
"Kenapa kamu datang kemari, bukankah aku memintamu untuk tidak menemuiku sebelum hasil tes DNA nya keluar. Aku yakin kamu bahkan belum melakukan tes DNA terhadap...." Etha tidak melanjutkan ucapannya karena dipotong oleh Alfhat.
"Maaf sayang, tolong jangan membahas masalah itu. Mulai sekarang kesehatanmu bersama janin di dalam perutmu yang jauh lebih penting dibandingkan yang lainnya." ucap Alfhat dengan tatapan hangatnya sambil mengelus pipi kanan Etha.
"Tapi, aku tidak ingin....." Alfhat kembali menarik tubuh Etha masuk ke dalam pelukannya, membuat Etha memilih diam sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alfhat. Wanita berhijab itu sungguh merindukan aroma tubuh sang suami.
"Tolong percayalah, aku sudah mengatasinya sayang. Aku sama sekali tidak menghamilinya. Anak yang dikandung oleh Vivian adalah anak Hans. Vivian bekerjasama dengan seorang Dokter untuk memanipulasi tes DNA nya. Sekarang Dokter yang bekerjasama dengan Vivian sudah diamankan oleh pihak kepolisian. Karena rupanya Dokter tersebut merugikan pasiennya, termasuk memanipulasi data-datanya dan diduga melakukan malpraktik. Jadi sekali lagi aku mohon, tolong percaya kepadaku, sayang" ucap Alfhat sambil mengelus punggung istrinya.
"Iya aku percaya kepadamu, mas. Tapi, kamu tidak membunuh...."
"Aku tidak membunuh Vivian, wanita itu sudah mendapatkan karmanya." potong Alfhat cepat.
Seketika Etha merasakan perasaan lega mendengar tutur kata sang suami. Dia hanya tidak ingin sang suami melanggar janjinya
"Aku sangat mencintaimu sayang." ucap Alfhat lalu mencium puncak kepala istrinya.
"Aku juga sangat mencintaimu, mas." ucap Etha tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Mereka larut dalam suasana melepas rindu yang teramat berat mereka rasakan akhir-akhir ini. Walau belum lama berpisah, namun mereka seolah berpisah berbulan-bulan lamanya.
Cobaan yang datang tiba-tiba dalam kehidupan rumah tangga setiap pasangan terkadang meruntuhkan kepercayaan masing-masing pasangan. Kesalahpahaman, hingga membuat hubungan keduanya semakin renggang dan berakibat fatal jika mereka memutuskan untuk berpisah.
*
*
*
Hari terus berlalu hingga bulan terus berganti. Tak terasa kehamilan Etha sudah memasuki usia tujuh bulan. Sementara itu, pihak keluarga begitu antusias mempersiapkan acara tujuh bulanan atau biasa disebut juga dengan baby shower.
Baby shower adalah pesta kecil yang diadakan untuk calon ibu dan sang bayi, dimana pesta tersebut identik pemberian hadiah untuk calon ibu dan biasanya hadiahnya berupa perlengkapan bayi.
__ADS_1
Hanya kerabat terdekat yang diundang dalam acara tujuh bulanan yang akan di gelar di kediaman tuan David. Pasalnya semenjak usia kehamilan Etha memasuki lima bulan, Etha memutuskan untuk tinggal di kediaman orang tuanya dan Alfhat hanya mampu menuruti keinginan Etha.
Tampak Alfhat membantu Etha bersiap-siap, karena acaranya tidak lama lagi akan dimulai. Terlihat Etha sudah kesulitan untuk memakai pakaiannya mengingat perutnya yang membesar persis orang yang mau lahiran.
Bergerak saja ataupun berjalan disekitarnya sudah membuatnya lelah dengan pinggang terasa sakit, sehingga Alfhat harus ekstra siaga menjaganya dan akan selalu menuntunnya berjalan.
Bagaimana tidak, saat ini Etha tengah mengandung bayi kembar, dimana bayi kembarnya berjumlah tiga bayi sekaligus. Terdapat tiga calon bayinya di dalam perutnya, otomatis perutnya sudah membuncit dan membesar persis mau lahiran, padahal usia kandungannya masih tujuh bulan.
Untuk itu, Alfhat begitu siaga menjaga istrinya dan selalu mendoakan kelancaran persalinan istrinya, serta tak henti-hentinya memberikan semangat kepada istrinya atas perjuangannya terhadap anak-anaknya.
"Acaranya belum juga dimulai, sayang. Pelan-pelan saja memakainya." ucap Alfhat membantu Etha memakai gaun muslimah.
"Hufff, aku pikir gaunnya tidak cocok." ucap Etha yang merasa lega ketika berhasil memakai gaunnya berkat bantuan sang suami. Karena bobot tubuhnya naik drastis membuatnya merasa ragu untuk memakai gaun muslimah khusus ibu hamil hasil rancangannya sendiri.
"Pasti lah cocok, bukankah kamu sendiri yang sudah merancangnya, sayang." ucap Alfhat tersenyum tipis sambil mengelus lembut perut buncit istrinya.
"Oh iya ya, aku mulai lupa." ucap Etha tersenyum merekah membuat Alfhat langsung mengecup pipinya.
"Itu hadiah pembuka. Hadiah utamanya setelah acara selesai," ucap Alfhat tersenyum menggoda sambil mengelus perut buncit istrinya.
"Jangan bilang kalau kamu ingin..."
"Aku juga ingin merayakan baby moon bersamamu, bagaimana sayang?" ucap Alfhat sambil mengedipkan matanya, membuat Etha langsung mencubit perutnya.
"Aawww, bumil tidak boleh marah-marah." ucap Alfhat tertawa kecil, membuat Etha semakin kesal mencubitnya.
"Ya ampun, kalian masih betah di kamar. Sementara acaranya sudah mau dimulai. Ayo lah sayang pasang hijabmu" ucap Nyonya Lexa yang tiba-tiba muncul menghampiri mereka.
"Baik Mama." ucap Etha tersenyum, kemudian mengambil hijabnya yang disampirkan di sandaran kursi lalu memakainya.
Setelah itu, mereka berjalan bersama-sama ke taman belakang, tempat acara tujuh bulanan di gelar dengan tema outdoor. Taman sudah di sulap seindah mungkin untuk menambah kesan meriah acara tujuh bulanan tersebut.
__ADS_1
Rangkaian bunga mawar putih tampak indah sebagai backgroundnya. Balon berwarna putih dan biru juga tampak bergelantungan indah beserta lampu LED. Meja kayu berukuran besar berada di tengah-tengah taman, di atas meja tersebut sudah terhidang makanan dan minuman serta kue tart berbentuk rumah tiga lantai yang tampak manis untuk dipandang. Satu lagi meja berukuran sederhana di atasnya sudah terdapat kado untuk calon ibu dan bayinya.
Keluarga Alexander sudah berkumpul di sana dan begitu antusias dengan acara baby shower tersebut. Pemuka agama dan anak yatim dari panti asuhan milik Nyonya Lexa juga turut hadir dalam acara tersebut. Mereka akan mendoakan kelancaran proses persalinan Etha kedepannya.
Tak berselang lama kemudian, sosok orang yang ditunggu-tunggu kedatangannya akhirnya muncul juga, yakni Etha dan Alfhat. Dimana Etha di dampingi oleh sang suami dan juga ibunya. Seketika semua orang mengalihkan pandangannya ke arah pasangan suami istri itu.
Karena sosok yang ditunggu kedatangannya sudah berada di tengah-tengah acara dan dirasa sudah lengkap, acara tujuh bulanan pun di mulai.
Singkat cerita, acara tujuh bulanan Etha berjalan dengan lancar. Seluruh keluarga tampak bahagia dan turut mendoakan kelancaran persalinan Etha.
Namun berbeda halnya dengan Etha yang terlihat cemas dan was-was. Karena beberapa kali Etha merasakan mules dan pinggangnya terasa sakit layaknya patah.
Sesekali Etha meringis kesakitan sambil mengelus perut buncitnya dengan gerakan lembut. Itu ia lakukan untuk mengurangi rasa sakitnya. Namun usahanya tidak berhasil.
Alfhat yang melihat Etha hanya diam sepanjang acara tadi berlangsung merasa aneh dengan tingkah Etha. Ditambah sekarang raut wajah Etha terlihat berubah dan ia mampu mendengar rintihan kesakitan yang tengah dialami oleh Etha.
"Sayang, kita duduk dulu." ucap Alfhat yang merasa aneh dengan gelagat istrinya, tangannya dengan sigap menarik kursi di sampingnya lalu membantu istrinya duduk di kursi. "Sayang katakan mana yang sakit?" tanya Alfhat khawatir sambil berjongkok di hadapan istrinya.
Etha hanya diam yang sedang bersandar di sandaran kursi. Dia mencoba tenang sambil mengatur nafasnya. Tidak mungkin jika dia akan lahiran saat ini juga, pikirnya.
"Aaaaaa...perutku sakit, mas....aaakkhh" teriak Etha kesakitan sambil mencengkram lengan Alfhat. Baru kali ini dia merasakan kesakitan yang amat luar biasa.
"Tenang sayang." ucap Alfhat panik dan tidak tahu harus melakukan apa.
Sontak Nyonya Lexa dan Nyonya Ziva yang mendengar teriakannya langsung bergerak menghampirinya. Lagi-lagi Etha berteriak histeris kesakitan yang sudah mengalami kontraksi mendadak. Alfhat mulai panik melihat kondisi istrinya.
"Mama, perut Etha sakit." ucap Alfhat panik.
"Sepertinya Etha mau lahiran" timpal Nyonya Lexa dengan peraduganya dan menyakini putrinya akan lahiran.
"Lahiran?" Alfhat terbelalak kaget mendengar ucapan ibu mertuanya. Jantung Alfhat langsung memompa lebih cepat mendengar kata lahiran.
__ADS_1