Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 11


__ADS_3

Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Vivian. Vivian hanya mampu memegangi pipinya yang kebas akibat tamparan keras dari Etha.


Ketiga pelayan terkejut, dua diantaranya tersenyum tipis, karena baru kali ini ada seorang wanita yang memberi pelajaran kepada Vivian. Kedua pelayan itu sama sekali tidak menyukai Vivian, karena sifatnya yang arogan dan selalu berbuat semena-mena kepada para pelayan.


"Tutup mulutmu, kamulah wanita yang menjijikkan!" tunjuk Etha dengan tatapan dinginnya.


Alhasil membuat Vivian menjadi bungkam dan diam seribu bahasa. Karena memang kenyataannya dirinya lah wanita yang menjijikkan, rela melakukan apa saja yang jelas bisa menjadi penghangat ranjang seorang Alfhat Ramous Sanders.


"Cepat panggilkan dokter untuk memeriksanya, jika kalian semua mengkhawatirkan kondisinya." ucap Etha dan melenggang pergi.


Sementara Alfhat di bopong ke kamar tamu oleh para bodyguard nya dan Vivian ikut menyusul ke kamar tamu. Dia akan selalu mendampingi Alfhat.


Etha sendiri tersenyum menerima kunci kamar beserta kopernya dari salah satu pelayan. Dia menarik kopernya memasuki kamar mewah yang akan ditempatinya. Kamar yang ditempatinya bersebelahan dengan kamar Vivian yang tak sengaja dia masuki dan bernasib buruk melihat pasangan mesum sedang bermesraan di dalam kamar.


Sepertinya masalah baru akan berdatangan menghampirinya selama tinggal di mansion mewah milik tuan Alfhat. Namun, dia akan berusaha menghadapinya.


Etha membuka kopernya lalu mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi. Dia perlu mandi dengan air hangat, setelah itu dia akan beristirahat.


Etha membersihkan diri dengan cepat, lalu mengeringkan tubuhnya sebelum mengenakan pakaian santainya. Setelah itu dia memilih menyusun pakaiannya di lemari pakaian.


"Astaga, aku lupa menghubungi Mama bahwa aku sudah sampai di rumah pria cabul itu." gumamnya lalu bergerak mencari ponselnya di dalam tas ranselnya.


Setelah menemukan apa yang dicarinya, Etha langsung menghubungi ibunya. Dia tidak ingin kedua orang tuanya mengkhawatirkan dirinya.


Saat asyik bertelepon ria dengan ibunya, terdengar suara gedoran pintu dari luar.


"Mama, sudah dulu ya, nanti aku kembali menelepon Mama. Aku menyayangimu, Mama. Assalamualaikum." ucap Etha mengakhiri pembicaraannya.


"Waalaikumsalam. Mama juga menyayangimu sayang." ucap ibunya.


Dan panggilan telepon mereka berakhir. Etha langsung memasukkan ponselnya di saku bajunya lalu melangkah membuka pintu kamarnya.


Etha mengerutkan keningnya melihat sekretaris Alfhat berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Etha.


" Dokter Samuel sudah datang dan sedang memeriksa tuan di kamarnya." ucap Richard sopan.


"Lalu?"

__ADS_1


"Tuan meminta anda ke kamarnya."


"Untuk apa memanggilku? jangan-jangan dia ingin membalas perbuatanku, iyakan!. Panggil saja kekasihnya untuk menemaninya di kamar. Satu lagi, katakan padanya aku sedang sibuk." ucap Etha lalu memegang handle pintu untuk menutup pintu kamarnya, namun Richard menahannya.


"Anda istri tuan, jadi bekerjasama lah nona, jangan sampai hidup keluarga anda menjadi suram." ucap Richard dengan nada ancaman sampai-sampai membawa-bawa keluarganya.


Etha mengepalkan tangannya mendengar ancaman sekretaris Alfhat. Mau tak mau dia menjadi wanita penurut demi kehidupan keluarganya. Kemudian Richard membawanya ke kamar tuan Alfhat.


Etha masuk ke kamar Alfhat sebelum Richard mempersilahkannya masuk. Tampak Alfhat tengah berbaring di atas ranjang dan di samping ranjang terlihat sosok pria berjas putih berdiri di sana, yang sepertinya baru saja selesai memeriksa kondisi Alfhat.


Sebelum dokter pribadinya datang untuk memeriksanya. Alfhat memilih kembali ke kamarnya, dia lebih nyaman menempati kamarnya dibandingkan menempati kamar tamu.


Dan untuk Vivian sendiri sudah pasti kembali ke kamarnya. Pasalnya tak seorangpun wanita yang boleh masuk ke kamar Alfhat, termasuk Vivian. Alfhat memiliki privasi terjaga dan tidak sembarangan orang yang boleh masuk ke dalam kamarnya.


Namun, beda halnya dengan Etha. Mengapa sosok pria berkuasa nan kejam yang terkenal sebagai taipan kaya raya mengizinkan seorang wanita masuk ke dalam kamarnya. Mungkinkah Etha hal pengecualian karena sudah menjadi istrinya, sehingga wanita berhijab itu boleh-boleh saja masuk ke dalam kamarnya. Itulah yang menjadi pertanyaan dibenak Richard.


Menyadari kedatangan Etha, pria berjas putih itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Etha.


"Selamat malam, nona." sapanya dengan ramah.


"Selamat malam." balas Etha dengan pandangan tertuju ke arah Alfhat.


Etha merasa iba dan sedikit menyesal atas tindakannya itu. Bagaimana pun Alfhat adalah suaminya, tidak seharusnya dia melakukan tindakan kasar kepada pria itu, jika tidak ada api perang yang diciptakan oleh pria itu sendiri.


"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Etha dan merasa yakin pria berjas putih itu adalah seorang dokter.


"Tak ada yang perlu dikhawatirkan, tuan Alfhat baik-baik saja, saya sudah memberikan obat peredam nyeri." ucap dokter itu yang tidak lain adalah dokter Samuel.


"Syukurlah." ucap Etha tersenyum lalu melangkah mendekat ke arah ranjang yang ditempati oleh Alfhat.


Sementara dokter Samuel memilih pamit undur diri dari hadapan mereka, Richard ikut mengantarnya keluar dan membiarkan pasangan suami istri itu berduaan di dalam kamar.


Tak ada obrolan yang diciptakan oleh mereka. Alfhat hanya bersandar di kepala ranjang dan ia merasa kalah dari wanita perawan tua itu. Sedangkan Etha berdiri di samping ranjang sambil melipat lengannya menatap mata Alfhat yang tampak memerah dan juga bengkak akibat ulahnya.


"Aku minta maaf." ucap Etha dengan tulus.


"Aku tidak butuh kata maaf darimu, karena aku akan membalas mu jauh setimpal daripada ini." ketus Alfhat.


"Dasar pendendam. Tak masalah jika kamu tidak memaafkanku, aku akan terima tantanganmu dan sama sekali tidak takut seperti apa balasan yang akan kamu lakukan kepadaku." ucap Etha tenang.

__ADS_1


Alfhat hanya mampu mengepalkan tangannya, lama-kelamaan dia akan menderita hipertensi jika terus menghadapi wanita perawan tua itu.


Terdengar pintu kembali terbuka dan muncullah Richard bersama seorang pelayan wanita membawa nampan berisi makan malam untuk tuan mudanya.


Pelayan itu meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja lalu menghidangkannya.


"Nona, sebaiknya anda membantu tuan mengganti pakaiannya." ucap Richard sembari mendekat ke arah mereka.


"Mana kekasihnya, harusnya pekerjaan itu dilakukan oleh kekasihnya." ketus Etha.


"Tapi, anda lebih pantas yang melakukannya karena anda istrinya." timpal Richard.


"Benarkah? dia bahkan tidak mengakui ku sebagai istrinya. Jadi siapa yang salah, terserah aku jika tidak ingin mengganti pakaiannya" ucap Etha yang menunjukkan sikap keras kepalanya.


"Stop!...jika kamu tidak ingin melakukannya, keluar saja dari kamarku. Mataku semakin sakit melihat wajah tua mu!" ketus Alfhat dengan rahang mengeras dan menunjukkan bahwa ia sedang marah.


"Baik, itu memang yang kuinginkan." ucap Etha tersenyum sinis lalu bergegas keluar dari kamar Alfhat.


Sementara Alfhat meninju bantal di sampingnya dengan kesalnya. Penolakan yang dilakukan Etha terhadapnya benar-benar menjatuhkan harga diri dan kekuasaannya sebagai ketua mafia. Harusnya dirinya yang berbuat semena-mena kepada wanita tua itu, bukan sebaliknya.


Sehingga Richard lah yang membantu bosnya berganti pakaian. Setelah itu, Alfhat mulai menikmati makan malamnya lalu meminum obat yang sudah dianjurkan oleh dokter Samuel.


*


*


*


Keesokan harinya.....


Pagi-pagi buta Etha menyelinap keluar dari mansion mewah Alfhat. Tak seorangpun melihatnya keluar dari kediaman mewah penguasa itu.


Dia akan tetap bekerja di luar tanpa persetujuan dari seorang Alfhat. Namun, sebelum berangkat kerja, dia sempat menulis pesan perihal kepergiannya untuk bekerja.


Membutuhkan waktu dua jam lamanya dia akan tiba di kota tempatnya mengadu nasib. Mengingat tempat tinggal Alfhat berada di kota yang berbeda. Etha memilih menggunakan kereta api supaya cepat sampai. Sesampainya di stasiun kereta api pemberhentian terakhir, sebuah mobil menjemputnya dan melaju menuju butik miliknya.


Bersambung.....


Jangan lupa, like, love, komen, hadiah dan vote ya teman-teman..., terima kasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2