pintu kamar.


"Alasan. Ya, aku memang sengaja menggemboknya atas bawah biar pencuri tidak lagi menyelinap masuk ke dalam kamarku. Tapi, pencurinya terlalu cerdik." ucap Etha tersenyum sinis.


"Berhenti mengataiku pencuri!. Ini kediamanku, aku bebas masuk ke dalam kamar siapapun." bantah Alfhat tidak terima ucapan wanita tua itu.


"Lalu kamu mau disebut apa? barusan kamu masuk lewat jendela kamar. Tindakan seperti itu cuman dilakukan oleh seorang pencuri." ketus Etha.


"Arrgghhh!!!...aku terpaksa masuk lewat jendela. Karena istriku yang durhaka ini tidak mengizinkanku masuk kamar." kesal Alfhat sambil menunjuk ke arah Etha.


"Istri yang durhaka? ha ha ha..... kamu menyebutku istri yang durhaka? sedikit menggelikan." ucap Etha diiringi gelak tawa, bahkan sampai memegangi perutnya karena merasa lucu mendengar ucapan Alfhat.


"Kenapa kamu tertawa! ada yang lucu?" bentak Alfhat menatap tajam ke arahnya.


"Tidak... tidak, aku hanya jarang tertawa selama ini." ucap Etha mengusap sudut matanya yang berair akibat tertawa berlebihan. Kemudian Etha melangkah ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur.


Sementara Alfhat memilih duduk di sofa sembari melihat disekelilingnya.


"Sial, aku harus memberi wanita tua itu hukuman, berani-beraninya dia mengolok-olok aku seperti pencuri. Mencekik lehernya hukuman yang pantas untuk dia dapatkan." gumam Alfhat tersenyum jahat.


Tak berselang lama, Etha keluar dari kamar mandi dan melangkah mendekat ke arah ranjang.


"Kamu akan tidur di situ?" tanya Etha kepada Alfhat.


"Hemm." Alfhat hanya meliriknya sekilas.


Etha kemudian mengambil satu bantal dan selimut dari dalam lemari, lalu mendekat ke arah Alfhat.

__ADS_1


"Semoga kedua benda ini bisa membuatmu tidur nyenyak." ucap Etha sambil meletakkan bantal dan selimut di samping Alfhat.


Namun, ketika akan beranjak ke arah ranjang, tiba-tiba Alfhat langsung menarik tangannya hingga membuat keseimbangan tubuh Etha oleng dan langsung terjatuh tepat di pangkuan Alfhat.


Pandangan mata mereka bertemu, membuat Etha bergegas bangkit, namun kedua tangan Alfhat merangkul pinggangnya erat. Hingga Etha tidak bisa lepas begitu saja.


"Lepaskan aku, kamu ingin aku terus berada di pangkuanmu?" tanya Etha dengan tatapan waspada.


"Tidak, sebenarnya aku ingin memberimu hukuman." ucap Alfhat menyeringai lalu mengulurkan tangannya untuk menyibakkan hijab Etha dan perlahan jemari tangannya menyentuh leher jenjang Etha, sesekali jemari tangannya mengelus-elus leher Etha yang ingin dia cekik.


Sontak membuat Etha menjadi risih dan langsung menggigit tangannya.


"Aaaaaaa, kasar banget kamu!" teriak Alfhat, setelah Etha menghentikan aksinya.


"Maaf tuan suami, aku hanya membela diri. Selamat malam dan selamat beristirahat" ucap Etha bermasa bodoh kemudian melangkah ke arah ranjang.


Alfhat hanya mampu berdengus kesal sambil menatap bekas gigitan Etha di punggung tangannya. Tangannya kedua-duanya terluka akibat wanita tua itu.


Etha mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Setelah suasana kamarnya tampak remang-remang, Etha kemudian membuka hijabnya lalu meletakkannya di atas nakas di samping ranjang.


Etha menarik selimut menyelimuti tubuhnya hingga sebatas dada. Dia pun mulai memanjatkan doa sebelum memejamkan matanya. Tak berselang lama, dia sudah tidur dan terbuai alam mimpi.


Bahkan Alfhat sesekali meringis kesakitan saat tak sengaja sikutnya yang berbalut kain perban membentur sandaran sofa.


"Arghh sial, ngapain juga aku berada di dalam kamar ini. Jika seperti ini, aku tidak akan sudi menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Pokoknya aku harus mencekik lehernya sampai mampus." gumam Alfhat dengan kesalnya.


Perlahan Alfhat bangkit berdiri, pandangannya langsung tertuju ke arah ranjang, dimana mangsanya sudah terlelap. Seketika seringai licik muncul diwajahnya, dia pun mengendap-endap mendekat ke arah ranjang.


"Aku tidak ingin lagi berbelas kasih kepadamu." gumamnya menatap wajah Etha yang tampak terlelap.


Dengan hati-hati Alfhat merangkak naik ke atas ranjang, hingga dia berhasil berada di samping Etha. Perlahan kedua tangannya mulai diulurkan untuk mencekik leher Etha. Namun diluar dugaan, refleks Etha langsung memeluk tubuhnya erat seperti guling empuk.


Seketika tubuh Alfhat membeku dan seperti patung lilin yang tidak bisa bergerak. Dengan posesifnya Etha memeluk tubuhnya, bahkan kepala Etha sudah berpindah di dada bidangnya yang dijadikan sebagai bantal empuk.


Jantung Alfhat berdetak kencang, seolah dirinya lah yang berada dalam bahaya. Aroma sampo dari rambut Etha tercium jelas di indera penciumannya dan ia menyukainya. Tidak hanya itu, aroma tubuh Etha yang wangi semerbak bunga mawar terasa manis dia hirup.


Alfhat menundukkan pandangannya untuk melihat wajah wanita tua itu, namun dia kesulitan untuk melihat wajahnya karena terhalang oleh rambut panjang Etha.

__ADS_1


Perlahan Alfhat memindahkan rambut panjang Etha yang menghalangi pandangannya. Hingga dia mampu melihat dengan jelas wajah wanita tua itu yang sudah terlelap. Senyuman tipis terukir di sudut bibirnya.


Bagaimana ini? apa aku harus melakukannya sekarang?.


Alfhat, dialah wanita tua yang sudah membuat hidupmu menjadi sial. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mencekik lehernya.


Tidak, wanita tua itu istrimu. Bukankah tindakanmu ini dianggap fatal, menghabisi nyawa orang yang sedang tertidur.


Alfhat mulai bermonolog di pikirannya. Sisi baik dan sisi gelapnya saling berdebat satu sama lain. Manakah yang akan dia jadikan sebagai ide yang terbaik untuknya.


Alfhat masih saja memandangi wajah Etha, berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan wanita tua itu perlahan dia lupakan di pikirannya. Termasuk niat untuk mencekik lehernya, sekejap hilang dipikirannya, karena tergantikan dengan tingkah laku Etha yang tampak menggemaskan di matanya.


Senyuman terukir di sudut bibirnya, Alfhat sungguh merasa gemes sendiri melihat wanita tua itu tertidur pulas.


Ada apa denganku? kenapa aku tidak bisa menyakitinya. Sadar Alfhat, dia itu musuhmu, kamu terkenal pria kejam tanpa ampun, jangan sampai tergoda dengan tingkahnya yang menggemaskan. Batin Alfhat bermonolog hingga tanpa sengaja dia mencium puncak kepala Etha.


Mendadak Alfhat tersenyum tipis menyentuh sudut bibirnya. Dia merasa senang dengan aksinya barusan. Sungguh dia sangat-sangat menyukai wangi tubuh wanita tua itu.


Merasa kurang hanya mencium puncak kepalanya, perlahan Alfhat mendekatkan wajahnya ke wajah Etha. Sepertinya dia akan mengganti hukuman Etha dengan cara menciumnya.


Tanpa basa-basi Alfhat langsung mengecup bibir Etha, membuat Etha menggeliat dengan posisi gemesin, dimana sebelah tangan Etha memeluk mesra perutnya dan sebelah kakinya juga ikut merangkul tubuhnya.


Tiba-tiba saja Alfhat terkekeh kecil, memang dia bertindak seperti pencuri yang sedang mencuri ciuman istrinya. Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, Alfhat mulai memejamkan matanya dan tak berselang lama, diapun akhirnya tertidur.


Suara adzan berkumandang lewat alarm ponsel Etha, membuat sang empunya menggeliat hingga terlonjat kaget dan hampir saja berteriak keras. Namun secepat kilat dia langsung menutup mulutnya sendiri.


"Astaghfirullah, apa yang aku lakukan. Bagaimana bisa aku sampai memeluknya seperti ini. Terus, ngapain coba pria ini seranjang denganku, bukankah semalam dia akan tidur di sofa." gumam Etha dan perlahan menjauh dari tubuh Alfhat.


Dengan cepat Etha bergegas turun dari ranjang dan melangkah masuk ke kamar mandi sambil merutuki kebodohannya. Dia tidak menyangka bisa-bisanya memeluk pria yang begitu dibencinya.


Pagi hari, Alfhat mulai terbangun dari tidurnya yang begitu nyenyak. Diapun mencari-cari teman tidurnya, namun sayangnya sudah tak mendapatinya, hanya guling yang berada di sampingnya.


"Sepertinya dia sudah berangkat kerja." ucap Alfhat sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku akibat ulah Etha semalam.


Lagi-lagi Alfhat tersenyum tipis membayangkan kejadian semalam. Dimana wanita tua itu yang begitu agresif memeluknya. Dan sekarang tingkahnya persis orang yang sedang kasmaran.


"Aku mendapatkan mainan baru." ucapnya tersenyum simpul.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2