
"Mama." Etha langsung berhambur memeluk ibunya dan ibunya dengan penuh kasih sayang membalas pelukannya. Mereka pun saling melepas rindu.
Alfhat hanya mampu tersenyum melihat Etha sedang melepas rindu bersama kedua orang tuanya. Sungguh dirinya pun merindukan sosok almarhum kedua orang tuanya.
"Selagi aku bisa membahagiakanmu sayang, dengan semampuku aku akan terus membuatmu bahagia." ucap Alfhat tersenyum dengan mata berkaca-kaca yang juga ikut terharu menyaksikan mereka sedang melepas rindu.
Kemudian Alfhat melangkah mendekat ke arah mereka. Tuan David langsung menundukkan pandangannya melihat Alfhat menghampirinya.
"Assalamualaikum, Papa." ucap Alfhat sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami tangan ayah mertuanya.
"Wa-waaalaikumsalam." Tuan David terbata-bata menjawab salamnya dan terlihat ragu untuk menyalami tangan Alfhat. Pria paruh baya itu tidak menyangka menantunya memanggilnya dengan sebutan Papa.
Alfhat hanya mampu menghela nafas lalu memeluk tuan David. Seketika pria paruh baya itu terkejut dengan perubahan sikap menantunya.
"Selamat datang di kediamanku. Aku senang Papa dan Mama masih berkenan untuk datang berkunjung ke kediamanku." ucap Alfhat lalu melepaskan pelukannya.
Tuan David hanya mampu terheran-heran tanpa menggubris ucapan dari Alfhat.
"Sayang, persilahkan Papa dan Mama mu masuk ke dalam rumah." ucap Alfhat dengan tatapan hangatnya. Alfhat tersenyum menatap Etha masih bergelayut manja di lengan ibunya.
"Iya." timpal Etha menggangguk. Kemudian Etha membawa kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.
Tampak Tuan Davin dan Nyonya Lexa berjalan bersama-sama sambil menggandeng tangan putrinya, seolah mereka sedang menjaga putrinya dari menantunya.
"Silahkan duduk Papa, Mama" ucap Alfhat dengan ramahnya mempersilahkan mertuanya duduk di sofa.
Tanpa menimpali ucapan Alfhat, tuan David dan Nyonya Lexa lekas duduk di sofa. Ketika Etha akan duduk di samping ibunya dengan cepat Alfhat menarik tangan Etha hingga membuat tubuh Etha langsung terjatuh di atas pangkuan Alfhat.
"Sayang, kamu sungguh tidak ingin jauh dariku ya." goda Alfhat memamerkan senyum liciknya sembari merangkul pinggang Etha.
Sementara Tuan David dan Nyonya Lexa sempat saling pandang hingga mereka kompak manggut-manggut, seolah mereka dapat melihat perubahan yang terjadi pada hubungan pernikahan putrinya. Perlahan mereka mulai membuang jauh-jauh segala keraguan dari dalam dirinya.
Karena selama ini mereka mengetahui hubungan Etha dengan Alfhat tidak baik-baik saja. Bagaimana tidak, putrinya terpaksa menikah dengan pria itu karena sebuah hutang. Hal itu menjadi sebuah ujian yang harus dialami oleh putrinya diawal-awal pernikahan.
Tidak mudah membina rumah tangga bagi pasangan yang belum saling mengenal dan bisa dikatakan mereka menikah tanpa cinta. Dan hal itu begitu sulit dalam menjalaninya, seperti itulah yang tengah dialami oleh putrinya.
__ADS_1
Mereka sebagai orang tua tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya mampu mendoakan yang terbaik untuk putrinya. Karena pada dasarnya setiap pasangan memiliki ujian pernikahan yang berbeda-beda dan hal itu wajar-wajar saja sering dialami oleh setiap pasangan yang sudah berumah tangga.
Namun mereka percaya seiring berjalannya waktu, pasti sebuah keajaiban akan datang menghampiri rumah tangga putrinya. Dan benar saja tidak membutuhkan waktu yang lama, perlahan hubungan rumah tangga putrinya mulai membaik dan mereka mengetahui kabar baik tersebut dari Dilan, putranya. Namun mereka belum sepenuhnya percaya jika tidak melihat secara langsung.
"Turunkan aku, kamu tidak lihat kita sedang bersama Papa dan Mamaku." ucap Etha dengan suara berbisik.
"Tidak, katakan sesuatu terlebih dahulu sebelum aku menurunkanmu." ucap Alfhat menyeringai.
"Baiklah. Aku mencintaimu, suamiku. Dengar itu, aku sudah mengatakannya, jadi turunkan aku cepat." ucap Etha dengan mata melotot.
"Iya iya...aku akan menurunkanmu." ucap Alfhat tersenyum tipis lalu melepaskan rangkulan kedua tangannya. Kemudian Etha lekas turun dari pangkuannya lalu duduk di samping ibunya.
Etha sangat-sangat merindukan kedua orang tuanya. Dia pun ingin terus bermanja-manja bersama ayah dan ibunya. Dia bahkan tidak bisa menggambarkan perasaannya seperti apa yang jelas dia sangat bahagia bisa bertemu dengan kedua orang tuanya.
Para pelayan mulai menghidangkan minuman beserta cemilan di atas meja. Setelah itu mereka undur diri ke belakang.
"Silahkan diminum Papa, Mama." ucap Alfhat dengan ramahnya seolah sedang cari muka dihadapan mertuanya. Dia lebih banyak bicara dibandingkan dengan Etha.
Tuan David menggangguk cepat menanggapi ucapan Alfhat. Sedangkan Nyonya Lexa diam tanpa ekspresi, seolah tatapannya tidak bersahabat menatap kearah Alfhat.
Mereka pun saling mengobrol disuguhkan teh hangat. Alfhat selalu saja mendapatkan tatapan intimidasi dari Nyonya Lexa. Karena setiap kali bertemu pandang dengan ibu mertuanya tampak jelas ibu mertuanya menatapnya dengan tatapan dingin. Sepertinya ibu mertuanya tidak menyukainya. Bagaimana tidak, dia pernah menginjak-injak keluarga istrinya.
"Aku ingin berbicara empat mata kepadamu, tuan Alfhat." ucap Tuan David dengan serius.
"Panggil Alfhat saja. Tidak perlu memanggilku dengan sebutan formal." ucap Alfhat melontarkan kata protes. "Kebetulan sekali, aku juga ingin membicarakan hal penting kepada anda." ucap Alfhat sopan dan terlihat begitu serius.
"Kalau begitu, kita ke dapur saja, Mama." ajak Etha antusias. Pasalnya dia pun ingin bercerita kepada ibunya. Lama tidak bertemu banyak hal yang harus dia ceritakan kepada ibunya.
Maklum Etha lebih dekat dengan ibunya, jika dia mendapatkan masalah terkadang ibunya yang menjadi teman curhatnya. Bahkan mereka seperti seorang sahabat karib.
"Ayo sayang." ucap Nyonya Lexa tersenyum hangat.
Etha langsung menggandeng tangan ibunya dan segera membawanya ke dapur. Sementara Alfhat mengajak ayah mertuanya ke ruang kerjanya.
Kini Alfhat dan tuan David duduk berhadapan dan hanya terhalang oleh meja. Mereka terlihat begitu serius.
__ADS_1
"Apa yang ingin anda bicarakan kepadaku?" tanya Alfhat.
"Perihal putriku. Banyak hal yang harus aku tanyakan kepadamu." ucap tuan David serius.
"Katakan saja, aku akan siap menjawab segala pertanyaan anda." ucap Alfhat.
"Baiklah. Katakan dengan jujur, apa kamu mencintai putriku?" ucap tuan David dengan entengnya.
"Aku sangat mencintainya! aku bahkan rela berkorban untuk bisa membahagiakannya." ucap Alfhat dengan jujur dari lubuk hatinya yang terdalam.
"Apa ucapanmu itu bisa dipercaya?" tanya tuan David dengan tegasnya, bahkan sorot matanya begitu tajam. Sekarang dia harus memperjuangkan kebahagiaan putrinya, bahkan dia rela kehilangan segalanya.
Alfhat tersenyum kecil, tidak biasanya dia melihat tuan David seserius ini. Dan menurutnya gaya bicara ayah mertuanya hampir mirip dengan gaya bicara istrinya. Ternyata ayah dan anak memiliki kemiripan untuk gaya bicaranya.
"Insyaallah, aku akan terus membuktikannya. Bahwa aku sangat-sangat mencintai putrimu. Mohon maaf aku pernah berbuat kesalahan kepada keluarga anda. Dan aku baru menyadarinya setelah mengenal lebih dekat putrimu." ucap Alfhat dengan penuh keyakinan dan terlihat begitu serius.
Tuan David menghela nafas, dia belum sepenuhnya percaya dengan ucapan Alfhat.
"Kita tidak tahu seperti apa kedepannya. Terkadang masalah selalu datang silih berganti menerpa rumah tangga setiap orang hingga akhirnya bisa memecah belah dan berujung perceraian. Jika dimasa depan kamu menyakiti putriku, langkah apa yang akan kamu ambil? apakah kamu akan siap melepaskannya atau malah menyakitinya terus menerus dengan membiarkannya tetap berada di sisimu?" tanya tuan David panjang lebar.
Deg!
Alfhat langsung terhentak mendengar ucapan tuan David. Bisa-bisa tuan David melontarkan pertanyaan seperti itu.
"Aku berjanji tidak akan pernah menyakitinya. Aku akan berusaha keras untuk terus mempertahankan rumah tangga kami, walaupun badai datang silih berganti menerpa hubungan rumah tangga kami. Aku bersungguh-sungguh ingin membina rumah tangga yang bahagia, memiliki anak yang sholeh dan sholehah, itulah yang menjadi impianku saat ini" jawab Alfhat dengan entengnya.
Tuan David langsung bangkit dari duduknya, sontak Alfhat ikut bangkit berdiri. Tanpa basa-basi tuan David bergerak memeluk menantunya.
"Mulai sekarang, putriku menjadi tanggungjawabmu, jaga dia dengan baik dan jangan sekali-kali menyakitinya." ucap tuan David dengan mata berkaca-kaca sambil menepuk punggung Alfhat. Lewat jawaban dari Alfhat, dia percaya bahwa Alfhat bisa menjaga dan membahagiakan putrinya.
"Tentu, Papa. Insyaallah aku akan terus membahagiakannya selama aku masih bernafas." timpal Alfhat.
Tuan David mengangguk mendengar ucapannya, lalu mulai melepaskan pelukannya.
"Sekarang hal penting apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku." ucap tuan David.
__ADS_1
"Aku ingin menebus kesalahanku di masa lalu. Untuk itu, aku ingin mengadakan pesta pernikahan kami. Walaupun begitu terlambat, tapi aku ingin membuat istriku bahagia. Aku tidak ingin lagi merahasiakan pernikahan kami, aku ingin semua orang tahu bahwa akulah yang sudah menikahi putrimu." ucap Alfhat bersungguh-sungguh.
Bersambung....