
Selamat membaca 🌹
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌹🌹
Yudha pamit meninggalkan rumah bu Gina dengan perasaan berkecamuk. Malu, kecewa, berbesar hati, senang dan sedih semua bercampur aduk.
"Tidak ada ruang lagi di hati ibu untukku dan itu asli ulahku sendiri. Aku yang terlalu menyombongkan diri dengan imanku. Seandainya saja kalimat itu tadi tak ku ucapkan mungkin ibu masih mau mendukungku dan memperbolehkan aku rujuk dengan Mira. Bodoh kamu Yudha,,," gerutu Yudha sepanjang jalan menuju pulang.
Sopir taksi sempat mencuri curi pandang dari kaca tengahnya saat Yudha bicara sendiri.
"Tapi benar kata ibu, Kalau aku sayang Mira semestinya aku tak menghalanginya meraih kebahagiaannya meski bukan denganku." gumamnya lagi.
Sakit yang teramat perih menyusup dalam rongga hati Yudha.
"Tapi tuhan,,, Aku tidak rela." ucapnya lagi.
Rasa cemburu tiap kali mengingat wajah Mira dan wajah Dave kembali mengintai. Terbayang olehnya kelak setelah mereka menikah maka Dave akan punya hak sepenuhnya untuk melihat wajah dan seluruh bagian tubuh Mira.
Dave akan mencumbunya selayaknya seorang suami memberikan surga dunia pada istrinya. Dave akan terpana melihat kecantikan Mira yang selama ini ditutupnya hanya untuk dirinya seorang dan Rabbnya.
Terbayang kebahagiaan tiada tara saat dirinya sendiri dulu cuti dan menemui Mira. Dirinya akan paling merindukan momen membuka hijab Mira lalu melepaskan semua rindunya pada Mira.
Teringat akan gairah yang selalu muncul bertubi tubi kala dirinya melihat Mira polos tanpa busana. Mira akan tersenyum dan tertunduk malu setiap kali Yudha memandanginya dalam dalam. Mira akan Memejamkan mata indahnya lalu memasrahkan dirinya sepenuhnya pada Yudha yang akan menunaikan tugasnya sebagai suami.
Yudha tersenyum dan menggigit bibirnya menahan gairah yang tiba tiba muncul.
"Ahh abi rindu kamu Mira. Rindu setiap detik kebersamaan kita. Rindu aroma wangi tubuhmu yang selalu membuat abi terlena." gumam Yudha meremas remas sendiri jari jemarinya.
Sopir taksi meliriknya namun tidak tau apa yang sebenarnya tengah dibayangkan oleh penumpangnya itu.
Tengah asyik membayangkan semua kenikmatan itu lalu Yudha pun sadar bahwa semua keindahan itu akan menjadi milik Dave. Bukan dirinya lagi. Sontak itu membuat darahnya naik dan kembali keegoisan itu merajai dirinya.
"Tidak!!!! Abi tidak akan membiarkannya menyentuhmu Mira!!!"
__ADS_1
Bruaaakk,,,
Sopir taksi sangat terkejut saat Yudha memukul pintunya.
"Pak apa yang anda lakukan?? Anda bisa merusak mobil saya." tegur sopir taksi yang langsung meminggirkan taksinya.
"Eehhmm maaf pak maaf,,, Saya emosi dan tidak bisa mengontrol diri." Yudha yang baru menyadari kelakuannya langsung meminta maaf.
"Ini gimana nih sekarang?? Bapak masih mau lanjutin emosi bapak apa gak?? Kalau masih emosi mending bapak turun saja dari taksi saya. Saya gak mau nanti jadi korban emosi bapak." ucap sopir taksi.
Yudha melihat sekeliling yang sepi dan tak terlihat satu pun taksi lewat.
"Maaf pak,, Saya janji tidak akan ngawur lagi. Tolong antarkan saya ke tujuan saya lagi pak. Saya mohon." Yudha memohon.
Meski bersungut sungut,,, sopir taksi itu pun setuju dan kembali melajukan taksinya menuju ke alamat Yudha. Sesekali matanya tetap mencuri pandang pada penumpangnya yang kini terlihat lebih kalem.
🌹🌹🌹
"Mira,,, Papa tadi sempat telpon katanya akan segera datang untuk bisa kenalan langsung denganmu dan ibu. Mereka ingin sekalian melamarmu dan kita bisa married soon." Dave berbinar mengatakannya dalam perjalanan pulang dari kantor.
Seperti biasa Dave selalu mengantar Mira pulang lalu mereka akan menikmati makan malamnya berdua di teras rumah Mira. Beberapa lama di Jepang,, Dave sangat merindukan momen seperti ini.
Meski pernah menikah namun tetap saja pertemuan dengan orang tua Dave,,, lamaran lagi,,,menikah lagi,,,Tetap saja membuat Mira merasa grogi. Namun sebisa mungkin dia berusaha tenang dan tetap fokus.
"Kamu siap kan Mira bertemu orang tuaku??" tanya Dave yang seakan paham apa yang dirasakan wanita tercintanya itu.
"Inshaallah siap. Mereka tidak galak kan??" tanya Mira bercanda mencairkan suasana.
Mira juga paham pasti pria single di depannya ini juga merasa grogi karena ini pernikahan pertamanya.
"Galak lah,,, Apalagi kalau kamu bikin anaknya kesal." sahut Dave mengimbangi candaan Mira.
Mira tertawa kecil mendengarnya. Suasana memang perlu dicairkan agar keduanya tidak sama sama groginya.
"Mau mulai belanja keperluan pernikahan kita atau tunggu orang tuaku datang dulu?? Mumpung kita tidak sibuk kan sekarang." ucap Dave.
"Sabar dulu Dave. Nanti saja setelah kedua orang tua kita bertemu dan saling bicara. Lagipula memangnya apa yang kita perlukan?? Acara pernikahan kita juga tidak dibuat mewah kan??" tanya Mira.
__ADS_1
"I wish aku bisa ikuti permintaanmu untuk menyelenggarakan pernikahan sesederhana mungkin. Tapi aku minta maaf Mira,,, Ini adalah pernikahan pertamaku dan orang tuaku ingin memberikan yang termewah bagiku. Kita tidak bisa egois karena kita berdua sama sama tau kan kalau rekanan bisnis papa dan mama itu banyak. Mereka tentu tidak enak hati jika tak mengundang semuanya. Iya kan??" tanya Dave.
"Baiklah kalau begitu,,, Aku nurut saja ya. Tapi aku minta kamu juga harus fokus pada hari dimana kamu akan menjadi seorang mualaf. Kamu sudah hafal belum kalimat syahadatnya??" tanya Mira lembut.
"Sudah dong,,, Semoga saja nanti pas hari H nya aku gak grogi dan gak mendadak lupa ya hehehehe,,," Dave menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir lucu.
"Awas saja kalau sampai lupa,,," sungut Mira.
"Apa ada hukuman kalau aku lupa??" tanya Dave.
"Adaaa,,," sahut Mira.
"Apaaaa???" tanya Dave manja.
"Menikahnya ditunda sampai kamu benar benar hafal. Jadi mau hafal apa mau lupa???" tanya Mira serius.
"Hafal,,,!!" sahut Dave mantap dan tak lagi nyengir atau bercanda.
Kali ini Mira yang tertawa lagi melihat tingkah Dave.Pria yang dicintainya itu paling takut kalau ditunda pernikahannya. Pria tampan itu sudah sangat tidak sabar menanti hari dimana dirinya sah menjadi suami Mira.
Sebenarnya tidak hanya Dave yang tak sabar namun Mira sendiri juga merasakan rasa yang sama. Empat tahun menahan cinta dalam diam dan dalam doa. Kini jalan sudah terbuka lebar tentu saja membuat Mira juga tak ingin berlama lama lagi menghalalkan dirinya sebagai istri Dave.
"Mau makan apa nih kita malam ini??" tanya Dave ketika melewati deretan pedagang makanan langganan mereka dulu.
"Kwetiaw saja ya. Sudah lama kan kita gak makan itu." sahut Mira.
"Hah,,, Kwetiaw??? Lagi???" tanya Dave.
"Kenapa memangnya Dave?? Bukannya kamu selalu suka kalau aku belikan biasanya??" tanya Mira heran.
"Oh ya,,, Suka ya hehehe,, Oke kalau begitu. Kita makan kwetiaw. Pasti enak makan kwetiaw bareng kamu lagi." ucap Dave masih tak jujur pada Mira bahwa dirinya tidak suka kwetiaw.
Dave membukakan pintu untuk Mira yang bergegas turun membeli.
"Apa pun itu jika demi kebahagiaanmu,,, Aku akan melakukannya Mira sayang. Kwetiaw pun akan terasa lezat asal disantap bersamamu." lirih Dave sambil memandangi Mira yang tengah memesan dua porsi kwetiaw.
\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Terima kasih atas vote, like dan komennya ya ❤️