
"Aku Hans, orang yang sudah menghamili Vivian. Anak yang dikandung oleh Vivian adalah darah dagingku." ucap Hans dengan entengnya tanpa ada yang ditutupi.
Semua orang terkejut mendengar pengakuan dari Hans, termasuk Vivian sendiri. Wanita itu langsung membulatkan kedua matanya dengan tangan dikepal kuat dan sedang berusaha menahan amarahnya.
Aku tidak akan mengampunimu Hans. Beraninya kamu mengingkari janjimu. Batin Vivian dengan amarah menggebu-gebu.
Vivian ingin menghajar Hans habis-habisan, karena beraninya pria itu buka suara. Sepertinya ancamannya tidak membuat Hans takut hingga jera.
"Itu tidak lah benar. Aku sama sekali tidak mengenal pria ini." bantah Vivian.
"Sudah! sebaiknya berkata jujur lah Vivian. Aku bahkan mendengar dengan jelas pembicaraanmu bahwa anak yang kamu kandung adalah darah daging dari pria bernama Hans." timpal Etha.
"Apa kamu punya bukti bahwa Hans yang menghamiliku?" tantang Vivian.
"Buktinya kita sudah kerap kali tidur bersama Vivian." ucap Hans.
Sial, kenapa pria ini tidak memihak kepadaku dan malah menjerumuskanku. Apa karena ancaman Alfhat membuatnya berkata jujur. Batin Vivian.
"Tidak, aku bahkan tidak pernah tidur bersama pria lain selain Alfhat. Hanya Alfhat pria satu-satunya yang kucintai. Bayangkan saja, selama setahun lebih aku menjadi partner ranjangnya. Bahkan kami tidak bisa lagi menghitung kebersamaan kami saking puasnya kami berhubungan badan" ucap Vivian dengan santainya.
Etha hanya mampu mengepalkan tangannya, hatinya terasa sakit mendengar ucapan Vivian. Dia sungguh tidak nyaman dengan ucapan Vivian barusan.
"Bohong, kamu bahkan rela untuk aku tiduri demi bisa meracuni istri tuan Alfhat." ucap Hans membela diri. Kemudian Richard membuka amplop coklat berisi bukti-bukti Viona tidur bersama dengan Hans lalu menunjukkan kepada Viona.
Viona langsung memberontak untuk merobek foto-foto dirinya bersama Hans. Nama tenaganya tidak mampu melawan anak buah Alfhat yang masih memeganginya.
"Apa, beraninya kamu menyakiti istriku!." ucap Alfhat marah sambil mengepalkan tangannya mendengar pengakuan dari Hans. "Tidak perlu lagi mengelak, buktinya sudah di depan mata, Vivian!." bentak Alfhat sambil menunjuk-nunjuk wajah Vivian.
"Tidak Al, pria ini berbohong. Aku memang mengandung anakmu, kalau begitu untuk membuktikan kehamilanku, kita bisa melakukan tes DNA ulang." ucap Vivian dengan entengnya.
Etha menggeram kesal mendengar ucapan Vivian.
"Tidak perlu membuktikannya, karena anak dikandungan mu benar-benar anak Hans." ucap Alfhat dengan tegasnya.
"Sumpah, aku hamil anak kamu, Al." Vivian tetap kekeh.
"Aku setuju jika kamu ingin melakukan tes DNA. Suamiku siap melakukan tes DNA terhadap bayimu. Tapi, dengan satu syarat, jika anak yang kamu kandung bukan darah daging suamiku, maka kamu harus pergi sejauh mungkin dari kehidupan kami. Dan... jika pria bernama Hans yang terbukti menghamilimu, maka dia lah yang akan bertanggungjawab kepadamu. Bagaimana?." ucap Etha dengan entengnya.
"Oke, aku setuju." ucap Vivian menyeringai.
Kemudian Etha melenggang pergi. Dia semakin pusing meladeni Vivian, ditambah dengan masalahnya yang semakin rumit. Nyonya Lexa bergegas menyusul putrinya begitu pun tuan David.
Etha masuk ke dalam mobil lalu menutup pintu mobilnya dengan cara membantingnya. Sungguh emosinya naik turun dan perlahan meluap-luap dan tak berselang lama, ia pun menangis tersedu-sedu.
"Ya Allah, kuatkan aku dengan masalah ini. Kenapa aku harus menikah dengan pria seperti huaaaaa...hiks....hiks...hiks" gumam Etha lalu membekap mulutnya agar suara tangisnya tidak kedengaran.
__ADS_1
Nyonya Lexa bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk di samping putrinya. Melihat putrinya sedang menangis tersedu-sedu, ia pun ikut sedih lalu memeluk tubuh putrinya.
"Semuanya akan baik-baik saja, nak." ucap Nyonya Lexa dengan mata berkaca-kaca sambil menepuk pelan punggung putrinya.
Tangis Etha mulai pecah. Tuan David dan Dilan yang duduk di kursi depan hanya menghela nafas berat. Lalu Nyonya Lexa meminta Dilan untuk jalan dan ingin segera pergi dari tempat tersebut.
Mobil yang membawa mereka mulai melaju meninggalkan hotel tersebut. Yang lainnya juga mulai bubar dan bergegas masuk ke dalam mobil. Hingga mobil mereka mulai melaju meninggalkan hotel tersebut.
Alfhat yang melihat kepergian mereka hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Keberadaannya seolah tidak dianggap, semua itu karena kesalahannya di masa lalu.
"Maafkan aku, seharusnya hal ini tidak terjadi." gumam Alfhat menatap kepergian istrinya.
Tak berselang lama kemudian, pihak kepolisian datang untuk menangkap Ares dan Hans karena terlibat dalam bisnis penjualan obat-obatan terlarang dan perdagangan organ tubuh manusia.
Kedua pria itu terkejut dan tak berkutik ketika kedua tangannya di borgol. Kemudian mereka di masukkan ke dalam mobil polisi dan akan di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan perihal kejahatannya.
Sementara Lucas masih menjadi incaran kepolisian sampai detik ini. Karena pria itu selalu berpindah-pindah tempat menjalankan bisnis terlarangnya.
Bukan tanpa sebab Alfhat melibatkan pihak kepolisian untuk menangkap mereka. Pasalnya pihak kepolisian lah yang berwajib menangkap mereka dan nantinya mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai perbuatannya.
Tidak hanya itu, Alfhat sudah berjanji kepada istrinya untuk tidak lagi membunuh dan tidak ingin lagi terjerumus dalam dunia hitamnya. Setelah itu, Alfhat memutuskan untuk kembali ke mansion dan meninggalkan Vivian seorang diri yang masih terbengong-bengong melihat penangkapan Ares dan Hans.
*
*
*
Kediaman tuan David
Sudah tiga hari Etha tinggal bersama kedua orang tuanya. Selama tiga hari tinggal bersama orang tuanya Etha merasakan perasaan hampa tanpa kehadiran sang suami.
Walaupun setiap hari Alfhat datang berkunjung ke kediaman orang tuanya untuk menanyakannya dan hanya sekedar melihatnya saja. Namun, Etha memilih untuk mengurung diri dan tidak ingin bertemu dengan sang suami.
Tidak hanya itu, beberapa hari ini, Etha menutup komunikasi dirinya bersama sang suami. Etha tidak ingin bertemu ataupun berbicara dengan Alfhat. Mengingat kejadian tempo hari membuatnya menjadi jengkel jika mengingatnya kembali.
Etha hanya perlu menunggu waktu sampai tes DNA itu dilaksanakan. Semakin hari dia menjadi takut dan was-was jika sampai anak yang dikandung oleh Vivian adalah anak suaminya. Karena hal itu membuatnya jatuh sakit.
Selama dua hari Etha mengurung diri di dalam kamarnya. Agar kedua orang tuanya tidak menaruh curiga bahwa dirinya sedang sakit. Dia hanya tidak ingin kedua orang tuanya mengkhawatirkannya.
Namun, hal itu menimbulkan kecurigaan bagi Nyonya Lexa. Wanita paruh baya itu mulai khawatir dengan kondisi putrinya yang lebih betah menyendiri di kamar.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Sayang, buka pintunya. Ayo kita sarapan." ucap Nyonya Lexa lemah lembut yang tengah berdiri di depan pintu kamar putrinya.
Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar, Nyonya Lexa mencoba membuka pintu kamarnya dan benar saja pintunya tidak terkunci.
Nyonya Lexa bergegas masuk ke dalam kamar dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan putrinya. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, membuat wanita paruh baya itu melangkah masuk ke kamar mandi.
Hoeeekk... Hoeeekk
Nyonya Lexa terkejut melihat putrinya muntah-muntah, dia langsung menghampirinya. Tangannya diulurkan untuk memijit tengkuk putrinya.
Sementara Etha sudah terkulai lemas dengan raut wajah tampak memucat. Sedari tadi dirinya mual dan juga muntah. Ketika akan berbalik badan, tiba-tiba penglihatannya menjadi kabur dan kedua kakinya lemas tak bisa menopang tubuhnya. Untungnya ibunya dengan sigap menangkap tubuhnya.
"Mama" lirihnya hingga kedua matanya tertutup dan tak sadarkan.
"Astaghfirullah...sayang bangun!" ucap Nyonya Lexa panik. Dia segera membawa putrinya keluar dari kamar mandi.
"Papa! Etha pingsan!" teriak Nyonya Lexa dari dalam kamar.
Kebetulan Tuan David dan Dilan berjalan bersama-sama menuju kamar Etha. Sehingga mereka mampu mendengar suara teriakan nyonya Lexa. Mereka bergegas masuk ke dalam kamar Etha.
"Kenapa dengan Etha?" tanya tuan David kepada istrinya.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit." ucap Nyonya Lexa khawatir.
Mereka segera membawa Etha ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit dokter langsung menanganinya.
Nyonya Lexa, tuan David dan Dilan tampak cemas menunggu di luar ruangan perawatan, dimana Etha sedang ditangani oleh dokter di dalam sana.
Tak berselang lama kemudian pintu ruangan terbuka lebar dan muncullah dokter yang baru saja menangani Etha.
"Dok, bagaimana kondisi putriku?" tanya Nyonya Lexa tampak khawatir dengan kondisi putrinya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hal ini biasa terjadi pada ibu hamil di masa-masa kehamilannya pada trimester pertama." ucap dokter Nisa tersenyum dan merupakan dokter keluarga Alexander.
"Hamil!" ucap Nyonya Lexa terkejut, begitu halnya dengan tuan David dan Dilan.
Dokter Nisa hanya menggangguk menanggapi ucapan Nyonya Lexa. Seketika semua orang langsung tersenyum sembari mengucapkan kata Alhamdulillah.
Lalu Nyonya Lexa langsung berhambur memeluk suaminya.
"Alhamdulillah, putri kita hamil Mas. sebentar lagi kita akan punya cucu." ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Dilan ikut memeluk kedua orang tuanya, ia pun senang mendengar kabar kehamilan saudara perempuannya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗