Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 69


__ADS_3

"Tentu, Papa. Insyaallah aku akan terus membahagiakannya selama aku masih bernafas." timpal Alfhat.


Tuan David mengangguk mendengar ucapannya, lalu mulai melepaskan pelukannya.


"Sekarang hal penting apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku." ucap tuan David.


"Aku ingin menebus kesalahanku di masa lalu. Untuk itu, aku ingin mengadakan pesta pernikahan kami. Walaupun begitu terlambat, tapi aku ingin membuat istriku bahagia. Aku tidak ingin lagi merahasiakan pernikahan kami, aku ingin semua orang tahu bahwa akulah yang sudah menikahi putrimu." ucap Alfhat bersungguh-sungguh.


"Lakukanlah sesuai keinginanmu, buat putriku bahagia. Jika memang kamu bersungguh-sungguh ingin merayakan pernikahanmu, mulai dari sekarang persiapkan dengan baik." ucap tuan David.


"Baik Papa, doakan saja semoga semuanya berjalan dengan lancar." ucap Alfhat tersenyum.


"Aamiin, restu Papa selalu menyertaimu bersama putriku. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian" ucap tuan David sambil menepuk bahu Alfhat dan Alfhat tampak mengangguk.


"Terima kasih, papa." ucap Alfhat dengan mata berkaca-kaca sambil menundukkan pandangannya.


Sementara di dapur tampak Nyonya Lexa memeriksa kondisi tubuh putrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita paruh baya itu sungguh takut jika putrinya mendapatkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), mengingat pria yang sudah menikahi putrinya bukanlah pria baik-baik.


"Mama, aku baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi kepadaku. Jika suamiku memukuliku, tidak mungkin aku hanya tinggal diam dan cuma pasang badan. Aku pasti akan melawannya, Mama. Jadi tolong, jangan overprotektif seperti ini. Aku memaklumi tindakan Mama yang begitu mengkhawatirkanku, karena Mama sangat menyayangiku. Tapi, seenggaknya Mama harus percaya, aku dan mas Alfhat sudah saling mencintai. Mas Alfhat sudah bertobat, sikap dan kelakuannya sudah berubah, dia berubah karena aku, Mama. Dia bahkan begitu menyesal pernah menyakiti perasaan kita." ucap Etha panjang lebar memberikan pengertian kepada Ibunya.


Sementara Nyonya Lexa hanya diam tanpa menggubris ucapan putrinya. Setelah mendengar penjelasan putrinya, ia menganggap tindakan yang baru saja dilakukan kepada putrinya salah.


Melihat ibunya hanya melamun, Etha menyentuh tangan ibunya lalu mencium punggung tangan ibunya.


"Bukankah Mama sendiri yang pernah mengatakan bahwa tidak ada masalah tidak ada jalan keluarnya. Selagi kita berusaha dan berdoa, insyaallah pasti akan ada jalan keluarnya." ucap Etha tersenyum lalu berhambur memeluk tubuh ibunya, sedang jemari tangannya mengelus lembut punggung ibunya dengan penuh kasih.


"Mama hanya takut jika sesuatu terjadi kepadamu. Mama bahkan sudah berprasangka buruk kepada suamimu." ucap Nyonya Lexa.


"Tidak apa-apa Mama, wajar saja jika mama berprasangka buruk kepada mas Alfhat." ucap Etha.


Etha dan ibunya kembali melanjutkan obrolannya. Hingga para suaminya mulai menghampiri mereka.


"Makanan sudah siap, saatnya makan malam." ucap Etha antusias.

__ADS_1


"Iya sayang." timpal Alfhat tersenyum, sedang tangannya mengelus puncak kepala istrinya.


Mereka berempat bersama-sama ke ruang makan dan terlihat kompak duduk di kursi guna untuk makan malam bersama. Jelas sekali terlihat suasana kehangatan yang mereka ciptakan. Ini menjadi momen langka bagi mereka karena jarang-jarang bisa berkumpul bersama.


*


*


*


Persiapan pesta pernikahan Alfhat akan digelar meriah bulan depan dan terhitung beberapa hari lagi. Alfhat hanya menyewa jasa WO untuk mempersiapkan pernikahannya. Dia tidak ingin terlalu disibukkan dengan hal tersebut. Namun tidak sepenuhnya ia lepas tangan. Terkadang dirinya ikut turun tangan memilih desain dan warna pernak pernik untuk hiasan pesta nantinya.


Lagi-lagi Alfhat kembali merahasiakan pesta pernikahannya dari istri tercintanya. Dia hanya tidak ingin istrinya ikut ambil pusing mempersiapkan pesta pernikahan mereka.


Tinggal menghitung hari pesta pernikahannya akan di gelar di salah satu hotel miliknya. Akan tetapi, mendekati hari H nya membuat Alfhat mulai deg-degan. Dia berharap semoga pesta pernikahannya berjalan lancar tanpa adanya kendala sedikitpun.


Seiring berjalannya waktu, hari yang ditunggu-tunggu oleh sebagian orang termasuk keluarga besar Alexander akhirnya tiba juga. Tepatnya hari ini adalah hari digelarnya pesta pernikahan Alfhat dan Etha yang di gelar di hotel berbintang lima.


Tidak hanya itu, pesta pernikahan tersebut khusus untuk memberikan kejutan kepada istri tercintanya. Dia hanya ingin membahagiakan istrinya dengan selalu memberinya kejutan demi kejutan.


Sementara Etha sendiri tidak tahu rencana yang tengah dipersiapkan oleh Alfhat. Dia sama sekali tidak menaruh curiga kepada Alfhat selama ini yang terkadang harus pulang malam demi mempersiapkan pesta pernikahannya.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Etha sambil melihat penampilan Alfhat tampak rapi padahal hari ini adalah hari weekend. Tidak mungkin jika suaminya akan berangkat ke kantor.


"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan." ucap Alfhat serius yang ingin mengajaknya.


"Maaf aku tidak bisa ikut. Aku ingin berkunjung ke panti asuhan." ucap Etha tidak enak hati, karena menolak ajakan suaminya.


"Kita bisa berkunjung ke sana. Tapi, kita jalan-jalan terlebih dahulu. Bagaimana?" ucap Alfhat tersenyum.


"Baiklah, aku akan ikut bersamamu." ucap Etha diselingi senyuman manis.


"Ya sudah, segeralah bersiap-siap sayang." ucap Alfhat sambil mengelus pipi chubby istrinya.

__ADS_1


Etha mengangguk cepat menanggapi ucapan Alfhat, lalu wanita berhijab itu melangkah ke ruang ganti untuk berganti pakaian.


Setelah melihat istrinya masuk ke ruang ganti. Alfhat langsung menghubungi seseorang.


"Sebentar lagi kami akan ke sana. Lakukanlah sesuai rencana." ucap Alfhat lalu memutuskan panggilannya secara sepihak.


Sementara di hotel berbintang lima yang merupakan salah satu hotel milik Alfhat sudah dipenuhi oleh tamu undangan, termasuk keluarga besar Alexander juga tampak sudah berbaur dengan tamu undangan.


Hanya 300 tamu undangan yang diundang oleh Alfhat. Termasuk diantaranya adalah rekan bisnisnya, para santri di pondok pesantren yang tempat menimba ilmu, para anak yatim dan seluruh karyawan istrinya serta kerabat lainnya.


Diluar dugaan, seorang wanita bertopeng tampak siaga di dalam mobilnya dan sedang melihat situasi di pelataran hotel. Tidak hanya itu, terlihat beberapa pria misterius sedang berkeliaran di luar hotel berbaur dengan tamu undangan yang baru saja datang.


Mereka semua belum memiliki akses masuk ke dalam hotel. Pasalnya hotel tersebut dijaga ketat oleh para bodyguard Alfhat dan dua kubu, dimana masing-masing anggotanya memiliki kemampuan bela diri yang sudah mumpuni untuk mengamankan tempat tersebut.


Para Pria misterius itu belum bisa masuk ke dalam hotel. Pasalnya rekannya yang berhasil masuk kedalam hotel belum memiliki akses untuk membawa mereka masuk ke dalam hotel.


"Aku baru saja sampai di titik lokasi. Apa penyerangannya akan dilakukan sekarang?" tanya wanita bertopeng yang berbicara di ujung telepon.


"Tunggu sebentar, lakukan sesuai rencana diawal. Aku tidak ingin ada kegagalan kali ini." ucap suara berat seseorang di ujung telepon.


"Baik tuan muda." ucap wanita bertopeng itu sambil melihat situasi diluar hotel.


"Hemm"


Hingga akhirnya panggilan telepon mereka berakhir.


Sosok yang ditunggu-tunggu kedatangannya, akhirnya muncul juga. Wanita bertopeng itu langsung mengepalkan tangannya melihat pasangan suami istri yang menjadi bulan-bulanannya selama ini tampak berjalan sambil bergandengan tangan melangkah menuju lobi hotel.


"Sebentar lagi kalian akan hancur. Bersiaplah dengan pembalasanku, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia di atas penderitaanku. Teruntuk kamu wanita tua, terima kejutanmu setelah ini." ucapnya menyeringai licik sambil mengepalkan tangannya.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗

__ADS_1


__ADS_2