
Selamat membaca π€
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΊπΊπΊ
Hampir sejam terlibat rapat dengan pimpinan perusahaan kecil itu,,, Dave pun mengakhiri pertemuan mereka dengan saling berjabat tangan.
"Senang bekerjasama dengan anda" ucap Dave pada pak Yohannes,,, pimpinan perusahaan itu.
"Terima kasih pak Dave,,, telah menjadi rekanan bisnis yang baik untuk kami." sahut pak Yohannes.
Setelah cukup saling berbasa basi,,, Dave pun pamit. Mira tetap berjalan mengekor menuju ke dalam lift. Lift membawa mereka turun ke lantai di bawahnya saat kemudian ada yang menghentikan lift itu.
Seorang pria dengan wajah tertunduk lesu dan langkah gontai masuk dan menutup pintu lift tanpa mempedulikan dua orang yang sudah ada di dalam lift itu.
"Setelah ini ada jadwal apa aku Mira?? tanya Dave.
" Tidak ada Dave,,, kita bisa langsung kembali ke kantor saja." jawab Mira.
"Apa kita bisa langsung sekalian makan siang saja??" tanya Dave lagi.
"Boleh,,," jawab Mira lembut.
Pria yang sedari tadi menunduk itu memberanikan diri mengangkat wajahnya dan melihat pantulan kedua orang yang tengah berencana akan makan siang bersama itu di dinding lift.
Pria itu yakin sangat mengenal siapa pemilik suara wanita itu. Dan ketika matanya memandang pantulan di dinding itu ,,,, matanya bertemu dengan mata Mira.
"Abi??" batin Mira.
Yudha tak segera menyapanya karena ingin memastikan seperti apa wajah dan penampilan pria yang bersama Mira itu. Pria yang tadi disebut namanya oleh Mira.
"Dave,,, jadi ini pria itu Mira?? Pria yang membuatmu berpikir ulang sebelum menerima ajakan rujukku,,, Dia memang tampan dan berwibawa Mira,,, jauh berkelas dibanding denganku,,, tapi apa istimewanya pria yang tidak mengenal Rabbmu Mira???" batin Yudha kesal.
Yudha dan Mira memutuskan saling berdiam diri hingga pintu lift akhirnya terbuka.
"Permisi,,," ucap Dave pada Yudha yang tak juga bergerak meski pintu lift sudah terbuka.
Yudha tersadar dan melangkah keluar. Dia sempat melihat saat Dave mempersilahkan Mira untuk keluar lebih duly sementara Dave berdiri menghalangi pintu lift yang hendak menutup kembali.
Hati Yudha sakit melihat begitu baiknya Dave memperlakukan Mira. Sangat jauh dibanding dirinya dulu yang jelas jelas tidak berlaku baik pada Mira.
Ribuan penyesalan kembali menyeruak saat melihat Mira diperlakukan begitu baik oleh Dave. Yudha merasa malu saat merasa bahwa dirinya kalah dengan Dave.
__ADS_1
Pria yang seharusnya tidak bisa mengalahkan dirinya yang seiman dan tau apa saja yang Rasulullah lakukan pada istrinya.
Yudha bahkan merasa sangat sakit lagi karena Mira juga tidak menyapanya dan tetap mengikuti langkah kaki Dave yang membawanya keluar dari kantor itu.
"Seharusnya abi yang kamu ikuti Mira,,, bukan dia. Abi sungguh tidak rela pria itu membawamu pergi." batin Yudha saat kembali melihat Dave membukakan pintu mobilnya untuk Mira.
Keduanya pun menghilang dari pandangan mata Yudha. Mata Yudha terasa nanar oleh genangan airmata.
Dreeettt,,,,,
Ponsel Yudha bergetar dan menyadarkan Yudha untuk ssgera menghapus airmatanya begitu melihat nama Vera tertera di layar ponselnya.
"Ha,, halo Ver,,," ucap Yudha menjawab telpon itu.
"Kamu dimana sih mas?? Istri melahirkan dan sajit tapi kamu malah tidak ada. Ini di sini sudah ada ibumu. Cepat kesini,,, aku malas mengajaknya bicara." kata Vera.
"Husstt,,, nanti ibu dengar Vera." sahut Yudha yang tak ingin ibunya kembali berseteru dengan Vera.
"Dia sedang keluar,,, cepat kamu kesini." titah Vera langsung mematikan telponnya.
Yudha bingung. Hingga saat ini dirinya belum juga mendapatkan pinjaman uang. Dirinya tadi sudah bertemu bagian akunting dan mengajukan pinjaman dengan jaminan gajinya. Namun pihak akunting menolak karena alasan hutang cash bon Yudha bulan bulan sebelumnya belum lunas.
"Kemana lagi aku harus mencari pinjaman??" batin Yudha.
Yudha berjalan gontai menuju ke parkiran mobilnya. Dirinya sungguh sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Tuntutan ekonomi yang mendesak membuatnya kalut.
Sampai di parkiran klinik bersalin itu,, Yudha tak langsung keluar dari mobilnya. Yudha masih memikirkan dimana lagi dirinya bisa mendapat pinjaman.
Siapa lagi yang bisa membantunya saat ini,,,, selain Mira.
Mira,,
Nama itu tiba tiba terlintas dalam benak Yudha. Ya,,, Mira pasti mau membantunya. Mira pasti punya tabungan.
"Aku akan menemuinya malam ini di rumahnya" tekad Yudha tanpa berpikir panjang lagi dan tanpa rasa malu.
Yudha menuju ke ruangan tempat Vera di rawat. Tampak ibu mertuanya sudah ada di sana. Bu Ambar juga ada namun hanya duduk menonton tv di ruangan itu.
"Dari mana saja kamu mas?? Ini anakmu belum diadzani,,," tukas Vera yang menunjuk ke ranjang bayi.
Yudha menghampiri keranjang itu,,, dipandangnya wajah imut itu. Entah mengapa dia merasa bayi itu hanya mirip Vera. Yudha tak melihat adanya kemiripan dirinya dengan bayi itu.
Tapi Yudha tau bahwa bayi gampang berubah ubah wajah. Kadang mirip ayahnya,, kadang mirip ibunya,,, kadang juga mirip anggota keluarga lainnya.
__ADS_1
Digendongnya bayi itu lalu diadzaninya,,
Baru pertama kalinya dia mengadzani anaknya,,, dulusaat kelahiran Andara dirinya tidak menemani Sofia saat melahirkan karena sibuk bersama teman temannya.
Andara sendiri,,, kakeknya yang mengadzani. Yudha baru muncul ketika semua sudah selesai. Hal itu tentunya membuat Bu Merry mertuanya dulu sangat kesal padanya.
Puas menggendong dan memandangi wajah putranya, Yudha pun menidurkannya kembali di keranjang bayi.
"Apa kamu sudah punya nama untuk bayi kita mas??" tanya Vera.
Yudha mengangguk.
"Akan ku beri dia nama Vedha,,, singkatan dari nama kita Ver,,, Vera dan Yudha." sahut Yudha.
"Aku tidak suka nama itu mas,,, pakai nama lain saja.!!" ketus Vera.
"Kalau memang tidak suka dengan nama pilihan Yudha,, kenapa harus tanya sih???" bu Ambar tiba tiba menjawab dengan sengit.
"Ehh hak ibu apa marah marah disini,, kalau tidak suka ya pergi saja sana,,," sahut Vera tidak kalah sengitnya meski ibunya sudah menahan agar Vera tidak terpancing emosi.
Yudha menghela napas berat melihat ibu dan istrinya berulah lagi.
"Mass,,, jangan diam saja dong!! Suruh ibumu pulang saja atau aku akan lama sembuhnya gara gara tekanan darahku naik karena ibumu!!" titah Vera.
"Lihat itu Yudha,,,, istrimu itu memang kurang didikan. Ibu juga,,, nasehati dong anaknya itu biar bisa lebih sopan pada orang tua!!" bu Ambar menyerang ibunya Vera.
"Heyy,, jangan bawa bawa ibuku ya!!!" balas Vera.
Ruangan itu pun menjadi ajang adu mulut yang memekakkan telinga Yudha. Dirinya bertambah pusing melihat tingkah keduanya yang sama sama salah namun merasa sama sama benar.
Yudha pun langsung keluar ruangan dan menyulut rokoknya berharap agar dia bisa lebih tenang.
Braakkk,,,
Pintu dibanting keras oleh bu Ambar yang menyusul keluar. Langkahnya cepat tanpa mempedulikan Yudha yang mengejarnya.
"Bu,,, maafkan Vera ya" ucap Yudha.
"Ceraikan dia kalau dia tidak bisa menghormati ibu!!!" titah bu Ambar langsung melangkah pergi.
Yudha mengelus dada.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih π