Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 27


__ADS_3

Alfhat memutuskan pamit undur diri dari hadapan mereka. Dia sudah mabuk dengan kepala terasa pusing, bahkan langkahnya sempoyongan keluar dari restoran.


Alfhat masuk ke dalam mobil dan langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut. Dia tidak bisa berkendara jauh, hingga dia memutuskan pulang ke apartemennya yang kini ditempati oleh Etha.


Sementara itu, orang yang sedari tadi mengintainya tampak mondar-mandir di lobi hotel, rupanya orang itu bergerak lambat sehingga ia mulai kehilangan jejak Alfhat.


"Arrgghhh...sial. Kenapa sulit sekali untuk mendapatkannya kembali. Lagi-lagi rencanaku gagal total." ucapnya berdengus kesal.


"Besok-besok, aku tidak boleh lengah seperti ini, lihatlah sekarang aku kehilangan jejaknya. Setelah aku di tendang dari kediamannya, aku tidak akan membiarkan Alfhat bersama wanita lain, apalagi sampai wanita itu menggantikan posisiku. Aku harus mendapatkannya kembali, titik!!" ucapnya dengan sorot mata tajam lalu membuka topengnya. Tampaklah wajah asli orang itu yang tidak lain adalah Vivian.


Kemudian Vivian melangkah menuju mobilnya dan langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat tersebut. Walaupun rencananya beberapa hari ini selalu gagal, tapi dia tidak patah semangat untuk mendapatkan Alfhat kembali.


*


*


*


Hanya lima belas menit perjalanan, Alfhat sampai di bassment apartemen. Dengan susah payah dia turun dari mobil, hingga terjerembab saat akan menutup pintu mobilnya.


Alfhat berusaha bangkit sambil merutuki kebodohannya. Tidak seharusnya dia sampai mabuk seperti ini. Andai saja Richard bersamanya, dia bebas mabuk kapan saja.


Untuk pertama kalinya dirinya berkendara dalam keadaan mabuk. Untungnya dia berhasil sampai di bassment apartemen tanpa membahayakan pengendara lain. Karena berkendara dalam keadaan mabuk sangat membahayakan dirinya dan juga pengendara lain.


Alfhat berjalan sempoyongan menyeret kakinya menuju unit apartemennya. Hingga dua pihak keamanan yang berjaga-jaga di karidor apartemen melangkah menghampirinya.


"Tuan Alfhat, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pihak keamanan dan merasa curiga melihat penampilan pemilik apartemen tampak berantakan.


"Ya ya..bawa aku ke unit apartemenku." ucapnya dengan suara parau.


"Baik tuan." ucap mereka dengan kompaknya.


Kemudian mereka segera membawa Alfhat ke unit apartemen yang ditempatinya. Mereka sangat tahu betul unit apartemen yang ditempati oleh pemilik dari apartemen tersebut.


Saat tiba di lantai tertinggi apartemen, tiba-tiba dua pria bertubuh kekar berpakaian lengkap yang berjaga-jaga di lantai tersebut, bergerak menghampiri mereka.

__ADS_1


"Biar kami yang mengurusnya. Lanjutkan kembali pekerjaan kalian" ucap salah satu pria berwajah garang.


"Baik." ucap salah satu dari mereka. Kemudian menyerahkan Alfhat ke tangan kedua pria bertubuh kekar yang diyakini adalah bodyguard Alfhat. Lalu mereka melenggang pergi.


Alfhat segera dibawa masuk ke dalam apartemen, namun langkah mereka terhenti tepat di samping pintu.


"Aku bisa sendiri... pergilah." ucapnya tak ingin dibantah.


"Baik tuan." ucap salah satu bodyguardnya.


Kedua bodyguard itu saling kode, lalu membungkuk hormat sebelum keluar dari apartemennya.


Alfhat melangkah menuju kamarnya, dengan langkah sempoyongan hampir saja membuatnya terjatuh dari tangga. Dia segera membuka pintu kamarnya yang kebetulan tidak terkunci.


Alfhat bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan suasana remang-remang, hanya lampu tidur yang menyala. Dia tidak menghiraukannya dan bergerak cepat menuju kamar mandi. Dia masih setengah sadar dan harus mencuci muka, gosok gigi lalu mengganti pakaiannya dengan piyama tidur sebelum mengistirahatkan tubuhnya.


Diluar dugaan, Alfhat belum menyadari ada sosok wanita yang tengah tertidur pulas di ranjang empuknya. Jika saja suasana kamarnya terang benderang, mungkin saja dengan cepat dia melihatnya.


Tak berselang lama kemudian, Alfhat sudah mengenakan piyama tidur dan melangkah ke arah ranjang, dengan perlahan dia merangkak naik ke atas ranjang lalu berbaring dengan posisi tengkurap.


Tanpa sadar Alfhat tersenyum tipis dengan kantuk menderanya. Perlahan Alfhat menempelkan tubuhnya dengan tubuh orang itu, lalu memeluknya erat layaknya sebuah guling dengan salah satu tangan masih setia di tempat favoritnya.


Dengan sekuat tenaga Alfhat menahan diri untuk kembali terjaga, namun usahanya sia-sia karena dirinya sedang dilanda kantuk yang menderanya.


Padahal dia sungguh yakin sosok wanita tengah dipeluknya. Bisa saja dia hilang akal dan mengambil kesempatan menyentuh wanita itu. Namun alam bawah sadarnya tak bisa diajak bekerjasama, karena mulai berkelana jauh di alam mimpi.


*


*


*


Suara adzan subuh berkumandang lewat alarm ponsel. Tampak Etha mulai mengerjapkan matanya sambil mengumpulkan kesadarannya, namun anehnya dia merasakan tangan kekar melingkar di perutnya.


Etha menoleh ke arah samping hingga membelalakkan matanya melihat wajah pria yang sangat dibencinya begitu dekat dengan wajahnya. Etha langsung bergerak cepat melepaskan tangan kekar pria itu lalu menendang tubuhnya, hingga tubuh pria itu tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Awwww" rintihan kesakitan mulai terdengar.


Etha begitu waspada sambil menggulung selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya, persis kepompong yang belum menetas. Hanya wajahnya yang terlihat, karena dia hanya memakai piyama tidur sebatas lutut.


"Sialan! beraninya kamu mengganggu tidurku!" murka pria itu berusaha bangkit berdiri sambil memegangi pinggangnya yang kesakitan. Hingga kedua matanya terbelalak kaget melihat wanita yang sangat dikenalinya. Pria itu tidak lain adalah Alfhat.


"Kamu!"


"Iya kenapa, kamu terkejut melihatku, mau marah atau mau membunuhku sekarang juga." tantang Etha.


"Shiittt, arghh." Alfhat menggertakkan gigi menahan amarahnya dengan kedua tangan dikepal kuat hingga kuku-kukunya tampak memutih.


"Kamu sudah lancang memelukku, aku tidak yakin jika semalam kamu tidak berbuat macam-macam kepadaku. Bahkan tali piyama tidurku sudah terlepas." ucap Etha marah.


Alfhat menjadi bungkam sambil memegangi keningnya yang sedikit pusing untuk mengingat memori semalam yang masih tertinggal di pikirannya. Memang dia menyentuh gunung kembar wanita tua itu, akan tetapi tidak sampai memainkannya. Hanya sekedar memeganginya, itu saja.


Tanpa mengucapkan sepatah kata Alfhat kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Jika kamu tidak berhenti mengoceh, aku tidak segan-segan untuk berbuat macam-macam kepadamu. Bahkan memperkosa mu sekarang juga." ucap Alfhat dingin.


"Astaghfirullah. Jaga ucapanmu tuan Alfhat. Memang selama ini kamu berada dalam pergaulan bebas, berbuat zina dengan cara meniduri wanita manapun. Namun ingat, aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukannya. Aku tidak akan menyerahkan diriku sepenuhnya kepadamu. Walaupun kita sepasang suami istri yang sah, tapi tetap saja aku tidak bisa memberikan hakmu, sebelum kamu berubah. Tinggalkan kebiasaan burukmu itu dan bertobatlah sebelum terlambat. Karena tidak selamanya kamu akan hidup kekal abadi di muka bumi ini." tegas Etha, lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, dia akan menunaikan ibadahnya sebagai umat muslim.


Alfhat hanya mampu diam membisu, ucapan wanita tua itu seperti tamparan keras baginya. Alfhat berdengus kesal lalu meninju guling di sampingnya. Dia tak bisa lagi melanjutkan tidurnya, moodnya benar-benar hancur pagi ini.


Alfhat memutuskan ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya dengan air dingin, lalu berolahraga. Sedangkan Etha sudah berada di dapur dan sedang membuat sarapan.


Kini pasangan suami istri yang tidak akur itu sudah berada di meja makan dan tengah duduk saling berhadapan untuk sarapan.


Alfhat menatap tajam ke arah Etha yang sedang menyeruput secangkir teh.


"Mulai hari ini kamu harus pulang ke mansionku. Richard yang akan menjemputmu. Satu lagi, jangan sekali-kali mengunjungi tempat wisata keluargamu, karena jika aku kembali mendapatkan kabar tentangmu yang berkunjung ke sana, persiapan dirimu untuk dijadikan sebagai wanita penghibur di club malam ku." ucap Alfhat dengan entengnya.


Etha langsung mengalihkan pandangannya menatap tajam ke arahnya.


"Baik, aku akan pulang ke mansionmu. Tapi dengan satu syarat...." ucap Etha dengan nada penekanan menjeda ucapannya. Alfhat langsung menatapnya hingga pandangan mata mereka bertemu dan terkunci sesaat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2