BIDADARI YANG KU SAKITI 2

BIDADARI YANG KU SAKITI 2
Gelisah


__ADS_3

Selamat membaca 🌸


Maaf banyak typo 🙏


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌸


Mira gelisah pagi ini karena sejak semalam Dave tidak bisa dihubungi. Bahkan hingga pagi ini masih tetap sama.


"Tidak biasanya Dave seperti ini,,, Ada apa ya?? Padahal ada ingin mengingatkan dia bahwa ada meeting penting hari ini di kantor pak Yohannes." gumam Mira.


Mira kembali mencoba untuk menghubungi Dave.


"Nomer yang anda tuju, sedang berada di luar jangkauan."


Kembali hanya suara operator yang terdengar dan itu membuat Mira makin gelisah. Berkali kali dihembuskannya nafasnya kasar.


"Ya Rabb,,, Semoga tidak terjadi apa apa pada Dave. Hamba mohon lindungilah dia." doa Mira.


Mira lantas memesan sebuah taksi online untuknya berangkat ke kantor. Setelah hampir empat tahun terakhir berangkat bersama Dave ke kantor,,, Pagi ini terasa sangat berbeda dan Mira merasa tidak bahagia karenanya.


Ada sesuatu yang hilang.


Mira menatap jalanan dengan pandangan kosong karena pikirannya jauh melayang pada sosok Dave. Pria yang telah mewarnai hari harinya selama empat tahun terakhir ini.


Mira tersenyum mengingat semua kenangan manisnya bersama Dave. Mengingat setiap perhatian dan sikap manis atasannya itu padanya. Hingga terakhir kali atasannya itu menyatakan perasaannya langsung dan kesanggupannya tetap mencintai dirinya meski dengan perbedaan yang ada.


Mira merasa tersanjung.


"Sudah sampai non,,," ucap sopir taksi.


Mira tergagap dan tersadar dari lamunannya.


"Oh iya,,, Terima kasih ya pak. Ini ongkosnya dan sisanya boleh bapak simpan." ucap Mira lembut.


"Terima kasih banyak non." ucap sopir taksi senang.


"Sama sama pak. Semoga rejeki bapak hari ini lancar ya." ucap Mira.


"Aamiin,,," sahut sopir taksi.


Mira memasuki halaman kantornya. Satpam di depan pintu memicingkan mata menangkap sosok Mira yang tumben hari ini dilihatnya berjalan kaki sendirian masuk ke halaman kantor.


"Pagi mbak Mira,,,Tumben sendirian." sapa satpam itu.


"Selamat pagi pak.". sahut Mira singkat tanpa menjawab atau menjelaskan alasan kesendiriannya pagi itu.


Ya bagaimana mau menjelaskan karena dirinya sendiri masih bingung dengan hari ini. Hari ini terasa berbeda tanpa adanya Dave. Mira langsung melangkah masuk saja tanpa mempedulikan satpam yang berharap mendapat penjelasan darinya.

__ADS_1


Di lobby kantor beberapa pasang mata pun menangkap kedatangannya dengan pandangan menyelidik. Mereka pun mulai berbisik bisik dan bergunjing.


"Pasti pak Dave yang tampan dan kaya raya itu sudah mencampakkannya."


"Tentu saja,,, lagipula apa istimewanya sih Mira itu? Sudah janda juga masih jaim menutup wajahnya begitu.Kan sama sekali tidak level sama penampilan bos kita yang berkelas."


"Ahh palingan juga wajahnya cacat. Cadar itu hanya dipakai kedok dan penyamaran saja. Tetap saja kelakuaanya buruk dan pastinya Mira yang merayu pak Dave."


"Baguslah ya kalau pak Dave sudah sadar bahwa Mira tidak pantas untuknya. Masih mendingan juga aku.Iya kan???"


"Kasihan sekarang dia sudah dicampakkan sama pak Dave."


"Syukurin sih,,, bukan kasihan. Gak tau diri sih. Sok cocok saja untuk pak Dave."


Mira yang masih berdiri menunggu lift bisa mendengar semua itu karena semakin dibiarkan mereka semakin memperbesar suaranya dan tidak lagi berbisik bisik.


"Astaghfirullah,,, Ya Rabb bukalah pintu maafMU bagi mereka yang membicarakan hal yang tidak benar tentangku. Ampuni mereka dan berikan mereka hidayah. Aamiin." Mira berdoa dalam hati.


Mira selalu begitu.


Mira memilih diam dan mendoakan para penggunjing itu. Mira juga langsung masuk ke lift begitu lift terbuka. Dadanya kembali terasa sesak mengingat biasanya selalu ada Dave yang menahan pintu lift dan memastikan Mira sudah masuk.


Dave akan banyak bicara dengannya dalam lift. Meski hanya membicarakan pekerjaan namun kebiasaan itu nyatanya bisa membuat Mira merasa merindukan pria itu pagi ini.


Mira berdebar ketika pintu lift terbuka dan dirinya telah tiba di lantai tempatnya dan Dave bekerja. Diletakkannya tasnya di mejanya. Mira lantas menuju ke pintu ruangan Dave.


Dibukanya perlahan pintu itu dengan besar harapan bahwa bisa melihat Dave dalam ruangan itu. Mata Mira kembali meredup karena tak melihat sosok yang dicarinya dalam ruangan itu.


"Di mana kamu sebenarnya Dave??" batin Mira sendu.


Mira lantas menutup kembali pintu itu setelah sebelumnya menyalakan AC di ruangan bosnya itu. Biasanya Mira tak melakukannya karena Dave sendiri yang melakukannya karen mereka datang bersamaan.


"Aku nyalakan saja dulu biar nanti Dave datang ruangan sudah dingin." batin Mira.


Mira lantas kembali ke mejanya sendiri dan menenangkan dirinya sejenak. Mira tidak memungkiri bahwa hari ini dia tidak bisa seluruhnya fokus.


"Bismillah,,, Ya Rabb,,, lancarkan segala urusan dan pekerjaan hamba hari ini. Aamiin." Mira mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Mira mulai bisa fokus dan mengerjakan tugas tugas hariannya.


Tiiingg,,,


Suara pintu lift terbuka. Mira langsung mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang. Matanya pun berbinar.


"Itu pasti Dave. Aku akan memarahinya karena membuatku khawatir sejak semalam." batin Mira.


Namun mata indah Mira kembali meredup sinarnya karena rupanya bukan sosok yang dirindukannya yang muncul dari lift itu.


"Selamat pagi Zamira,,," sapa Reno.

__ADS_1


"Selamat pagi pak Reno." jawab Mira pelan nyaris tak terdengar.


Reno mengerti dan sebenarnya senang melihat Mira seperti itu.


"Kok lemes gitu,,, Semangat dong. Masih pagi ini." tegur Reno.


Mira tergagap dan merasa bersalah karena dirinya tidak profesional. Dia memakai perasaannya yang tengah kalut saat jam kerja.


"Mm,,, Mmaaf pak Reno." ucapnya.


"Tidak apa apa Zamira. Ehmm boleh ku panggil Mira saja??" tanya Reno berusaha mengakrabkan diri.


Mira hanya mengangguk.


"Pak Reno apa ada janji temu dengan pak Dave??" tanya Mira.


Reno tertawa dalam hati mendengar Mira menyebut Dave dengan sebutan pak. Lucu tapi Reno bisa mengerti alasan Mira melakukannya.


"Tidak ada Mira. Justru aku kesini menggantikan Dave. Kamu pasti lupa ya kalau hari ini aku akan datang. Maaf ya kalau aku telat datangnya. Meeting ke kantor pak Yohannes masih sejam lagi dimulai kan??." cerocos Reno mulai sandiwaranya.


Mira melebarkan matanya mencoba memahami maksud perkataan Reno itu.


"Menggantikan??" tanyanya.


"Ya Mira,,, Bisa kita bicara di ruangan Dave saja biar lebih jelasnya??" ajak Reno.


Mira ragu tapi menurut saja meski dia merasa tidak nyaman berada di ruangan Dave berdua saja dengan Reno.


"Duduklah Mira." titah Reno.


Mira menurut.


"Jadi begini Mira. Dave mempercayakan perusahaan ini kepadaku sejak kemarin saat aku datang ke sini. Jadi kamu harus membiasakan diri untuk bekerja bersamaku. Aku akan berusaha sebaik baiknya bisa bekerjasama denganmu juga." ucap Reno.


"Tapi pak,,,"


"Aku tidak tau apa alasan pastinya Dave tiba tiba menyerahkan dan mempercayakan semuanya padaku. Kamu pasti tau kan apa alasannya?? Kamu kan sekretarisnya,,, Pasti dia sudah pernah membahasnya padamu." sela Reno sebelum Mira menyelesaikan ucapannya.


Mira menggeleng lemah mengetahui Dave pergi tanpa sepatah kata.


"Jadi kamu tidak tau??" tanya Reno.


Lagi lagi Mira menggeleng. Matanya makin meredup dan menyiratkan kesedihan mendalam. Reno menikmati semua pemandangan di depannya itu.


\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa vote, like dan komen yaa


Terima kasih 🌸

__ADS_1


__ADS_2