
"Kamu mau tinggal dimana?" ucap seseorang menimpali ucapannya. Alfhat langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang empunya hingga matanya membulat sempurna.
"Sekali lagi aku bertanya, kamu mau tinggal dimana?." ucap orang itu yang tidak lain adalah Etha.
"Aku....aku ingin tinggal di pesantren untuk belajar agama." ucap Alfhat dengan tatapan sendu menatap wanita yang dicintainya.
"Wah bagus dong, aku sangat mendukungmu. Kenapa kamu tidak mengajak istrimu sekalian, tuan Alfhat!" ucap Etha antusias sambil meletakkan nampan yang dibawanya berisi tiga cangkir teh hangat di atas meja.
"Memangnya kamu mau ikut, nona debat... istriku yang super galak?" tanya Alfhat sambil mengerutkan keningnya. Perlahan dia maju satu langkah demi langkah mendekat ke arah istrinya, hingga berdiri tepat di hadapan istrinya.
"Tentu, kemanapun kamu akan membawaku pergi yang jelas menuju kebaikan, aku akan selalu ikut bersamamu, suamiku yang super jagoan." ucap Etha tersenyum merekah dan terlihat antusias mendengar suaminya akan belajar agama di pesantren.
Alfhat langsung menarik pinggang istrinya, hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain.
"Serius!" ucap Alfhat dengan mata berbinar menatap manik mata istrinya.
"Hemm!" ucap Etha tersenyum sambil mengangguk cepat.
Sementara Alfhat hanya mampu menatapnya dengan tatapan sulit diartikan, membuat Etha kembali buka suara untuk meyakinkan sang suami.
"Apa aku terlihat bercanda? lihat baik-baik kedua mataku, apa ada kebohongan didalamnya? Lagian, aku tidak pernah ingkar janji kepadamu. Sungguh aku senang kamu akan belajar agama di pesantren" ucap Etha serius dan bersungguh-sungguh akan menemani suaminya tinggal bersama di pesantren. Dia lalu mendongak menatap wajah suaminya dengan perasaan haru yang tiba-tiba menyelimutinya.
Sedangkan Alfhat tidak bisa berkata-kata, dia hanya mampu menarik senyuman disudut bibirnya setelah mendengar ucapan istrinya, ia pun menunduk menatap wajah istrinya dengan perasaan yang tidak bisa dia gambarkan seperti apa, yang jelas dia sangat bahagia.
Bagaimana tidak, istrinya pun mendukung keputusannya. Tanpa basa-basi Alfhat langsung memeluk erat tubuh istrinya. Sedangkan Etha ikut membalas pelukannya dengan mata berkaca-kaca.
Etha merasa seperti bermimpi mendengar semua ucapan suaminya yang ingin belajar agama di tempat semestinya. Sudah sepantasnya dia harus menjadi pendukung nomor satu.
"Kamu tahu, aku menyukaimu! apapun akan kulakukan demi memilikimu." bisik Alfhat ditelinga Etha. Membuat wajah wanita berhijab itu merona memerah.
Maaf, aku belum bisa percaya sepenuhnya jika kamu benar-benar menyukaiku. Tapi, jika kamu terus membuktikannya dengan penuh perjuangan dan ketulusan, aku janji akan berusaha semampuku untuk menyukaimu dan membuka pintu hatiku hanya untukmu. Batin Etha tersenyum.
Sementara Richard hanya mampu tersenyum tipis melihat pasangan suami istri itu sudah akur. Dia merasa lega, akhirnya bosnya mendapatkan wanita yang tepat, hingga mampu membimbingnya ke jalan yang benar.
__ADS_1
Jika seperti itu, tidak akan lama lagi penerus keluarga Sanders terlahir di dunia ini. Dan Richard sangat menantikannya. Membayangkannya saja sudah membuat Richard senyum-senyum sendiri.
Memiliki tuan muda kecil atau nona muda kecil yang akan merepotkan semua orang nantinya. Mengingat sifat keduanya begitu dominan yang sama-sama keras kepala, otomatis sifat mereka akan diturunkan kepada anak-anaknya kelak. Bisa dibilang sifat mereka sebelas dua belas dengan sifat anak-anaknya, yang jelas sifat bajingan bosnya tidak nyangkut kepada anaknya.
Cukup lama pasangan suami istri itu berpelukan. Membuat Richard seperti nyamuk kecil yang tidak dilihat keberadaannya. Mau tak mau Richard harus menunggu mereka selesai bermesraan.
Tampak Alfhat melonggarkan pelukannya dengan senyuman menghiasi wajahnya, lalu dia menundukkan pandangannya, yang sudah tak kuasa untuk mencium bibir istrinya. Namun, aksinya digagalkan oleh orang kepercayaannya.
"Tuan, kalau begitu aku permisi." ucap Richard berpamitan cepat dan merasa kikuk. Sungguh dirinya seperti nyamuk kecil diantara pasangan suami istri itu.
Seketika Etha langsung mendorong tubuh Alfhat dan menjauhinya. Etha mengalihkan pandangannya ke arah Richard yang sudah melangkah tergesa-gesa menuju pintu utama.
"Tunggu!" Etha langsung menghentikan langkahnya, sontak Richard berbalik badan menghadap ke arah istri bosnya.
"Jangan pulang dulu, kamu harus habiskan dua cangkir teh hangat spesial yang sudah aku buatkan untukmu. Dan satu cangkir lagi khusus untuk suamiku." ucap Etha bertolak pinggang sambil menunjuk ke arah meja, dimana terdapat tiga gelas teh hangat.
"Ayo, kemarilah Richard, jangan membantah ucapan istriku. Pantang bagimu jika tidak menghabiskan dua cangkir teh buatan istriku." ucap Alfhat dan segera duduk di sofa. Dia langsung meminum teh hangat buatan istrinya dengan rona wajah bahagia.
Sementara Richard mau tak mau kembali mendekat ke arah mereka. Kemudian duduk di sofa bersebelahan dengan bosnya. Dia segera meminum satu cangkir teh terlebih dahulu hingga tandas, lalu kembali meminum satu cangkir teh yang satunya dengan cepat.
Tak lupa Etha menulis list untuk hari esok dan apa-apa saja perlengkapan yang perlu dipersiapkan untuk di bawa ke pesantren bersama sang suami.
Etha yang tengah sibuk mencoret-coret di buku diary miliknya dikejutkan dengan kedatangan Alfhat yang langsung mencium pipinya.
"Astaghfirullah....Iih dasar pengganggu." ucap Etha terdengar kesal dengan tatapan melotot melihat ke arah Alfhat yang sedang bersedekap menatapnya.
"Ha ha ha, sering-seringlah marah-marah, nona debat. Aku sangat senang melihatmu marah, karena aku begitu berhasrat untuk menciummu." Ucap Alfhat sambil membungkukkan badannya dengan seringai licik diwajahnya. Membuat Etha menatapnya tajam melihat raut wajah Alfhat tampak menyebalkan.
Cup
Alfhat dengan cepat langsung mengecup bibirnya, persis pencuri ciuman, membuat Etha langsung memukul kecil perutnya.
"Bisa tidak, sifat mesum mu itu dikurangi! atau dihilangkan saja" ketus Etha.
__ADS_1
"Tidak bisa nona debat, aku memang terlahir dari keluarga mesum. Mulai dari kakek buyut ku hingga ayahku semuanya memiliki sifat mesum turun temurun. Mereka bahkan memiliki istri lebih dari satu bahkan sampai belasan istri. Bersyukurlah karena aku masih setia kepadamu. Lagian apa salahnya jika seorang suami bersikap mesum kepada istrinya?" ucap Alfhat panjang lebar.
"Pantas saja, kamu diperbudak oleh nafsu selama ini. Ternyata sifat mesum mu mendarah daging." kesal Etha.
"Ya begitulah, tak ada yang bisa disalahkan. Aku terlanjur berada dalam pergaulan bebas. Namun perlahan hidupku berubah semenjak kehadiranmu. Aku tidak tahu kapan aku menyukaimu hingga seluruh pikiranku selalu dipenuhi dirimu, kamu selalu berada dalam angan ku. Terima kasih sudah masuk kedalam hidupku dan menembus hatiku yang terdalam" ucap Alfhat tersenyum.
"Ulurkan tanganmu" ucap Etha dan Alfhat langsung mengikuti ucapannya.
"Kamu sudah mengikatku dengan janji suci. Kamu selalu berada di sampingku, menjagaku dan menyelamatkanku dari marabahaya. Mulai sekarang kita harus bekerja sama untuk mewujudkan keluarga yang bahagia, sakinah mawadah warohmah. Dan menuju Jannah bersama, aamiin" ucap Etha sambil menyalami tangan suaminya lalu mencium punggung tangannya.
Aku tahu sepertinya kamu mulai menyukaiku. Batin Alfhat.
Alfhat menyeringai licik dan langsung menggendong tubuh Etha ala-ala bridal style, refleks Etha langsung memukul tubuhnya untuk segera diturunkan.
"Hei, turunkan aku."
"Nanti, setelah di atas ranjang." ucap Alfhat tersenyum mendekat ke arah ranjang.
Kemudian Alfhat menurunkan tubuh Etha di atas ranjang, lalu dia ikut duduk di samping istrinya. Perlahan dia merogoh sesuatu dari saku celananya.
"Maaf, aku terlambat mengikatmu dengan cincin ini." ucap Alfhat sambil menyodorkan kotak cincin di depan Etha.
Etha terhenyak melihat kotak beludru berwarna merah di tangan Alfhat.
"Tolong terimalah." ucap Alfhat dengan tatapan memohon. Dengan ragu Etha mengambil kotak cincin tersebut lalu membukanya. Hingga dia langsung membulatkan matanya. Sebuah cincin berlian tampak berkilau indah dalam kotak beludru itu.
"Sekarang giliran kamu yang harus ulurkan tanganmu." perintah Alfhat.
Etha langsung mengulurkan tangannya dengan mata berkaca-kaca. Dengan cepat Alfhat memasangkan cincin berlian di jari manis istrinya.
"Terima kasih." ucap Etha tersenyum memandangi cincin berlian melingkar di jari manisnya.
"Sama-sama. Istriku" balas Alfhat tersenyum. "Ingat baik-baik, mulai sekarang kamu harus persiapan dirimu dengan baik. Karena mulai sekarang aku akan bersungguh-sungguh belajar agama." ucap Alfhat tersenyum sambil mengelus puncak kepala Etha, membuat Etha hanya manggut-manggut dengan senyuman menghiasi bibirnya.
__ADS_1
Bersambung.....