Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 20


__ADS_3

Etha duduk di kursi dekat jendela kamar. Dia memandangi bulan sabit dengan tatapan kosong. Hingga tiba-tiba air matanya menetes dengan sendirinya.


Buru-buru dia mengusap air matanya dengan kasar. Baru beberapa hari tinggal di kediaman Alfhat membuatnya tidak betah. Diluar dia terlihat wanita kuat seperti baja, namun nyatanya dia hanyalah wanita rapuh yang lemah.


Ya Allah, jika Alfhat memang jodoh terbaik untukku, maka bukakanlah pintu hatinya untuk bertobat dan berada di jalanmu. Jika dia bukan jodoh yang terbaik untukku, maka jauhkanlah dariku. Batin Etha sambil memejamkan matanya dengan perasaan sesak di dada.


Sungguh malang nasibnya, menikah hanya karena sebuah kesepakatan dan dijadikan sebagai alat pelunas hutang. Dia hanya mampu tegar dan tidak ingin risau dengan nasib yang dialaminya. Jalani saja seperti air mengalir dan ambil hikmahnya, karena apa yang dialaminya salah satu bentuk ujian hidup yang harus dia lalui.


Cukup lama Etha termenung memandangi bulan sabit, hingga angin malam mulai menerpa permukaan kulit wajahnya. Sehingga dia memutuskan beranjak dari tempatnya.


Tak sengaja pandangannya tertuju pada map berwarna hitam di atas nakas yang berisi kontrak pernikahannya beserta ponsel baru. Dia ingin merobek kontrak pernikahannya bersama Alfhat lalu membakarnya hingga tak tersisa, namun semua itu hanyalah angan-angannya belaka.


Etha tidak punya keberanian untuk melakukannya, karena bisa saja menambah masalah baru dan sudah pasti Alfhat akan kembali membuat kontrak pernikahan yang baru dan semakin memperbudak hidupnya.


Bahkan sekarang dia sudah tidak memiliki akses untuk menghubungi keluarganya. Semua itu tertera dalam kontrak pernikahan yang dibuat oleh Alfhat, memutuskan hubungan Etha dengan keluarganya.


Tidak hanya itu, ponselnya sudah disita oleh Alfhat dan digantikan ponsel baru yang terkoneksi dengan ponsel Alfhat. Jadi apa yang dilakukan oleh Etha melalui ponselnya dengan cepat Alfhat akan mengetahuinya.


Tidak ingin terus memikirkan hubungannya dengan Alfhat, Etha memilih mengistirahatkan tubuhnya di atas ranjang. Tak berselang lama kemudian dia sudah terbuai alam mimpi.


*


*


*


Keesokan harinya.....


Terlihat Etha tampak sibuk di dapur yang sedang membuat sarapan pagi. Dua pelayan hanya mampu memperhatikannya karena Etha tidak ingin dibantu. Sementara juru masak yang dipekerjakan oleh Alfhat juga tampak sibuk membuat sarapan.


Salah satu pelayan wanita berambut pendek terus memperhatikan gerak-gerik Etha dan terlihat waspada disekitarnya. Ketika melihat Etha tengah mencari bumbu dapur, dengan cepat pelayan itu mendekat lalu menunjukkannya.


"Terima kasih." ucap Etha tersenyum mengambil penyedap rasa lalu menuangkan di masakannya.

__ADS_1


Etha memasak nasi goreng dan omelette. Dia terbiasa sarapan dengan dua menu tersebut dibandingkan sarapan dengan sandwich, sisa masakannya terkadang dia bawa ke butik dan di bagikan kepada karyawannya. Tapi, kali ini dia tidak memasak makanan porsi lebih. Tak butuh waktu lama, akhirnya dia selesai juga membuat sarapan.


Etha begitu antusias menghidangkan masakannya di atas meja pantry. Setelah itu, dia memilih kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Diluar dugaan, pelayan tadi terlihat mencurigakan mendekat ke meja pantry, lalu memandangi masakan Etha. Kemudian pelayan itu bergerak cepat mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya lalu menaburi masakan Etha. Setelah merasa aman, pelayan itu kembali memasukkan benda yang dibawanya di dalam saku bajunya dan lekas meninggalkan dapur.


***


Sementara itu, Alfhat terlihat rapi dengan pakaian kantornya. Dia memutuskan untuk bekerja hari ini. Walaupun aset berharganya belum sepenuhnya sembuh, tapi dia sudah tidak mengalami kesakitan yang luar biasa seperti semalam.


Kemungkinan dia tidak akan lama berada di kantor, ketika pekerjaannya sudah selesai, dia memutuskan untuk pulang. Alfhat menatap lekat-lekat wajahnya di dalam cermin. Matanya sudah sembuh, namun bekas cakaran di pipi kirinya masih terlihat jelas.


Alfhat berdengus kesal sambil mengepalkan tangannya melihat hasil perbuatan wanita tua itu, seketika emosinya kembali membuncah. Dia ingin memberikan pelajaran kepada wanita tua itu, tapi waktunya belum tepat untuk saat ini.


Pasalnya Alfhat harus menghadiri rapat penting dan melakukan meeting bersama dengan rekan bisnisnya. Tak ingin terus memandangi wajahnya di dalam cermin, Alfhat memutuskan keluar dari kamarnya dan terhentak mendapati Vivian berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Alfhat cuek.


"Tunggu sebentar." ucap Alfhat sambil merogoh ponselnya dari saku celananya.


Alfhat tampak mengotak-atik ponselnya hingga terdengar suara notifikasi masuk di ponselnya. Tanda dia sudah mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening Vivian.


"Sudah selesai, kamu boleh memeriksanya. Jika masih kurang hubungi Richard." ucap Alfhat.


Vivian langsung memeriksa ponselnya hingga senyuman terpatri di bibirnya.


"Wah terima kasih sayang." ucap Vivian kegirangan melihat nominal uang yang masuk di nomor rekeningnya. Dia langsung berhambur memeluk tubuh Alfhat.


Alfhat begitu royal kepadanya. Kepuasan yang selalu diberikan kepada kekasihnya mampu mendatangkan keuntungan baginya. Tak main-main uang yang selalu diberikan oleh kekasihnya cukup untuk membeli rumah mewah.


Namun Vivian selalu menggunakan uang tersebut untuk perawatan tubuhnya dan membeli barang-barang branded dengan harga fantastis. Kehidupan yang glamor dengan barang-barang mewah sangat menunjang penampilannya.


Terutama dirinya berkecimpung di dunia modeling. Persaingan terus terjadi di lingkungan kerjanya. Jalan satu-satunya untuk menunjang penampilannya yang glamor adalah menggaet pria kaya.

__ADS_1


Vivian berjinjit untuk mencium Alfhat sebagai tanda terima kasihnya, namun Alfhat langsung mendorong pelan tubuhnya tandanya dia menolaknya.


"Aku akan berangkat ke kantor, jadi jangan menghadang ku seperti ini." ucap Alfhat dan Vivian langsung menjauh dari tubuhnya.


Alfhat melangkah lebar melewati lorong kamar, hingga dia berpapasan dengan Etha yang juga terlihat rapi seperti akan keluar. Alfhat hanya melirik Etha sebentar dengan sorot mata tajam sambil melanjutkan langkahnya.


Sedangkan Etha terlihat cuek dan memilih berhenti sejenak membiarkan Alfhat berjalan lebih dulu. Etha memutuskan untuk kembali masuk ke kamar, dia tidak ingin sarapan bersama dengan Alfhat.


Sementara itu, Alfhat sudah berada di meja makan. Aroma masakan Etha membuat Alfhat menelan ludahnya dan mengerjapkan matanya mencari-cari masakan yang menggugah selera.


Alfhat bangkit dari duduknya membuat ketiga pelayan yang berbaris di sudut ruangan ingin mendekat ke arahnya, namun tak urung ketika melihat majikannya mendekat ke meja pantry dan membawa dua piring berisi makanan.


Salah satu pelayan terkejut melihat majikannya membawa masakan buatan Etha. Apalagi melihat majikannya sudah menyendok nasi goreng buatan Etha dan langsung memakannya dengan lahap.


"Tuan, itu masakan nona Etha." ucap pelayan itu memberitahu dengan raut wajah berubah pucat pasih.


Namun, ucapan pelayan tidak dihiraukan oleh Alfhat. Dengan lahapnya Alfhat memakan makanan buatan Etha, hingga sendok demi sendok nasi goreng berhasil ludes dia makan. Akan tetapi, tiba-tiba saja dia merasa pusing dengan kepala berkunang-kunang.


Alfhat langsung meminum air putih dan menit kemudian tubuhnya oleng dan terjatuh dari kursi. Ketiga pelayan terkejut dan segera mendekati majikannya.


Alfhat sudah tak sadarkan diri, mulutnya berbusa-busa. Etha yang baru tiba di ruang makan terlonjat kaget dan segera mendekatinya.


Etha langsung memangku kepala Alfhat dan berusaha membangunkannya, namun usahanya sia-sia, diapun langsung berteriak meminta tolong.


Richard yang baru sampai di kediaman bos nya bergerak cepat ke sumber suara dan mendapati bos nya sudah tak sadarkan diri dengan mulut berbusa. Kemudian disusul Vivian dan dua bodyguard ikut menghampirinya.


"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." ucap Richard panik dan langsung mengangkat tubuh bos nya.


Etha dan Vivian bergerak menyusulnya. Mereka melarikan Alfhat ke rumah sakit guna untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Richard yakin bos nya diracuni. Dia tidak akan tinggal diam, dia akan menyelidiki hingga tuntas musibah yang sedang dialami oleh bos nya dan menangkap pelakunya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2