Benang Merah Per-Hutangan

Benang Merah Per-Hutangan
Bab 44


__ADS_3

"Jadi pria bajingan itu yang sudah menikahi kak Etha!." Ucap Dilan sambil mencengkram kuat ponselnya.


Rupanya peretas yang bekerja di belakang layar dengan mudahnya bisa menemukan informasi tentang pernikahan kakak perempuannya. Karena pernikahan mereka baru-baru ini sudah tercatat secara hukum.


"Pria itu yang pernah menculik nona Rania. Sekarang dia malah menikahi kak Etha. Ini sungguh aneh atau memang secara kebetulan. Dia salah satu musuh dari keluarga Alexander, lantas mengapa dia diam-diam menikahi kak Etha. Jangan-jangan dia memiliki maksud terselubung di dalamnya." ucap Kendrick dengan penuh kecurigaan.


"Aku tidak akan membiarkan pria bajingan itu menyakiti kak Etha, tidak akan!. Kita harus segera membawa kak Etha pergi dari kediamannya." timpal Dilan sambil mengepalkan tangannya.


"Sabar, jangan gegabah bro. Sepertinya dia sudah mengetahui apa yang kita lakukan. Apalagi dia orangnya licik dan memiliki insting yang kuat. Segala rencananya selalu dieksekusi dengan baik tanpa diketahui oleh musuh-musuhnya." ucap Kendrick mengingatkan saudara sepupunya tentang orang yang akan mereka lawan.


"Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan kak Etha?" tanya Dilan.


"Kita akan berkunjung ke kediamannya dengan motif penyamaran." jawab Kendrick menyeringai tipis. Dia sudah memiliki rencana untuk menyelinap masuk di kediaman Alfhat.


"Apa tidak berbahaya? dia pasti memiliki banyak anak buah yang berjaga-jaga di kediamannya, sebaiknya libatkan saja anggota The Tiger untuk melakukan pengawalan terhadap kita dan melawan anak buahnya" Kendrick langsung menggeleng cepat.


"Kita bisa mengatasinya. Jangan libatkan anggota The Tiger jika urusan seperti ini. Paman tidak ingin ada pertumpahan darah, sebaiknya kita hadapi bersama" ucapnya sambil menepuk pundak Dilan. Sementara Dilan balas memukul dada bidangnya. Mereka saling percaya bisa menyelamatkan kakak perempuannya.


*


*


*


Sementara di tempat lain.....


Di sebuah ruangan bernuansa abu-abu gelap, terlihat pria tampan penuh wibawa yang selalu di panggil tuan muda sedang duduk di kursi kebesarannya memandang ke arah wanita yang duduk berhadap-hadapan dengannya.


Ares yang merupakan sekretaris si tuan muda mulai bergerak meletakkan map berwarna hitam di atas meja tepat di depan tuan mudanya.


"Jadi?" tanya tuan Lucas kepada wanita yang duduk berhadapan dengannya.


"Aku terima tawaranmu. Yang jelas seluruh tubuhku kembali cantik sediakala. Setelah semuanya kembali semula, aku akan menjalankan rencanamu. Memang tujuanku balas dendam kepada Alfhat dan wanita tua itu" ucap wanita itu tersenyum jahat dan tidak lain adalah Vivian.


"Baiklah. Kamu akan segera menjalani operasi secepatnya. Dokter ahli bedah sesuai bidangnya yang akan mengembalikan wajahmu seperti sediakala. Tapi ingat! setelah wajahmu berubah cantik, maka jalankan rencanamu dengan baik tanpa adanya sebuah kesalahan." ucap tuan Lucas dengan penuh penekanan, tatapannya teramat tajam bagaikan elang siap menerkam mangsanya.


"Oke, aku siap mempertaruhkan nyawaku sebagai jaminannya." ucap Vivian dengan entengnya.


"Hemm" Tuan Lucas langsung menandatangani berkas-berkas dalam map hitam di depannya, kemudian memberikannya kepada Vivian.

__ADS_1


"Terima kasih." ucap Vivian tersenyum penuh arti. Sementara tuan Lucas langsung tertawa terbahak-bahak dengan seringai licik diwajahnya dan terlihat begitu mengerikan. Mereka baru saja melakukan kesepakatan bersama untuk menghancurkan Alfhat bersama istrinya.


Bersiaplah wanita tua, tidak lama lagi kamu akan mati ditangan tuan muda Lucas. Aku sungguh tidak sabaran melihat mayat mu membusuk. Batin Vivian menyeringai licik.


*


*


*


Di kediaman Alfhat....


Dua pelayan terlihat keluar dari kamar Etha, mereka baru saja diminta untuk mengganti pakaian Etha dengan piyama tidur. Pasalnya Etha tidak kunjung bangun dan malah tertidur pulas, padahal Alfhat berusaha untuk membangunkannya.


Tak tega melihat wanita tua itu tidur mengenakan gaun dan hijab yang masih membungkus kepalanya, dia pun meminta kepada pelayannya untuk menggantikan pakaiannya. Setelah memastikan pelayan itu keluar dari kamar Etha, barulah dirinya melangkah masuk ke dalam kamar Etha.


Alfhat dengan sangat hati-hati menutup pintu kamar Etha lalu menguncinya. Pandangannya langsung dialihkan ke arah ranjang, dimana Etha sudah terlelap di bawah selimut.


Alfhat mendekat ke arah ranjang lalu ikut berbaring di sampingnya. Ditatapnya lekat-lekat wajah wanita yang selalu dia ejek itu dengan sebutan wanita tua.


Hingga perlahan tangannya menyentuh pipi Etha lalu mengelusnya dengan lembut, agar tidak membangunkannya.


Alfhat mendekatkan wajahnya ke wajah Etha, lalu mendaratkan ciuman di kening Etha.


"Selamat malam, mimpilah yang indah." ucapnya tersenyum tipis lalu memeluk tubuh Etha.


Sontak Etha balas memeluknya, hingga membuat Alfhat terkekeh kecil dengan tingkah Etha yang dianggap sangat menggemaskan.


***


Tepat pukul empat pagi, Etha terbangun dari tidurnya. Dia pun mendapati dirinya tengah dipeluk seseorang saat merasakan tangan kekar melingkar di perutnya.


Etha menoleh ke samping hingga dia mampu melihat dengan jelas sosok pria yang sedang memeluknya. Etha kembali mengumpulkan kesadarannya mengingat kejadian semalam, hingga dia terlonjat kaget saat melihat pakaiannya sudah berganti piyama tidur.


"Ya Allah, apa yang terjadi semalam, jangan-jangan dia berbuat..." Etha langsung menutup mulutnya dan kembali mengubah posisinya menghadap ke arah Alfhat.


Etha dengan hati-hati menurunkan selimut yang membungkus tubuh Alfhat, hingga matanya membulat sempurna melihat penampilan pria itu hanya bertelanjang dada dan memakai boxer.


Dengan geram Etha mengangkat tangannya untuk memukul wajah Alfhat namun tiba-tiba saja pria itu langsung memeluknya dengan erat, hingga membuat posisi Etha sedikit terdorong dan semakin dekat dengan tubuh Alfhat, di tambah kedua kaki Alfhat melingkar sempurna di tubuh Etha. Hingga membuat Etha susah untuk bergerak karena sekarang dirinya dijadikan guling oleh pria itu.

__ADS_1


"Hei, aku kesulitan untuk bernafas. Kamu bisa membunuhku jika posisi kita seperti ini." oceh Etha berusaha lepas dari belitan tubuh kekar sang suami.


Sementara Alfhat dengan mata terpejam, tiba-tiba saja sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. Cukup lama Etha berusaha untuk lepas dari belitan Alfhat, hingga dia bisa bernafas lega saat berhasil lepas dari belitan Alfhat dan bergerak cepat turun dari ranjang.


Etha masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama, dia sudah terlihat segar mengenakan jubah mandi, lalu melangkah ke ruang ganti untuk mengenakan pakaiannya.


Kini Etha melaksanakan sholat subuh seorang diri. Dia begitu berharap sang suami menjadi imam sholatnya. Selesai melaksanakan sholat subuh, Etha masih setia duduk di atas sajadah dan tak henti-hentinya memanjatkan doa untuk dirinya, sang suami dan keluarganya.


Cukup lama Etha memanjatkan doa kepada Allah SWT, hingga air matanya berderai, semoga Allah SWT mengabulkan segala hajat dan doa-doanya selama ini.


Selesai menjalankan ibadahnya, Etha memutuskan ke dapur untuk membuat sarapan. Kebetulan hari ini hari libur, dia ingin berkuda mengelilingi halaman rumah Alfhat yang super luas.


Sementara Alfhat baru saja bangun saat sinar mentari pagi dengan luasannya masuk melalui celah jendela kamar yang mampu mengganggu tidurnya.


Alfhat bangun dan memilih bersandar di kepala ranjang, dia mengulurkan tangannya mengambil segelas air putih yang selalu tersedia di atas nakas, lalu meneguknya cepat.


Setiap pagi dia selalu ditinggal oleh teman tidurnya dan hanya seorang diri menempati ranjang. Dia tidak pernah lagi menemukan Etha tidur di sampingnya, karena wanita itu disibukkan dengan aktivitasnya.


Kebetulan hari ini hari libur, dia berencana untuk mengajak Etha untuk meninjau langsung lokasi pembangunan proyek apartemen.


Alfhat melirik ponselnya yang berdering di atas nakas, dia paham betul siapa yang meneleponnya sepagi ini.


"Kami sudah menangkap dua orang yang mengikuti anda semalam. Sekarang mereka berada di markas, anggota The Posse sedang memukulinya untuk membuatnya buka suara. Namun mereka tak kunjung buka suara, sepertinya dia begitu takut kepada bosnya, tuan." Ucap Richard di ujung telepon.


"Terus siksa mereka sampai buka suara, jika belum berhasil, maka libatkan saja keluarga terdekatnya." ucap Alfhat dingin.


"Baik tuan." ucap Richard di ujung telepon dan Alfhat langsung memutuskan panggilannya secara sepihak.


Alfhat bergegas turun dari ranjang, dia akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bersiap-siap ke lokasi proyek. Namun langkahnya terhenti melihat banyaknya kertas yang tertempel di dinding, persis sebuah pengumuman.


Alfhat langsung mengambil kertas yang tertempel di dinding lalu membacanya dengan seksama hingga matanya membulat sempurna. Yang tercantum dalam kertas tersebut merupakan persyaratan yang dibuat oleh Etha dan ditujukan kepadanya.


"Etha Putri Mayer!!!" Suara Alfhat menggelegar menyebut nama lengkap Etha, membuat sang empunya yang sedang sarapan sampai tersedak dibuatnya.


Bersambung....


Jangan lupa, like, love, komen, hadiah dan vote ya teman-teman 🤗


terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2