
"Kak Etha, kamu mau kemana? biar aku antar." teriak Dilan mencoba menghentikannya.
"Tidak perlu, aku sedang buru-buru" balas Etha sambil melangkah tergesa-gesa keluar dari butiknya, sampai-sampai dia bertubrukan dengan salah satu karyawannya.
Dilan hanya mampu menatap punggung saudaranya hingga tak terlihat lagi dibalik pintu keluar. Seketika dia mulai curiga dengan tingkah laku saudaranya.
"Apa kamu tahu kemana perginya?" tanya Dilan sambil melangkah mendekat ke arah Kayla.
"Aku tidak tahu, yang jelas kami sedang sibuk akhir-akhir ini untuk mempersiapkan peragaan busana." jawab Kayla dengan jujur. Karena memang nyatanya dia tak tahu kemana perginya sang bos.
Dilan terdiam sejenak, kemudian kembali melontarkan pertanyaan kepada asisten pribadi saudaranya.
"Apa kamu tahu dimana kakakku tinggal?" tanya Dilan. Pasalnya kedua pelayan yang bekerja di kediaman saudaranya sudah dia interogasi dan mengatakan segalanya bahwa saudaranya sudah tidak tinggal lagi di huniannya.
Saat mencoba mengulik tentang tempat tinggal saudaranya, kedua pelayan itu sama sekali tidak tahu kemana saudaranya tinggal, alamat, kota dan lainnya tidak diketahui.
"Aku tidak tahu." jawab Kayla cepat.
"Bodoh sekali kamu menjadi asisten kak Etha. Begitu saja kamu tidak tahu." ketus Dilan.
"Biarin aja, daripada kamu, saudara tapi sama sekali tidak tahu tempat tinggalnya." balas Kayla tak kalah ketusnya.
Dilan mengepalkan tangannya dan hanya mampu mencibirnya. Memang kelakuan wanita itu sangat menyebalkan dan sok akrab.
Sepertinya aku harus cari tahu segala hal tentang kak Etha. Aku harus membicarakannya kepada Kendrick, siapa tahu Kendrick bisa membantu. Batin Dilan.
Dilan terlebih dahulu meminum kopi buatan saudaranya. Setelah itu, dia bergegas pergi untuk menemui Kendrick.
***
Sementara itu, Etha sudah berada di dalam mobil yang melaju kencang membelah jalanan. Saat ini arah tujuannya menuju ke stasiun kereta.
"Lebih cepat lagi pak." ucap Etha kepada supir yang mengantarnya.
__ADS_1
"Siap nona." ucap supir itu dengan semangat empat lima dan langsung menambah kecepatan laju mobilnya.
"Ya ampun, kenapa dia terus menghubungiku." ucap Etha mulai panik. Pasalnya Alfhat masih saja menghubunginya. Sementara dirinya tak kunjung mengangkat kembali panggilan masuk dari Alfhat.
Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk di ponselnya. Etha hanya mengabaikannya karena pesan itu dari Alfhat. Dia hanya mampu memanjatkan doa agar Alfhat berubah pikiran.
Perjalanannya memakan waktu sekitar satu jam tiga puluh menit, hingga akhirnya Etha sampai di kediaman Alfhat. Tampak para bodyguard Alfhat berbaris rapi di halaman rumah, seolah mereka menyambut kedatangannya untuk dieksekusi mati bersama hewan kesayangannya.
Etha berjalan santai melewati mereka semua tanpa kenal takut. Jika mereka semua menyerangnya, dia tidak akan tinggal diam. Stok cabai merahnya masih banyak di dalam tasnya untuk dijadikan sebagai pertahanan diri.
Prokk...Prokkk...Prokk
Terdengar seseorang sedang bertepuk tangan dan para bodyguard dengan sigap kompak membungkukkan badannya. Hingga Etha mampu melihat dengan jelas sosok orang yang sedang bertepuk tangan.
"Akhirnya kamu datang juga. Perlu kamu ingat, berapa kerugian yang kamu lakukan hari ini. Pertama, kamu membuang waktu berhargaku yang nilainya tidak mencapai omset penjualanmu selama setahun. Kedua, hewan milikmu membuat kekacauan di kediamanku. Tanaman bonsai koleksiku yang berusia 200 tahun seharga 10 milliar sudah terpangkas habis oleh kuda liar mu dan taman bungaku hancur berantakan. Lebih parahnya, bunga mawar Juliet yang merupakan bunga langka di dunia yang cuma bisa berbunga setelah lima belas tahun sudah hancur, kamu tahu berapa harga bunga mawar langka itu, harganya 30 miliar bahkan lebih mahal daripada hargamu." ucap Alfhat panjang lebar dan Etha hanya diam mendengarkannya.
"Untuk itu hutangmu semakin bertambah, walaupun kamu menjual seluruh tubuhmu dan bekerja hingga hari tua, tetap saja kamu tidak akan pernah bisa melunasi seluruh hutang-hutangmu." lanjutnya merendahkan Etha.
Alfhat tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya, membuat Etha mengepalkan tangannya.
"Dan satu hal lagi, bukankah harta suami harta istri juga. Jadi tidak seharusnya seorang suami menagih hutang kepada istrinya sendiri, sungguh aneh bukan." ucap Etha yang terang-terangan menyindirnya.
"Apa leluconmu sudah selesai?" tanya Alfhat dengan suara berat. Sedangkan Etha hanya mampu memutar bola matanya jengah menatap ke arahnya.
"Disini bukan tempatnya membahas tentang akhirat, karena sekarang kamu berada di dunia yang keras dan penuh tantangan, setiap hari kamu akan menghadapi berbagai macam rintangan. Jadi tidak perlu membawa-bawa akhirat, aku tahu semua orang akan mati dan kembali pada sang penciptanya. Dan.... bedakan hubungan kita dengan pasangan suami istri yang sungguhan, kamu tetap berhutang kepadaku." balas Alfhat menyindirnya sambil melipat lengannya menatap ke arah Etha.
"Aku hanya sekedar mengingatkanmu saja. Bukankah seorang istri harus selalu mengingatkan suaminya." ucap Etha tersenyum sinis.
"Richard"
"Iya tuan." timpal Richard sembari maju satu langkah.
"Bawa wanita tua ini ke taman belakang. Suruh dia menangkap kuda liarnya, jangan sampai kita memotongnya dan menjadikannya menu makan siang." ucap Alfhat menyeringai tipis.
__ADS_1
"Baik tuan." ucap Richard dan bergerak cepat mendekat ke arah istri bosnya dan langsung memintanya untuk mengikutinya.
Sebelum melangkah, Etha sempat menghentakkan sepatunya sambil melirik tajam ke arah Alfhat. Itu tandanya dia sedang menentang keras pria cabul itu. Sedangkan Alfhat hanya mampu tersenyum tipis melihat tingkahnya itu.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Etha berhasil menangkap kuda miliknya. Kuda berbulu putih lebat dengan ekor begitu panjang dan terlihat indah. Tampak kuda putih itu begitu jinak kepadanya, seolah menunjukkan Etha adalah pemilik yang baik untuknya.
"Kuda ini tau betul siapa pemiliknya. Nona sangat hebat bisa menjinakkan kuda liar ini." ucap Richard sambil menaikkan jempolnya sebagai tanda pujian untuk istri bosnya.
Semoga secepatnya nona bisa menjinakkan tuan seperti kuda liar ini. Batin Richard.
"Terima kasih, Rangga tahu betul mana orang baik dan mana orang-orang jahat yang harus dia hindari." ucap Etha tersenyum dan sengaja menyindirnya. Dia pun menamai kuda miliknya dengan sebutan Rangga.
Sontak Richard hanya mampu menyentuh tengkuknya dan tidak berani lagi membuka obrolan. Dia hanya perlu menunjukkan jalan kepada istri bosnya.
Terlihat Alfhat tengah duduk bersantai di kursi malas di bawah payung teduh. Dia sudah tidak memakai jas, hanya kemeja putih yang melekat di tubuh kekarnya. Beberapa bodyguardnya tampak berdiri di belakangnya persis seorang dayang-dayang di istana kerajaan.
Saat melihat kedatangan Etha dan Richard bersama beberapa rombongannya, Alfhat langsung bangun dan berdiri tegak. Lengannya di lipat sambil menatap ke arah Etha yang sedang melangkah menghampirinya.
"Aku sudah menangkapnya, jadi apa lagi?" tantang Etha sambil mengelus-elus leher kudanya.
"Sekarang tugasmu harus membantu tukang kebun membersihkan taman belakang. Dan, sore hari kamu ditantang untuk adu pacuan kuda bersama dengan Dio, pelatih pacuan kuda terbaik di tempatku." ucap Alfhat menyeringai licik.
"Oke tak masalah, aku menerima tantangan mu. Oh iya, kalau boleh tau apa hadiah untuk pemenangnya." ucap Etha.
"Hadiahnya masih rahasia. Tapi, kalau kamu pemenangnya maka hutangmu hari ini dianggap lunas dan kamu akan kembali mendapatkan hadiah misterius. Akan tetapi, jika kamu kalah, maka kudamu itu akan dijadikan santapan lezat untuk seluruh pekerja ku." ucap Alfhat dengan seringai licik diwajahnya.
"Baik, aku tidak akan mundur. Tapi, semoga saja kamu tidak ingkar janji." ucap Etha mencibir.
"Tenang saja, banyak saksi mata yang mendengar ucapanku. Mengenai ucapanku semalam, berkas pernikahan kita akan selesai hari ini juga. Jadi, jangan menghindariku nanti malam." ucap Alfhat tersenyum simpul membuat Etha muak melihatnya.
Ya Allah, semoga saja berkasnya tidak jadi-jadi. Aku sungguh belum siap. Batinnya menjerit.
Bersambung......
__ADS_1