
Kemudian anggota keluarga lainnya dan beberapa tamu undangan turut memberikan selamat atas pernikahan Etha dan Alfhat. Setelah itu, para tamu undangan mulai menikmati jamuannya.
Diam-diam pria misterius tadi mengeluarkan pistolnya dan langsung membidik kearah Alfhat yang sedang mengobrol bersama rekan bisnisnya. Setelah dirasa bidikannya tepat sasaran, pria misterius itu langsung menarik pelatuknya hingga terdengar suara tembakan.
Dor
Semua orang langsung panik melihat seseorang sudah tergeletak di lantai bersimbah darah. Termasuk Etha yang tengah bercengkrama dengan keluarganya.
Tanpa basa-basi Etha langsung melangkah tergesa-gesa menghampiri orang yang baru saja tertembak. Raut wajahnya memancarkan kekhawatiran, dia sungguh takut jika Alfhat yang tertembak.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit." ucap salah satu pria diantara kerumunan orang.
Beberapa orang langsung bergerak cepat membopong tubuh orang yang baru saja tertembak untuk segera di bawa ke rumah sakit.
Seketika Etha menghentikan langkahnya melihat sosok yang dicintainya tampak baik-baik saja diantara kerumunan orang. Etha langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar dan perasaan mulai lega, lalu dia melanjutkan langkahnya untuk menghampirinya.
Namun, baru beberapa langkah, Etha kembali dikejutkan oleh pria misterius yang tiba-tiba muncul dan langsung menodongkan pistol di kepalanya. Pria misterius itu sepertinya sengaja menjadikannya sebagai tameng untuk mengancam keluarganya.
"Jangan bergerak!" ucap pria misterius itu, membuat Etha langsung membelalakkan matanya yang begitu terkejut.
Etha hanya mampu diam membisu di tempatnya, seketika raut wajahnya memancarkan ketakutan. Bagaimana tidak, sekarang dirinya berada dalam marabahaya. Dia hanya mampu berdoa kepada Allah, agar selalu berada dalam lindungannya. Sedangkan pria misterius itu masih saja menodongkan pistol di kepala Etha sembari memerintah semua orang untuk mundur.
"Turunkan pistolmu! aku tidak akan membiarkanmu menyakiti istriku!" ucap suara berat sosok pria tinggi dengan kilatan amarah terpancar di kedua matanya. Pria itu tidak lain adalah Alfhat.
Alfhat tidak akan tinggal diam melihat istrinya sudah dijadikan sebagai sandera oleh pria misterius itu dan diyakini adalah anak buah Lucas. Dia bergerak cepat untuk menolong istrinya.
"Jangan ada yang bergerak, karena nyawa wanita ini yang menjadi taruhannya." teriak pria misterius itu yang kembali mengancam semua orang, karena dia berhasil menjadikan Etha sebagai tameng mengancam.
Seketika para tamu undangan hanya bisa diam ditempat dengan raut wajah terlihat begitu paniknya. Begitu halnya dengan kedua orang tua Etha dan kerabat dekat lainnya.
Alfhat tidak mengindahkan ucapan pria misterius itu, dia terus melangkah mendekat kearahnya, pasalnya nyawa istrinya berada dalam bahaya. Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan.
Dor
Dor
"Aaaaaaa" Etha berteriak histeris saat mendengar suara tembakan. Sementara sosok pria misterius yang menodongkan pistol di kepalanya sudah bersimpuh di lantai yang berhasil dilumpuhkan oleh kedua saudara Etha, siapa lagi kalau bukan Dilan dan Kendrick.
__ADS_1
Beberapa anak buah Alfhat yang melakukan penyamaran sebagai tamu undangan, bergerak cepat membawa pria misterius itu untuk segera dibawa ke rumah sakit. Besar kemungkinan nyawa pria misterius itu tidak akan selamat dengan luka tembak pada bagian leher dan dada bagian kanannya.
Alfhat bergerak cepat menghampiri Etha, dia sungguh mengkhawatirkan kondisi istrinya. Begitu halnya dengan Dilan dan Kendrick yang juga bergegas menghampiri saudara perempuannya yang terlihat syok dan sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Nuna, kamu baik-baik saja?" tanya Dilan yang begitu khawatir kepada saudara perempuannya.
"Aku baik-baik saja." ucap Etha tersenyum.
"Syukurlah, aku begitu lega mendengarnya." ucap Dilan tersenyum tipis.
"Kita akan selalu menjagamu dan akan terus melindungimu." timpal Kendrick.
"Betul. Untungnya mataku begitu jeli melihat penjahat tadi, dan Kendrick bergerak cepat melumpuhkannya." ucap Dilan lalu merangkul pundak Kendrick. Karena mereka tidak menyangka akan bekerjasama melindungi saudara perempuannya.
"Kalian memang adik-adikku yang hebat dan para jagoanku. Terima kasih sudah menolongku." ucap Etha tersenyum merekah.
"Sama-sama nuna." ucap Dilan tersenyum, begitu halnya dengan Kendrick yang juga ikut tersenyum.
Sementara itu, Alfhat hanya mampu berdiri tidak jauh dari mereka, tepatnya di belakang Dilan dan Kendrick. Dia memilih membiarkan kedua adik iparnya yang lebih dulu memastikan kondisi istrinya.
"Kamu sedang apa disitu?" tanya Etha dengan kening berkerut melihat Alfhat hanya berdiri di belakang kedua saudaranya.
"Kamu baru muncul rupanya, benar-benar tidak bisa diandalkan. Sekarang tugasmu meminta maaf kepada tamu undangan. Aku yakin masalah ini terjadi atas dirimu, kakak ipar." sindir Dilan dengan tatapan sinisnya. Dia masih belum bisa berdamai dengan kakak iparnya.
Alfhat hanya menggangguk menanggapi ucapan Dilan, dia tidak ingin meladeni adik iparnya. Karena bisa saja dia terpancing emosi dan berakhir melakukan pertengkaran dengan adik iparnya.
Kemudian Alfhat berbalik badan menghadap kearah tamu undangan, lalu buka suara.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas insiden yang terjadi barusan dan sangat tidak mengenakkan bagi para hadirin yang berbahagia. Insyaallah, selama pesta berlangsung tidak akan ada lagi insiden seperti ini." ucap Alfhat kepada para tamu undangan.
Para tamu undangan kompak bertepuk tangan, kemudian mereka kembali menikmati hidangan makanan dan minuman dengan begitu enjoynya.
Alfhat segera menghampiri Etha yang terlihat masih syok dengan kejadian barusan, lalu menarik tubuh Etha masuk ke dalam pelukannya.
Dilan dan Kendrik hanya saling pandang, kemudian mereka melenggang pergi membiarkan pasangan suami istri itu berduaan.
"Tenang sayang, jangan takut. Maaf, aku tidak sempat berada di sisimu. Aku janji tidak akan membiarkan mereka menyakitimu atau sampai melukaimu. Aku rela mempertaruhkan nyawaku demi bisa melindungimu." ucap Alfhat sambil mengelus lembut punggung istrinya.
__ADS_1
"Aku hanya syok, cepat lepaskan pelukanmu. Semua orang memandang ke arah kita." ucap Etha sambil melonggarkan pelukannya, refleks Alfhat ikut melonggarkan pelukannya dengan kedua tangannya masih setia merangkul pinggang istrinya.
"Memangnya kenapa jika mereka memandang ke arah kita, sayang?. Jangan malu, bukankah kita sudah menjadi pasangan suami istri atau bisa juga dikatakan sebagai pasangan halal." ucap Alfhat tersenyum tipis menatap wajah istrinya.
"Bukan begitu, hanya saja...." Etha menjeda ucapannya hingga matanya membola melihat kedua orang tuanya melangkah menghampirinya. Tidak hanya itu, paman dan bibinya serta anggota keluarga lainnya tampak berjalan ke arahnya.
"Papa dan Mama mau kesini." ucap Etha dan Alfhat langsung mengalihkan pandangannya sesuai arah pandang istrinya.
Alfhat segera melepaskan pelukannya dan berdiri tepat di samping istrinya dengan sebelah tangan begitu mesranya merangkul pinggang istrinya.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Nyonya Lexa dengan nada khawatir.
"Kami baik-baik saja, Mama." ucap Etha tersenyum.
"Syukurlah, alhamdulillah Mama merasa lega. Kalau begitu sebaiknya kalian beristirahat. Kebetulan pestanya hampir selesai." ucap Nyonya Lexa tersenyum hangat dan Etha mengangguk cepat menanggapi ucapan ibunya.
Beberapa tamu undangan sudah meninggalkan ballroom hotel dan sebagian lagi masih tampak mengobrol bersama dengan teman dan rekan kerjanya.
Etha dan Alfhat memutuskan untuk beristirahat. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan menuju ruangan VVIP, namun langkahnya terhenti, karena dikejutkan dengan kedatangan sosok wanita cantik plus seksi berjalan melenggak-lenggok mendekat ke arahnya.
Etha langsung membulatkan matanya melihat wanita itu, begitu halnya dengan Alfhat yang terkejut bukan main melihat mantan kekasihnya kembali muncul dihadapannya.
Ya karena wanita itu tidak lain adalah Vivian, mantan kekasih Alfhat. Vivian tersenyum merekah melihat pasangan suami istri itu.
"Hai sayang, apa kabar. Oh iya, apa kamu masih mengingatku? emm tentu saja kamu masih mengingatku, kita bahkan menghabiskan waktu bersama selama satu tahun lebih. Aku pikir kamu sudah bosan dengan wanita tua ini." ucap Vivian tersenyum manis menatap wajah Alfhat. Sedangkan Alfhat mengepalkan tangannya menatap mantan kekasihnya.
"Untuk apa lagi kamu datang menemuiku!" ucap Alfhat dingin.
"Untuk memberikan kejutan kepadamu, sayang." ucap Vivian sambil membusungkan dadanya di depan Alfhat.
"Sebaiknya kamu pergi! sebelum kesabaranku habis." ucap Alfhat dengan sorot mata tajam.
"Aku tidak akan pergi, Al. Aku datang untuk meminta pertanggungjawaban kepadamu. Aku sedang mengandung anakmu!" ucap Vivian dengan entengnya.
"Apa!"
Etha langsung membulatkan matanya mendengar ucapan Vivian. Begitu halnya kedua orang tua Etha yang terkejut bukan main.
__ADS_1
Bersambung....