
Happy reading ya 🤓
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
# Alur Masa Lalu 🥰
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tidak apa apa. Mira mengerti dan sadar bahwa abi juga manusia biasa yang bisa saja setiap saat melakukan kesalahan. Lagipula ini juga bukan salah abi sendiri. Kalau dicari kebenarannya, Mira juga salah karena Mira tidak bisa berada didekat abi. Wajar saja jika abi juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang wanita"
Tulis Mira di pesan yang dikirimnya pada Yudha tepat seminggu sebelum kepulangannya.
"Tugas Mira hanya harus memaafkan abi dan selalu mengingatkan agar kejadian serupa tak terulang lagi. Dan tugas abi adalah merubah diri menjadi lebih baik lagi. Abi harus ingat bahwa abi itu calon imam Mira. Kita hanya tinggal beberapa langkah saja abi."
Zamira begitu mahir menyusun kata demi kata dengan penuh kerendahan hati dan membuka pintu maaf selebar lebarnya bagi Yudha. Mira berharap besar dan yakin Yudha akan berubah.
"Mira,,,, hati Mira ini sebenarnya terbuat dari apa?? Bagaimana bisa Mira memaafkan abi setelah kesalahan yang abi perbuat?? Apa Mira yakin dengan semua yang Mira katakan ini?" Yudha sadar diri dan meminta Miira memikirkannya lagi.
"Inshaallah Mira yakin dengan apa yang Mira katakan abi." Jawab Mira.
Yudha terhenyak. Wanita itu sungguh berbeda dengan wanita wanita yang dikenalnya dulu.
"Abi mohon Mira maafkan abi ya,,, Abi janji pada Mira tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi." kata Yudha.
"Jangan janji sama Mira abi,,, berjanjilah pada tuhan dan diri abi sendiri." jawab Mira.
Mira lega begitupun Yudha. Beban yang menghimpit di dada mereka selama beberapa terakhir ini mendadak lenyap seiring dengan membaiknya hubungan mereka.
Seminggu lagi mereka pun akan bertemu untuk pertama kalinya.
Mira sudah memberitahu segala sesuatu tentang Yudha pada ibunya. Ibunya mengkhawatirkan dirinya yang menjalin hubungan LDR seperti ini. Walau kekhawatiran ibunya lucu menurut mereka berdua.
"Apa kamu yakin kedua kakinya utuh Mira? Tidak pincang? Tidak cacat? Ibu tidak mau seperti bibimu dulu yang tiba tiba menikahkan sepupumu dan pingsan saat melihat calon menantunya yang jauh sekali berbeda dengan foto yang selama ini dikirimkannya.Sepupumu itu kan sama sepertimu ini Mira. Mereka hanya berkenalan lewat medsos."
Ibunya panjang lebar mengutarakan kekhawatirannya pada Mira saat dia menelponnya. Mira tertawa tertahan sebelum menjawab ibunya.
"Mira yakin bu,,, Coba ibu pikirkan. Mana mungkin hotel sekelas Dubai mau menerima karyawan yang kakinya cacat???" Mira berusaha menenangkan ibunya.
__ADS_1
"Yaa siapa tau saja dulu dirinya membayar mahal agar bisa diterima bekerja disana." Bantah ibunya.
Mira kembali tertawa mendengar perkataan ibunya.
"Sudah ibu tidak usah khawatir begitu,,, Abi sehat dan normal bu. Mira yakin itu." Mira kembali menegaskan agar ibunya bisa berpikir positif.
"Baiklah Mira ibu percaya padamu,,,, semoga saja ibu tidak pingsan nantinya." Ibunya masih saja membuat Zamira tertawa geli.
Dan Hari pertemuan pun tiba.
Mira berdiri di bandara kedatangan internasional dengan hati berdebar debar. Dirinya sengaja datang lebih awal agar bisa mempersiapkan hatinya menyambut Yudha yang sama sekali belum pernah ditemuinya.
"Mira jangan canggung saat kita bertemu,,,, Sambut abi selayaknya seorang istri menyambut kedatangan suaminya." Pinta Yudha.
"Abi tau aja kalau Mira grogi." Canda Mira.
"Tuh kan,,,, Baru juga abi selesai bicara sudah langsung ngaku kalau grogi." Goda Yudha.
"Abi pakai jaket warna putih Mira."
Pesan terakhir yang Yudha kirimkan pada Mira sebelum dirinya diminta menonaktifkan ponsel saat di pesawat.
Mira pikir pasti juga butuh waktu untuk Yudha menunggu barang bawaan penumpang dikeluarkan. Para penjemput pun semakin banyak yang berdesakan. beberapa diantara mereka membawa papan atau kertas yang bertuliskan nama orang yang mereka jemput.
"Apa aku bisa mengenalinya???" Mira merasa ragu.
Diambilnya ponselnya dan membuka foto yang Yudha kirimkan sesaat sebelum masuk ke pesawat tadi.
Mira menghela napasnya dalam dalam sebelum menyelipkan tubuhnya diantara para kerumunan penjemput begitu melihat ada celah kosong. Tak sampai sepuluh menit menunggu Mira pun melihat pria dengan jaket putih terikat di pinggangnya.
"Itu pasti abi." Batinnya.
Mira melambaikan tangannya saat Yudha memandang ke arahnya. Rupanya Yudha pun langsung bisa mengenalinya dan berlari kecil ke arahnya. Diletakkannya kopernya dan langsung memeluk Mira erat.
"Maafkan Abi Mira,,, Untuk semua kesalahan yang pernah abi lakukan pada Mira." ucap Yudha yang memang berniat akan meminta maaf langsung pada Mira.
Zamira melepaskan dirinya dari pelukan Yudha.
__ADS_1
"Maaf abi,,,bukannya kita belum boleh bersentuhan??? Seperti yang abi ajarkan pada Mira." Ucapnya lembut.
Yudha merasa malu saat itu karena nyatanya dirinya hanya bisa mengajari teori saja pada Mira namun pada prakteknya pun Yudha masih belum benar.
"Maafkan abi Mira,,, Abi terlalu senang bertemu denganmu. Sudah lama abi ingin memandang wajahmu seperti ini. Tapi abi harus sabar dulu sampai kita sah jadi suami istri nantinya." Ucap Yudha yang langsung disambut senyum Mira.
Mereka pun menuju ke sebuah restoran yang tersedia di bandara itu untuk sekedar duduk dan berbincang sebentar. Yudha merasa pusing setelah cukup lama berada di pesawat.
"Mira." Panggil Yudha.
"Ada apa abi?" Tanya Mira lembut.
"Apa Mira tidak menyesal setelah melihat diri abi yang hanya seperti ini?" Tanya Yudha.
Zamira tersenyum manis.
"Bagaimana jika pertanyaan yang sama itu Mira lontarkan pada abi?" Tanyanya balik.
"Kamu terlalu sempurna untuk abi sesali Mira." Sahut Yudha dengan jujur.
Tidak mungkin Yudha menyesali pertemuan mereka begitu melihat pemilik hati yang selama ini menunggunya selain baik dan taat padanya ternyata jauh lebih cantik jika dilihat langsung seperti ini.
"Mira belum jawab pertanyaan abi tadi." Ucap Yudha mengingatkan Mira yang belum mengatakan apa yang dirasakannya setelah melihat Yudha langsung.
"Mira mencintai abi bukan dari paras atau wajah abi,,,, Mira mencintai abi karena abi telah hadir dan membawa Mira semakin dekat pada Rabb kita,,, Jadi abi tidak perlu lagi menanyakan apakah Mira menyesal atau tidak." Ucapnya lembut namun sangat mantap.
"Alhamdulillah,,,, Terima kasih ya Rabb telah begitu baik mengirimkan bidadari ini untukku." Batin Yudha.
Setelah cukup lama beristirahat dan merasa jauh lebih baik, mereka pun meninggalkan bandara setelah memesan taksi terlebih dulu. Yudha akan langsung menemui ibu Mira dirumahnya.
Mengingat waktu cuti yang hanya sebulan,,, Yudha tak ingin bersantai santai dan menyia nyiakan waktu yang ada untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan persiapan pernikahan mereka.
"Rasanya tak sabar untuk segera menghalalkan hubunganku dengan Mira." batin Yudha.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
__ADS_1
Terima kasih 💞